Mujizat Muhammad: Menghasilkan Air Dari Sumur Yang Sudah Kering

Para perekayasa mujizat ini tidak cukup pintar untuk menghilangkan kutukan Muhammad dalam kisah ini. Bagian itu tidak disengaja. Jika Muhammad dapat menghasilkan air dari sumur yang sudah kering, semestinya ia tidak sedemikian marahnya sehingga mengutuki para pengikutnya karena telah minum mendahuluinya. Faktanya, jika ia dapat melakukan mujizat apapun semestinya ia tidak menjadi penjahat dan membunuh orang. Satu mujizat yang dilakukan di hadapan kaumnya yang percaya takhayul sudah cukup bagi mereka semua untuk bergabung dengan agama Muhammad.

 

 

 

Setelah tinggal di Tabuk selama 10 hari, Muhammad kembali ke Medinah.[1] Beberapa mujizat diceritakan dalam kisah ini. Salah satunya menceritakan bahwa ia berkata kepada orang-orangnya agar tidak pergi keluar pada malam hari sendirian. Tetapi ada dua orang yang tidak menaatinya. “Yang seorang pergi untuk buang air dan yang lainnya mengurus untanya. Orang yang pertama agak tersedak dalam perjalanannya dan yang lainnya terbawa angin yang mengarah ke dua gunung Tayyi. Rasul diberitahu akan hal ini dan mengingatkan orang-orang bahwa ia telah melarang mereka untuk pergi keluar sendirian. Kemudian ia berdoa untuk orang yang tersedak itu, lalu orang itu disembuhkan; yang satunya lagi dibawa kepada rasul di Medinah olah seseorang dari Tayyi”.[2]

 

Mujizat lainnya terjadi saat kembali dan mereka kekurangan air. Ada sebuah sumur di depan dan Muhammad memerintahkan barangsiapa tiba disana sebelum dirinya agar tidak mengambil air terlebih dahulu hingga ia tiba disana. Beberapa orang pengikutnya, yang disebut Ibn Ishaq sebagai “orang-orang yang gusar” tiba disana terlebih dahulu dan mengambil air dari sumur itu. Mereka haus dan tidak menunggu hingga rasul meminumnya. Ketika Muhammad tiba disana,  ia berhenti dan melihat ternyata air di sumur sudah habis. Ia bertanya siapakah yang tiba terlebih dahulu disana dan mereka memberitahukan padanya nama-nama orang-orang itu. Ia berkata, “Bukankah aku telah melarang kamu mengambil air dari sumur ini hingga aku datang?” Kemudian ia mengutuki mereka dan menimpakan pembalasan Allah kepada mereka.[3]

 

Mereka pantas dikutuk dan mereka akan dibakar dalam neraka selamanya karena telah minum mendahului nabi. Apalagi ia adalah ciptaan terbaik. Tetapi para narator tidak dapat meninggalkan kisah ini seperti apa adanya. Mereka harus merekayasa sebuah mujizat. Maka mereka berkata, “Kemudian ia turun dari tunggangannya dan menaruh tangannya di bawah sebuah batu, dan air mulai mengalir ke tangannya sesuai kehendak Allah. Lalu ia memercikkan air ke batu itu dan mengusapnya dengan tangannya dan berdoa sesuai kehendak Allah. Air lalu memancar keluar. Orang yang mendengar suara air itu mengatakan bunyinya seperti guruh. Orang-orang pun minum dan dahaga mereka dipuaskan oleh air itu, dan rasul berkata, ‘Jika engkau hidup, atau dari antara kalian yang masih hiudp, akan mendengar tentang wadi ini yang lebih subur dari yang ada di sekitarnya’”. 

 

Para perekayasa mujizat ini tidak cukup pintar untuk menghilangkan kutukan Muhammad dalam kisah ini. Bagian itu tidak disengaja. Jika Muhammad dapat menghasilkan air dari sumur yang sudah kering, semestinya ia tidak sedemikian marahnya sehingga mengutuki para pengikutnya karena telah minum mendahuluinya. Faktanya, jika ia dapat melakukan mujizat apapun semestinya ia tidak menjadi penjahat dan membunuh orang. Satu mujizat yang dilakukan di hadapan kaumnya yang percaya takhayul sudah cukup bagi mereka semua untuk bergabung dengan agama Muhammad.

 

Ibn Sa’d mengutip kisah lainnya yang sangat bertentangan dengan klaim bahwa Muhammad mendatangkan air. Ia menulis, “dalam penyerangan Tabuk, setiap dua atau tiga Muslim menunggangi seekor unta. Pada hari keberangkatan dari Medinah cuaca panas sangat menyengat. Suatu hari rasa haus begitu menekan sehingga orang membunuh unta mereka agar dapat minum air dari punuknya. Pasukan itu mengalami kekurangan air dan tidak dapat membersihkan diri”.[4]

 

Kisah mana yang dapat lebih dipercayai? Para sejarawan Muslim menuliskan setiap kisah yang mereka temukan tanpa menggunakan pikiran kritis untuk memisahkan fakta dari fiksi. Berpikir kritis bukanlah salah satu ciri orang Muslim. 

 

Fakta bahwa pemerintah Byzantium telah membiarkan perbatasan selatan tidak terlindungi mengatakan kepada kita mereka tidak menyangka akan ada bahaya dari orang Arab. Semua yang dikalahkan perampok Muslim melakukan kesalahan yang sama. Mereka semua berpikir orang Muslim terlalu lemah, tidak terorganisir, dan terlalu bodoh untuk mengalahkan mereka dan mereka semua membayar harga yang mahal karena meremehkan musuh. Bukankah negara-negara non Muslim di jaman sekarang juga melakukan kesalahan yang sama yang mematikan ini? Dewasa ini invasi Muslim terjadi dalam bentuk migrasi. Adalah sebuah kesalahan besar jika kita melihat hal itu bukan merupakan invasi Islam. 

 

Ibn Sa’d mengatakan setelah perang ini orang Muslim mulai menjual senjata mereka, berkata kepada satu sama lain bahwa Islam telah didirikan di seluruh Arabia dan bahwa jihad telah berakhir. Klaim mula-mula Muhammad adalah ia datang untuk Mekkah dan sekitarnya dengan sebuah kitab dalam bahasa Arab bagi orang Arab agar mereka mengerti dan bahwa setiap kaum mempunyai nabinya sendiri yang membawa bagi mereka pesan dari Tuhan dalam bahasa mereka masing-masing.  

 

Ketika berita itu terdengar Muhammad, ia melarang mereka dan berkata, “Pada akhirnya Ummah-ku akan berjuang di jalan Allah hingga kemunculan Dajjal (anti Kristus)”.[5] Dajjal diyakini akan datang sebelum kesudahan dunia. Jadi jihad dan penumpahan darah akan berlangsung selamanya. Ketika orang Muslim menundukkan seluruh dunia, lalu mereka akan saling memerangi untuk menegakkan versi Islam yang sejati.

 

 


[1] Ibn Sa’d mengatakan 20 hari

[2] Ibn Ishaq 605

[3] Ibn Ishaq 608

[4] Tabaqat v. 2. h. 163

[5] Tabaqat v. 2. h. 163


0 comments Add a Comment
No comments yet
↑ Back to Top