Awas, Muslim Ber-Taqiyya (Dusta Suci).

Muslim di Australia mulai menuntut pemerintah untuk harus menghormati hak-hak mereka. Mereka berdalih: Muslim di Australia di haruskan menerima nilai-nilai Australia, maka sebaliknya Australia harus juga menyediakan sebuah “domain Muslim” untuk mempraktekkan “legal pluralism” bagi keagamaan mereka.

Dansa tango membutuhkan dua pihak, bukan sepihak.

Dikatakan lebih lanjut, “Ini adalah urusan privat kami dalam keluarga Muslim, tidak ada akibat apapun bagi orang-orang Australia lainnya”.

Eh, nanti dulu, taqiyya begini selalu dipraktekkan  dimana-mana, bahkan termasuk Indonesia ketika mencoba membujuk pemberlakuan shariah! Muslim tidak merasa itu berdusta, karena jalurnya lewat agama! Dan karena atas nama Allah dan demi untuk Islam, maka halal-lah semua!

Sekarang jawablah jujur dan lurus, apakah isyu2 dibawah ini sungguh tidak berakibat apapun bagi Non-Muslim Australia, bahkan dunia keseluruhannya?

Bagaimana legal shariah yang mendiskriminasikan perempuan? Bagaimana mengenai poligami, kawin dengan Muslim harus masuk Islam, kawin dibawah umur, busana Muslim, fatwa haram-halal, murtad Islam yang harus dibunuh, sikap dan perlakuan terhadap orang kafir, hak bicara tentang agama timbal balik (Muhammad dan Quran, dll)? Tidakkah itu melintasi urusan Muslim dan selalu terkait akibatnya bagi Non-Muslim pula?

Setiap Muslim Australia yang menetap di Australia telah berjanji/ sumpah sebelumnya untuk mentaati Konstitusi Australia sebagai azaz hukum tertinggi dan satu-satunya. Lalu diam-diam mengingkari janji-sucinya dengan dusta-suci berdasarkan taqiyya (3:28)?

TEROPONGLAH HATI NURANI KITA

Ketika seorang Muslim berkata “Islam is peace”, maka berhati-hatilah, karena kata Islam bukan berarti “damai” seperti yang diselewengkan taqiyya, melainkan berarti “tunduk”.  Dengan arti-luasnya bahwa “bilamana kau tidak tunduk, maka kami akan tundukkan kau! (9:29).

Dan ketika Muslim menyerukan  “Allah loves you”, maka ia memaksudkan bahwa  “Allah membenci engkau” kecuali kau meninggalkan kekafiranmu dan menjadi Muslim.” (60:1; 9:23 ; 3:32, 57;  2:190,222 ll)

Marilah kita bernalar sehat. Tuhan sejati itu Mahakuasa dan Mahakudus.

Tidak membenarkan tujuan menghalalkan cara, seperti yang diizinkan

Muhammad: “Mereka yang mendamaikan para pihak bersengketa dengan

Memanfaatkan mulut manis, tiadalah ia berdusta”… “Perang adalah tipu-daya” dll (Shahih Bukhari 3:857;  4:267-269).

Sebaliknya YESUS  memperingatkan kita untuk berkata lurus,  “berkata ’ya’ atas ya, dan ‘tidak’ atas tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Mat.5:37).

Tuhan itu Mahatahu dan Mahabenar, bukan si Setan  penipu-daya. Dia bukanlah Khairul maakiriin seperti yang dislogankan Muhammad (3:54)! Tuhan tak perlu berdusta dan mustahil meng-endorse sebuah dusta! Karena dusta hanya dan HANYA dilakukan oleh seorang “allah” yang tekor sumber daya dan kuasaNya!