Siapakah Qurra itu Sehingga Semua Muslim Terjebak Mendewakannya? Bagian-2

Oleh Kalangi

Utsman dengan politik kekuasaannya yang dikenal nepotis dan korup telah mendekritkan keabsahan mushafnya sendiri secara sewenang-wenang sambil memerintahkan pembakaran seluruh naskah Quran selainnya yang paling primer tanpa ditunjukkan kesalahannya! Membakar ayat dan surat asli Allah tanpa sedikit-pun menguji kebenaran atau kesalahannya jelas adalah tindak penghujatan dan kejahatan (Ingat, Terry Jones dari Florida yang dikutuk itu masih mengundang para juri untuk membela kebenaran Quran sebelum diputuskan untuk dibakar). Itu ada-lah bentuk pembungkaman ayat-ayat Allah yang masih absah sebelum ia dibukti-kan sebagai ayat-ayat setan! Dan hanya ayat-ayat setanlah yang boleh dibakar! Jadi pembakaran naskah ayat-ayat itu adalah kesalahan yang sangat fatal, namun tidak diprotes oleh para qurra (yang sekali lagi memperlihatkanbetapa integritas moral mereka!). Tetapi herannya Muslim diseluruh dunia juga sama “melengos” dan tidak mempersalahkan dan mengutuk kejahatan Utsman yang satu ini!

Hanya Ibn Mas’ud seorang yang berani mendamprat Utsman dan Hudhayfah (anteknya Utsman yang paling getol memusnahkan naskah-naskah Quran yang lain) dimuka umum. Hudhayfah berkata, “Seandainya aku berjumpa dengan Utsman, niscaya aku akan memaksa beliau untuk menenggelamkannya (naskah-naskah lain) kedalam satu mushaf.” Abdullah ibn Mas’ud menjawab, “Demi Allah, seandainya kamu lakukan hal itu, niscaya Allah akan menenggelamkanmu kesuatu tempat selain air (neraka jahanam)” [Ibnu Khalwaih, Syawadz al-Qira’at, p.87].

Rupanya Ibn Mas’ud paham bahkan beriman bahwa apa yang diharamkan manusia (membiarkan pelbagai ragam “versi” Quran) tidak mesti diharamkan oleh Allah yang juga sudah membiarkan 7 versi ragam bacaannya. Dan ini persis telah ditunjukkan oleh hadirnya 4 jenis kesaksian Injil oleh Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes secara berbeda aksara dan bacaan, namun secara message dan konten mereka justru saling melengkapi dalam keserasian!!

.

Alhasil Allah SWT menunjukkan penghukumanNya, bahwa pengingkaran perintahNya (dalam surat semisal Quran) ditambah dengan kejahatan pembakaran Kalimat-Nya itu harus dibayar harganya dengan kematian Utsman yang tidak biasa! Ia terbunuh dirumahnya sendiri dengan cara yang paling tragis, oleh kaum Muslim sendiri, yang memprotes dekrit pemusnahan naskah-naskah Quran, dengan melewati proses penguburan yang paling hina: jenazah busuk 3 hari, dan pada awalnya  dikuburkan bukan dikuburan  Muslim, Jannat al Baqy, melainkan dikuburan Yahudi! Lihat
http://en.wikipedia.org/wiki/Uthman_ibn_Affan#Assassination
.

Kedua khalifah diatas telah bersiasat diluar iman kepada Allah sehingga lebih mempercayakan otak para qurra ketimbang  beriman memohon doa dengan ikhlas dan khusyu’ agar kuasa Roh Allah sendiri yang akan memelihara Quran Nya dengan pemunculan yang berbeda! Siapa bilang bahwa Allah SWT tidak sanggup menggerakkan Ali ibn Abi Thalib secara Roh, misalnya, untuk menghadirkan mushaf-baru yang betul-betul diabsahkan Allah dan umat secara mutawatir? Khalifah seharusnya pertama-tama berdoa dan berpuasa – malah memerintahkan seluruh umat untuk bersama sama memohon dan menagih janji Allah, hingga tanda-tanda khusus  ilahi menggejala disaksikan oleh umum. Allah punya sejuta cara, dan mungkin saja Ali ibn Abi Thalib yang berintegritas itu – dan bukan kepada qurra pasaran — yang bisa Allah izinkan untuk merampungkan penulisan dan penyusunan mushafnya yang memang sudah dimulainya dengan bersih dan tertib urut kronologi (The True Guidance IV, p.56, berlainan dengan mushaf Utsman). Sedemikian sehingga  mushaf-Ali  bisa menjadi otoritas dan standard Quran resmi, yang akan sekaligus berkemampuan menyatukan Islam Sunni dengan Shiah dll?!

Bandingkan bagaimana cara Tuhan Elohim untuk memelihara Injil-Nya sendiri. Yesus — yang walau mampu menulis– namun tak pernah melakukan sendiri atau memerintahkan muridnya untuk mencatat Injil. Sekalipun ada muridnya yang mulai mencatat atas inisiatip pribadi, namun finalisasi otoritas kebenaran Injil tidak dilakukan oleh manusia dan akal-akalan, melainkan seluruhnya oleh karya pimpinan Roh Kudus. Roh yang diutus dalam nama Yesus (sesaat Ia diangkat kesurga) itulah — dan bukan qurra — yang akan memimpin, mengajarkan dan mengingatkan murid-murid Tuhan tentang semua Firman Tuhan,
“… apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran,
Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran”.

“Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku (Yesus),
Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu
. (Yohanes 16:13, 14:26).

Maka tak ada murid Yesus yang panik atas pelbagai versi penyaksian Injil, apalagi menghadapi pembakaran masal Alkitab dan pemusnahan Kitab Injil yang dilakukan tiada henti hingga sekarang inipun! Tak ada pengikut Yesus yang merasa terancam lalu bertindak jahat memusnahkan naskah Injil/ Alkitab versi lainnya. Mereka melainkan mengandalkan doa dan berpuasa, dan Tuhan yang empunya Firman–lah yang akan bertindak.

Firman itu hidup, tidak mati dalam aksara Arab, dan tidak mati karena qurra mati,
Perkataan-Mu (Yesus) adalah perkataan hidup yang kekal” (Yohanes 6:68),

tidak termusnahkan oleh siapapun. Ia terjaga tidak dengan senjata, atau tambal-sulam ala qurra dan dekrit raja. Tuhan Elohim dan Yesus telah berduet dalam kesenyawaanNya, berkata sesuatu yang sama, yang tidak bisa dikatakan oleh Allah SWT, Muhammad, Abu Bakar, Umar, Utsman, Zayd, Hudhayfah, atau siapapun lainnya:

ELOHIM: “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Elohim kita tetap untuk selama-lamanya” (Yesaya 40:8).
YESUS: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku (Injil) tidak akan berlalu” (Matius 24:35).

Kelima, apakah karya qurra berhasil menampilkan teks Quran
menurut message dan konten surgawi?

Untuk menelusuri masalah ini, mari kita bertanya: Apakah teks dari qari A sama dengan teks qari B, untuk ayat  X dan surat Y yang “dianggap” sama, karena semuanya harus identik dengan apa yang telah digoreskan dalam Kitab di Surga?

Kita mengetahui bahwa Hudhayfah ibn al-Yaman  (pemimpin ekspedisi bersenjata Islam ke Armenia dan Azerbaiyan) menemukan perselisihan yang sengit diantara warga tentang ragam pembacaan Quran yang berbeda satu terhadap yang lainnya — sampai-sampai mereka saling meng-kafirkan. Maka Hudhayfah segera melaporkannya kepada Khalifah Utsman dengan pesan:

“Wahai Amir al-Mu’minin, selamatkanlah bangsa ini sebelum mereka bertikai tentang Kitab Allah, seperti yang  telah terjadi pada Yahudi dan Nasrani pada masa lalu.” Dan Utsman-pun segera bertindak memerintahkan pembentukan panitya pembukuan Quran dengan Zayd lagi-lagi sebagai ketuanya, dan meminta kepada Hafsah agar meminjamkan mushafnya untuk penyalinan baru (Bukhari VI, p.479).

Perhatikan bahwa Muslim selalu meng-eufemisme masalah perbedaan Quran sebagai ragam bacaan saja, tidak lebih. Dan hanya menyalin ulang mushaf Hafsah (bukan bongkar pasang). Tetapi bagi yang bernalar, mereka akan bertanya, ragam bacaan yang bagaimanakah bedanya sehingga sesama Muslim sampai terprovokasi saling mengkafirkan? Sedemikian sampai Hudhayfah merasa bahwa bangsa Arab bisa tidak terselamatkan karena beda bacaannya? Padahal justru Muhammad yang menginisiatifkan agar Quran dibaca dengan tujuh ragam bacaan:

Rasul Allah berkata, “Jibril membacakan Quran kepada saya dalam satu cara. Kemudian saya minta dia (untuk membacanya dalam cara lain), dan seterusnya minta membacanya lagi dalam cara-cara lain, sehingga dia membacanya dalam 7 cara berbeda.” (Bukhari 61/513).

Tampaknya masalahnya jauh lebih gawat. Dan kita telah memperlihatkan sebagian perbedaan isi naskah-naskah asli Quran, bukan hanya ragam bacaan. Banyak yang dapat ditunjukkan bahwa Quran yang terturun, dan qurra yang menghafal, serta catatan yang tertulis, ternyata isinya saling tidak mendukung  bahkan kontradiktif. Umar, misalnya, bersikukuh mengklaim ayat rajam harus ada di Quran, namun ternyata Zayd menafikannya dengan alasan bahwa jumlah saksinya tidak memadai karena cuma Umar sendiri. Sebaliknya Zayd terbukti kecolongan ayat-ayat Khuzaimah yang juga tidak disaksikan oleh 2 orang qurra (diluar panitya) seperti yang dikenakan pada ayat-ayat selainnya, namun Zayd tetap memasukkannya sebagai ayat Quran! Baca kedua Hadis dibawah ini, yang sama-sama shahih, dikumpulkan oleh Bukhari yang sama, namun yang saling bentrok dan membingungkan semua pembaca:

Bukhari 61/509,
Maka saya mulai mencari dan mengumpulkan Quran dari pelepah-pelepah palem, lempeng batu putih dan juga dari orang-orang yang menghafalnya, hingga saya menjumpai ayat terakhir dari surat At-Taubah pada Abu Khuzamah Al-Ansari, yang tidak saya jumpai pada siapapun juga kecuali dia. Ayatnya adalah….(9:128-129) … dan suhuf Quran ini disimpan oleh Abu Bakar

Bukhari 61/510,

Utsman mengirim kepada setiap propinsi Muslim satu kitab… Zayd bin Tsabit menambahkan,  “Satu ayat dari surat Ahzab terhilang oleh saya ketika kami sudah menyalin Quran… Maka kami mencarinya dan menemukannya pada Khuzaimah  bin Thabit Al-Ansari. Suratnya adalah …. (33:23)…. ”.

Masyaallah, Zayd sampai dua kali kecolongan masalah yang sangat mirip?! Apakah ia menceritakan satu orang Khuzaimah yang sama, atau dua orang yang berbeda? Atau kisahnya tunggal namun dalam perjalanan tradisi oral lalu terpecah menjadi dua? Ayat yang terhilang tadinya sebenarnya satu ayat atau dua-tiga ayat? Apakah bukan karena “mabok” mencari ayat-ayat yang begitu acak dan terserak maka ia akhirnya membuat kekeliruan berturut-turut yang mirip-mirip? Lihat Sejarah Teks Al-Quran (p.103), betapa serius Prof. Al-Azami mencoba membedakan kedua Khuzaimah tersebut, sementara banyak ulama lain percaya itu hanya satu Khuzaimah yang sama orangnya. Versi Ibn Abu Dawud (p.11) malahan meriwayatkan bahwa ke-2 ayat yang kecolongan itu (ayat terakhir dari Surat At Taubah) justru diingatkan oleh Khuzaimah sendiri kepada Zayd dkk., bukan karena kesadaran dari panitya pembukuan Quran! Yang mana memperlihatkan kekacauan yang amat serius terhadap apa-apa yang sedang dihimpun mereka dikala itu!

Kita harus lebih kritis bahwa kemunculan kasus ini sungguh diluar akal dan tidak hanya sampai disitu, melainkan berdampak sangat serius. Muslim seharusnya bertanya seheran-herannya terhadap kehebatan otak qurra, keshahihan Hadis dan kemurnian Al-Quran:

“Lho, kenapa qari Zayd dkk. bisa kecolongan satu (dan atau dua) ayat, dan harus mencarinya kepada Khuzaimah A (dan atau B)? Bukankah ketika Zayd menyalin-ulang mushaf Abu Bakar atas perintah Utsman maka dihadapan Zayd telah tersedia mushaf  Abu Bakar, yang sudah dikumpulkan oleh Zayd juga secara lengkap sebelumnya? Jika demikian, maka surat 33:23 pasti absen dari mushaf Abu Bakar!

Dengan keteledoran menghilangkan satu ayat Khuzaimah dalam mushaf Abu Bakar yang pernah dihimpunnya sendiri maka gugurlah semua  klaim yang mendewa-dewakan keakuratan qura dan Zayd sebagai ketua penghimpunan Quran! Semua mutu penghimpunannya tampaknya hanya bersifat “usaha petualangan yang sebaik-baiknya” sepanjang yang diingat manusia Zayd, termasuk memaksa-kan ayat-ayat yang tidak cukup disaksikan oleh 2 orang qurra boleh menjadi bagian dari Quran!  Kerancuan bertambah karena teman-teman se Komisi Zayd ternyata tidak tahu-menahu kalau ada ayat Khuzamah yang kecolongan! Semuanya sudah terlanjur terjadi dibawah penanganan Zayd. Maka bagaimana Muslim kini bisa memastikan bahwa Qurannya terijamin sempurna?

Keenam, jangankan qurra, Muhammad bahkan manusia pelupa!

Praktis semua literatur Islamik dan kotbah-kotbah dimesjid dipenuhi dengan dongengan bahwa para otak Qurra hebat tak terkira, dan tak ada satu ayat yang lepas tidak termeterai dalam otaknya. Wuih, Muslim bisa tertipu dengan pernyataan bombastis itu. Itu hanya bisa mungkin benar bilamana seluruh Quran sudah teredar dan berstandar sama diantara semua qurra. Namun ketika Quran baru mau disusun oleh Abu Bakar atau Utsman (masing-masing sekitar awal tahun 10-an H dan 20-an H) maka setiap qurra hanya memiliki porsi Quran yang dia pribadi kumpulkan/ hafalkan, dengan  bacaan, konten, dan urutan yang masih saling kacau sesamanya! Tak ada qari yang mengklaim dia hafal semua 114 surat, dan telah dibenarkan oleh Nabi. Satu-satunya sahabat Nabi yang mungkin bisa mengklaim pengajiannya benar sampai 70 surat hanyalah Abdullah  ibn Mas’ud (Shahih Muslim, vol.4, p.1312), itupun tidak mesti benar urutan suratnya.

Baiklah umat Muslim awam tidak ditipu lebih jauh lagi bahwa otak qurra itu sempurna untuk seisi Quran, ketika fakta menunjukkan bahwa Muhammad sendiri bahkan terbukti lupa dan bersalah dalam keterbatasannya untuk menghafal keseluruhan ayat-ayat Quran.

“Ketika sedang membaca Quran dalam shalatnya, Muhammad tidak

membaca satu ayat. Ubay mengira bahwa ayat itu telah dinasakh-kan

(digantikan). Ia bertanya kepada Muhammad, yang menjawabnya:
‘Saya lupa itu’
(Tafsir Al-Zamakhshari, untuk Qs. 87:6-7).

Nabi juga mengakui dirinya sebagai manusia biasa dan sempat kecolongan

daya-ingat akan sebagian Al-Quran. Salah satunya diriwayatkan dalam

tradisi :

“Aisyah berkata: ‘Ada seorang yang bangun (untuk shalat) dimalam hari. Ia

membaca Quran dan mengeraskan suaranya ketika membaca. Keesokan

harinya, Rasulullah (saw) berkata: “ Kiranya Allah mengasihi dia! Semalam

dia mengingatkan saya akan sejumlah ayat yang saya terlupa”.

(Sunan Abu Dawud, vol.3,p.1114 ; Al-Bukhari, Shahadat,11).

Ia (Nabi) berkata, “Jika ada suatu (perintah) yang baru dalam shalat, tentu saya akan memberitahukan kepada kalian, namun saya adalah manusia seperti kalian dan cenderung lupa seperti kalian. Jadi jika saya lupa maka ingatkan saya, dan jika seseorang diantara kalian [para sahabat Nabi] ragu akan shalatnya, ia haruslah mengikuti apa yang dianggapnya benar dan selesaikan shalatnya serta lakukan dua kali sujud Sahu” (Shahih Bukhari 1:8:394).

Para sahabat dan qurra tak luput diingatkannya sebagai manusia dan bukan mesin perekam, “… Sesungguhnya saya adalah manusia seperti kalian. Saya ingat seperti yang kalian ingat dan saya lupa seperti yang kalian lupa”. (Shahih Muslim 4: 1178).

Bahkan Muhammad sempat lupa seterusnya untuk salah satu hari dengan peristiwa

islamik yang paling penting, yang merupakan nikmat dan berkat-islam yang paling

besar, yaitu Malam Qadar:

“Maka Nabi bersabda, “Saya keluar hendak mengabarkan tentang terjadinya

malam qadar; kebetulan saya melihat dua orang sedang berbantah, maka

aku jadi lupa. Mudah-mudahan kelupaan itu berguna untuk Anda sekalian.

Carilah malam qadar itu dimalam ketujuh, kesembilan dan kelima.” (HSB I/41).

Kesimpulan Besi

Otak dan ingatan para QURRA tidak sedikitpun bisa dijadikan pendukung kwalitas Quran, malahan sebaliknya justru telah terbukti membuat masalah!

Bila Muhammad telah berkata kepada sahabatnya, “Saya cenderung lupa seperti kalian”, maka kenapa lagi Muslim tetap ngotot mendewakan otak manusia?

Mushaf dari Abu Bakar dan Utsman tidak mungkin bisa diabsahkan sebagai salinan wahyu surgawi. Mereka adalah produk-kepanikan, politisasi kekuasaan, tanpa iman, kecuali akal-akalan manipulatif dengan mendewakan otak qurra.

Abd Allah ibn Umar al Khatab – sesame tokoh Muslim– telah mewariskan komentarnya yang terpaksa tidak manis:

kamu akan berkata: ‘Saya telah mendapatkan al-Quran yang lengkap’, dan tidak mengetahui taraf kelengkapannya. Sesungguhnya banyak bagian al-Quran yang telah hilang, dan karena itu seharusnya ia berkata: ‘Saya telah mendapatkan (bagian Quran) yang masih ada’.”

Apa yang ingin dikatakan disini oleh seorang Ibn Umar dalam realitasnya yang terdalam? Tiada lain beliau ingin menegaskan kepada para Muslim yang masih mimpi-mimpi tentang keutuhan Quran Surgawi,

Yang tertinggal dan yang dipakai Muslim hanyalah Al-Quran de-fakto,

bukan Al-Quran de-jure yang dimaksudkan oleh Allah, dan yang disaksikan oleh Nabi!

Akhirnya, Allah SWT sendiri juga menjadi tergugat karena telah mengklaim sesuatu yang ternyata tidak mampu dikerjakanNya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.

Perkataan “sesungguhnya” disini sungguh ucapan angin kosong belaka.

Sebaliknya Alkitab dalam Kitab Yesaya 14:24, memberi batasan tegas tentang Siapa itu TUHAN yang sesungguh-sungguhnya:

TUHAN semesta alam telah bersumpah, firman-Nya:
Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana” !

Siapakah Qurra itu Sehingga Semua Muslim Terjebak Mendewakannya? Bagian-1

Oleh Kalangi

Wahyu itu Kalimat surga. Dan Quran itu keseluruhan Kalimat-Nya dalam sebuah Kitabullah Surga. Kitab ini tidak ditakdirkan untuk ditempatkan hanya disurga, tetapi juga akan dibagikan kedunia secara utuh dan sempurna. Maka tatkala ia diturunkan dari Allah hingga kepada tangan dan hati manusia, Allah dengan kuasa sepenuhnya menjaga keseluruhan kesucian, kelengkapan, dan kesempurnaan isi, pesan dan semua dimensi Quran, sehingga sama identik sampai selama-lamanya!

Tetapi apa faktanya? Turunnya “wahyu Quran” kedunia ternyata samasekali bukan dilakukan dengan kuasa mukjizat Allah yang dapat disaksikan oleh manusia. Tak ada peran dan tanda-adikodrati apapun yang Allah perlihatkan sehubungan dengan Kalimat-Nya yang ditampilkan secara berdikit-dikit kedunia selama 23 tahun! Yang tampak ada hanyalah sejenis tanda-insani yang pernah diklaim Muhammad, sepertinya “tanda-tanda epilepsy” (badan kejang-kejang, kening ber-keringat, mulut berbuih, hidung mendengus, kuping gemerincing suara lonceng dll). Dan dalam ribuan buku-buku dan artikel Islamik, debat dan peyakinan Islam tentang mukjizat keterjagaan Quran yang Murni sempurna (Qs.15:9), kita hanya disodori tentang betapa hebatnya otak dan ingatan para QURRA (penghafal ayat) dalam memastikan kesempurnaan teks-teks Quran yang terhimpun! (Awas, bukan mukjizat Roh). Sedemikian hebat kemampuan penghafalan seluruh isi Quran sehingga qurra dipercaya tidak mungkin membuat kesalahan terkecilpun ketika ayat-ayat tersebut dikumpulkan dalam mushaf Utsman (yang kini disahkan sebagai Quran Surga yang utuh)! Dengan perkataan lain, para ahli Islam merasa telah menemukan legitimasi kesempurnaan kitab Quran dari para Qurra (!) sebab sampai Muhammad wafat memang ia tidak pernah melegitimasikan kitab/ mushaf manapun.

Otak qurra telah dijadikan patokan tertinggi untuk menyusun sejarah yang bisa dijamin kebenaran mutlaknya. Tetapi sempurnakah “otak mesin” para qurra itu? Apakah Muhammad ikut menyaksikan dan melegalisasikan isi dan susunannya? Atau apakah itu dapat disetarakan dengan “hafalan” dari Roh Allah sendiri (atau Jibril), yang  langsung dan tanpa cacat? Alau kurang dari itu, pastilah ia bisa cacat, bukan? Mari kita bahas dengan jeli…

Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa karena buta-hurufnya Muhammad, maka tampaknya ia hanya mempunyai pikiran yang terbatas tentang bagaimana sebaiknya ia menyimpan ayat-ayat yang sudah “diturunkan” kepadanya. Tentu saja orang yang asing dengan aksara akan otomatis menyimpannya hanya dalam otaknya. Apa yang diturunkan oral toh bisa dihafalkan secara oral, dan bisa diteruskan secara oral kepada penerusnya, bahkan berseni diteruskan dengan cara pengajian unit wahyu per unit wahyu dalam irama yang syahdu. Muhammad tampaknya tidak sampai berpikiran bahwa ayat-ayat itu harus dikumpulkan sejak awal dan disusun menurut tertib urut kronologi, lalu dicatat secara tertulis sehingga tidak ada yang tercecer dan terlupakan lewat waktu yang berjalan lama, demi  untuk diteruskan secara otentik kegenerasi lepas generasi!

Mungkin juga kealpaan Muhammad untuk membukukan “mushaf Muhammad” ini ada kaitannya dengan apa yang didengarnya secara naïf bahwa Isa Al Masih juga tidak pernah menuliskan Injilnya sendiri, kecuali kerjanya berjalan kaki bersama murid-muridnya dari tempat ketempat, “berkotbah” dan memberi peringatan hari kehari, dan melakukan mukjizat disana sini seizing Allah. Dan hanya sampai disitulah tugasnya Isa, sedangkan apa terusan/warisan pengajarannya, itu hanyalah urusan Allah semata…
Muslim mungkin akan menuduh ini analisis yang mengada-ngada? Samasekali tidak! Sebab Muhammad tidak saja “mengalpakan” pewarisan wahyu untuk pembukuannya, melainkan lebih-lebih lagi “konyol mengalpakan” pewarisan suksesi kekhalifahan dirinya kepada penerusnya! Pada saat-saat terakhir wafatnya, beliau justru samasekali “masa-bodo”, kosong otak, tidak mewariskan dua pusaka yang paling berharga tersebut, dalam menjaga kemurnian Islam!

Sekalipun Nabi ada menyuruh mencatatkan sejumlah ayat-ayat (misalnya oleh jurutulis Zayd), namun tidak ada kepastian bahwa semua ayat Quran itu tercatat. Tidak diketahui kapan Muhammad suruh mulai mencatatnya (Zayd masih anak kecil untuk ayat-ayat Makkiyyah), dan mustahil semuanya tercatat oleh satu orang, apalagi menurut tertib urut kronologi. Heboh kasus hilangnya ayat Khuszaimah membuktikan semuanya hanyalah acak-acakan saja (lihat bawah). Kekacauan ini terjadi mengingat tidak seorangpun yang selalu berada bersama dengan Nabi setiap kali wahyu diturunkan (dirumah, ditempat tidur, dimesjid, diwaktu siang atau malam, dimusim dingin atau panas, ditempat umum dan khusus, dalam perang, ketika membagi-bagi jarahan, dalam perjalanan, bahkan perjalanan kesurga dll). Yang pasti adalah bahwa tiap pencatat ayat hanya mencatat bagian yang diketahuinya secara kebetulan – ditempat dan waktu — dimana Nabi sedang terturun unit wahyu, lalu buru-buru memakai apa yang tersedia disekelilingnya untuk mencatat-kannya, seperti lempengan batu, kayu, tulang, kulit, pelepah kurma, apa saja yang kebetulan ada, atau sebagian dihafal jikalau memungkinkan.

Jadi inilah yang sering terlupakan oleh Muslim, bahwa tiap qari (penghafal ayat, single) sesungguhnya hanya memiliki kumpulan bunga-rampai ayat-ayat pribadinya sendiri-sendiri, yang jelas saling berbeda porsinya maupun bunyi isinya, sesuai dengan apa yang berhasil dicatat atau yang terhafal oleh masing-masing qari.

Jadi, sekalipun qurra adalah penghafal ayat yang tangguh, namun tidaklah benar manusia qurra – bukan dewa—itu memiliki seluruh Quran, dan yang tak mungkin keliru, lalai, atau lupa akan pernik-pernik seisi utuh Quran yang dihafalinya.

Pertama,  sudah sempurnakah porsi Quran hasil penyusunan qurra?
Betulkah Quran asli surgawi di Lauh Mahfudz itu sama persis mengandung jumlah 114 surat, 6236 ayat, 74.437 kalimat, dan 325.345 huruf, seperti yang dicatatkan dalam Quran kita sekarang ini, mengikuti mushaf yang dihasilkan qurra?  Maulvi Muhammad Ali dan para ulama lainnya menegaskan, “Quran adalah sebuah (himpunan)  manuskrip yang tidak mengenal variasi terkecil sekalipun”. Memang definisi Quran tidak mungkin bisa ditempatkan kurang dari itu. Tetapi realitasnya lagi-lagi mengungkapkan bahwa sejarah rekonstruksi Quran dimana-mana membantahi definisi kosong tersebut. Dalam Al-Itqan saja terlihat banyak riwayat-riwayat perselisihan dan bantahan yang terdapat dalam tubuh sahabat Nabi dan qurra sendiri!

Secuil “wikileaks” cukup kita lemparkan disini: semisal Codex naskah Ibn Mas’ud, yang tidak mengakui tiga surat mushaf Utsmani, yaitu surat-1, 113, 114 (Al-Itqan, bab kompilasi Quran). Sebaliknya Codex Ubay ibn Ka’b (sekretaris Nabi) menyodorkan dua surat tambahan yaitu surat 115 (al-Hafad) dan surat 116 (al-Khala), yang tidak dimiliki oleh mushaf Utsman. Sementara Codex Ali sebagian-nya diketahui telah disusun menurut urutan kronologi dimulai dari Surat 96, 74, 68, 73, 111, 81, dst. Lebih jauh Umar sampai bersumpah bahwa ayat rajam adalah bagian dari, dan ini dibenarkan pula oleh Ubay bin Ka’b, namun ayat ini dikosongkan dari Quran sekarang ini. Juga periwayatan yang dinisbahkan kepada Ubay dan Aisyah: “ Surat al_Ahzab yang saat ini memiliki 73 ayat, sebelumnya memiliki sekitar 286 ayat serupa dengan suratal-Baqarah” (Al-Itqan 1/p.64-65)….dll.

Menghadapi krisis kanan kiri ini sejarah mencatat bahwa Utsman memerintahkan solusi short-cut, yaitu memerintahkan membakar habis semua naskah-naskah asli Quran kecuali yang di edit-ulang oleh teamnya sendiri (para qurra). Naskah asli yang diharuskan dibakar itu tidak pernah dipersalahkannya, namun mushaf hasil re-editing team qurra Utsman itulah yang diproklamasikannya sewenang-wenang sebagai Quran yang sah! Jadi sempurnakah Quran dalam kitab yang diproduksi dan yang diabsahkan sendiri oleh Utsman dan teamnya?

Kedua, cukupkah jumlah qurra yang masih hidup
yang menjadi saksi pembukuan seluruh ayat Quran?

Fakta gugurnya ratusan qurra dalam perang Yamamah (tradisi ada yang meriwayatkan total kematian 450 atau 500 atau 700 qurra pejuang, (entah versi riwayat mana yang benar), ditambah dengan ratusan lainnya sebelumnya dalam perang Muana, jelas menciptakan kemungkinan yang paling wajar bahwa ayat-ayat kumpulan mereka juga turut tergugur dan musnah selamanya bersamaan dengan kematian para qurra ini. Ini bukan kekhawatiran sepele, melainkan justru mencerminkan suasana kritis yang mencekam Umar dan Abu Bakar, yang mana mengindikasikan “kemungkinan banyaknya bagian Quran yang turut termusnah dalam peperangan” (Bukhari 61/ 509; Fadhail al-Quran3). Akhirnya pembukuan Quranpun buru-buru diberlakukan demi mengamankan isinya agar tidak menjadi makin melisut dan terhilang. Namun Ibn Abi Dawud men-sinis apa yang telah di-otak-atik dan dikumpulkan oleh 3 khalifah selama itu,

“Banyak (porsi) dari Quran yang diturunkan (hanya) diketahui oleh mereka yang gugur pada Hari Yamamah…. tetapi yang tidak diketahui (oleh mereka) yang masih selamat; juga tidak ditulis, tidak dikumpulkan oleh Abu Bakar, Umar atau Utsman (pada waktu itu) akan Quran-nya, dan tidak ditemukan oleh satu orang lainnya.” (Ibn Abi Dawud, Kitab al-Masahif, p.23).

Menjadi pertanyaan terbuka: cukupkah nara-sumber qurra yang masih ada untuk menyumbang seluruh isi Quran secara utuh dan benar? Bagaimana kalau ada satu qari saja seperti Khuzaimah (yang menyimpan satu-satunya ayat yang tidak dipunyai oleh qurra lain, lihat dibawah) yang telah keburu mati sebelumnya, baik dalam peperangan Mauna, Yamamah atau sebab lainnya?

Ketiga, siapakah itu qurra? Seberapa hebatnya  integritas moral mereka?

Pertama-tama, bertanyalah apakah qurra itu speciesnya dewa sehingga begitu didewakan otaknya? Bagaimana profile para qurra dizamannya Muhammad hingga mushaf pertama dimunculkan oleh peran mereka? Tidak banyak informasi tentang sosok qurra yang dikatakan jumlahnya mencapai ribuan orang (?). Benar mereka adalah penghafal ayat-ayat Quran, tetapi tidak mesti Quran (seluruhnya), mengingat bahwa tidak ada seorangpun yang memiliki keseluruhan Quran sebelum dikumpulkan Abu Bakar lewat Zayd. Bagaimana dengan IQ-otak dan reputasi mereka? Bisa betul mereka jago hafal, tetapi pintarkah, atau justru bodoh kecuali hanya pintar membeo?

Banyak komentator menduga bahwa mereka umumnya adalah orang-orang buta huruf saja yang suka menikmati dongeng ala “1001 malam”. Ini sesuai dengan kenyataan mayoritas luas Arab dizamannya yang buta aksara, kecuali sejumlah kecil elite yang disebutkan nama mereka. Qurra menjadi pengikut Muhammad yang taat, dan getol menjadi pejuang dimedan perang paling depan. Kenapa? Karena Muhammadlah yang pintar mempengaruhi dan mengikat mereka dengan pelbagai janji, ajaran dan ajakan. Mulai dari mendongeng kisah nabi-nabi Alkitab dengan adaptasi-pembelotan ala 1001 malam yang misterius, atau menakut-nakuti mereka dengan siksa kubur dan neraka, hingga memberikan jaminan nafkah yang menggiurkan bagi pejuang yang mau berperang! Yaitu dalam bentuk barang jarahan, budak, dan perempuan, disamping 72 bidadari surga yang selalu perawan sehabis sex!

Namun yang paling ketekoran bobotnya qurra adalah kenyataan bahwa semua mereka betul hanya membeo saja, dan tidak satupun diantaranya yang berusaha mencocokkan sendiri apa yang mereka hafal dengan kenyataan yang bisa mereka cari. Mereka telah menghafal dan membaca berpuluh ayat-ayat dimana Muhammad “membenarkan” dan memerintahkan mereka untuk harus “mengimani” TAURAT DAN INJIL (Qs.2:41, 89, 91, 101, 136; 3:3; 41:36; 5:43-48, 68; 6:92; 10:73, 94; 29:46; 32:23; 35:31; 43:4; 46: 39 dst) , namun adakah seorangpun dari mereka yang berusaha untuk melacak (minta bantuan dari Ahli Kitab dll misalnya) apakah gerangan isi atau hukum dari Alkitab yang paling harus diimani, misalnya? Atau manakah mukjizat (tanda) Isa yang paling spektakuler  menurut Isa sendiri? Atau apakah setiap orang Nasrani dipastikan akan masuk keneraka juga seperti yang dipastikan oleh Muhammad kepada mereka? (Qs.19:71). Dengan secuil pertanyaan yang paling mendasar inipun maka qurra akan mendapatkan jawaban yang membelalakkan mata mereka yang tidak pernah didengarnya dari mulut dan dongengan Nabinya sendiri! Semua qurra tampaknya tersihir dalam rentang fantasi dan insentif yang Muhammad suguhkan sepihak kepadanya, sedemikian sehingga kini Alkitab-lah yang dituduh Muslim sebagai palsu, bukan dongeng 1001 malamnya Muhammad. Palsu yang dibenarkan, dan yang harus diimani? Alangkah rendahnya IQ dan integritas para qurra …

Keempat, sudah benarkah kesaksian para qurra dimata Allah?

Maka banyak Muslim juga tersihir sampai tidak sadar bahwa keputusan untuk menyusun/ membukukan Quran ini sesungguhnya menyalahi tiga sangkutan perkara “manusia–nabi–Allah” yang sangat  prinsip. Yaitu prinsip batas kemampuan manusia, prinsip ingkar sunnah Nabi, dan prinsip ingkar perintah Allah:

(a).Batas kemampuan. Zayd yang paling tahu akan kemustahilan penyusunan kembali teks-teks Quran lepasan yang begitu berserakan, SPONTAN menolak penugasan tersebut dengan segala kejujuran, bahkan sumpah:
Demi Allah! … Seandainya aku diperintahkan untuk memindahkan sebuah bukit, maka hal itu tidaklah lebih berat bagiku daripada mengumpulkan Al-Quran yang engkau perintahkan itu”…

Ribuan teks teks Quran yang terserak dan tercecer, acak atau terhilang kesetiap pencatat ayat yang bermasalah (hidup atau mati), mustahil bisa dijamin disusun kembali secara utuh dan sempurna seperti aslinya dari surga.

Statement Zayd kepada Abu Bakar ini seharusnya sudah menjelaskan bahwa kehadiran otak-otak penghafal ayat belumlah apa-apa dibandingkan dengan “mission-impossible” dalam menyusun ayat-ayat Quran yang tercecer, kacau dan kehilangan referensinya. Pengakuan Zayd yang men-demi-kan nama Allah ini sungguh telah menampik orang-orang yang mendewakan qurra, mengingat bahwa Zayd sendiri justru adalah juga salah satu qurra yang paling handal! Keberatannya semacam itu haruslah diterima seberat seperti yang telah dikatakannya secara bebas (sebelum ditekan Abu Bakar), tanpa korting dan pereduksian apapun!

Zayd, qurra yang handal tahu keterbatasannya.
Kelak, Abd Allah ibn Umar sama menafikannya sebagai kemustahilan, sehingga ia berkata apa adanya:

“Sungguh seseorang diantara kamu akan berkata: ‘Saya telah mendapatkan al-Quran yang lengkap’, dan tidak mengetahui taraf kelengkapannya. Sesungguhnya banyak bagian al-Quran yang telah hilang (dzahaba), dan karena itu seharusnya ia berkata: ‘Saya telah mendapatkan (bagian Quran) yang masih ada’.”
(Rekonstruksi Sejarah al-Quran, p.230. Juga As Suyuti, Itqan, part 3, p.72).

Al-Suyuti juga mencatat kemustahilannya dari Ikrima: “Jikalau jinn dan manusia sama sama berhimpun menyusunnya (urutan Quran sebagaimana yang diwahyukan), mereka tidak pernah dapat melakukannya” (Al-Itqan, bab kompilasi).

(b). “Ingkar” Sunnah Nabi. Ketika Zayd terus didesak oleh khalifah Abu Bakar dan Umar, ia masih melakukan penyanggahan dengan kalimat yang merujuk kepada keimanan:
”Mengapa kalian melakukan sesuatu (penyusunan Quran) yang tidak diperbuat oleh Nabi?” (lihat Muqaddimah Al Quran, terjmh. Depag).

Abu Bakar mendalilkan perlunya penyusunan Quran ini sebagai proyek yang “sangat baik” untuk Islam walau Muhammad tidak pernah menganjurkannya sekalipun selama 23 tahun kenabiannya.  Semua Muslim sekarang agaknya juga akan memujikan hal yang sama sekalipun itu tidak di sunnahkan Nabi. Tetapi Muslim lupa bahwa jikalau hal itu sangat baik dan berguna bagi Islam dan umat-Allah, tentulah itu tak luput dari pengetahuan dan kehendak Allah untuk memerintahkan Muhammad membukukan Kalimat-Nya sejak dari awalpun! Jadi andaikata sekalipun tak ada Zayd & Abu Bakar yang membukukannya, apakah Allah tidak mampu menurunkan kuasa-langitNya untuk menghadirkan Qurannya secara utuh dengan cara yang samasekali berbeda dengan akal manusia? Bukankah janji-janji Allah luar biasa tegarnya terhadap KalimatNya sendiri? Termasuk “tidak ada perubahan”, “tidak dapat dipergantikan”, dan “tidak berkesudahan kehadirannya (kekal disisi Allah)” dari setiap Kalimat-Nya? (Qs. 6:34; 10:64; 48:23; 43:4; 85:22). Allah sendirilah yang menjamin existensi dan pemeliharaan kesempurnaan Quran-Nya hingga selamanya, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya(Qs.15:9, dngan footnote dari Depag: Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya).

Jadi dimana iman Abu Bakar kepada Allah SWT, sehingga lebih mengandalkan pikirannya sendiri dan para qura,  ketimbang beriman kepada janji dan jaminan Allahnya. Apalagi ia sudah diperingati oleh Zayd sebelumnya untuk mengikuti “sunnah” Nabi saja! Namun Abu Bakar dalam kepanikannya tetap memaksakan “proyeknya” sendiri. Tidak heran mushafnya walau akhirnya selesai disusun, namun praktis dimubazirkan Allah: Mushaf ini tidak pernah menjadi acuan Quran resmi (Official Quran), melainkan hanya tersimpan sepi selama 15-20 tahunan selama 3 kekhalifahan tanpa manfaat kepada masyarakat Islam yang justru makin berkembang!

(c). “Ingkar” perintah Allah

Lebih dari apa yang tampak dari luar, adakah Muslim juga melihat bahwa pembakaran yang Utsman perintahkan dalam kepanikan itu bukan semata sebuah tindak kepanikan, kebodohan, dan kecongkakan yang tidak beriman, melainkan juga sebuah kejahatan dan bunuh diri? Kenapa? Bukankah Allah telah menyodorkan sebuah senjata pamungkas untuk menyaring setiap surat palsu Quran, yaitu dengan menantang semua manusia dan jin untuk bersekongkol membuat “Surat Semisal Quran” untuk dipertandingkan dengan surat asli Quran?

Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa

(semisal) Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa

dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang

lain” (Sura 17:88).

“ Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Quran yang Kami wahyukan

kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal

Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain allah, jika kamu orang

yang memang benar” (Sura 2:23, 10:37-38).

Nah, Allah lewat Muhammad telah memperlengkapi setiap Muslim untuk membedah, mengidentifikasi, dan memilah setiap “surat-palsu-Quran” dengan ayat pamungkas seperti yang dikutib diatas. Ternyata ayat kebanggaan semua Muslim itu tidak digunakan samasekali oleh Utsman, yang lebih memilih untuk memilah naskah Quran miliknya (re-edisi qurra) dengan cara membakar semua naskah-naskah asli Quran tandingan lainnya! Kenapa Utsman sampai membangkang perintah Allah yang telah disiapkan itu? Ya, karena Utsman tidak berani memilah dan mempersalahkan “surat tantangan” manapun, karena iapun tak tahu persis mana yang salah mana yang benar. Bukankah semuanya itu telah sama dicatat langsung dari mulut Nabi sendiri?

Dan sama setali-tiga-uang dengan Utsman, semua Muslim sampai sekarangpun tak ada yang berani men-juri-kan apakah surat ke 115 dan 116 dari Ubay (surat al-Hafad dan al-Khala) adalah surat wahyu atau bukan wahyu! Ayat-ayat “pamungkas -ilahi” (yang sangat dibangga-banggakan Muslim sampai sekarang ini) ternyata impoten sejak dari lahirnya. Ia tidak bisa dipakai secara operatif untuk memilah ayat palsu yang berkwalitas, termasuk Muhammad sendiri tak mampu memilahnya! Ia hanya diperalat menjadi ayat penggertak Muhammad saja selama hidupnya. Dan seluruh Muslim telah tertipu mengelu-elukan ayat pamungkas dengan pepes kosong ini!

Sesuatu tantangan yang diklaim datang dari Allah tapi ternyata impoten, sia-sia, gagal dan mubazir tentulah menjadi bahan tertawaan. Klaimnya kepergok palsu belaka, karena firman Tuhan selalu perkasa, tak ada yang kosong, mustahil sia-sia:

Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yesaya 55:11).
(BERSAMBUNG)

Kami Baru Tahu Rahasia Dibalik Al-Fatihah & Al-Quran Surgawi!

Oleh Kalangi

Dibalik kemasyurannya yang hebat – karena dihebat-hebatkan manusia –  namun ternyata sehebat itu pulalah Surat Pembukaan Al-Fatihah ini menyandang sejumlah masalah intrinsic yang menggoyahkan iman Muslim sebagai  sebuah wahyu otentik dari Allah! Surat yang paling diagungkan Islam ini – yang digelari Ummul Kitab, al-Kafiyah, bahkan al-Asas — justru tidak punya silsilah kapan dan dimana ia diturun-kan Allah kepada Muhammad, atau diturunkan setelah surat yang mana juga tidak diketahui dengan pasti! Dinamai Surat Pertama tetapi bukan Surat yang diturunkan pertama! Itu sebabnya para pakar Islam hanya sanggup berspekulasi “sebaik-baiknya” bahwa surat ini termasuk surat Makkiyah, tetapi mau memahami bahwa ada pihak-pihak lain yang mengakuinya sebagai surat Madaniyah. (lihat pelbagai ensiklopedi Islam, atau Muqaddimah Terjemah Quran oleh Moh. Rifai). Ibn al-Hassar malahan telah memastikan bahwa komposisi surat-surat Quran adalah terdiri dari 20 surat Madaniyah dan 82 surat Makkiyah, dan menyisakan 12 surat yang dipertentangkan makki-madani-nya (!), dan salah satu diantara adalah surat al-Fatihah! (lihat al-Itqan I/ 44-45). Dalam mushaf versi Ibn Abbas (yang sebagian surat-suratnya tersusun secara kronologis) didapati Al-Fatihah ditempatkan dalam urutan  surat ke-6, diantara surat 74 dan surat 111.  Lebih kacau lagi karena ada pihak lain yang meyakini surat itu diturunkan dikedua tempat tersebut: Mekah maupun Medinah. Sedangkan sejumlah ulama kesohor termasuk Syeik Allamah Thabathaba’i malahan mengatakan surat istimewa itu telah diturunkan berulang-ulang, ya di Mekah, ya di Medinah ...


Orang-orang yang bernalar agaknya akan menafikannya dengan berkata:
“Kalau begitu, tentu kasus ini menjadikan Jibril hampir tak ada kerjaan lain kecuali mengurusi Surat ajaib ini bolak-balik berulang-ulang!”
Tetapi nanti dulu (!), jangan buru-buru menuduh, karena itulah sungguh kerjanya Jibril as. yang bolak-balik membisikkan kepada Muhammad satu unit-wahyu disatu waktu, tetapi diwaktu yang lain Jibril yang sama turun lagi untuk membisikkan bahwa wahyu tsb dibatalkan dan digantikan (nasikh- mansukh, Qs 2:106)! Dan diwaktu yang lain lagi ia juga membisikkan (atau membiarkan Muhammad?) agar ayat (ayat-ayat) itu dipindahkan letaknya, “tidak usah lagi” menurut kronologi asli ketika ayat tersebut pertama kali diturunkan!

Inilah yang menyebabkan berantakannya penempatan urutan asli surat dan ayat diseluruh Quran yang semestinya mengikuti urutan tertib kronologi ketika Jibril menurunkan wahyu awalnya, yaitu berturut-turut untuk surat Al-Alaq (96), Al-Qalam (68), Al-Muzzammil (73), Al-Muddatstsir (74), dst. (menurut Allamah MH. Thabathaba’i, . Mengungkapkan Rahasia al-Quran, p 124). Namun kini urutan tersebut telah diduduki secara tidak jelas dan tanpa alasan dari Allah SWT, menjadi surat 1 (Al-Fatihah), surat 2 (Al-Baqarah), dst. seperti halnya yang Muslim adopsi sekarang ini. Adakah Muslim cukup bertanya, “kenapa sesudah jibril menurunkan Quran awal dengan tertib urut kronologi lalu harus mendadak mengubahnya dengan urutan acak? Apakah kerja demikian adalah ciri kerja Allah yang tertib seperti yang Dia klaim tentang diriNya, “…(inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci(Surat 11:1)?

Demikianlah polanya surat Al-Fatihah ditempatkan dan diadopsi oleh manusia, atas nama Allah! Lebih kritis lagi adalah “pengkacauan” urutan tertib ayat-ayat Allah oleh Muhammad sendiri: “Diriwayatkan oleh Ibn Abbas dari Utsman ibn Affan bahwa apabila diturunkan kepada Nabi suatu wahyu, ia memanggil sekretaris untuk menuliskannya, kemudian bersabda, “Letakkanlah ayat ini dalam surat yang menyebutkan begini atau begitu.” (Tirmidzi, Sunan, kitab al-tafsir, bab surah 9).

Pertanyaan dasar Muslim yaitu, kenapa harus dirombak ulang  sesuatu yang telah terturun Murni, langsung dan sempurna dari surga? Jadi mana wahyu yang sempurna, yang awal menurut urut di Lauh Mahfudzh ataukah yang sudah diacak baru sesaat setelah diwahyukan dan dicatat diotak Muhammad dan para penghafal ayat? Ataukah Allah lebih bodoh dari Muhammad yang merasa perlu merombak posisinya? Maka tidak heran kita menyaksikan banyaknya ayat-ayat Allah yang disisipkan oleh Muhammad dan para sahabatnya ditengah-tengah ayat lain yang tidak “seperwahyuan” turunnya. Lihat Muqaddimah Surat Yunus dalam Al-Quran terjemahan Depag yang mengakui adanya sisipan diatas apa yang sudah diturunkan secara asli, langsung dan sempurna:
“Surat Yunus terdiri atas 109 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah kecuali surat ayat 40, 94, 95, yang diturunkan pada masa Nabi Muhammad s.a.w. berada di Madinah”.

Muslim seharusnya kasihan menyaksikan betapa sia-sianya Jibril yang kerjaannya tidak pernah tuntas sekali pukul pertama, sehingga harus diulang-ulang!

Keabsahan Surat Pertama
Muslim awam umumnya merasa bahwa surat ini memang sudah selayaknya ditempatkan sebagai surat pertama sesuai dengan maknanya sebagai Surat Pembukaan (al-Fatihah), jadi, ya seharusnya ia merupakan surat awal Makkiyah! Ini adalah kekeliruan menyusuli kekeliruan! Muslim lupa bertanya, “Siapakah yang memberi nama al-Fatihah dan siapa yang menempatkan surat tersebut?” Hanya apabila Allah yang memberi nama dan penempatan lewat wahyuNya, maka ia mempunyai legitimasi ilahi sebagai Pembuka Al-Quran yang sesungguhnya, dan bukan sempalan manusia seperti yang diperlihatkan diatas. Tetapi dimanapun dalam Quran, Muhammad tidak pernah diberi wahyu tentang nama judul bagi surat-surat-Nya, melainkan hanya disebut nama generiknya saja sebagai “sebuah surat“, atau “suatu surat”  (Qs.2:23, 9:86, 24:1 dst). Surat-surat ini dalam sejarah awal Islam, oleh pelbagai pihak dirujuk dengan pelbagai nama yang beragam dan sebagiannya telah dibuang, dan baru kemudian hari secara atsar (dampak dari sebutan-sebutan umum) muncul pembakuan judul surat-surat yang mana membuktikan bahwa itu semua adalah penjudulan manusia. ..

“Merupakan suatu hal yang pasti bahwa nama-nama yang diberikan kepada surat-surat itu bukanlah bagian dari Quran. Tidak jelas kapan munculnya nama-nama surat yang beragam itu…. sekitar pertengahan abad ke-8 dapat dipastikan bahwa nama-nama surat yang beragam itu telah memasyarakat” (Taufik A. Amal, Rekonstruksi Sejarah al-Quran, p.211-212).

Penggugatan akan pewahyuan Surat Al-Fatihah ini didukung oleh segudang fakta historis, antara lain menyangkut hal-hal gamang yang menyelimuti dirinya:

1). Surat al-Fatihah ini tidak mempunyai pijakan asal-usul dan sebab musabab pewahyuannya; ia yang sekalipun dianggap surat paling terhormat dan termulia, namun muncul begitu saja tanpa silsilah!

2). Kosong-kronologi, bahkan tidak diketahui kapan ia diturunkan dan dimana. Bahkan tak ada indikasi ia diturunkan setelah (atau sebelum) ayat atau surat apa. Semuanya hanyalah hasil penempatan secara acak yang kehilangan referensi.

3). Tidak memiliki legitimasi ilahi dalam tata-letaknya sebagai Ummul Kitab, al-Kafiyah, al-Asas dan sebagai Surat Pertama, sebab bukan Muhammad yang menetapkannya disana atas nama Allah! Hadis manakah yang ada mengatakan bahwa Nabi menetapkan urutan surat Al-Fatihah sebagai surat Pertama? Bahkan sahabat Nabi manakah yang sudah menuliskan atau membacakan Surat ini (sebagai wahyu) sebelum hijrah?

4). Ternyata surat-1 ini (dan juga bersama surat 113 dan 114),  tidak dimasukkan oleh Ibn Mas’ud dalam koleksi naskahnya (As Suyuti, al-Itqan, I:220-22). Padahal tidak ada keraguan bahwa Ibn Mas’ud adalah salah satu otoritas terbesar dalam al-Quran, dan tanpa tandingan untuk surat-surat Makkiyah! Ini akan kita kupas nanti.

5). Konten wahyunya al-Fatihah adalah sebuah musibah, karena memperlihatkan suatu rangkaian wahyu yang dipersekutukan dengan non-wahyu!

Menurut makna dan isi teksnya, al-Fatihah jelas bukan seruan doa dari Allah tetapi sebaliknya, seruan doa manusia kepada sosok Allah! Dan ini sudah menafikan dirinya sebagai kata-kata Allah yang termaktub dalam Lauhul Mahfudz. Namun menurut  formatnya yang masuk dalam bagian Al-Quran, ia pastilah wahyu langsung ucapan Allah sebagaimana seluruh kalimat Quran yang adalah seruan Allah semata. Jadi bagaimanakah Muslim dapat memahaminya?

Disini Allah tidak menyertakan kata tanda “Qul” [Katakan (hai Muhammad)….] kedalam surat ini, khususnya untuk ayat 5-7, yang memperlihatkan bahwa ia hanyalah sebentuk doa dari manusia, bukan tanda verbatim dari mulut Allah sendiri. Bukankah penandaan kata ini sudah dibakukan secara khusus dan sudah diserukan oleh Allah sendiri sebanyak 332 kali “Qul” diseluruh Quran? Maka mungkinkah Surat Terkemuka al-Fatimah ini justru akan dilalaikan Allah dari satu kata seruan “Qul”/ “Katakan”? Padahal kata-seruan itu mutlak diperlukan demi menjaga agar FirmanNya jangan sampai dipersekutukan kedalam “firman manusia”.

Mushaf koleksi Ibn Mas’ud yang otoritatif

Salah satu Muslim yang paling awal adalah Ibn Mas’ud, yang keilmuannya dalam Quran “terpaksa” diakui oleh mainstream Islam, karena fakta-fakta yang tidak tersembunyikan oleh mereka, mulai dari pujian Muhammad hingga ke Jibril!

*Muhammad sendiri memujikan dia dengan menyebut namanya pertama-tama sbb: “Belajarlah mengaji Quran dari 4 orang: dari Ibn Mas’ud, Salim sekutu dari Abu Hudhaifa, Ubayy b. Ka’b, dan Mu’adh b. Jabal” (Shahih Muslim, vol.4, p.1313, Shahih Bukhari vol.5, p.96-97).

*Khalifah Umar bin al-Khattab dalam suratnya kepada penduduk Kufa mengkonfirmasikan keteladanan dan ilmunya:

“Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya aku mengutamakan

Abdullah bin Mas’ud atas diriku. Maka tuntutlah ilmu darinya.”

*Khalayak & Muhammad. Ibn Mas’ud pada suatu event sempat mendemo-kan pengajian lebih dari 70 surat koleksinya dihadapan Muhammad dll. Ini adalah peragaan yang luar biasa! Baik Muhammad maupun hadirin lainnya tidak satupun yang menyalahkan pengajiannya ( Shahih Muslim vol.4, p.1312). Dan ini sekaligus menjelaskan betapa Ibn Mas’ud sesungguhnya telah mengantongi “the 70 proven canonical surahs” (surat-surat yang terbukti shahih) yang tidak bisa tidak harus turut dijadikan rujukan kebenaran untuk mushaf-mushaf manapun yang muncul kemudian, khususnya mushaf Utsman (yang sayang tidak dilakukan oleh Utsman).

*Sumpah Ibn Mas’ud sendiri. Ya dialah orangnya yang paling sempat dan mampu mencatat wahyu yang terturun karena kedekatannya dan seringnya ia berada bersama dengan Muhammad (bahkan sejak masih kanak-kanaknya Zayd bin Tsabit). Itu sebabnya beliau berani bersumpah: Demi Allah, tidak ada satu ayatpun dari Al-Quran tanpa kuketahui latar belakang diturunkannya ayat tersebut. Tidak ada seorang-pun yang lebih mengetahui tentang Kitabullah disbanding aku. Meskipun begitu, aku bukanlah orang yang terbaik diantara kalian”. (HR.Ahmad bin Hanbal).

*Jibril. Bahkan dikatakan Ibn Mas’ud ini mendapat kehormatan selalu hadir sewaktu Muhammad meneliti kembali Al-Our’an bersama Jibril setiap tahun (Ibn Sa’d, Kitab Al Tabaqat Al-Kabir, jilid 2,haI.441).

Keabsahan Surat-surat Al-Quran

Jikalau Ibn Mas’ud tahu setiap latar belakang turunnya setiap ayat, maka tak pelak lagi Muslim lainnya harus memiliki fakta-fakta yang super-shahih agar dapat menyalahkan ayat dan surat apa yang telah dikumpulkannya atau apa yang ditolaknya. Dan Ibn Mas’ud dengan tegas menolak surat-surat 1, 113, 114 sebagai wahyu! Penolakan mana bukannya dibantahi atau dipersalahkan Utsman dengan bukti-bukti dan persidangan, tetapi justru naskah ibn Mas’ud itulah yang diharus-kan untuk dimusnahkan atas perintah Utsman sebagai tindak penguasa yang sewenang-wenang:
“Utsman mengirim kepada setiap propinsi satu kitab yang telah mereka salin, dan memerintah-kan agar semua naskah-naskah Al-Our’an yang lain, apakah dalam bentuk yang terbagi-bagi, atau yang lengkap, harus dibakar.
(Sahih al- Bukhari, Jilid 6,hal.479).

Tetapi adakah Utsman mendapatkan mandat-ilahi untuk memusnahkan naskah-naskah dari ucapan-ucapan Muhammad yang paling primer? Tidakkah Nabi akan menangisi pembakaran Kalimat Allahnya? Ibn Masud yang tegar dan polos hati itu tidak menjilat penguasa. Ia justru membantahi perintah Utsman yang hendak menghilangkan kebenaran sejarah tanpa menunjukkan kesalahannya atau ketidak-layakannya:

“Saya mendapatkan langsung dari Rasulullah 70 surat ketika Zayd masih

remaja kanak-kanak. Apakah kini saya harus membuang apa yang saya

peroleh langsung dari Rasulullah?” (Ibn Abi Dawud, Kitab al-Masahif, p.15).

Dan dia pulalah yang memperingatkan tangan-tangan yang mengotori Quran:

“Jangan menulis ke dalam Quran apa yang bukan bagiannya!”

Pembakaran naskah-naskah Quran yang paling primer inilah (karena dianggap sebagai tandingan mushaf Utsman) yang menjadikan Quran tidak bisa lagi membuktikan keotentikan dirinya, apapun alasan-alasan lainnya! Itu sebabnya (Muslim sering tidak awas karena digelapkan) nama Ibn Mas’ud yang besar itu dikerdilkan dan dikritik karena para ulama tidak mau melihat Quran Islam (yang ada sekarang ini) dipermasalahkan lagi dengan mengungkit “fakta-fakta Ibn Mas’ud”.

Tetapi bukankah Muslim diseluruh dunia mengungkit dan mengutuk pembakaran Quran oleh Terry Jones di Florida? Padahal yang paling harus dikutuk sesungguh-nya adalah Utsman yang pertama-tama memberi contoh fatal tentang pembakaran Quran serta menghilangkan fakta sejarah atas nama Muhammad dan Allah (yang tidak menjadi saksi baginya, dan belum tentu mendukung pembakarannya)! Terry Jones hanya menghilangkan satu copy diantara miliaran copy kitab Quran yang tercetak, tanpa merugikan existensi atau otentifikasi apapun dari Quran yang ada. Dunia tidak kehilangan apa-apa dengan terbakarnya satu copy di Florida. Tetapi Utsman telah menghilangkan seluruh naskah-naskah asli yang paling tua yang tiada lagi bisa diproduksi-ulang selamanya, termasuk Mushaf ASLI Abu Bakr yang Utsman pinjam dan pakai sendiri sebagai sumber salinan bagi mushaf –nya! Integritas Islamik macam apakah yang diperlihatkannya? Maka sejarah hitam Islam terpaksa mencatat bahwa naskah paling tua Quran (yang dipercaya identik dengan wahyu langsung dari surga) kini telah tiada dan diganti oleh Quran ex-mushaf utsmani yang kita pakai sekarang ini…

DUA MITOS ISLAM YANG DINAFIKAN SEJARAH

1.Mitos adanya semacam “mushaf Muhammad”

Sebagian Muslim masih cenderung terlena dan menerima seolah-olah Muhammad menjelang kematiannya telah menghimpun Quran-nya secara utuh, tersusun tertib dan teratur surat dan ayat-ayatnya seperti yang kita kenal sekarang ini, tanpa berubah isi maupun bentuknya! Malah ada yang mengatakan bahwa lepasan naskah-naskah Quran yang diperintahkan Nabi untuk dituliskan baginya, memang disimpan oleh Muhammad dan sudah diikatkan menjadi shuhuf. Bagus! Kalau begitu tunjukkanlah koleksi Muhammad tersebut pernah ada dimana dalam rentang sejarah hidupnya!

Adakah dia pernah memakainya? Atau pernah mengamanatkan apa-apa tentang naskah koleksi Quran yang dipunyainya itu, karena koleksi tersebut pasti dianggap asset yang paling berharga dan pasti akan dirujukkannya – jikalau naskah itu benar ada.

Retorika Islam terlalu sering memainkan asumsi tanpa substansi,tetapi lalu menslogankannya secara heroik dan bertubi-tubi agar bisa dipercaya oleh oraang yang kurang awas. Dimanapun, tak ada Hadis dan Tradisi, Sirat dan sejarah Islam yang menggambarkan bahwa Muhammad atau sahabatnya pernah memegang dan menggunakan apa yang disebut  “mushaf Muhammad”. Jikalau ada, maka bertanyalah kenapa mushaf resmi pertama harus dihimpun dari nol oleh Zayd bin Tsabit, yaitu seperti yang dikatakan Zayd sendiri: “… Jadi saya mulai mencari dan mengumpulkan Quran dari pelepah-pelepah palem, lempeng-lempengan batu putih, dan juga dari orang-orang yang mengetahuinya…” (Shahih Bukhari 6. 61. 510).

2.Mitos Mushaf Utsman Identik Dengan Al-Quran-nya Allah SWT

Mitos ini berdengung hingga sekarangpun! Padahal penjelasan sederhana diatas saja sudah menunjukkan secara gamblang betapa politik dan tangan-tangan kotor turut memainkan kehadiran mushaf-manusia yang mengatas namakan allah!  Perbedaan naskah yang satu dengan lainnya bertebaran dimana-mana dan itu diselesaikan dengan cara kekuasaan politik! Itu sebabnya sejarah mencatat perbantahan kekal tentang “Mushaf Allah” diantara sesama Muslim dan Mazhab. Cukuplah ditambahkan beberapa fakta pengakuan/ tuduhan yang sangat mendasar seperti dibawah ini:

“Banyak (porsi) dari Quran yang diturunkan (hanya) diketahui oleh mereka yang gugur pada Hari Yamamah…. tetapi yang tidak diketahui (oleh mereka) yang masih selamat; juga tidak ditulis, tidak dikumpulkan oleh Abu Bakar, Umar atau Utsman (pada waktu itu) akan Quran-nya, dan tidak ditemukan oleh satu orang lainnya.”

(Ibn Abi Dawud, Kitab al-Masahif, p.23).

Perhatikan 3 istilah khusus yang dipakai disini: lam ya’alam- “tidak diketahui”, lam yuktab- ”tidak ditulis”, lam yuwjad- “tidak ditemukan”, yang menegaskan betapa porsi dan ayat Quran tertentu telah terkubur selamanya bersama dengan para qurra yang gugur dalam perang Yamamah.

Tetapi sekalipun diketahui dengan pasti oleh Khalifah Umar, dan diperkuat dalam Hadis dan dalam praktek Islam, entah kenapa ayat tentang perajaman juga tersingkirkan dari mushaf Utsman. Umar berkata, “…kami membacanya, kami diajari, dan kami menegakkannya. Rasul merajam, dan kamipun merajam setelah beliau… Sungguh rajam dalam Kitabullah adalah hukuman bagi lelaki dan perempuan yang berzina” (Ibn Ishaq, Sirat Rasulullah, p.684). Jadi apakah Quran kini yang tanpa ayat tentang perajaman tersebut adalah Quran yang sejati?

Sebaliknya, setelah mushaf Utsman tersalin, Zayd baru sadar ia kelolosan memasuki satu ayat Quran (yaitu surat al-Ahzaab ayat 23), dan itu bisa-bisanya dia (dengan Utsman) yang mengesahkan ayat itu kedalam mushaf Utsman, padahal keabsahan ayat tersebut tidak didukung oleh dua orang penyaksi diluar Komite Pengumpul Quran! Ayat ajaib itu tidak dijumpai pada pengumpul Quran manapun kecuali hanya pada satu orang, yaitu Khuzaima bin Thabit Al-Ansari! (Shaih Bukhari, vol.6.61.510). Lebih daripada itu ayat tersebut pasti tidak terdapat dalam mushaf Abu Bakar yang dijadikan Zayd dan Komite-nya sebagai rujukan penyalinan sehingga ia sampai kecolongan ayat tsb! Jadi kenapa ayat yang tidak mutawatir dan bermasalah itu justru bisa dianggap sah, sementara ayat perajaman dari Umar itu tidak sah?

Pihak Shiah mau tidak mau (serba salah, karena kehilangan Mushaf Ali bin Abi Talib –bapak Shiah—yang  juga diharuskan untuk dibakar) terpaksa menuding ketidak murnian Quran yang diturunkan dari Mushaf-Utsmani:

Setidaknya tercatat ada 219 ayat-ayat spesifik Quran yang dinyatakan palsu oleh Syi’ah. Bahkan kaum Syi’ah percaya bahwa “Al-Quran yang dibawa oleh Jibril as. kepada Nabi Muhammad saw adalah 17.000 ayat”.

Ini hampir 3 x lebih tebal ketimbang Quran sekarang.
(re: Tinjauan Ahlus Sunnah Terhadap Faham Syi’ah Tentang Al-Quran dan Hadits, Nabhan Husein; dan hadis Hisyam bin Salim, diriwayatkan dari Abi Abdillah as.)

Akhirnya yang paling menarik adalah apa yang diakui oleh Utsman sendiri yang kini sering disembunyikan periwayatannya karena rawannya.  Taufik A.Amal dalam bukunya Rekonstruksi Sejarah al-Quran, p.204, menulis sbb:
“Salinan-salinan mushaf utsmani yang diedarkan di sejumlah kota, dalam

kenyataannya, tidak sempurna secara absolut. Kenyataan ini diakui sejumlah

otoritas Muslim yang awal. Sejumlah riwayat melaporkan tentang ditemukannya beberapa kekeliruan di dalam salinan-salinan mushaf tersebut. Yang paling populer darinya adalah riwayat yang mengungkapkan bahwa Utsman sendiri, ketika memeriksa salah satu eksemplar yang telah selesai ditulis, menemukan ungkapan-ungkapan keliru dan mengatakan bahwa kekeliruan itu tidak perlu diubah, karena orang-orang Arab – dengan lisan mereka – bisa membetulkannya. Riwayat populer lainnya mengemukakan bahwa Aisyah menemukan sejumlah kekeliruan penulisan di beberapa tempat: dalam 2:17…; dalam 4:162…; dalam 5:69…; dan dalam 20:63… serta menegaskannya sebagai kekeliruan yang dilakukan para penulis.

Riwayat-riwayat semacam ini secara jelas memberi kesan bahwa teks

utsmani tidak dapat diubah lagi, sekalipun terdapat kekeliruan di dalamnya.”

Jadi adakah Muslim pernah memiliki Al-Fatihah dan Mushaf Surgawi  seperti yang didengungkannya? Atau yang sedikitnya dishahihkan oleh Muhammad pribadi sebagai saksi final wahyu langsung Allah?  Dimana otoritas keterjagaan dan tertib rapi dari Allah Semesta Alam yang telah mengumandangkan janji-Nya:
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya[793]. [Catatan kaki utk 793: Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya].

“…(inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci(Surat 15:9 dan 11:1).

Tampaknya yang ada hanyalah sebuah versi dandanan belaka, dan dijual dengan segala cara. Ya, segala cara (!) karena semuanya sah dan halal, asal untuk Islam!