AYAT KONYOL QURAN: “Bagaimana DIA mempunyai Anak padahal DIA tidak mempunyai Isteri?”

trinitas

Itulah ucapan parafrasa dari mulut Muhammad, yang mengatas-namakan mulut Allah yang dipercaya sudah tercantum dalam Quran sejak sebelum ada apapun di alam raya, termasuk Muhammad. Ayat itu tersimpan di Lauhul Mahfudz dalam bagian Quran Surat 6:101. Dikatakan parafrasa karena ada kekaburan tentang ke-verbatim-an asalinya dari mulut Allah secara langsung, mengingat ayat tersebut memakai kata ganti-orang ketiga (Dia) ketimbang kata ganti-orang pertama (Aku). Seyogyanya, kalau ucapan langsung, verbatimnya harus berbunyi “Bagaimana AKU mempunyai Anak padahal AKU tidak mempunyai Isteri”.

Terlepas dari keanehan tersebut, faktanya adalah bahwa ayat itu telah merupakan teguran Allah yang mengutuk kesesatan kaum Nasrani yang dianggap paling fatal. Bukan saja mereka mempersekutukan Allah dengan mahlukNya, namun sekaligus memperzinahkan Allah dengan seorang Istri yang manusia sehingga membuahkan sang Anak haram jadah! dan sekaligus pula disembah sebagai Anak Allah!

Maka kita mendengar lagi dan lagi – hingga sedikitnya 17 kali di Quran (!) – betapa reaksi dan bantahan Allah bahwa Allah tidak beranak, mulai dari menjelaskan hingga kepada pelaknatan langsung:

“Tidak layak bagi Aku-Allah mempunyai anak, Maha Suci Aku”.

“Mereka (orang-orang kafir) berkata: “Allah mempunyai anak”. Maha Suci Aku-Allah…”

“Maha Suci Aku-Allah dari mempunyai anak”.

“Aku-Allah tidak beristri dan beranak”.
(berturut-turut QS.19:35, 2:116, 4:171, 72:3).

Istilah Arab “anak” yang dipakai disini adalah “walad” (child), bukan “ibnu” (son). Padahal Yesus dalam Alkitab Arab tidak disebut sebagai “Walad Allah” melainkan “Ibn Allah”, the Son of God, yang berarti Ia datang dari Tuhan Elohim, bukan hasil hubungan suami-istri. Hal ini juga sempat diakui oleh Allah/Muhammad dalam satu-satunya istilah “Ibnu” yang dikenakan Quran kepada Yesus, namun berakhir dengan tetap disamaratakan sekalian untuk dilaknatiNya!

“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Aku-Allah melaknati mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS.9:30).

TOTAL SALAH WAHYU
Tetapi disinilah kita melihat betapa sempit dan semrawutnya Muhammad memahami sosok kedua Anak Allah, Uzair dan Yesus!

Pertama soal Uzair. Dunia tahu apa yang Muhammad tidak tahu bahwa orang-orang Yahudi monoteismenya tidak kalah ketat dengan Islam. Tak pernah ada SOSOK apapun yang dipersekutukan dengan YAHWEH, sekalipun Musa. Tidak tahu siapa Uzair yang dimaksud, apalagi pengakuan akan “Uzair Anak Allah”? Tak ada Uzair-ilahiah yang muncul dari peribadatan Yudaisme. Itu joke dan hujatan terbesar yang seharusnya tidak dipermainkan bagi kesucian agama Yahudi maupun Islam sendiri! Inilah wahyu yang telak salah-wahyu, bukan berasal dari Sorga, melainkan datang dari parafrasa manusia belaka.

Kedua, soal Yesus Anak Allah. Muhammad sebagai orang Arab dijamannya rupanya hanya mengerti istilah ANAK (child) sebagai buah hubungan sex (walad). Dan ini diteruskan sebagai hujatan besar seperti yang tampak dalam Hadis shahih berikut ini, tak peduli lagi apakah itu “anak” fisik atau rohani,

“Sesudah itu (sesudah mendamprat orang Yahudi) orang-orang Kristen akan dipanggil dan akan ditanyakan kepada mereka, ‘Siapa yang biasanya kalian sembah?’ Mereka akan berkata, ‘Kami biasa menyembah Yesus, Anak Allah.’ Maka akan dikatakan kepada mereka, ‘Kalian penipu, sebab Allah tidak pernah mengambil siapapun sebagai istri ataupun anak.” (Shahih Bukhari 60, no.105).

Tetapi sebenarnya Muhammad telah diberitahu oleh Allah dengan puluhan ayat yang tidak memustahilkan Allah mempunyai Anak lewat hakekat dan kuasaNya yang tidak terbatas. Tetapi kita melihat betapa Muhammad sembrono dan lupa akan banyak hal yang telah Allah katakan, sehingga dia akhirnya terjebak sendiri dengan kontradiksi ucapannya yang lain:

1. Muhammad lupa, bahwa kelahiran Isa sudah diluruskan oleh Jibril kepada Maryam bahwa Isa bukanlah buah hasil hubungan sex! Surat Maryam 19:20, dimana Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!”.
Lha, kok Muhammad masih memakai istilah WALAD dimana-mana, anak hasil persetubuhan?

2. Muhammad lupa bahwa ANAK ini adalah dari Kalimat dan Ruh Allah (QS.4:171), tak ada hubungannya dengan ayat konyol yang melibatkan “istri”:
“Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri”!
Kata asli Arabik disini adalah‘sahiba’, yaitu teman wanita atau ‘girlfriend’, pasangan wanita untuk hubungan khusus. Nasrani mana yang percaya bahwa Tuhannya telah berhubungan dengan seorang girlfriendNya?

3. Muhammad lupa bahwa ia telah mempertentangkan (kontradiksi) dua bagian dari ayat konyol 6:101 itu sendiri:

“Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri” VERSUS terusannya, “Dia menciptakan segala sesuatu”.

Jikalau Allah bisa menciptakan segala sesuatu, tentu tidak masalah bagi Allah untuk menghadirkan Isa, sekalipun Allah tanpa ber-istri (girlfriend) siapapun yang Muhammad maksudkan! Bahkan bukankah Jibril sudah mengajarkan kepada Muhammad di ayat selanjutnya Surat Maryam 19:21, dimana Jibril menegaskan lagi bahwa girlfriend Allah memang tidak diperlukan:
“Demikianlah.” Tuhanmu berfirman: “Hal itu (kehadiran Anak itu) adalah mudah bagiKu…”

4. Muhammad lupa samasekali akan kuasa Allah yang selalu diajarkan dan dibanggakannya dimana-mana, suatu kuasa yang meliputi segala sesuatu, termasuk penciptaan para malaikat, Adam dan Hawa, tujuh tingkat surga dan tujuh tingkat dunia… Jadi kenapa sekarang Allah menjadi begitu tak berdaya tatkala berurusan dengan penciptaan “anakNya sendiri”? Sedemikian sehingga memaksaNya untuk membantah konyol, “Bagaimana AKU-ALLAH mempunyai Anak padahal AKU tidak mempunyai Isteri” alias “No Wife–No Son” itu?

5. Pendalilan “no wife – no son” itu sungguh tak bisa diterima akal ketika dihadapkan pada kehendakNya yang tidak bisa tidak pasti terjadi:
“Kalau sekiranya Aku-Allah hendak mengambil anak, tentu Aku akan memilih apa yang Kukehendaki di antara ciptaan-ciptaan yang telah Kuciptakan” (QS.39:4). Bahkan bukan terbatas pada “memungut anak” dari apa yang telah ada, melainkan dari tiupan/ inkarnasi Ruh dan KalimatNya! (4:171,21:91,66:12)

6. Jikalau Muhammad konsekwen percaya akan apa yang dikatakan Allah-nya bahwa “Allah tidak mungkin mempunyai anak karena Dia tidak mempunyai istri”, lalu kenapa Muhammad mengklaim bahwa Maryam bisa mempunyai anak tanpa punya suami? Bukankah hal ini lebih menghujat Allah ketimbang kaum Nasrani yang mempercayai “Tuhan mempunya Anak”? Dengan ayat-konyol tersebut maka semua Muslim telah membatasi kemahakuasaan Allah dimana Maryam dapat melakukan sesuatu yang Allahnya sendiri tidak mampu!

7. Akhirnya Muhammad layak dianggap tidak layak menjadi Rasul Allah, karena dengan pendalilan “no wife – no son” ini, ia telah mengalpakan satu KLAIM-ILAHI yang paling dahsyat yang seharusnya selalu diingat, disiarkan, dan diimani dalam hidup orang beriman, yaitu Kun Fayakun, “Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Aku berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Aku hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia” (QS.2:117).

Klaim ini bukan basa-basi atau cuma diulang satu kali, melainkan ditambah enam kali lagi di Quran (3: 47, 3: 59, 16: 40, 19: 35, 36: 82 and 40: 68) ! menjadikan seseorang (apalagi rasulNya) akan otomatis tertolak oleh Allah bilamana ia sampai melupakannya!

Semuanya aneh dan kacau! Tapi bisa tidak aneh jikalau kita menyadari bahwa rantai-narasi (isnad dan matan) ayat-ayat Quran telah kusut, terpotong-potong, tersisip-sisip, acak-urutan, anti-kronologi, terplintir makna dan tafsirnya, suara asli siapa sudah tidak ada yang tahu. Apakah suara Allah, Jibril, Muhammad, atau para Sahabat pencatat Quran (semisal Al-Fatihah khususnya ayat 6?). Tak ada saksi mata. Allah swt telah menyampaikan seluruh “wahyuNya” sekaligus kepada Jibril, tapi ia hanya meneruskannya kepada Muhammad dengan cicilan sepotong-sepotong tanpa urutan dan sistematika, disusul dengan ayat sisipan, dan “disempurnakan” dengan nasakh-pembatalan (2:106), tertukar suara narator dan kata ganti orang pertama versus ketiga dst. tanpa validasi… yang pada gilirannya suara verbatim terganti menjadi parafrasa (seperti yang dicontohkan didepan):

“Bagaimana AKU mempunyai Anak padahal AKU tidak mempunyai Isteri”,

terparafrasa menjadi:

“Bagaimana DIA mempunyai Anak padahal DIA tidak mempunyai Isteri”!

KINI BANDINGKAN dengan firman Tuhan Elohim sendiri (tanpa via-via) dan juga semua lainnya (termasuk setan/iblis yang harusnya paling menyangkal), mereka semua telah berkata secara lurus, mutawatir, dan verbatim, menyaksikan YESUS ANAK ELOHIM:

Tuhan Elohim: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Mat 17:5). Disaksikan oleh roh nabi Musa, nabi Elia dan para murid Yesus

Tuhan Elohim: “…lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan:
“Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:17).
Disaksikan Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya) dan umum.

Malaikat Gabriel: “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Elohim Yang Mahatinggi”. (Luk 1:32). “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk2:11). Dinyatakan kepada Maria dan para gembala.

Para Murid Yesus: “Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Elohim” (Matius 14:33).

Nabi Yohanes: “Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian:
Ia inilah Anak Elohim” (Yoh 1:34). Disaksikan kepada publik.

Kepala pasukan Romawi penyalib Yesus (ketika para prajuritnya sangat takut
tatkala terjadi gempa bumi dll): “Sungguh, Ia ini adalah Anak Elohim” (Mat 27:54)

Yesus Sendiri: “…Aku telah berkata: Aku Anak Elohim” (Yoh 10:36). PernyataanNya itu ditujukan kepada lawan-lawanNya!

Setan-Iblis, musuh dan pembantah terbesar, namun harus mengakui kebenaran Yesus: “dengan keras roh jahat berteriak:

“Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Elohim Yang Mahatinggi?
Demi Elohim, jangan siksa aku!” (Mar 5:7). Disaksikan oleh komunitas Gerasa.

 

 

Tidak Ada Nabi Dari Keturunan Ismail

Melihat bahwa kenabian hanya dibatasi pada anak-anak Israel, berdasarkan kesaksian Torat, Injil dan Quran, lalu bagaimana Muhammad dapat mengklaim diri sebagai nabi?

ismail1

Dalam Sura 45:16 kita membaca: “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezki-rezki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya)”.

Juga dalam Sura 29:27 kita membaca: “Dan Kami anugrahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Ya’qub, dan Kami jadikan kenabian dan Al Kitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang saleh”.

Ini adalah deklarasi fakta bahwa kenabian hanya dibatasi pada Bani Israel saja, dan itu sesuai dengan sudut pandang Taurat, karena Taurat mengingatkan anak-anak Israel tentang menerima siapapun dari keturunan Ismail yang mengklaim diri sebagai nabi: “Lalu Abraham berkata kepada Elohim, ‘Biarlah Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu! Namun Elohim berfirman, ‘Sara istrimu pasti akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau harus memanggil namanya Ishak, dan Aku telah membangun perjanjian-Ku dengannya, untuk suatu perjanjian yang kekal bagi keturunannya sesudah dia” (Kejadian 17:18-19). “Dan Sara melihat anak Hagar, orang Mesir yang telah melahirkan bagi Abraham, sedang mengolok-olok. Dan dia berkata kepada Abraham, ‘Usirlah perempuan hamba itu dan anaknya karena anak [dari] perempuan hamba itu tidak akan menjadi ahli waris bersama anakku, bersama Ishak. Dan hal itu sangatlah jahat di mata Abraham, berkenaan dengan anaknya itu. Namun Elohim berfirman kepada Abraham, ‘Kiranya hal itu tidak menjadi jahat di matamu, berkenaan dengan anak muda itu dan berkenaan dengan perempuan hamba itu; semua yang Sara katakan kepadamu, dengarkanlah keluhannya, karena yang akan disebut keturunan bagimu adalah Ishak” (Kejadian 21:9-12).

 ismail

Tuhan juga berkata kepada Abraham, “Dan oleh keturunanmu segala bangsa di bumi akan diberkati, karena apa yang telah engkau dengarkan dari firman-Ku (Kejadian 22:18). Tuhan mengulangi janji ini kepada Ishak dan berkata kepadanya setelah kematian ayahnya, “Dan aku akan memperbanyak keturunanmu seperti bintang di langit, dan Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmulah segala bangsa di bumi akan diberkati” (Kejadian 26:4). Pesan ini diulangi lagi kepada Yakub, yang diperintahkan Tuhan agar lari dari saudaranya, “Dan keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah, dan engkau akan berkembang ke arah timur, dan barat, dan utara, dan selatan. Dan semua kaum di muka bumi akan diberkati olehmu dan keturunanmu” (Kejadian 28:14).

Jadi, berkat bagi dunia dan perjanjian ilahi akan benih/keturunan yang dijanjikan dibatasi hanya pada keturunan Abraham, Ishak dan Yakub – yaitu garis keturunan Kristus. Perjanjian Baru mengkonfirmasi apa yang dikatakan Perjanjian Lama mengenai pembatasan kenabian hanya pada anak-anak Israel.

Kristus berkata: “Keselamatan itu berasal dari orang-orang Yahudi” (Yohanes 4:22). Rasul Paulus berkata, “Lalu, apakah keunggulan seorang Yahudi itu? Atau apakah manfaat sunat? Memang banyak menurut berbagai kebiaasaan, karena terutama bahwa mereka dipercayakan firman Elohim” (Roma 3:1-2). Ia juga menggambarkan orang Yahudi sebagai “Orang-orang Israel,yang empunya hak diadopsi dan kemuliaan dan perjanjian dan pemberian Torat dan ibadah dan janji-janji; yang empunya para leluhur dan yang daripadanyalah datang Mesias secara daging, yang adalah Elohim atas segala sesuatu, yang terberkati sampai selamanya. Amin” (Roma 9:4,5).

Melihat bahwa kenabian hanya dibatasi pada anak-anak Israel, berdasarkan kesaksian Torat, Injil dan Quran, lalu bagaimana Muhammad dapat mengklaim diri sebagai nabi? Bagaimana Quran dalam Sura 19:54 dapat berkata, “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi”, dan kemudian berkata bahwa hanyalah Muhammad nabi bagi orang Arab, dan tidak ada nabi yang mendahuluinya yang diutus kepada mereka: “Dan Kami tidak pernah memberikan kepada mereka kitab-kitab yang mereka baca dan sekali-kali tidak pernah (pula) mengutus kepada mereka sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun” (Sura 34:44); “Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan: “Dia Muhammad mengada-adakannya.” Sebenarnya Al-Quran itu adalah kebenaran dari Rabbmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk” (Sura 32:3)?

Quran mengakui kelebihan anak-anak Israel di atas semuanya ketika Quran mengatakan, “Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat” (Sura 2:47). Quran berulangkali mengatakan bahwa Ishak, putra Abraham yang kedua, dan cucunya Yakub adalah karunia Tuhan kepada Abraham, dan sama sekali tidak menyebut Ismail, sekalipun Ismail adalah putra sulung Abraham. Referensi berikut ini menyaksikan fakta tersebut:

“Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk…” (Sura 6:84).

“Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya’qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi. Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi” (Sura 19:49, 50).

“Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshak dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah”  (Sura 21:72, 73).

“Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata”  (Sura 37:113).

 
 

“Jumatan” Sebelum Jaman Islam

Jika orang Yahudi berkumpul untuk beribadah kepada Tuhan pada hari Sabat sebagai hari untuk memperingati saat Tuhan beristirahat setelah Ia menciptakan alam semesta, dan jika orang Kristen menghormati hari Minggu sebagai hari peringatan kebangkitan Yesus, mengapa (atas dasar apa) orang Muslim berkumpul pada hari Jumat?jumatan

Dalam Sura 62:9-11 kita membaca: “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki”.

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
 فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Ayat-ayat ini dijelaskan oleh al-Baidawi sebagai berikut: “Disebut shalat Jumat karena orang-orang dikumpulkan pada hari itu untuk sholat. Orang Arab menyebutnya al-‘Aruba. Ada yang mengklaim bahwa Ka’b Ibn Lu’ay yang menyebutnya demikian, karena orang-orang biasa berkumpul di sekitarnya pada hari itu. “Jumatan” pertama dimana utusan Allah mengumpulkan orang untuk sholat adalah di Medinah setelah ia menghabiskan waktu seminggu di Duba’, yaitu di lembah milik klan Salim Ibn ‘Auf”.

Penulis Bulugh al-‘Arab fi Ahwal al-‘Arab mengatakan hal yang sama seperti di atas namun menambahkan bahwa Ka’b Ibn Lu’ay biasa berceramah kepada orang-orang pada hari itu (vol.1, h. 250). Oleh karena itu, kesakralan hari Jumat adalah tradisi pra Islam, yang ditetapkan oleh Ka’b Ibn Lu’ay, dan bukan karena wahyu Allah.

Dalam Al-Sira al-Nabawiya oleh Ibn Hisham (2:154) kita membaca: “Ketika Muhammad hijrah ke Medinah, orang-orang Muslim berkata kepadanya, ‘Orang Yahudi mempunyai hari Sabat sebagai hari untuk berkumpul, beribadah dan mendengar ceramah. Orang Kristen juga mempunyai hari untuk berkumpul, beribadah dan mendengarkan khotbah. Tetapi kita orang Muslim tidak mempunyai hari khusus dimana kita dapat berkumpul untuk beribadah kepada Allah seperti teladan Para Ahli Kitab’. Oleh karena itu, ia menyarankan hari Jumat kepada mereka”.

Jika orang Yahudi berkumpul untuk beribadah kepada Tuhan pada hari Sabat sebagai hari untuk memperingati saat Tuhan beristirahat setelah Ia menciptakan alam semesta, dan jika orang Kristen menghormati hari Minggu sebagai hari peringatan kebangkitan Yesus, mengapa (atas dasar apa) orang Muslim berkumpul pada hari Jumat? Apakah mereka hanya ingin meniru Para Ahli Kitab? Sesungguhnya mereka telah salah memilih, karena mereka tidak memilih hari yang ditetapkan Allah tetapi memilih hari yang diperingati oleh orang-orang Arab sebelum jaman Islam.