Adakah Maulud Muhammad, Semulia Natal Yesus Almasih?

Orang-orang yang benar-benar diutus Tuhan perlu dilihat dari segala dimensi kehidupannya, khususnya nabi-nabi terbesar. Sebab mereka ITUlah yang  menjadi model kehidupan bagi umatnya.

Kita telah banyak mendengar tentang kisah nabi nabi besar setelah mereka “tampak” menjadi nabi. Kisah sebelumnya justru akan terlewati oleh sejarah apabila karya kenabiannya tidak berujud. Begitu pula dengan Muhammad yang bahkan  kelahirannya tidak diketahui dunia kecuali dikalangan keluarga besarnya saja. Itulah Maulid, hari kelahiran Muhammad yang kini ingin dicoba untuk dipanggungkan kedunia walau usahanya berjalan terseok-seok.….

Mungkin Anda  pernah membaca dari buku terbitan kementrian agama Arab Saudi bahwa Peringatan Maulid Nabi tidak pernah dilakukan atau dicontohkan pada masa Nabi Muhammad maupun pada masa sahabat-sahabat Nabi Muhammad.

“Bagaimana dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia apakah ada hadist yang membenarkannya dan bagaimana sikap Muslim untuk menghadapi sesuatu yang dikatagorikan bid’ah?”

Di banyak negara, seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, Mesir, Yaman, Aljazair, Maroko, dan lain sebagainya, ada tradisi umat Islam untuk senantiasa melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti Peringatan Maulid Nabi SAW, peringatan Isra’ Mi’raj, peringatan Muharram, dan lain-lain. Bagaimana sebenarnya aktifitas-aktifitas itu? Secara khusus, Nabi Muhammad memang tidak pernah menyuruh hal-hal demikian. Maka apakah hal ini bisa digolong “masyru’” (disyariatkan), atau bisa dikatakan berlawanan dengan teologi agama?

Perayaan Maulid Nabi diperkirakan pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil, di Irak pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193). Kini sebagian masyarakat muslim Sunni dan Syiah memang merayakan Maulid Nabi. Tetapi Muslim Sunni merayakannya pada tanggal 12 Rabiul Awal sedangkan Muslim Syiah merayakannya pada tanggal 17 Rabiul Awal.

Tanggal kelahiran Nabi diperselisihkan secara tajam.
Ada yang mengatakan bahwa beliau lahir tanggal 2 Rabiul Awal, atau tanggal 8, atau 10  atau 12  atau 17 Rabiul Awal (Lihat al-Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir: 2/260 dan Latho’iful Ma’arif karya Ibnu Rojab hlm. 184-185).

Khusus untuk tanggal 12  Rabiul Awal, itu dikatakan tidak shahih oleh sejumlah tokoh Islam termasuk Jabir dan Ibnu Abbas ra. Dan Ibnu Katsir berkata tentang hadits tersebut, “Sanadnya terputus.” (al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Rajab hlm. 184-185). Ini tentu menggelisahkan kaum Sunni yang merayakannya pada hari tersebut. Tetapi yang paling tidak jelas adalah tujuan ilahi yang bagaimana-kah yang sesungguhnya diharapkan Allah (atau Muhammad) dari perayaan Maulid Nabi ini? Tidak ada jawaban!

KEKHUSUSAN APA YANG TELAH ALLAH BERIKAN
BAGI KELAHIRAN MUHAMMAD?

Muslim mencari-cari alasan religious yang murni bagi Maulid Nabi. Namun tidak akan tercari kecuali bikinan-bikinan semu belaka. Soalnya Muhammad sendiri dilahirkan dalam kesenyapan, kehampaan kekhususan dan tanda kenabian, tanpa tanda kuasa ataupun mukjizat supernatural. Tak ada gejala, sambutan dan kunjungan malaikat. Tak ada pengumuman apapun dari surga.

Pertama-tama,

Siapakah Ibu yang melahirkan Muhammad?

Allah dari mulut-Nya  tidak menyebutkan nama ibu ini. Sebaliknya ketika Muhammad memintakan pengampunan dosa ibunya yang telah wafat itu, Allah malahan menghentikan permintaan ini, sehingga Muhammad menangis tersedu-sedu karenanya. Ya, tidak seorang wanitapun yang mau disebutkan namanya oleh Allah, kecuali Maryam seorang yang Dia sebutkan dari mulut-Nya bukan satu kali, melainkan  sebanyak 34 kali! Dia mendapat lawatan Allah dan makanan dari langit. Dia ditempatkan Allah secara khusus sebagai “perempuan yang melebihi semua perempuan lain yang ada didalam alam” (3:42). Bukankah itu dahsyat?!
Dan Allah Islam ini justru ada memberi alasan khusus kepada Muslim untuk bergembira bersama merayakan kelahiran Yesus Almasih, Peringatan Natal, ketimbang hari lahir Muhammad yang senyap:
“Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat”…dan “menjadikannya  tanda bagi manusia dan sebagai Rahmat dari Kami” (3:45, 19:21).
Allah Islam tidak menghubungkan Ruh Allah atau unsur surga apapun kepada kehamilan dan kelahiran Muhammad. Tetapi Dia justru telah menghembuskan Ruh-Nya sendiri via perawan Maryam untuk kelahiran Yesus (21:91, 66:12).

Allah Islam justru mengumumkan bahwa Yesus itu dilahirkan dari Firman dan Ruh Allah (4:171), suatu Zat yang tidak bisa lain dari DNA-nya Allah sendiri.

Damai ilahiah tidak menyertai kelahiran (dan kematian) Muhammad, tetapi kepada Yesus, damai-surga itu sungguh disertakan oleh Allah (19:33).
Bahkan kelahiran Muhammad tidak terlindung dari sentuhan setan, sehingga ia berteriak menangis! Sebab Muhammad sendiri justru mengakui hal ini dengan berkata: “Setiap anak Adam yang baru lahir disentuh oleh setan… lalu memekik menangis karenanya selain Maryam dan anaknya.” (Shahih Bukhari 1493).
Allah Islam tidak memberikan Muhammad gelar apapun untuk kelahirannya. Pendek kata, Dia tidak memberikan sedikit apapun untuk Maulid Nabi! Tetapi kepada Yesus, Allah Islam ini telah memberi pada Natal Yesus suatu gelar AYATULLAH dan RAHMATULLAH, Ayat dari Allah dan Rahmat Allah satu-satunya untuk diteruskan kepada umat manusia (21:91, 19:21).

Dan memang Tuhan Alkitab lewat malaikat-Nya telah berkata tentang harapan dan kemuliaan “Maulid” Yesus kepada seluruh umat manusia:

“Aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:

Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk2:10,11).
Ya, Mesias yang Juru Selamat dan Tuhan!
Adakah seseorang seperti Muhammad bisa
disejajarkan
sebagai Mesias, Juru Selamat dan Tuhan?

Adakah seseorang yang kurang dari Tuhan
dapat menjadi Juru Selamat dunia?

Mungkinkah Bukhari Mendustakan Mukjizat Nabinya?

Jim Jones, pemimpin sekte Peoples Temple yang dianggap “bermukjizat” akhirnya berhasil memimpin jemaatnya bunuh-diri-masal di Guyana. Lebih dari 200 anak-anak terbunuh serentak disana. Mukjizatnya akhirnya ketahuan sebagai rekayasa yang konyol. Bagaimana bandingannya dengan Muhammad? Quran menyatakan dia tak bermujizat, namun 200 tahun kemudian muncul hadis dengan sejuta mukjizat yang menghiasi dirinya! Apakah beliau yang merekayasakannya? Atau para sahabatnya? Atau Imam Bukhari yang mendustakannya dalam koleksi Hadis Bukhari?

Pertama-tama kita saksikan dulu kasus Jim Jones.

Inilah laporan Osherow yang melaporkan kisah berikut, yang ditulis oleh Jeannie Mills, dimana Jim Jones melakukan mukjizat melipatgandakan makanan :

Jumlah orang yang hadir di kebaktian Minggu itu lebih banyak daripada biasanya, dan karena suatu alasan anggota gereja tidak membawa cukup makanan bagi setiap orang. Sudah jelas bahwa lima puluh orang terakhir di antre barisan belakang tidak bakal akan mendapatkan makanan apapun. Jim mengumumkan, ”Meskipun tiada cukup makanan bagi semua orang, aku berkati makanan yang kita miliki dan akan melipatgandakannya sama seperti yang Yesus lakukan di Alkitab.”

Ternyata, hanya beberpa menit setelah dia mengumumkan hal mengejutkan ini, Eva Pugh keluar dari dapur membawa dua nampan berisi ayam goreng. Orang-orang bersorak bahagia, terutama yang antre dibagian belakang.

“Ayam goreng yang diberkati” ini rasanya enak luar biasa, dan beberapa orang menyatakan Jim menciptakan ayam terlezat yang pernah mereka makan.

Namun salah seorang bernama Chuck Beikman dengan bergurau mengatakan kepada beberapa orang yang berdiri di dekatnya bahwa dia melihat Eva menyetir mobil masuk beberapa menit lalu dengan kardus-kardus dari restoran ayam Kentucky Fired Chicken (KFC). Dia tersenyum ketika berkata,” Orang yang memberkati makanan ini adalah Kolonel Sanders (pendiri KFC).”

Dalam kebaktian dipetang hari, Jim mengingatkan bahwa Chuck telah mengolok-olok berkat yang dilakukannya. ”Dia berbohong kepada beberapa jemaat di sini dengan mengatakan ayam-ayam itu datang dari restoran lokal,” kata Jim dengan marah.
”Tapi Roh Keadilan yang menang. Karena kebohongannya, Chuck sekarang berada di WC, berharap dia mati saja. Dia sedang muntah-muntah dan mengalami diare begitu parah sehingga dia tidak bisa bicara!”.

Benar, sejam kemudian , Chuck Beikman dengan wajah pucat dan gemetar keluar dari WC pria dan maju ke depan sambil dituntun oleh salah seorang penjaga. Jim bertanya padanya,” Ada yang ingin kau sampaikan?”

Chuck memandangnya dengan lemah dan menjawab, ”Jim,aku minta maaf akan apa yang kukatakan. Mohon maafkan aku.”

Ketika kami melihat keadaan Chuck, kami bersumpah dalam hati untuk tidak akan pernah mempertanyakan “mukjizat” yang dilakukan Jim, setidaknya jangan terang-terangan… Baru setelah beberapa tahun kemudian, kami mengetahui bahwa Jim ternyata menaruh racun ringan di sebuah kue dan memberikannya kepada Chuck.” 257

Nah, untuk menciptakan “mukjizat”-nya, Jones harus bekerja sama dengan Eva. Pertanyaannya sekarang adalah mengapa wanita ini mau saja diajak menipu ?

JAWAB:
Terdapat hadis-hadis tentang mukjizat Muhammad yang serupa!

Di sebuah hadis, seseorang mengaku melihat Muhammad meletakkan tangannya ke dalam sebuah pot dan air lalu memancar darinya, sehingga seluruh pejuangnya bisa melakukan wudhu dari pot itu. Baca:

“Aku melihat Rasul Allah ketika sembahyang ‘Asar tiba dan orang-orang mencari air untuk wudhu tapi mereka tidak menemukannya. Tak lama kemudian sebuah pot penuh air untuk wudhu dibawa kepada Rasul Allah. Dia meletakkan tangannya ke dalam pot dan memerintahkan orang-orang untuk wudhu dari pot itu. Aku melihat air memancar dari bawah jari-jarinya sampai semuanya melakukan wudhu (ini adalah salah satu mukjizat sang Nabi).258

Di hadis yang lain kita baca bahwa Muhammad melipatgandakan roti;259 atau dia memecah batu besar dengan sekopnya dan batu itu jadi pasir 260 Atau, dia memberkati makanan yang (porsinya) tidak cukup untuk empat atau lima orang namun (berubah) sehingga makanan itu cukup untuk memberi makan seluruh tentara.261

Terdapat puluhan “mukjizat” yang dikisahkan oleh para Muslim dilakukan oleh Muhammad. Beberapa dari (katanya) mukjizat-mukjizat ini memang diakui sendiri oleh Muhammad. Ini adalah mukjizat-mukjizat yang diakuinya sendiri, dani Muslim tidak meragukan hal ini sama sekali. Salah satu mukjizat adalah pengakuannya mengunjungi kota jin. Di hadis lain dia berkata bahwa sekelompok jin di Medina telah memeluk Islam.262 Di satu dongengnya, dia mengaku bergulat dengan setan besar dan berhasil mengalahkannya (wah, sejak kapan Muhammad berani, mampu dan sudah mengusir setan?), sbb.

“Tadi malam seekor setan besar dari para jin datang padaku dan ingin mengganggu sholatku tapi Allah memampukan diriku untuk menaklu-kannya. Aku ingin mengikatnya pada salah satu pilar-pilar mesjid agar kalian semua bisa melihatnya di pagi hari, TETAPI saya teringat akan pernyataan nabi Sulaiman…(seperti yang tertulis dalam 38:35)…. Maka setan itupun lalu dilepas  secara hina.”263.

Dongeng-dongeng seperti ini merupakan makanan bagi pengikutnya yang begitu mudah ditipu (seperti pengikut Jim Jones?). Ibn Sa’d mengutip kisah yang disampaikan oleh Abu Rafi, salah seorang Muslim, yang berkata suatu hari Muhammad mengunjunginya dan dia memotong kambing untuk makan malam. Muhammad suka bahu kambing dan Rafi menyajikannya. Lalu Muhammad minta satu lagi dan dia pun menyajikannya pula dan setelah habis, dia meminta lagi (Muhammad punya nafsu makan besar tak terpuaskan). Abu Rafi berkata,” Aku telah berikan kamu kedua belah bahu. Berapa bahu yang dimiliki seekor kambing?” Muhammad menjawab, ”Jika kau tidak mengatakan hal ini, kau sebenarnya bisa menyajikan berapapun bahu kambing yang kuminta.”264

Meskipun pengakuannya luar biasa, tapi kalau ditantang orang-orang yang tidak mudah percaya, ternyata Muhammad berulangkali ngacir atau menyangkal mampu melakukan mukjizat [29:50, 13:7, 10:20 dll], sebab satu-satunya “mukjizat” yang dimilikinya hanyalah Qur’an. Ia mengakuinya:

Sang Nabi berkata ,”Tiada nabi diantara para nabi yang tidak diberi mukjizat, agar orang-orang jadi yakin dan percaya, tetapi apa yang aku diberikan adalah Wahyu Illahi yang Allah nyatakan padaku.”265

Pertanyaannya adalah mengapa para Muslim dengan mudah dan sesukanya mengarang dongeng-dongeng yang dilakukan nabi mereka? Ini pertanyaan serius yang harus dijawab. Dugaanku adalah, sekali Muslim yakin akan kebenaran Islam, mereka memegang dan menghalalkan segala cara termasuk berbohong. (Dan taqiyya dihalalkan demi Islam). Maka orang-orang yang beriman teguh yang biasanya berakhlak luhur dan bermoral, ternyata dengan sukarela berbohong, ikut bagian dalam melakukan penipuan, menindas orang-orang lain, dan kalau perlu bahkan membunuh untuk mendukung agama mereka. ”Alasan Maha Utama” jadi begitu penting bagi mereka sehingga pertimbangan lainnya dikesampingkan. Tatkala orang jadi begitu percaya akan kebenaran suatu alasan sehingga mereka bersedia mati untuk itu, maka berbohong ataupun membunuh demi kepentingan alasan itu merupakan hal yang benar baginya. Hasil akhir menentukan tujuan sebenarnya. Filsafat dan ahli matematika Prancis bernama Pascal menulis :

“Orang tidak pernah melakukan kejahatan sedemikian menyeluruh dan lapang hati, seperti ketika mereka melakukannya demi keyakinan agama.” Sejarah menyaksikan kebenaran kata-kata Pascal. Telah banyak kejahatan dilakukan atas nama agama. Iman membutakan jemaat dan iman-buta bahkan membutakan semuanya.

Otoritas Imam Ghazali 266 dalam “Islam tidak dipertanyakan” berkata: “Jikalau mungkin mencapai sebuah tujuan dengan berbohong dan tidak mengatakan kebenaran, maka diperbolehkan berbohong yang tujuannya adalah benar.267 Muhammad sendiri berkata berulang kali: WAR IS DECEIT ! (Shahih Bukhari 4:267-269).

Bagaimana dengan Imam Bukhari sendiri? Mungkinkah beliau melaporkan semua mukjizat Nabinya lewat desk-research-nya secara benar dan setia? Kalau begitu berdustalah Nabinya. Atau apakah sumber-primernya justru telah kacau dan rusak sehingga harus ditata Bukhari dkk dengan rekayasa, mengikuti cara2 Quran yang dihimpun secara cacat-terbuka dalam Mushaf-nya Utsman?  Apapun kemungkinannya, kesalahan-kesalahan terbuka  ini tidak ter-reparasikan lagi!

Referensi:

257 Mills,J. Six years with God. New York : A& W Publisher, 1979

258 Sahih Bukhari Volume 1, Book 4, Number 170

259 Sahih Bukhari Volume 5, Book 59, Number 428

260 Sahih Bukhari Volume 5, Book 59, Number 427

261 Sahih Bukhari Volume 7, Book 65, Number 293

262 Shih Muslim Book 026, Number 5559

263 Sahih Bukhari Volume 1, Book 8, Number 450

264 Tabaqat, Volume 1, Page 375

265 Sahih  Bukhari  Volume 9, Book 92, Number 379

266 Abu Hamid al-Ghazzali (1058-1111)  dikenal sebagai Algazel adalah salahn seorang ilmuwan Islam yang paling dihormati dalam sejarah pemikiran Islam. Dia lahir di Iran, lalu jadi ahli agama Islam, ahli filsafat, dan mistik. Dia banyak menyumbang bagi perkembangan Sufisme sebagai bagian dari Islam.

267 Ahma Ibn Naqib al-Misri, The Reliance of the Traveler, translated by Nuh Ha Mim Keller, Amana publications, 1997,section r8.2,page 74