Poligami Muhammad: Diantara Ummul Mukminin, Berahi Seks Dan Wahyu

Sesungguhnyalah, tak ada nabi manapun yang dikecualikan dari hukum-Tuhan bagi umatNya. Semakin dia nabi yang makin tinggi derajatnya, semakin dia diharuskan menggenapi dan mencontohkan praktek hukum yang dikenakan bagi umatnya. Anomali hukum yang diizinkan justru memacu Muhammad ber-skandal liar dalam kehidupan seks-nya yang tidak satupun bisa menjadi mercu-suar keteladanan bagi kekudusan keluarga. Dan balik membantah kenabian Muhammad dan azaz kesempurnaan Allah yang tanpa cacat!

 

Oleh: Miryam Ash

Banyak pihak mengatakan bahwa Surat An Nisaa dan Al Ahzaab adalah dua diantara 114 Surat Allah yang paling telak menegatifkan moralitas Allah dalam kehidupan keluarga Muslim dan kemanusiaan. Ya, pernyataan yang mungkin ada banyak kadar kebenarannya.

Apa yang disampaikan dan diperintahkan Allah dalam kancah KAWIN-MAWIN misalnya sungguh membingungkan, kontradiktif, tidak beradab, tidak masuk akal, tidak adil, bahkan kejam dan jahat, khususnya bagi pihak perempuan! Kita dapat mengulasnya amat panjang dengan rintihan kebatin. Tetapi disini kita hanya mau menyingkapkan dan mempersoalkan secuil contoh saja.

Pertama-tama, Surat An Nisaa 3 memerintahkan para lelaki untuk berpoligami,

“kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi, DUA, TIGA atau EMPAT”. Segera terlihat bahwa ayat ini jelas merupakan ayat pendorong poligami karena dimulai dengan DUA wanita, bukan SATU, padahal sistem mulia monogami-lah yang seharusnya Allah dorong dan teguhkan sebagai fitrah hidup berpasangan yang Dia jadikan sejak semula (QS.75:39, 35:11, 53:45, dll).

Kedua, sesudah mendorong iklim berpoligami seperti diatas, namun apabila ada lelaki yang was-was tidak bisa berlaku adil kepada para istrinya (perempuan merdeka), maka si lelaki tersebut tetap diberi “jalan pintas keluar” untuk mengawini satu perempuan merdeka atau/dan sejumlah perempuan  budak, “Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki”. Jalan pintas ini adalah semacam “poligami mix” yang dinyatakan halal, namun jelas lebih menjijikkan, mengingat budak-budak perempuan --pihak yang paling lemah ini-- masih dieksploitasikan sex-nya dengan cara melegalkan mereka untuk dikawini secara murahan tanpa usah berkeadilan atau syarat-syarat apapun, dan ini melekat menjadi hukum Allah Islamik yang kekal. Padahal 600 tahun sebelumnya, Yesus Al-Masih dalam InjilNya justru telah membebaskan semua pihak dari perhambaan (Yohanes 15:15).

Ketiga, setelah mendorong “poligami resmi” dengan alternatif “poligami-mix”, datang lagi wahyu kontradiktif pada Surat An Nisaa yang sama dimana Allah berbalik menegasi atau menolak semua usaha berpoligami! Satu dan lain hal karena  Allah MEMASTIKAN bahwa tak ada manusia yang bisa berlaku ADIL terhadap para istri yang dinikahinya,

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung” (QS. An Nisaa : 129).

Jikalau pembatasan jumlah istri (hingga 4, seperti ayat 3 diatas) tidak dikenakan kepada Muhammad dengan hadirnya “hukum-ajaib” (33:50,51) yang mengecualikan dirinya, maka tidak demikian halnya dengan tuntutan keadilan yang harus Muhammad berikan untuk setiap istri yang dikawininya! Muhammad diberi pengecualian dengan axioma-mati bahwa ia sebagai nabi mutlak bisa berbuat adil seadil-adilnya kepada seluruh umat, apalagi kepada para istrinya! Dia-lah Al-Amin yang harus membuktikan keadilannya yang sempurna dikalangan istrinya. Namun semua Muslim tahu bahwa bukan saja tak ada pria-poligami yang bisa berlaku adil, bahkan Muhammad sendiripun telah mendemonstrasikan ketidak-adilannya secara terbuka dikalangan istri-istrinya! Jadi kembali kita menyaksikan betapa hukum akan saling berbenturan dalam realitas, sekali ada pengecualian yang tanpa dasar.

Sesungguhnyalah, tak ada nabi manapun yang dikecualikan dari hukum-Tuhan bagi umatNya. Semakin dia nabi yang makin tinggi derajatnya, semakin dia diharuskan menggenapi dan mencontohkan praktek hukum yang dikenakan bagi umatnya. Anomali hukum yang diizinkan justru memacu Muhammad ber-skandal liar dalam kehidupan seks-nya yang tidak satupun bisa menjadi mercu-suar keteladanan bagi kekudusan keluarga. Dan balik membantah kenabian Muhammad dan azaz kesempurnaan Allah yang tanpa cacat!

Keempat, sekalipun poligami dihalalkan, namun inipun diharamkan oleh Muhammad untuk diberlakukan kepada anak putrinya Fatimah. Dan ini betul-betul memperkosa rasa dan substansi keadilan ilahiah!

"Banu Hisham bin Al-Mughira telah meminta kepada saya untuk mengizinkan mereka mengawinkan putri mereka kepada Ali bin Abu Talib, namun saya tidak memberi izin, dan tidak akan memberinya kecuali Ali bin Abi Talib menceraikan putri saya untuk mengawinkan putri mereka, sebab Fatima adalah bagian dari tubuh saya, dan saya benci apa yang dia bencikan, dan apa yang melukainya, melukai saya pula”   (HSM.62.157)

Kelima, semua istri dari Muhammad diberi gelar istimewa yang tercatat di surga, dan disebut sebagai “Ibu dari orang-orang beriman”, Umm’l Mikminin  (Surat al-Ahzab 33:6). Namun Muhammad dan Muslim tidak terlalu sensitif akan konsekwensi gelar tersebut. Sebab dengan posisi dan gelar surgawi itu maka para ibu orang-orang mukmin lalu tidak boleh menikah dengan siapapun lagi walau mereka sudah jadi jandanya Muhammad yang sudah tiada. Aisha misalnya diharuskan menjadi janda seumur hidupnya tatkala justru berumur dewasa 18 tahun! Begitu pula posisi dan gelar ini sekaligus memunculkan terjadinya kerancuan bahwa Aisha (putri dari Abu Bakr) misalnya, otomatis telah menjadi ibunda dari bapaknya. Dan Hafsah, putri dari Umar b. al-Khattab, menjadi wanita mulia yang menurunkan moyangnya, termasuk Ismail dan Ibrahim! Wujud dan kerangka dari poligami ala Muhammad sungguh kacau dan tidak berserasi dengan hakekat surgawi. Apalagi bila hal-hal ini diproyeksikan sampai ke surga Islam kelak, dengan “intervensi” 72 bidadari yang muda belia dan selalu perawan. Tak ada yang bisa membayangkan bagaimana posisi Muhammad diantara bidadari dan ummul mukminin ini, katakanlah yang paling menyolok saja, bagaimana Muhammad bisa digandengkan dengan 72 bidadari versus Aisha (istri paling favorit) versus Sauda bint Zama’h (istri yang di-sia-siakan, lihat dibawah) ...

Sejarah hidup Muhammad segera  tampak menjadi sebuah CONTOH ketidak-adilan yang sempurna dalam memperlakukan para istrinya, menurut kuantitas dan kualitas “perhatian, cinta kasih, nafkah dan giliran seks” yang harus diberikan sama kepada setiap mereka. Dan lebih dari itu beliau justru telah mendemonstrasikan suatu perkosaan terhadap keadilan poligamis itu tanpa rasa bersalah, melainkan membiarkan itu terus begitu dan malah mensyukurinya diam-diam dalam keluarga haremnya! Kedengaran seperti fitnah? Maaf, bukan fitnah, tetapi fakta keras!

Kita menunjuk kepada kasus Sauda bint Zama’h misalnya, yang dikawini Muhammad 1 bulan (!) setelah kematian Khadijah. Ia dikatakan sebagai istri yang bertampang biasa, gemuk dan berumur (walau tidak pernah diketahui berapa umurnya). Ia tidak pernah mendapat gairah dan perhatian Muhammad. Nabi malahan sudah siap mau menceraikannya. Dan kalau akhirnya tidak jadi dicerai, itu hanya karena Sauda mati-matian memohon kepada Nabi agar ia jangan sampai dicerai dengan imbalan bahwa hak “giliran seks” baginya akan  dialihkan kepada Aisha yang lebih dicintainya! (Qurtubi, Al-Tabari, Abu Dawud vol.2 no.2130 hal.572). Status Sauda serentak menjadi “stateless marriage” yang paling memprihatinkan! Dan batin Nabi Allah tidak merasa berurusan.

Sebaliknya, bukan rahasia lagi bahwa Aisha adalah isteri yang paling TOP FAVORIT bagi Muhammad (Sahih Bukhari 3:47:755 dll). Namun ini sekaligus mendatangkan konsekwensi bagi Muhammad untuk mempertanggung-jawabkan bukti “keadilan poligamisnya” dalam tuntutan Allah (Surat 4:3). Sebab kita tahu dimana-mana Islam berslogan-ria tentang hukum keadilan. Dan Muhammad selalu disebut-sebut pejuang keadilan yang berdiri di garis paling depan. Jadi Muhammad harus mampu memperlihatkan bagaimana mengoperasikan “keadilan domestik” nya diantara para istrinya yang begitu banyak itu, sekaligus bangga bisa berkata kepada dunia secara spesifik: “Belajarlah kalian kepadaku, sebab hidup berkeluargaku, dalam seksualitas dan keadilan-poligamisku adalah cermin dari moral yang supra”. Bukankah Yesus juga telah berkata dalam kerangka ajaran moral yang sama: Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati”, atau “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus”...  (Matius 11:29, Imamat 11:45; 1Petrus 1:16;).

Tetapi yang terjadi justru sebaliknya dari yang dislogankan dengan sepenuh yakin. Banyak Hadis dan Sirat yang menyajikan secara orisinil dan otentik tentang kekejian Muhammad sehubungan dengan skandal seks dan perkawinan dalam haremnya. Kisah sudah sangat terang benderang, sekalipun dipoles dengan banyak eufemisme. Kita hanya mendaftarkan beberapa kasus dan tidak akan masuk dalam penjabarannya lagi, a.l.

  •  Kasus pedofil dengan Aisha. Mengapa Nabi perlu memaksakan penghilangan masa kanak-kanak Aisha, dan tidak mampu menjadi suri teladan universal dengan menampik jenis perkawinan yang bercirikan pedofilia, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu… (QS.33:21).

“Rasul Allah berkata, ‘Saya telah diutus sebagai generasi keturunan Adam yang terbaik keseluruhannya sejak penciptaan” (HSB 4.56.757)

  • Perkawinan dirinya dengan Zainab, yang tercabut dari istri anak angkatnya Zayd bin Muhammad. Padahal Nabi sendiri pula yang tadinya menikahkan keduanya.

Perkawinan yang membuat Allah harus menurunkan banyak ayat-ayatNya yang aneh dan kerdil demi untuk pembenaran perkawinan yang tidak mulia ini, yang bahkan dilakukan tanpa wali dan saksi, karena sudah dipersaksikan oleh Allah sendiri ketika dikawinkan di surga, “Kami telah kawinkan dia (Zainab) dengan kamu (Muhammad)” (QS.33:37)??

  • Skandal seks Muhammad dengan budak Mariya Coptik, yang dilakukan sembunyi-sembunyi di hari, di rumah, dan di ranjangnya Hafsah. Yang akhirnya menjadi ledakan heboh diseluruh harem Muhammad dan pemboikotan istri-istri terhadap Nabi, sehingga Allah dibuat harus menurunkan jenis wahyu yang mengancam istri-istri yang membangkang (QS.66:1-5).
  • Kasus hubungan seks dengan Safiyyah dihari yang sama dengan pembantaian Nabi terhadap  suami dan keluarga Safiyyah dimuka hidungnya, yang memperlihatkan ciri seorang psikopat tanpa hati nurani dan empati… dll.

 

Sumber artikel: Answering-Islam.org


10 comments Add a Comment
Yogi
Reply| 21 Jun 2015 00:38:55
Mengapa Muhammad keberatan jika Fatimah dipoligami padahal dia suka berpoligami? Bukankah seharusnya Muhammad bangga memiliki menantu yang doyan berpoligami seperti dirinya.
GUNTUR
Reply| 24 May 2013 18:39:32
@masyaallah

Syukurlah anda sudah mengerti siapa Muhammad SAW.
Tinggalkan Islam segera, secepatnya !!
Mr.Nunusaku
Reply| 24 May 2013 17:07:37
Muhammad bin Abdulah bukan nabi urusan keselamatan manusia, tetapi dia adalah nabi urusan kenikmataan seksueel...namanya AJA NABI SEKSE SUCI ISLAM MUHAMMAD.

BACA BIOGRAFIE SEKSUEEL MUHAMMAD YANG MENYIMPANG...INI NABI URUSAN RANJANG NABI TERAKHIR YANG DICIPTAAN OLEH SETAN DI GOA HIRA.
Mr.Nunusaku
Reply| 24 May 2013 17:03:08
Hanya Allah swt islam memberikan Muhammad dengan kekuatan seksueel seperti 30 lelaki dewasa, karena dalam hadits ada tertulis jika kurang puas Muhammad dapat berzinah dengan Maryah babunya Hafsa...dan ijin perkosaan atas nama Allah swt. (Hadits Abu Dawusd 2150)
KAPOKJADIMUSLIM
Reply| 08 Apr 2013 12:21:06
@ ALL MUSLIM, mhd61l4,

Saya melihat tak ada lagi mutu debat Muslim disini.
Keroco2 semuanya!
Jadi, lb baik merenungi begini:
Dalam hal apa sih Muhammad betul2 mengungguli Yesus
sebagai utusan Tuhan?
AJARAN?
MORAL?
KUASA?
KASIH?
CONTOH PERILAKU?
JANJI NAIK SORGA?
DLL?
LALU BERTOBATLAH
Masyaallah
Reply| 26 Mar 2013 07:31:39
HABISLAH DALIL TENTANG NABI YANG ADIL, CONTOH TELADAN ALAM SEJAGAT!
DAN TERKIKISLAH IMAN-KU KEPADA JUNJUNGANKU YANG HANYA SEGITU-GITU aja AHLAKNYA!
Mhd61l4
Reply| 25 Mar 2013 20:32:52
@AKIBODO

Anda menyatakan:
"@ MHD, lho kok anda yang sewot."

Tanggapan:
Justru saya mendukung seperti yang anda kutipkan:
“Saya (Muhammad) telah diutus sebagai generasi keturunan Adam yang terbaik keseluruhannya sejak penciptaan” (QS.68:4, 33:21, HS.Bukhari 4.56.757).

Saya cuma menambahkan contoh contoh kesempurnaan Muhammad berdasarkan bukti dan fakta dari sumber Islam yang terpercaya, QURAN dan Hadist.

Muhammad adalah suri teladan bagi manusia (Muslim tentunya, termasuk JIN MUSLIM = IBLIS BERAGAMA ISLAM), berakhlak sempurna dan berbudi agung, contohnya:

Muhammad menipu istrinya sendiri (Hafsah) dan mencabuli perempuan lain (Maryah) di ranjang Hafsah sendiri.

MENIPU dan MENCABULI adalah contoh suri teladan berakhlak sempurna dan berbudi agung, berdasarkan QURAN dan HADIST.

Saya 100% setuju dengan pernyataan tersebut di atas, karena QURAN dan HADIST tidak pernah salah seperti yang saya tuliskan sebelumnya: PAHAMI TERMINOLOGI ISLAM.
GUNTUR
Reply| 25 Mar 2013 20:21:05
@Akibodo

Mungkin terbaik dalam bidang sex, kekuatan 100 laki2 muda.
Muhammad impoten perlu ber "taqiya" , burungnya diganti sama kayu. Tegang terus
Akibodo
Reply| 24 Mar 2013 23:32:35
@ MHD, lho kok anda yang sewot.
Artikel diatas kan dengan axioma spt yang dikatakannya:

“Saya (Muhammad) telah diutus sebagai generasi keturunan Adam yang terbaik keseluruhannya sejak penciptaan” (QS.68:4, 33:21, HS.Bukhari 4.56.757).
Mhd61l4
Reply| 24 Mar 2013 19:34:05
Setelah turunnya wahyu di gua gelap pengap dan menyeramkan, kemudian wahyu berturunan di ranjang sex yang menggairahkan.

Ya, allow maha kuasa memberikan kekuatan sex (300 atau 400 kali laki laki biasa) bagi Muhamad yang lebih pantas menjadi nabi cabul daripada nabi suci.

Kalaupun Muhammad mengklaim diri sebagai nabi suci, maka terminologi Islam menerangkan suci dalam percabulan sama seperti ahklak sempurna adalah pembunuh sadis dan biadab.

Aisah sendiri dalam beberapa hadis menyebutkan kalau urusan syahwat, allow cepat-cepat menurunkan wahyunya...
Fetching more Comments...
↑ Back to Top