Seberapa Banyak Muslim Meyakini Bahwa Al-Quran itu Rapi, Jelas, Rinci dan Terjaga Sempurna?

Oleh: KALANGI

Para Muslim memuja kehebatan dan keunikan Kitab Quran yang dikatakannya sebagai pewahyuan surgawi yang tiada tara. Karena dari surga maka Quran diagungkan sebagai samudera maha luas yang tidak terselami manusia. Quran adalah “larger than life”! Itu sebabnya segala keanehan, kekusutan, dan semua ketidak logisan Quran serentak jadi terselesaikan ketika semuanya itu dianggap dan dinisbatkan sebagai keunikan dan kehebatan dari Kalimat Allah yang tiada tandingannya!

Tetapi sebaliknya, dengan mata telanjang seorang biasa pun mampu melihat sederetan kisah-kisah Quran yang saling tidak menyambung satu dengan yang lainnya. Sama sekali tidak ada satu pola penulisan yang baku, apakah itu kronologis ataupun topikal. Semuanya tercampur baur dan kacau tanpa ada kejelasan sistim maupun urutan. Dan sistim kacau ini – karena larger than life — harus diartikan sebagai “tampak kacau” tetapi sesungguhnya ia itu “tidak tercakup oleh sistim dunia”. Alur-akal semacam inilah yang selalu dipakai para ulama Islam untuk meredam setiap kritik terhadap Quran.

ACAK-LEPAS-BERANTAKAN
Quran, yang walau dihadirkan melalui “satu mulut”, namun merebakkan begitu banyak perguncingan, terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Tidak ada kitab lain di dunia yang ditulis dengan sistem yang begitu aneh. Topik, isi, dan urutan Al-Quran (baca: wahyu sempurna langsung dari mulut Allah sendiri) semuanya tersusun awut-awutan, acak, lepas-lepas, ulang-alik, serta loncatan tak beraturan! Apakah ini wahyu malaikat yang tertib ataukah ocehan berantakan dari orang yang kesurupan? Apakah Quran Kitab yang tiada tanding? YA, benar, karena nama judul-judul suratnya (bab) bahkan tidak merupakan tema dari isi suratnya! Ini akibat dari keacakan ekstrim yang tidak bisa dirujukkan lagi ke tema inti, karena tema intinya pun telah kehilangan polanya!

Surat dengan judul Al Israa’ misalnya terdiri dari 111 ayat, namun isinya yang berkaitan dengan Perjalanan Malam itu hanyalah di ayat pertama, dan itulah satu-satunya! Ayat ke-2 beralih tentang Musa, ayat-3 lari tentang Nuh, seterusnya tentang bani Israel, lalu tentang Quran, lalu melompat ke kejadian siang dan malam dan, bla…bla…bla…, seterusnya…
Wah, Allah manakah yang bersabda dengan sesukanya tanpa arahan-urut-tertib kepada pendengar-Nya? Bahkan membantah kepada sifat-sifat diriNya sendiri yang dikatakan terukur dan maha-rapi: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” (54:49) DAN “…(inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci” (11:1).

ANTI-KRONOLOGI
Tanpa kecuali, semua hal yang terjadi di dunia tunduk kepada garis-urut kronologi yang Tuhan ciptakan. Kakek mendahului ayah mendahului anak mendahului cucu dst.
Begitu pula kata-kata yang diwahyukan Allah pertama kali kepada Muhammad di gua Hira, yaitu:
surat Al’Alaq, (surat ke-96, tahun 610) tentu mengawali wahyu manapun, yaitu
surat Maryam (surat ke-19, awal-tengah surat Makkiyah), yang pasti mendahului

surat Al Israa’ (surat ke-17, mulai tahun 620), yang yakin telah mendahului

surat At Taubah (surat ke-9, surat Madaniyah yang terakhir)…

Maka segera terlihat bahwa “keajaiban” atau “keunikan” wahyu Quran ini terletak pada kesengajaan Allah memporak-perandakan susunan kronologi yang sudah Dia tetapkan. Kenapa dikatakan sengaja? Ya, karena oleh Allah sendiri, Quran sekarang telah-diatur dengan mengurutkan sistim urut sebaliknya (!), yaitu surat-9 At Taubah mendahului surat-17 Al Israa’ mendahului surat-19 Maryam, mendahului surat-96 Al’Alaq!

Tampaknya Allah yang awalnya menurunkan wahyu kronologis dari mulutNya, diubah lagi menjadi “akronologi”: wahyu dikocok ulang melawan waktu ketika-mana ia diturunkan aslinya. Sungguh ajaib bahwa Allah SWT berwatak dualistis dalam soal tertib waktu terhadap manusia: setelah wahyuNya ditundukkan kepada kronologi, lalu Ia mengacaukannya ulang dengan anti-kronologi, menentang sistim-waktu-urut yang Dia buat sendiri bagi jagad raya. Alhasil Muslim mendapati Quran yang tampak tersusun “asal-asalan”.

SISIP-MENYISIP
Dan diwaktu yang lain, Jibril Allah juga membisikkan (atau membiarkan Muhammad?) agar ayat-ayat dan surat dipindahkan dan dikacaukan letaknya, “tidak usah lagi” bermukim di tempat yang tadinya dia sudah ditempatkan baik-baik dalam jajaran Quran! Lihat contohnya surat Al Fatihah. Kapan surat itu diturunkan tak ada seorang saksi-matapun yang tahu. Yang kita tahu adalah justru sebaliknya dari Ibn Mas’ud, yaitu seorang sahabat Nabi yang paling direkomendasi oleh Muhammad untuk belajar Quran (Sahih al-Bukhari, V, pp.96-97), ia ini berkata dimuka umum: “Demi Allah, tidak ada satu ayat pun dari Al-Quran tanpa kuketahui latar belakang diturunkannya ayat tersebut. Tidak ada seorang-pun yang lebih mengetahui tentang Kitabullah dibanding aku…..” (HR.Ahmad bin Hanbal). Nah, orang inilah yang menampik Al-Fatihah sebagai surat wahyu bagian dari Quran (Suyuti dalam Al Itqan pp. 66, 67).

Baca juga Muqaddimah surat Yunus yang blak-blakan mencantumkan, “Surat Yunus terdiri atas 109 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah kecuali ayat 40, 94, 95 yang diturunkan … di Madinah”. Tampaklah bahwa pengacauan tempat asli ayat-ayat Allah telah dilakukan oleh penetapan Muhammad sendiri (tauqifi Nabi), dengan cara sisip menyisipkan ayat-surgawi:

“Diriwayatkan oleh Ibn Abbas dari Utsman ibn Affan bahwa apabila diturunkan kepada Nabi suatu wahyu, ia memanggil sekretaris untuk menuliskannya, kemudian bersabda, “Letakkanlah ayat ini dalam surat yang menyebutkan begini atau begitu.”
(Tirmidzi, Sunan, kitab al-tafsir, bab surat 9).

Maka wahyu yang paling pertama diturunkan, Surat Al-Alaq, lalu ditempatkan menjadi surat dengan nomor urut ke-96. Kenapa 96? Wah, hanya setan yang tahu, bukan Allah! Anehnya lagi, wahyu awal itu hanya meliputi 5 ayat pertama diantara 19 ayat yang ada. Jibril rupa-rupanya menahannya, agar kelak bisa disisipkan oleh Muhammad dengan tambahan 14 ayat susulan (!), dan itu terjadi sesudah beberapa tahun kemudian! (M. Hadi Ma’rifat, Sejarah Lengkap Al-Quran, p.80)

BATAL-MEMBATAL SESAMA WAHYU

Jibril as. bolak-balik membisikkan kepada Muhammad satu unit-wahyu disatu waktu dan tempat, tetapi diwaktu dan tempat yang lain Jibril yang sama turun lagi untuk membisikkan bahwa wahyu tersebut harus dibatalkan dan digantikan dengan yang sama atau yang lebih baik lagi (nasikh-mansukh, Qs 2:106)! Mengganti dan membatalkan Firman? Ganti dengan yang lebih baik? Tidak ada Kitab Suci lain dimana hukum Tuhan di-kanibal oleh sesama hukumNya. Setiap sifat ilahi adalah kekal, tentu termasuk Firman-Nya. Jibril ditugaskan hanya untuk menyampaikan sesuatu yang TERBAIK dari Allah yang Maha Tahu dan Maha Baik. Adalah suatu kekonyolan bila yang terbaik itu belakangan ternyata “kurang terbaik”, sehingga Allah susulkan lagi dengan yang “terbaik versi baru”, yaitu dengan cara menasakh-kan, membatalkan sejumlah ayat-ayat ALLAH yang terlanjur kurang pas (?) Begitu banyak kesia-siaan wahyu yang diulang-alik, yang mana Jibril diharuskan bolak balik khusus untuk men-transmisikannya kepada Muhammad apa-apa yang kurang pas untuk kemudian diganti dengan yang lebih pas! Padahal Firman Allah itu dikatakan jelas-jelas (muhkamat) tidak dapat ditukarkan dan tidak ada perubahan atasnya (6:34, 10:64, 48:23). Firman secara kekal ke kekal telah tercantum dalam induk Alkitab di sisi Allah (43:4 85:22).

Kita tahu seluruh ayat-ayat Quran di-klaim oleh seorang Muhammad yang mengatas namakan secara berantai dua sosok lain yang berbeda zatnya – malaikat Jibril yang juga mengatas namakan Allah SWT. Akan tetapi klaim ini tidak ada bukti keterlibatan atau manifestasi apapun dari pihak yang diatas-namakan itu! Kemudian ayat-ayat itu ditulis dan dikumpulkan ramai ramai (dan beberapa kali!) oleh para qurra (penghafal ayat-ayat lepas) yang berakhir dengan dekrit Khalifah tanpa disaksikan lagi oleh Muhammad. Maka  siapa sejati-jatinya yang berkata-kata dalam Quran itu? Apakah Allah? Ibril? Muhammad? Manusia lain? Sekalipun diimani mati-matian bahwa seluruh isi Quran adalah mutlak firman langsung dari Allah, namun nyatanya itu hanyalah buah hasil berantai yang tidak jelas siapa yang berfirman!

Misalnya saja, siapakah yang sesungguhnya berfirman dalam Al-Fatihah ayat 5:

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolonganAtau sebaliknya, kepada siapakah Allah telah berbicara ketika Ia bersabda: “Demi bintang ketika terbenam, kawanmu tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu  menurut kemauan hawa nafsunya” (53:1-3). Dan banyak lagi ayat-ayat lain yang rancu begitu…. Untuk menghindari kerancuan tentang siapa-siapa yang sesungguhnya telah berfirman kepada siapa, maka Montgomery Watt terpaksa mengeneralisasikan semuanya dalam satu istilah: Quran berkata!

Muslim sangat awas bahwa rantai periwayatan sebuah Hadis (transmisinya/sanadnya) harus sampai kepada Nabi agar dapat disebut hadis shahih. Tetapi “sanad” Quran yang sesungguhnya jauh harus lebih kokoh ketimbang Hadis Nabi, justru diabaikan oleh Muslim! Sejarah mencatat bahwa rantai transmisi mushaf Utsman justru terputus “sanad”nya yang tak mencapai Nabi (!) Mushaf Utsman hanyalah salinan – bukan sumber primer – dari Mushaf Abu Bakar dll. Setelah tersalin, maka semua naskah primer Quran (atau bagian-bagiannya) diharuskan untuk dimusnahkan dengan perintah sepihak oleh Utsman (HS.Bukhari VI, p.479; Tafsir Tabari I, p.20), walau isinya saling beda dengan mushaf primer lainnya (misalnya Ibn Mas’ud hanya punya 110 surat, dan Ubay ibn Ka’ab malah 116 surat). Nah, naskah-naskah primer yang dimusnahkan inilah yang “terhapus sanadnya”, (tidak disaksikan oleh Muhammad) sehingga Muslim kini tidak bisa menunjukkan kepada dunia naskah manakah yang shahih dari mulut Muhammad. Dengan perkataan lain, mushaf yang dihasilkan atas dekrit kekuasaan Utsman ini sungguh harus gugur demi hukum, demi saksi dan bukti, demi moral dan etika!

KERUSAKAN STRUKTURAL

Dalam setiap Ramadhan, Jibril dikatakan selalu mengunjungi Muhammad dan keduanya asyik me-review ayat-ayat yang sudah diturunkan. Pertanyaan terbesar adalah apa yang direview? Ulama Islam mengatakan bahwa yang direview adalah semuanya, ya isi ayat, makna ayat, susunan dan urutan ayat. Nah, kalau sudah mereview begitu, kenapa masih ada ayat-ayat Quran yang acak, yang sisipan susulan, dan urutan kronologi yang simpang-siur? Kenapa tidak direview keaslian ayat-ayat Allah dengan mendasarkan apa yang sudah mulus-mulusnya ia diturunkan sejak awal, dan tidak dikacaukan lagi? Jadi benarkah itu asli Quran surgawi, asli eks-sosok malaikat Jibril yang Tuhan utuskan? Tidakkah kompilasi seorang Muhammad yang karena cacatnya dia dalam aksara (ummi) maka “tauqifi Nabi” yang dicobainya untuk “membenahi” sistim penyusunan kitab malahan menjadikannya kacau berarakan?!

Bagaimanapun, urutan asli surat dan ayat yang kacau balau telah terjadi secara struktural di seluruh Quran. Padahal ia semestinya mengikuti urutan tertib kronologi yang alami OTOMATIS ketika Jibril menurunkan wahyu awalnya yang asli, yaitu berturut-turut:
Surat Al-Alaq (96),

Al-Qalam (68),

Al-Muzzammil (73),

Al-Muddatstsir (74), dan seterusnya.

(menurut Allamah MH. Thabathaba’i, Mengungkapkan Rahasia al-Quran, p 124).

Namun kini urutan tersebut telah diduduki secara tidak jelas dan tanpa alasan dari Muhammad (atau sahabatnya) yang mengatas namakan Jbril/Allah SWT, menjadi:
surat 1 (Al-Fatihah),  lalu surat 2 (Al-Baqarah), dan seterusnya, seperti kitab Quran saat ini.

Sepantasnya Muslim bertanya, “Kenapa sesudah Jibril menurunkan Quran awal dengan tertib urut kronologi lalu harus mendadak merombaknya dengan urutan acak dan sisip? Apakah ada keunggulan nyata sistim anti-kronologi dan bongkar pasang buat Quran? Apakah kerja demikian adalah BENAR dimata Allah (?), dan merupakan ciri kerja Allah sendiri menuruti hakekatNya yang tertib, rapi, dan jelas terperinci seperti yang Dia klaim sendiri tentang diriNya (?), “…(inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci” (Surat 11:1)? Bahkan benarkah semua kekacauan ini membuktikan jaminan mutlak dari Allah bahwa Ia sendirilah yang menjaga wahyuNya (?),

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (15:9).

Muslim yang bernalar agaknya tak bisa lain kecuali merasa amat risau mencernakan pernyataan orang-orang yang mempertanyakan sepak terjang Jibril: “Apakah Jibril tidak ada kerjaan lain kecuali mengurusi ayat dan surat yang acak-acak dan sisip-sisip dan batal-batal dan ganti-ganti dan urut-urut …  semuanya bolak-balik berulang-ulang?!”

Nabi Muhammad Berwahyu? Tetapi Yesus Menyanggahnya!

Salam sejahtera teman-teman Muslim!

Sesekali, adakah anda pernah merenungi dalam nurani apa-apa yang mungkin tidak beres dari Quran? Pertanyaan ini diangkat karena Anda-anda selama ini selalu berpikir dan berbicara seperti yang disuarakan oleh guru-guru agama anda (dengan mengatas namakan Allah) lalu mengecam paham yang berlainan dengan paham nabi Muhammad. Tetapi dalam banyak event, Muhammad telah menunjukkan jatidirinya yang tidak sempurna, bahkan dilanda oleh wahyu-wahyu yang keliru!

Sehingga anda hanya dan HANYA mengenal nabi ISA sebagai “produk” fisik dan biologis manusia. Padahal itulah bukti yang amat kasat mata bahwa Allah-swt (atau Nabi yang mengatas-namakan Allah?) justru telah membuat kekeliruan-wahyu, yang menganggap sebutan “Anak”, “Ibu” dan “Bapa” selalu merupakan hasil produk  Biologis, lalu melaknati “trinitas-biologis”. Itu adalah kekeliruan meniru paham dangkal orang-orang Arab/ Badui dijaman pra-islam dan dijaman Nabi, yang tidak bisa membedakan Anak dan Ibu- Bapa  Spiritual dengan yang fisikal-biological.

Dalam pewahyuan yang keliru, nabi Muhammad berkata:
“Bagaimana Allah mempunyai anak padahal Dia tidak punya isteri?” (Qs6:101).

Kata asli dalam bahasa Arab untuk “anak” disini, dipakai istilah “walad” (bukan “ibnu”), yang dimaknai sebagai anak kedagingan.

Tetapi jauh sebelumnya, YESUS telah menjawab isyu dari “muhammad-muhammad” semacam itu, ketika Ia berkata menjelaskan posisi kerohanian tsb:
“Siapa ibuKu dan siapa saudara2Ku?”
Lalu kataNya, sambil menunjuk kearah murid-muridNya:

“Ini ibuKu dan saudara-saudaraKu! Sebab siapapun yang melakukan kehendak BapaKu disorga, dialah saudaraKu laki-laki, dialah saudaraKu perempuan, dialah ibuKu”.…
“Aku tidak menyebut kamu lagi HAMBA (yang seharusnya begitu) …tetapi SAHABAT…”
(Mat.12: 48-50; Yoh.15:15).

Jadi tampaklah, yang satu adalah pemahaman fisikal, yang lain rohaniah yang universal! Dalam relasi rohani, kita semua adalah anak Allah, dimana Sang Anak-Allah (Ruhullah dan Kalimatullah, Mesias ilahiah) adalah satu-satunya Juru Syafaat kita, karena Dialah satu-satunya sosok yang kepadanya ditiupkan Ruh Allah sendiri dan KalimatNya.

Maka konsep “trinitas” fisikal/ biologikal yang dituduhkan nabi Muhammad kepada Nasrani (kawin mawin Allah Bapa dengan Maryam yang membuahkan Isa Anak, lihat 5:116), adalah total keliru wahyu! Dimanapun, kaum Nasrani tidak mentuhankan Maryam dan tidak menganut “trinitas-islamik” demikian!

Celakanya, kekeliruan wahyu yang sama juga diterus oleh Nabi kepada kaum Yahudi yang dituduhnya mengimani UZAIR sebagai Putera Allah (9:30). Padahal dimanapun Yudaisme tidak pernah mengenal Uzair sebagai Putera Allah yang ilahiah. Nabi Muhammad tampaknya tidak tahu bahwa agama Yahudi justru seradikal dan semutlak Islam dalam mentuhankan satu Yahweh yang Esa.

RENUNGKANLAH, dan Anda akan segera membaui (GET A RIGHT FEEL) mana yang yang benar wahyu dan mana yang wahyu-wahyuan!

Jihad Muhammad Tersandung Anjing

By: Penyayang Binatang

Mari kita baca-baca Hadis. Tentu saja yang terpercaya dan diakui benar dan shahih, dari Bukhari dan Muslim.

Kali ini tentang binatang yang disayangi oleh setiap manusia yang berhati nurani dan berakal sehat, yaitu DOG. Kenapa anjing disayangi? Ya, karena anjing itu adalah species binatang yang paling “bernurani”, tahu berterima kasih dan mampu menyatakan KASIH, kasih kepada tuan-rumahnya yang telah memelihara dan mengasihinya!

Itu sebabnya anjing merupakan pet (binatang peliharaan) yang paling bisa intim kepada manusia. Dog pet itu unik. Ia adalah satu-satunya binatang didunia yang bisa hidup tanpa usah bekerja, melainkan cukup MENGEKSPRESIKAN rasa kasihnya kepada tuannya! Dan sebagai hadiahnya, anjing ini mendapat tempat khusus dihati tuannya, yang mengasihi dia balik, dan menafkahinya setiap hari…

Fitrah kodrati yang paling alami dari hubungan yang sedemikian indah ini, telah berjalan beribu-ribu tahun tanpa ada orang yang meributkannya. Namun sayang bahwa akhirnya di suatu masa, muncul satu orang Arab, Muhammad, yang karena pribadinya memang tidak suka kepada anjing, lalu menafikan fitrah indah ini dan memerintahkan kepada seluruh pengikutnya untuk melakukan pemutusan hubungan kasih dengan pet dog. Bahkan mengusahakan agar spesies anjing kalau bisa dipunahkan samasekali dari muka bumi. Apa pasal?

Mari kita ikuti sepak terjang sosok Muhammad, yang walau berhasrat memunahkan anjing-anjing, namun hatinya mendua, tidak jelas perintahnya, salah tingkah, tumpang tindih dan inkonsisten sendiri, tercampur mistis, sehingga perintahnya kehilangan otoritas dan diabaikan banyak Muslim sebagai pengikutnya!

BACA HADIS SHAHIH BUKHARI (HSB) & MUSLIM (HSM):
1. Muhammad meminjam otoritas dari malaikat untuk mendiskreditkan rumah yang memelihara anjing dan/atau menggantungkan gambar lukisan:

“Suatu waktu Jibril berjanji kepada Nabi (bahwa ia akan mengunjungi Nabi, tetapi ternyata Jibril tidak jadi datang) dan kemudian Jibril baru berkata (kepada Nabi), “Kami, malaikat-malaikat tidak memasuki rumah yang di dalamnya terdapat gambar lukisan atau anjing”. (HSB Buku no. 54, Hadis no. 450).

2. Muhammad menegaskan penajisan anjing-anjing dan pemusnahannya, padahal Allah-lah yang sengaja menciptakannya dan memberinya naluri cinta-kasih yang besar terhadap tuannya. Siapa yang bersalah?
Rasul Allah memerintahkan bahwa anjing-anjing harus dibunuh. (HSB Buku no. 54, Hadis no. 540).

Anjing harus dibunuh dan tidak boleh dijual. Kenajisan uang anjijng sama dengan uang maksiat pelacuran dan uang syirik dukun:
“Nabi melarang mengambil uang dari (penjualan) seekor anjing, penghasilan dari seorang dukun peramal, dan uang yang diperoleh dari hasil pelacuran”. (HSB Buku no. 63, Hadis no. 258).

3. Tetapi Muhammad ragu-ragu dan tidak konsisten menajiskan anjing, lalu terperosok ketika memberikan pengecualian:

Ia (Jibril) berkata, (kepada Muhammad):  “… kami tidak memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing atau gambar lukisan”. Sejak pagi itulah ia (Nabi) memerintahkan untuk membunuh anjing-anjing, hingga (kemudian) ia mengumumkan bahwa anjing yang menjaga taman harus juga dibunuh, tetapi ia mengecualikan anjing yang menjaga padang yang sangat luas”. (SHM Buku no. 24, Hadis no. 5248).

Dalam Hadis lain dikatakan bahwa Nabi mengecualikan anjing- pemburu dan anjing-jaga ternak karena hal itu ditanyakan oleh Abu Huraira yang memiliki ladang luas (SHM Buku 10, Hadis 3812).

“Ia (Nabi Suci) memberi izin untuk memelihara anjing-anjing untuk menjaga ternak, untuk berburu, dan untuk menjaga tanah pertanian”. (HSM Buku no. 010, Hadis no. 3814).

Nabi lupa atau kurang jeli, dan fatal, bahwa proses untuk dididik menjadi anjing jaga/pemburu harus melewati masa-masa anjing- najis yang seharusnya sudah dibunuh duluan! Hukum Allah agaknya telah dikacaukan Muhammad dengan selera pribadinya yang memang tidak menyukai anjing (dan gambar lukisan, lonceng, dan musik dll)!

4. Matematika Muhammad anomali, terbalik dan salah secara teologis!
Nabi berkata, “Barangsiapa memelihara anjing (peliharaan) yang bukan anjing- jaga dan bukan anjing berburu, akan mendapatkan pengurangan 2 Qirat setiap hari dari perbuatan-perbuatan baiknya”. (HSB Buku no. 67, Hadis no. 289).

Allah yang Kasih & Benar tidak pernah menghukum orang dengan cara terbalik, yaitu mengkorting perbuatan baik dari seseorang (sekalipun ia yang terjahat sekalipun). Perbuatan baik adalah perbuatan baik, dan itu adalah fakta, dan Allah tak perlu menggelapkan atau mengecil-ngecilkannya.  Namun Allah cukup menambahkan porsi azab kepada seseorang yang jahat menurut keadilan-Nya.
“Matematika anomali” ini turut mengukuhkan pendapat para ahli bahwa Islam sesungguhnya hadir tanpa Teologi.

Rumusan Muhammad: “Pelihara anjing jaga/berburu tidak masalah; pelihara anjing biasa tergerus 2 Qirat setiap hari”. Matematika  Muhammad ini salah kaprah, karena bagaimanapun kehidupan anjing dimulai dengan anjing biasa sebelum bisa dilatih jadi anjing jaga/ berburu. Katakanlah misalnya diperlukan latihan selama 6 bulan sejak usia 6 bulan. Maka si pemilik anjing-jaga bagaimanapun akan otomatis terkuras 2 qirat sehari selama setahun = 730 qirat! Dan anjing jaga yang dihasilkan itu toh tidak bisa mengembalikan qirat yang terkuras karena Allah juga tidak mempahalakannya. Jadi kenapa Muhammad memberi kemudahan bagi seseorang untuk terkena pengurangan sekian sekian Qirat yang tak bisa ditebus lagi?

5. Muhammad serba salah sehingga lebih jauh memberi konsesi terhadap kenajisan anjing.


Rasul Allah berkata, “Jikalau anjing menjilat/ minum dari piring/mangkok kalian, maka perlu untuk mencucikannya 7 kali”. (HSB Buku no. 4, Hadis no. 173).

Muhammad berbicara tentang anjing biasa, yang makan dari piring tuan rumah. Kenajisan kehadiran anjing sudah mengurangi qirat tanpa bisa ditebus. Tetapi kini ada lagi semacam allowance (pembolehan) untuk tidak harus membunuh anjing tsb menurut point-2 diatas, melainkan ia bisa dibiarkan karena sudah dipersiapkan “penebusan” terhadap kenajisan baru yang diakibatkan oleh anjing tsb bilamana terjadi jilatan najisnya terhadap piring makan tuan rumahnya. Tebusannya cukup dengan mencuci barang yang dijilatnya sebanyak 7 kali!

6. Muhammad antagonis dengan diri sendiri dan dengan Allah.
Anjing yang najis tapi sekarat karena kehausan, rupanya mendapat belas kasian Allah. Pada saat biasa anjing ini (najis menurut Muhammad) harus dibunuh. Tetapi pada saat anjing menderita, Allah malahan melimpahkan berkatNya bagi siapa saja yang menolong anjing tsb. Dosa setingkat pelacuranpun Allah hapuskan! Dan ini diketahui oleh Muhammad.

Nabi berkata, “Ketika seekor anjing berjalan berputar-putar di sebuah pinggiran sumur dan sepertinya hampir mati kehausan, maka seorang pelacur bani Israel melihatnya kemudian membuka sepatunya dan mengisinya dengan air (dan memberi minum anjing itu). Maka Allah mengampuni wanita itu, sebab perbuatan baiknya”. (HSB Buku no. 56, Hadis no. 673).
Aneh, Allah memang mengasihi anjing yang Dia ciptakan sendiri, khususnya yang menderita. Ini tentu masuk akal. Tetapi Muhammad diperintahkan untuk membunuh anjing yang Allah ciptakan (oleh siapa?). Sebaliknya orang yang najis (pelacur Yahudi) bahkan mendapat pahala dari Allah ketika ia menyelamatkan (bukan membunuh) anjing najis yang sedang sekarat. Dua kenajisan diampuni Allah seketika disini! Jadi ada yang salah secara antagonistis disini: Muhammad terhadap dirinya, atau terhadap Allahnya, atau salah kaprah semuanya?  Sahabat-sahabat Nabi dan Muslim kini ikut-ikut salah tingkah, karena tidak berani bertanya: “Sesudah itu so what?” Haruskah — sesudah anjing itu tidak haus lagi – ia lalu dibunuh?

7. Akhirnya, semua “bentuk jihad” terhadap anjing hanyalah sebuah kepercayaan mistis pribadi dari seseorang Rasul Allah yang memaksakan dirinya harus dikunjungi para malaikat:

Rasul Allah berkata: “Malaikat-malaikat tidak menemani para traveller (orang-orang yang bepergian) yang mengikut sertakan anjing dan juga lonceng”. (HSM Buku no. 24, Hadis no. 5277).

“Kami, malaikat-malaikat tidak memasuki rumah yang di dalamnya terdapat gambar lukisan atau anjing”. (HSB Buku no. 54, Hadis no. 450).

“Anjing warna hitam adalah setan”. (HSM Buku no. 004, Hadis no. 1032).

JIHAD MISTIS MUHAMMAD YANG MISTERIUS TIDAK TERJAWAB SELAMANYA

  • Ada urusan HAKIKI apakah maka para malaikat surga itu hanya mau menemani traveller yang steril dari lonceng dan anjing? Apa yang bisa dipersalahan kepada sebuah anjing, apalagi lonceng?
  • Malaikat hanya mau masuk ke rumah yang polos tanpa gambar lukisan? dan mengharamkan alat musik? (HSB Buku no. 69, Hadis no. 494;  Ibnu Majah no.4020).
  • Anjing hitam dikatakan setan? Sungguh vulgar dan absurd!

Bagaimana anjing bisa menjadi setan semata karena bulunya warna hitam? Allah tidak menciptakan satu setanpun. Setan menjadi setan karena ia memberontak terhadap Allah. Tetapi anjing hitam yang Allah ciptakan tidak pernah memberontak terhadap Allah. Kasih anjing kepada pemiliknya justru jauh lebih mulia dan sekaligus mempermalukan kasih antar manusia yang sering egoistis menarik keuntungan sepihak!

Jadi siapa yang menjadikan anjing setan? Apakah hanya karena anjing itu hitam maka ia  bisa didaulat para iblis dan menjadikannya setan? Kalau begitu semua orang dan binatang kulit hitam bisa jadi setan, dan memang adalah setan? Pertanyaan dan renungan bisa diteruskan yang tidak mampu dijawab oleh setan sekalipun!

Muslim woman with horse is allowed on a bus ……………    Blind man with dog is not.

Periwayatan Hadis-hadis Muhammad sungguh telah menjadi ocehan yang  melampaui batas akal sehat serta mendiskreditkan kenabiannya. Dimanapun, anjing adalah mahkluk yang paling mampu bersahabat tulus dengan manusia. Dimanapun, anjing hitam bukanlah setan, sama halnya seperti anjing putih, cokelat, atau separuh hitam dan putih!

Dan malaikat-malaikat sungguh tidak ada urusan apapun dengan puluhan ribu pet-dogs yang telah dibawa secara aman oleh para traveller ke dalam pesawat setelah di- karantina. Malahan berdasarkan analogi periwayatan di atas, Allah dalam kasih-Nya justru akan turut hadir di pesawat (tanpa usah malaikat) ketika-mana ada anjing di dalamnya yang terkurung hampir mati kekurangan air atau oksigen!

Dan Muslim quo vadis? Bagaimana mereka bisa hidup tanpa boleh menghadirkangambar lukisan dan musik dalam rumah mereka? Muslim mana yang sudah taat? Tidak cukup dengan itu Muhammad kembali menista anjing dan wanita dengan cara menyamakan kenajisan keduanya dalam dayanya memutuskan sebuah shalat kudus:

Yang dapat memutuskan shalat adalah anjing, keledai dan wanita.’ Maka ‘Aisyah pun berkata, “Sungguh kalian telah menganggap kami (kaum wanita) sebagaimana anjing (HSB Buku 9, Hadis 490).

Ya, Muslim terpasung disimpang jalan kebenaran.
Tetapi Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup”.
Dia-lah yang mampu dan mau menawarkan terobosan yang sejati,
“Dan kamu akan mengetahui kebenaran,
dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
(Yohanes 14:6, 8:32).