Islamonausea, bukan Islamophobia!

Ada-ada saja tendangan Muslim yang kian-kemari.

Mulanya Muslim berteriak sangat bersemangat menuduh orang-orang kafir dengan memakai istilah “Islamophobia”. Kira kira mendamprat mereka dengan kata-kata, “HEI, KAU YANG KETAKUTAN DENGAN ISLAM!”
Begitu sering kata ini dilontarkan, sampai membosankan, dan apa yang kini terjadi?

Orang-orang kafir justru tidak ada yang bergeming! Anjing melolong kafilah berlalu! Bagaimana bisa bergeming? Koar2 Muslim begini tak ada yang MEYAKINKAN, kurang ELEGAN, dan tidak memberi KONTRIBUSI KONSTRUKTIF bagi sekeliling mereka.

Muslim dimana-mana paling menuntut agar orang lain menghormati mereka dan menghormati Islam. Tetapi teriakan Islamphobia justru berakibat sebaliknya!  Terminologi Islamophobia, takut akan Islam, tidak menghasil-kan perasaan takut dan hormat akan Islam seperti yang dikehendaki Muslim. ‘Takut akan Islam’ hanya menunjuk kepada apa yang Muslim tuntut dengan putus-asa, tetapi tidak menunjuk kepada apa yang Non-Muslim rasakan. Siapa yang karenanya akan takut akan Islam?

Maka sejumlah pakar Islam-pun mulai mengecam istilah ini. Mereka berkata: “We should stop using Muslims’ self-chosen word – “Islamophobia”. Ini ibarat mengecat diri-Muslim sendiri sebagai penteror. Ini membuntukan setiap komunikasi keluar. Maka dicarilah mereka akan gantinya yang lebih bridge-building, yaitu: “Islamonausea.” (Mual-Islam).

Kreatif bukan?
Melontarkan ejekan baru untuk imbalan PENGHORMATAN ISLAM!