Bagaimana Cara Menyelamatkan Pernikahan Dengan Suami Muslimku?

Aku sudah mengatakan hal ini berulangkali. Seorang pria Muslim tak punya kapasitas untuk mencintai seorang wanita sesuai dengan pemahaman yang benar akan kata ‘cinta’. Ia tak tahu apa artinya cinta. Cinta adalah sebuah seni yang kita pelajari. Pria-pria Muslim tidak mencintai isteri-isteri mereka. (Lihat artikelku sebelumnya: Ada Apa Disana Bagi Muslimah). Jadi anak-anak mereka tidak bisa mempelajari seni ini, dan jika engkau menikahi seorang pria Muslim, maka ia tak punya kapasitas untuk mencintaimu. Ia ingin memilikimu, tapi ia tidak sanggup mencintaimu. Nilai-nilai yang ia anut sangat jauh berbeda dengan nilai-nilaimu. Orang-orang Muslim adalah sebuah spesies yang berbeda. Mereka berbeda dengan kita.

Diposkan oleh Ali Sina, pada tanggal 7 Maret 2013

Maaf jika aku telah mengganggumu, tapi aku sudah membaca tulisan-tulisanmu di internet. Aku merasakan kengerian membahas hal ini di balik punggung suamiku, tapi aku benar-benar tidak lagi sanggup menjalani hidup seperti ini. Apa yang kau tulis bagiku masuk akal, tapi aku belum dapat menemukan cara bagaimana membuat suamiku dapat melihat kebenaran yang engkau sampaikan.

Aku akan membahasnya dari permulaan. Aku adalah seorang wanita Kristen. Usiaku 24 tahun. Aku tidak mendengarkan nasehat keluarga atau teman-temanku, supaya tidak menikah dengan seorang pria Muslim. Sebelum kami menikah, ia telah berjanji bahwa ia akan pergi ke gereja bersamaku, membiarkanku membawa anak-anak kami ke gereja – dan ia mengucapkan semua janji itu sebelum kami menikah. Kami tinggal di Amerika Serikat. Tapi kemudian setelah kami menikah, ia katakan padaku bahwa ia sudah berbohong. Karena itu kami terus menerus bertengkar. Sekarang setiap saat aku menangis dan ini bukanlah kebiasaanku. Sebelumnya aku seorang wanita yang biasa tertawa dan berbahagia, tapi sekarang aku sedemikian banyak menangis sehingga itu membuat kesehatanku menurun. Tapi aku masih sangat mencintainya.

Situasinya menjadi semakin buruk ketika ayahnya sakit berat. Bukannya membantu ibunya untuk menemukan pekerjaan supaya dapat mensupport anak-anaknya yang lain, suamiku mengatakan padaku bahwa jika ayahnya meninggal maka ia akan pergi dengan ibunya ke negara Arab darimana mereka berasal, dan akan tinggal di sana bersama ibunya. Pilihannya adalah, aku ikut dengannya ke sana atau pernikahan kami berakhir.

Ibunya menentangku dan membenciku, dan suamiku ingin agar aku meninggalkan semua yang kucintai, pindah ke negaranya dan hidup di rumah ibunya.

Ia telah memberitahuku bahwa Aku tidak akan merasa nyaman di sana sebab aku adalah seorang Kristen sementara mereka semua Muslim. Ia tak pernah membelaku. Tiap kali kudengar ayahnya dirawat di rumah sakit, aku menjadi sangat takut. Hatiku mulai merasa terluka dan aku tahu bahwa ini mungkin menjadi hari dimana ia akan meninggalkanku untuk ikut bersama ibunya sebab [menurut ajaran Islam] “surga ada di telapak kaki ibu”.

“Wahai Rasulullah, aku hendak berperang, kini aku datang untuk meminta pendapat engkau.” Rasulullah  menjawab, “Apakah engkau mempunyai ibu?” Jawabnya, “Ya.” Lalu Rasulullah  bersabda, “Berbuat baiklah kepadanya. Sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya.”

(Diriwayatkan Nasa’i (2/54) dan ath­Thabarani (2/225), dan sanadnya?hasan—insya Allah. Al­ Hakim menshahihkannya (4/151) dan disetujui oleh adz­Dzahabi dan al­Mundziri (3/214).)

Aku ingin menyelamatkan pernikahanku, tapi tak ingin melepaskan kebahagiaan dan keluargaku. Ia telah memberitahuku untuk tak lagi bertemu dengan sahabat terbaikku padahal kami telah bersahabat selama 14 tahun. Ia tak pernah mau bersosialisasi dengan anggota keluargaku. Ia memberitahuku bahwa aku hanya akan memiliki apa yang ia rela berikan, dan ia tak rela memberiku apapun sebab ia harus memberikannya kepada badan amal. Ia katakan Tuhan akan mencintainya dan memberkatinya jika ia melakukan hal itu. Ia mengatakan padaku bahwa aku adalah seorang yang materialistis sebab aku ingin membangun sebuah rumah dan masa depan dengannya, serta memiliki hidup yang stabil, supaya aku tak lagi perlu khawatir untuk masa depan anak-anakku.

Tolonglah saya. Aku sungguh-sungguh ingin menyelamatkan pernikahanku. Aku tahu engkau tak punya waktu, tapi saya harus mencobanya. Karena itu kumohon engkau bisa memberiku bantuan apapun. Aku akan sangat berterimakasih untuk itu.

Emma

Emma yang baik,

Aku mengerti bahwa engkau ingin menyelamatkan pernikahanmu. Tapi ketahuilah, engkau tidak memiliki pernikahan. Mengapa orang menikah? Mereka menikah agar mereka bisa menjadi orang yang lebih berbahagia. Sebelumnya engkau adalah orang yang berbahagia. Engkau terbiasa tertawa dan punya jiwa yang bebas. Tapi sekarang tiap saat engkau menangis hingga kesehatanmu menurun secara cepat. Bagaimana mungkin engkau masih bisa mengatakan bahwa engkau sangat mencintai pria ini?

Ia membohongimu. Ia menipu-daya engkau. Ia berdusta padamu. Sekarang setelah menikah, ia mengabaikanmu. Ia tak pernah membelamu. Ia melecehkanmu secara emosional. Ia memberitahumu bahwa baginya engkau itu tidak ada apa-apanya, dan jika engkau tidak menaatinya dan tidak melakukan apa yang ia katakan maka ia akan menceraikanmu. Ibunya membencimu dan suamimu menginginkanmu pindah ke negaranya dan tinggal di rumah ibunya, berada di bawah kontrol ibunya.

Jika engkau melakukan itu, maka hidupmu akan ribuan kali lebih buruk daripada yang engkau alami hari ini. Jika ia belum memukulimu hari ini, percayalah, ia akan memukulimu kelak saat engkau sudah berada di negaranya. Engkau tak akan punya hak atas anak-anakmu. Dalam Islam, seorang wanita tak lebih dari sekedar sebuah inkubator embrio. Tak ada yang disebut sebagai hak-hak kaum ibu seperti yang kita ketahui di dunia yang beradab.

Di negaranya, engkau akan berada di sebuah negara asing, tinggal di tengah-tengah orang-orang yang membencimu hanya karena keberadaanmu. Beberapa orang wanita berpaling ke Islam dengan harapan dapat menyenangkan suami dan keluarga suami mereka, dan dapat diterima. Itu adalah harapan sia-sia dan pemikiran delusional. Bagi orang-orang Muslim engkau adalah mahluk inferior dan bahkan perpalinganmu ke Islam pun tidak akan merubah pandangan mereka. Orang-orang Arab adalah bangsa yang sangat rasis.

Yang ada diantara engkau dan pria ini bukanlah cinta. Ini disebut ko-dependensi. Ini adalah sadomasokisme. Semua Muslim adalah orang-orang yang narsis, dan orang-orang narsis adalah orang-orang yang sadis. Pertama-tama mereka melemparkan umpan kepadamu, seperti yang dilakukan seorang pemancing yang tengah mencoba menangkap ikan. Apabila engkau memakan umpan itu, maka mereka akan menarik talinya sedikit kemudian melepaskannya, tapi setiap kali mereka melakukan hal itu, talinya akan menjadi semakin pendek dan engkau akan semakin kehilangan kebebasanmu, hingga engkau sepenuhnya berada dalam kendalinya. Pada akhirnya, engkau akan kehilangan kebebasanmu dan hidupmu seperti yang selama ini engkau miliki akan berakhir.

Yang saya takutkan adalah bahwa engkau adalah seorang ‘masochist’. Bagaimana engkau dapat mencintai seorang pria yang melecehkanmu, meskipun hal itu membuat kesehatanmu menjadi semakin menurun? Jika engkau tidak suka dianiaya dan dilecehkan, mengapa engkau masih mau berada dalam relasi yang beracun seperti ini? Tinggalkan dia! Engkau dapat melakukannya dengan mudah saat ini, tapi engkau tak akan dapat melakukannya dengan mudah tanpa pengorbanan yang besar, setelah engkau berada di negaranya. Aku menyarankanmu untuk menemui seorang terapis. Bahkan jika engkau dapat keluar dari pernikahan yang tak sehat seperti ini, engkau masih bisa jatuh ke pria lain yang juga suka melecehkan. Itulah alasan mengapa saya menyarankanmu menemui seorang terapis.

Aku sudah mengatakan hal ini berulangkali. Seorang pria Muslim tak punya kapasitas untuk mencintai seorang wanita sesuai dengan pemahaman yang benar akan kata ‘cinta’. Ia tak tahu apa artinya cinta. Cinta adalah sebuah seni yang kita pelajari. Pria-pria Muslim tidak mencintai isteri-isteri mereka. (Lihat artikelku sebelumnya: Ada Apa Disana Bagi Muslimah). Jadi anak-anak mereka tidak bisa mempelajari seni ini, dan jika engkau menikahi seorang pria Muslim, maka ia tak punya kapasitas untuk mencintaimu. Ia ingin memilikimu, tapi ia tidak sanggup mencintaimu. Nilai-nilai yang ia anut sangat jauh berbeda dengan nilai-nilaimu. Orang-orang Muslim adalah sebuah spesies yang berbeda. Mereka berbeda dengan kita.

Relasi pria ini dengan ibunya juga jadi masalah. Tapi ini hal yang biasa terjadi dalam keluarga-keluarga Timur Tengah. Ibunya mengontrol dia beserta setiap wanita yang menikah dengannya. Ini adalah sesuatu yang sulit, bahkan bagi seorang wanita Muslim yang menikah dengan pria ini, apalagi dengan engkau yang tidak terbiasa dengan budaya ‘sakit’ yang seperti itu.

Pria yang engkau sebut sebagai suamimu sebenarnya secara emosional adalah seorang anak. Ia masih belum memotong tali pusarnya dari ibunya. Hubungan dengan ibunya adalah hubungan simbiotik. Saya takut harapanmu bahwa suatu hari kelak ia akan meninggalkan ibunya dengan cara yang biasa dilakukan oleh seorang pria muda, kemudian memilihmu sebagai pasangan hidupnya, hanyalah sebuah pemikiran yang kosong. Ia tidak dapat memiliki sebuah relasi pernikahan yang sehat denganmu atau dengan perempuan manapun, karena ia adalah seorang anak yang masih perlu bersembunyi dibawah rok ibunya. Bahkan setelah kematian ibunya, ia masih akan membutuhkan seorang  isteri sebagai ibunya. Pria ini tak akan pernah berfungsi sebagai seorang suami dan ayah. Ia adalah anak yang senang melecehkan dan ini tambahan masalah mengenai dirinya, terlepas bahwa ia adalah seorang Muslim.

Ketika seorang pria mengabaikan isterinya, sebagaimana sering terjadi dalam pernikahan Islami, maka anak laki-lakinya akan menjadi pasangan ‘palsu’ ibunya. Ia akan bertindak sebagai pelindungnya. Relasi ibu dan anak yang tidak sehat seperti ini, sangat umum ditemukan dalam rumah tangga Muslim. Ketika tak ada suami yang mendukungnya secara emosional, maka mereka akan membentuk sebuah ikatan emosional dengan anak laki-laki mereka. Para wanita ini akan merasa cemburu dengan menantu perempuan mereka dan memandangnya sebagai pesaing dan kompetitor untuk mendapatkan kasih sayang dari anak laki-laki mereka. Setiap wanita yang menikah dengan pria seperti ini, hidupnya akan sengsara. Ketika engkau menikahi seorang pria Muslim, besar kemungkinan engkau akan menikah dengan ‘anak laki-laki mama’.

Engkau memintaku untuk menolongmu menyelamatkan pernikahanmu. Pernikahan apa? Engkau tak punya pernikahan. Engkau sedang berada dalam sebuah relasi yang salah. Satu-satunya yang bisa kukatakan padamu adalah, bukalah matamu dan keluarlah dari situ sekarang juga, bukan besok atau jam berikut. Kemasi barang-barangmu dan segeralah pergi setelah engkau membaca email ini. Pergilah ke rumah orangtuamu dan minta pada mereka untuk memberimu tempat berlindung hingga engkau mendapatkan surat cerai resmi. Apakah engkau sungguh-sungguh menginginkan pria seperti ini menjadi ayah dari anak-anakmu, dan membesarkan mereka dengan nilai-nilainya yang melenceng?

Tak ada manfaatnya membicarakan hal ini dengannya, dan menurutku tak ada terapis manapun yang dapat menolongnya. Pertama-tama karena ia mengira tak ada yang salah dengannya dan ia juga tidak akan mau mendengarkan nasehat seorang terapis. Kedua, hubungannya yang tidak sehat dengan ibunya hanya salah satu bagian masalah. Masalah utamanya adalah karena ia adalah seorang Muslim dan oleh sebab nuraninya menjadi tumpul. Ia tak percaya dengan Aturan Emas, hal utama yang menjadikan kita sebagai manusia.

Amal?! Amal apa? Yang ia sedang bicarakan adalah mengenai membantu terorisme Islami. Tak ada amal dalam Islam sebagaimana yang engkau pahami. Amal dalam Islam berarti mendukung jihad dengan uang dan dengan hidup mereka. Jihad berarti dua hal: Taqiyah (tipu daya) dan terorisme. Engkau telah menjadi korban tipu dayanya. Ia membohongimu untuk menikah dengannya dan sekarang ia sedang melecehkanmu agar engkau berpaling ke Islam. Baginya ini adalah bentuk jihad. Anak-anakmu akan menjadi Muslim. Seperti inilah cara Islam berkembang ‘secara damai’, ketika pedang tidak dipakai.

Engkau masih muda. Dari suratmu yang saya kumpulkan, aku yakin engkau belum punya anak. Bersukacitalah! Ini berarti anak-anakmu kelak tidak akan menderita karena kesalahanmu. Engkau dapat membatalkan kesalahanmu dan meninggalkannya di belakangmu. Bahkan jika engkau telah memiliki anak, nasehatku padamu pun tetap sama. Pria ini tak akan pernah menjadi  pasangan yang sepadan buatmu. Ia tidak akan dapat menjadi seorang suami atau ayah yang baik. Ia bukan seorang pria dewasa. Ia hanya akan menghancurkan hidupmu dan tak akan pernah memberimu kebahagiaan. Pernikahanmu dengannya tidak akan bertahan. Jadi, akhirilah sekarang sementara kalian masih belum memiliki anak.

Ia tidak mencintaimu dan engkau juga tidak mencintainya. Ia ingin menguasaimu, dan perasaanmu terhadapnya bukanlah cinta. Engkau sedang diperbudak olehnya. Cinta akan membuatmu bahagia dan bebas. Jika engkau mencintainya maka engkau tidak akan mengirimiku surel untuk meminta pertolongan. Pernahkah engkau mendengar tentang sindrom Stockholm? Silahkan mengeceknya dan membaca mengenai hal itu. Inilah masalah mental yang engkau derita.

Bacalah juga kisah-kisah tentang wanita-wanita lain dalam blog ini. Detilnya bervariasi namun semua temanya sama. Mereka bertemu dengan seorang pangeran menawan yang kemudian berubah menjadi seekor katak. Mereka menikah dengan seorang Dr. Jekyll yang berubah menjadi Mr. Hyde. Kita harus memberitahu dunia bahwa orang-orang Muslim berbeda dengan kita, sebab jika tidak maka lebih banyak lagi orang-orang tak bersalah yang akan menderita. Mereka tidak memiliki hati manusia yang sama seperti yang kita miliki. Mereka tak punya hati nurani yang sama seperti yang kita miliki. Mereka semua adalah para narsisis. Kita sedang berurusan dengan 1,5 milyar psikopat. Mereka semua menjadi sakit karena meniru nabi mereka. Jangan pernah mempercayai mereka. Jangan mau dibodohi oleh orang-orang Muslim, bahkan ketika mereka kelihatannya ramah dan menyenangkan. Benar, di antara mereka masih ada orang baik, tetapi mengapa harus mengambil risiko? Engkau tak akan pernah tahu kapan mereka akan memutuskan untuk berpaling pada Tuhan mereka dan berubah dari Dr. Jekyll menjadi Mr. Hide.

Engkau hanya hidup sekali dan engkau pantas untuk berbahagia. Jangan memilih hidup yang dipenuhi penderitaan. Untuk apa menderita ketika engkau dapat membuang suami seperti ini keluar dari hidupmu dan menemukan kebahagiaan dengan seseorang yang cukup dewasa dan sanggup mencintai seorang wanita sebagaimana yang seharusnya dilakukan oleh seorang pria?

Terlalu muda untuk menikah di usia 24 tahun. Engkau masih punya waktu 10-15 tahun lagi untuk menemukan seorang pria yang baik.

Semoga cepat sembuh

Ali Sina

Sumber: Alisina.org


6 comments Add a Comment
Staff Admin
Reply| 26 Mar 2013 21:50:46
Apakah benar bahwa pernikahan muslim itu sakral? teramat sakralnyakah hingga suami boleh memukul istrinya (QS.3: 34), atau sakral karena posisi pria lebih superior sehingga boleh mengawini hingga 4 orang wanita (QS.4:3, QS.4:11, QS.2:282)? Bahkan sampai sampai malaikatpun akan mengutuki si istri yang menolak berhubungan sexsual dengan suaminya (HSB. 7.62.121)?
LoveJesus
Reply| 18 Mar 2013 00:54:41
@edo...
Komen anda sama sekali gak intelek.. Kasih tau dong, mananya yg gak benar??? Detailnya yg mana??? Anda itu muslim ngerti islam gak sih??? Klu blm ngerti belajar gih...
Iya sih, untk satu hal saya harus sepakat dgn anda, bhw islam agama yg sempurna... Alquran kitab yg sempurna...
SEMPURNA BOBROKNYA...
Ronny_Bingung
Reply| 15 Mar 2013 16:52:02
Memanknya knp muslim ga boleh nikah dgn non.muslim??..
Apa dalil kalian muslim??..
dan knp jika non muslim menikah dgn muslim wajib pindah agama k muslim??..
MUSLIMLIBERAL
Reply| 14 Mar 2013 12:16:53
@ EDO, ALVIE, teman2 Muslim,

Bisakah saya bicara secara terbuka?
Tidak semua kafir itu jahat, salah, ketimbang kita2.
Ajaran Nabi kita sering kebablasan, dan tak berguna. Realistislah. Anak kecilpun akan tahu yg beliau tak sempurna..

HSB 7.62.33, “Setelah saya (Muhammad), saya tidak meninggalkan kerusakan bagi pria yang lebih berbahaya daripada perempuan”.
SO HOW, JIKA IBUMU DIPERLAKUKAN BEGITU?

wassalam.
Edo
Reply| 12 Mar 2013 22:40:34
Wahai penganut agama non Islam perkataan dan isi artikel anda hanyalah omong kosong saja tidak ada satupun yang benar tentang islam yang ada tulis selama ini segeralah bertaubat karena islam itu adalah agama yang paling sempurna di dunia ini
alvie
Reply| 12 Mar 2013 02:32:12
Wakakakakakakakakkk!
Artikel yg lebih mirip dgn pelajaran mengarang indah waktu masih SD dulu! Lagian ngapain iseng banget mau nikah ama org muslim, muslim ya sama muslimah! Kristen ya jangan sama muslim! Muslim dan kristen itu dua aqidah yang jauh bertolak belakang! Muslim pernikahan untuk sakral, dunia akhirat! Kristen semata cinta dan mencari domba yg sesat! Hadoeh.. Ngaco! Wakakakkakakak
Fetching more Comments...
↑ Back to Top