The Life of Muhammad Under the Light of Reason Bagian 1

 

The Life of Muhammad

Under the Light of Reason

 

By Ali Sina

 

 

1.      Muhammad di Mekah

 

 

Pendahuluan

 

       Sering dikatakan, sejarah (history) adalah kisahnya (his story); penafsiran sang sejarawan tentang peristiwa tertentu. Sejarah tentang Muhammad ditulis oleh pengikutnya – orang-orang yang mengasihinya dan percaya bahwa ia adalah manusia superior. Sulit untuk bersikap objektif ketika menulis tentang orang yang begitu dekat dengan hati Anda. Pengikut-pengikutnya membesar-besarkan kebajikan nabi mereka dan mengabaikan bahkan tidak melihat kekurangannya. Akibat pengabaian kenyataan ini menghasilkan kesalahpahaman sejarah yang mereka tulis.

       Karena satu-satunya versi sejarah tentang Muhammad adalah yang ditulis oleh para pengikutnya, maka tidaklah logis jika kita mengharapkan mereka untuk bersikap objektif. Menurut perkiraan saya, tidak lebih dari setengah biografi Muhammad yang benar.

       Bagian mana yang benar? Ini adalah pertanyaan yang akan saya coba jawab dalam buku ini. Ini tidak sulit. Kita akan menganalisa setiap poin yang ditulis dalam biografi Muhammad dan dengan menggunakan daya nalar kita akan memutuskan apakah kita akan mempertahankan atau menyingkirkannya. Nalar, seperti matematika, adalah bahasa universal dan sulit untuk dibantah.

       Tujuan saya menulis buku ini adalah untuk mengangkat kabut yang melingkupi pria paling berpengaruh di dalam sejarah ini dan mengungkapkan kisah hidupnya yang benar.

       Ada banyak detil tentang kehidupan Muhammad yang memungkinkan kita untuk mendapatkan gambaran yang cukup akurat tentang dirinya. Kita hanya butuh sedikit akal sehat untuk memisahkan kebenaran dari fiksi.

 

Nabi Yang Disalahpahami

       Citra yang dimiliki masyarakat umum tentang Muhammad adalah ia seorang pria yang kudus. Mahatma Gandhi, dalam “Young India” (1924) menuliskan:

       “Aku ingin benar-benar mengetahui kehidupan seseorang yang saat ini memegang kekuasaan yang tak terbantahkan dalam hati jutaan umat manusia... Aku jadi lebih yakin dari sebelumnya bahwa pada masa itu bukan pedang yang memenangkan tempat bagi Islam di dalam skema kehidupan. Itu karena kesederhanaan yang kaku, sang Nabi yang sama sekali rendah hati yang menjunjung ikrar dengan seksama, kesetiaannya yang luar biasa terhadap para sahabat dan pengikutnya, keberaniannya, tidak punya rasa takut, keyakinannya yang absolut terhadap Allah dan terhadap misinya sendiri. Hal-hal ini dan bukan pedang yang mewujudkan semuanya dan mengatasi setiap rintangan. Ketika aku menutup jilid kedua (dari biografi sang Nabi), saya kecewa tidak ada lebih banyak tulisan yang bisa saya baca tentang kehidupan yang hebat itu.”

       Bahkan orientalis dan Islamis (ahli pengetahuan Islam) besar, seperti Sir William Muir dan W. Montgomery Watt, gagal memecahkan misteri tentang Muhammad, dan terlepas dari kekayaan pengetahuan mereka tentang dirinya, kepribadiannya, dan alhasil motif Muhammad menjadi luput dari mereka.

       Watt menuliskan, “Saya bukan seorang Muslim dalam pengertian umum, meskipun saya berharap saya seorang ‘Muslim’ sebagai ‘orang yang menyerah kepada Tuhan’, tetapi saya percaya bahwa tertanam di dalam Quran dan ekspresi lain dari visi Islam terdapat timbunan besar kebenaran ilahi di mana saya dan masyarakat Barat masih perlu banyak pelajari, dan Islam tentu saja merupakan salah satu pesaing yang kuat untuk memasok kerangka dari sebuah agama bagi masa depan.”[1]

       Sulit untuk mengetahui apa yang dilihat oleh Watt tertanam di dalam Quran yang menginspirasi dirinya. Kaisar di abad pertengahan, Manuel II Paleologos dari Kekaisaran Bizantium berkata kepada seorang mubalig yang mengajaknya untuk masuk agama Islam, “Tunjukkan padaku hal baru apa yang dibawa oleh Muhammad dan di situ kamu akan hal-hal yang jahat dan tidak manusiawi, seperti perintahnya untuk menyebarkan ajarannya dengan menggunakan pedang.” Siapa yang benar, Watt atau sang Kaisar?

       Dosen University of Utah, Peter Von Sivers menuliskan, “ Para sejarawan, hanya terfokus mempelajari naskah dan dokumen yang diarsipkan, menangani konsep-konsep teologis – seperti Tuhan, Ciptaan, Wahyu, Nubuat, Kebangkitan, Kedatangan Kedua, Penghakiman Terakhir, Kerajaan Surga, atau Firdaus – semata-mata dari segi deskriptif saja, tanpa membiarkan diri mereka melihat kebenaran yang sesungguhnya. Namun, anehnya, dalam hal asal-usul umat beragama, mayoritas cendekiawan menjadi sama literalis atau fundamentalis sebagaimana kebanyakan penganut dari kelompok itu sendiri. Cerita mereka dibalut dengan kosa kata dan argumen sekuler, tetapi di luar daripada itu cerita tersebut identik dengan cerita sakral yang dikisahkan oleh para pengikut mengenai asal-usul kelompok mereka... Sementara fundamentalisme agama tidak lagi mendapatkan respek akademik, fundamentalisme sekuler tetap maju dan berkembang.”[2]

       Salah satu alasan bagi kesimpangsiuran ini adalah karena Muhammad terdengar bersungguh-sungguh dan amat sangat yakin dengan pernyataannya. Kesungguhannya inilah yang membuatnya dipercaya sekalipun pernyataannya tidak masuk akal. Aristoteles berkata, “Sebuah kemustahilan yang meyakinkan lebih disukai daripada sebuah kemungkinan yang tidak meyakinkan.” Ini menyimpan banyak kebenaran menyangkut agama. Sebuah kebohongan yang disampaikan secara meyakinkan lebih dipercaya daripada kebenaran yang disampaikan dengan ragu-ragu. Muhammad terdengar sangat yakin sehingga jadi meyakinkan.

       Darimana ia mendapatkan keyakinannya itu? Saya telah menjawab pertanyaan ini secara detil dalam buku saya yang sebelumnya Understanding Muhammad. Ia mengidap beberapa gangguan jiwa sehingga tidak mampu membedakan antara kenyataan dengan khayalan.

       Agar dapat memahami Islam tidaklah cukup bila hanya memiliki pengetahuan yang baik tentang literaturnya. Kita juga perlu memiliki pemahaman ke dalam pemikiran pendirinya. Kita perlu memiliki pemahaman tentang psikologinya. Cara ini akan menjelaskan apa yang dikatakan oleh Sam Vaknin, penulis Malignant Self-Love, sebagai, “kekacauan habis-habisan, tak terpahami, membingungkan, terpelintir, tak bisa ditembus.”

       Untuk melihat beberapa kekacauan yang dari mereka yang disebut cendekiawan Islam mari kita membaca satu bagian dari buku Karen Armstrong, Islam: A Short History. “Muhammad dan para imigran dari Mekah tidak memiliki sarana untuk mencari nafkah di Madinah. Tidak ada cukup lahan untuk mereka garap, selain itu mereka juga pedagang dan pelaku bisnis, bukan masyarakat agrikultur. Masyarakat Madinah yang dikenal sebagai kaum Anshar (yang suka membantu) tidak mampu untuk membiayai hidup mereka secara cuma-cuma. Jadi para imigran terpaksa melakukan ghazwa, perampokan, yang merupakan semacam kegiatan olahraga nasional di tanah Arab sebagai sarana yang kasar untuk menyalurkan barang-barang kebutuhan di negeri yang tidak bisa mencukupi kebutuhan penduduknya. Pasukan perampok akan menyerang para kafilah atau rombongan dari suku saingan dan membawa pergi barang jarahan dan ternak memastikan untuk tidak membunuh karena ini bisa mengakibatkan balas dendam.”[3]

       Armstrong mengatakan bahwa merampok dan menjarah adalah kegiatan olahraga nasional orang-orang Arab. Para pembaca diharapkan untuk membayangkan olahraga hockey orang Kanada dan sepak bola orang Inggeris. Selanjutnya ia melegitimasi teror dan perampokan dan mengatakan bahwa ini adalah cara siap pakai yang kasar untuk mendistribusikan barang-barang kebutuhan. Jadi Anda mendapatkan gambaran nabi Robin Hood yang berdedikasi terhadap reformasi sosial dan kesejahteraan masyarakat. Dengan asumsi bahwa sumber daya di negeri tersebut terbatas, apakah mereka akan menggandakan sumber daya tersebut melalui penyerangan dan pencurian? Apakah kelangkaan membenarkan seseorang yang mengklaim dirinya sebagai manusia yang sempurna dan contoh teladan terbaik untuk menyerang, mencuri, memperkosa, dan memperbudak? Ia mengatakan bahwa mereka memastikan untuk menghindari melakukan pembunuhan. Ia berdusta! Muhammad dan para pengikutnya membantai ribuan orang yang tak bersenjata.

       Armstrong melanjutkan, “Di Madinah, korban jiwa utama dari keberhasilan Muslim ini adalah ketiga suku Qaynuqa, Nadir, dan Qurayza, yang bertekad untuk menghancurkan Muhammad dan yang masing-masing membentuk aliansi dengan Mekah. Mereka memiliki bala tentara yang kuat, dan tak pelak lagi merupakan ancaman bagi kaum Muslim, karena wilayah mereka sedemikian strategis sehingga mereka bisa dengan mudah bergabung dengan tentara Mekah yang datang mengepung atau menyerang para umat dari garis belakang. Ketika suku Qaynuqa melancarkan pemberontakan yang gagal terhadap Muhammad di tahun 625, mereka diusir dari Madinah, sesuai dengan adat Arab. Muhammad berusaha menenangkan suku Nadir, dan membuat perjanjian khusus dengan mereka. Tetapi ketika ia mengetahui bahwa mereka telah merencanakan untuk membunuhnya, mereka juga dikirim ke pengasingan, di mana mereka bergabung dengan pemukiman Yahudi terdekat, Khaybar, dan mengumpulkan dukungan bagi Abu Sufyan dari antara suku-suku Arab di bagian utara. Suku Nadir terbukti bahkan lebih membahayakan di luar Madinah, jadi ketika kaum Yahudi dari suku Qurayza berpihak kepada Mekah pada saat Perang Parit, ketika tampaknya kaum Muslim dihadapkan pada kekalahan, Muhammad tidak menunjukkan belas kasihan. Tujuh ratus pria dari suku Qurayza terbunuh, dan para wanita serta anak-anak mereka dijual sebagai budak. Pembantaian suku Qurayza merupakan insiden yang mengerikan, tetapi tidaklah benar untuk menilainya berdasarkan standar zaman kita saat ini. Ini adalah masyarakat yang sangat primitif.”[4]

       Dua bagian tulisan di atas adalah bukti dari apa yang ditulis oleh Armstrong dalam bukunya. Ia memutar balikkan fakta dan terang-terangan berbohong. Ia menyalahkan para korban atas kejahatan si penganiaya. Ia mencela keprimitifan masyarakat tersebut untuk membenarkan kekejaman pria yang mengklaim dirinya sebagai rahmat Tuhan bagi seluruh dunia. Yesus dan Buddha juga datang ke masyarakat primitif. Mereka tidak menyerang, memperkosa, dan membunuh orang. Dengan anggapan bahwa masyarakat Arab adalah masyarakat primitif, Muhammad mengaku sebagai guru ilahi dengan moral yang lebih tinggi. Mengapa ia harus mengulang praktek-praktek jahat dari orang-orang yang ia sebut bodoh dan kemudian menyuruh pengikutnya untuk meneladaninya? Tidakkah ia melegitimasi praktek-praktek jahat itu dengan menghidupkan mereka kembali?

       Meskipun hanya sedikit sejarah pra Islam Arab yang tersisa, setidaknya kita tahu bahwa merampok dan menjarah bukanlah “olahraga nasional” dari orang-orang Arab. Penyamun dan perampok jalanan ada dalam semua masyarakat primitif. Mereka bahkan ada dalam masyarakat yang beradab. Membenarkan perampokan dan pembunuhan dan menyebutnya sebagai olahraga nasional, khususnya oleh seorang mantan biarawati, tidak hanya menyingkap ketidakjujuran intelektualnya, tetapi juga kebobrokan moralnya.

 

 

 

Memisahkan Gandum dari Sekam

       Orientalis Perancis, Ernest Renan, menuliskan, “Sebagai pengganti misteri di mana agama-agama lain menutupi asal-usul mereka, Islam lahir dengan sejarah yang jelas; akarnya berada di permukaan. Kita mengetahui kehidupan pendirinya sebagaimana kehidupan para tokoh reformasi abad keenambelas. Kita bisa mengikuti fluktuasi pemikirannya, kontradiksinya, dan kelemahannya dari tahun ke tahun.”[5]

       Dalam beberapa dekade terakhir ini sekelompok Islamis telah menentang pandangan ini dan menyatakan bahwa tidak ada bukti bahwa Muhammad pernah ada, atau jika ia memang ada, ia jelas berbeda dari apa yang tertulis dalam biografinya. Saya akan membahas pernyataan ini dalam bab berikutnya. Sementara itu saya setuju dengan Renan bahwa Muhammad adalah tokoh bersejarah yang nyata dan bahwa bagian utama kehidupannya, sebagaimana diceritakan dalam biografinya adalah benar.

       Namun hal ini bukan berarti bahwa semua yang tertulis tentang dirinya adalah benar. Sama sekali tidak! Setengah dari biografinya hanyalah dongeng belaka. Berusaha mencari kebenaran tentang Muhammad, dalam buku-buku yang ditulis oleh para pengikutnya, sama saja dengan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Masalahnya adalah tumpukan jerami inilah yang kita miliki. Kita tidak memiliki alternatif lain selain bekerja dengannya.

       Von Sivers berkata, “Beberapa cendekiawan ragu bahwa tradisi Islam pada abad ke sembilan dan sepuluh berisi informasi sejarah serta teologi yang asli bila melihat kembali ke abad ketujuh – masalahnya adalah tak seorang pun yang tahu pasti bagaimana memisahkan sejarah dari teologia.”[6]

       Biografi Muhammad didasarkan kepada ribuan narasi singkat yang dikumpulkan oleh para sejarawan berdedikasi yang menghabiskan hidup mereka dalam pencarian tersebut. Sebagian besar dari apa yang mereka kumpulkan adalah sampah. Akan tetapi, di dalam tumpukan informasi yang keliru, cerita yang dibuat-buat, narasi yang lemah, laporan yang seadanya, kita juga bisa menemukan bungkah-bungkah kebenaran yang memungkinkan kita untuk menyatukan potongan teka-teki dan membangun gambaran pahlawan kita ini dengan cukup akurat.

       Gambaran yang muncul sangat berbeda dengan apa yang diangkat oleh para pengikut dan pembela Islam.

       Saat meneliti sejarah Muhammad, seseorang harus belajar untuk menemukan pesan tersembunyi yang sebenarnya. Anda harus seperti seorang detektif yang sedang menginterogasi tersangka. Si tersangka tidak akan mengakui kejahatannya. Sebaliknya ia akan menyangkal setiap kesalahan yang dituduhkan dan akan membicarakan dirinya sebagai seorang yang mulia. Ia akan memuji kebaikan dirinya dan bersaksi tentang dirinya yang tidak bersalah. Seorang detektif yang berkualitas akan mengabaikan semua pembicaraan itu. Perhatiannya akan difokuskan untuk menangkap kata-kata di mana si tersangka mengkontradiksi dirinya sendiri. Ia mencari petunjuk-petunjuk yang tanpa sadar diberikan oleh si tersangka. Dengan memperhatikan apa yang berusaha disembunyikan oleh si tersangkalah, sang interogator dapat menemukan fakta dan membangun kasus melawan si tersangka.

       Ada banyak petunjuk seperti itu di dalam biografi Muhammad. Tumpukan jerami naratifnya dipenuhi oleh jarum-jarum kebenaran. Di bawah cahaya akal sehat mereka akan bersinar. Kisah-kisah ini berasal dari berbagai sumber dan rantai narasi, tetapi mereka konsisten. Mereka memiliki pola yang sama dan bersama-sama, mereka menceritakan kisah yang sama, jauh berbeda dari apa yang diceritakan oleh para pengikut.

       “Ketika melakukan penelitian tentang riwayat hidup dan pekerjaan Nabi Muhammad,” Rudi Paret mengingatkan,” kita pada prinsipnya tidak mempercayai pernyataan tradisional dan penjelasan fakta-fakta yang disampaikan oleh generasi sesudahnya, sepanjang mereka tidak dapat diverifikasi oleh bukti internal ataupun dengan cara lainnya.”[7]

       Buku ini didasarkan pada Sira dari Ibn Ishaq, The Book of Raids dari al Waqidi, The Tabaqat (Book of Clasifications) dari Ibn Sa’d dan History of Tabari. Ini adalah 4 sumber asli dari sejarah awal Islam. Semua buku yang lain didasarkan pada keempat kitab besar ini. Segala sesuatu yang tidak ada di dalam buku-buku ini adalah isapan jempol belaka.

 

Psikologi vs. Arkeologi

       Muhammad adalah misteri bagi dunia dan bahkan bagi mereka yang telah mendedikasikan hidup mereka untuk mempelajari dirinya.

       Patricia Crone, dosen di St. Andrew W. Mellon menuliskan, “Masalah terbesar yang dihadapi para cendekiawan yang mempelajari kebangkitan Islam adalah mengidentifikasi dalam konteks apa sang nabi berhasil. Ia bereaksi terhadap apa, dan mengapa masyarakat Arab begitu responsif terhadap ajarannya?”[8]

       Alasan mengapa pertanyaan-pertanyaan ini telah membingungkan beberapa cendekiawan bukan terletak pada kelangkaan informasi. Meskipun sebagian besar dari apa yang tercatat adalah palsu, namun masih ada banyak yang tersisa bagi kita untuk memahami siapa itu Muhammad, mengapa ia memulai karir kenabiannya dan mengapa ajarannya menyebar dengan begitu cepat.

       Crone berharap bahwa mungkin di tahun-tahun mendatang, arkeologi akan mengisi kesenjangan dalam pengetahuan kita tentang Islam sehingga dengan demikian, kita bisa mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang Muhammad. Meskipun arkeologi dapat memberikan sedikit pencerahan tentang sifat masyarakat Arab di abad ketujuh, dan sebagaimana dikemukakan oleh Crone, dapat membuktikan bahwa sebenarnya mereka lebih maju daripada apa yang berusaha diyakinkan oleh para sejarawan Islam, jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan di atas tidak ada dalam arkeologi. Mereka harus ditemukan dalam psikologi Muhammad dan orang-orang Arab.

       Pengaruh-pengaruh yang melahirkan Islam sebagian besar bersifat internal. Ini bukan berarti bahwa faktor-faktor eksternal itu tidak relevan. Islam tidak mungkin bertumbuh seandainya ada pemerintah pusat yang kuat di Arab. Muhammad dan para pengikutnya mungkin sudah dihancurkan setelah penyerangan mereka yang pertama dan ini akan menjadi akhir dari Islam. Barangkali ia akan menerapkan pendekatan yang lebih damai, lebih mengandalkan kefasihan berbicaranya untuk menyebarkan imannya. Tetapi ia telah melakukan itu di Mekah selama 13 tahun dan hanya memiliki seratusan orang pengikut. Keberhasilan Islam adalah berkat ghazwa atau razzia (akar dari kata bahasa Inggeris ”raid” – penyerangan). Amir Taheri, jurnalis dan penulis Iran berkata, “Ghazwa dirancang untuk menteror orang-orang kafir, meyakinkan mereka bahwa peradaban mereka dikutuk dan memaksa mereka untuk tunduk kepada aturan Islam. Mereka yang berpartisipasi dalam ghazwa disebut ghazi, atau penyerang.” Ini adalah sesuatu yang diakui Muhammad ketika ia berkata, “ Aku memperoleh kemenangan lewat teror.[9] Bangkitnya kekuasaan Muhammad sebagian besar disebabkan oleh mesianisme Yahudi, seperti yang akan kita lihat nanti. Ini semua adalah faktor eksternalnya.

       Namun, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Crone, kita harus melihat ke dalam psikologi Muhammad dan juga para pengikutnya. Faktor-faktor internal ini sama pentingnya dengan faktor eksternal. Jika kita memahami pikiran Muhammad dan mentalitas masyarakat Arab di zamannya kita akan mengetahui mengapa ia menciptakan Islam dan mengapa orang-orang percaya kepadanya, tanpa harus bersusah payah mencari-cari.

 

 

Mengumpulkan Wahyu

       Terlepas dari anggapan Muhammad akan pentingnya wahyu-wahyunya, ia tidak cukup peduli untuk menuliskannya untuk ditinggalkan bagi generasi mendatang. Ia ingin mengekspansi wilayah kekuasaannya seluas dan secepat mungkin dan memperoleh semua kekayaan yang bisa ia dapatkan. Ia menyatakan bahwa Tuhan telah menjanjikan padanya “harta kekayaan Khosrow dan Caesar.”[10] Ia meyakinkan para pengikutnya, “Demi Tuhan, kekayaan akan segera mengalir dengan begitu derasnya di antara mereka [Muslim] sehingga tidak akan ada orang yang mengambilnya.”[11] Dalam masyarakat lisan di mana hanya sedikit yang bisa membaca, menuliskan wahyu tidaklah seefektif jika dibacakan.

       Bukan hanya Muhammad saja yang tidak mempedulikan Quran yang tertulis, setelah kematiannya, Abu Bakr enggan untuk menyusun ayat-ayat yang bertebaran tersebut menjadi satu buku. Ia berkata kepada Umar, “Bagaimana kita dapat memulai apa yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah?” Akan tetapi, setelah perang Yamama (633 M), ketika banyak qurra (para penghafal Quran) yang terbunuh, Omar meyakinkan Abu Bakr untuk mengamanatkan kepada pemuda Zaid ibn Thabit (610-660) untuk mengumpulkan dan menyusun Quran ke dalam satu buku.[12] Proyek ini berlangsung hingga kekhalifahan Uthman ibn Affan mengkanonisasi Quran lalu memerintahkan pembakaran semua salinan pribadi yang ada.

       Namun, Quran yang sudah disunting tersebut tidak mengikuti urutan kronologis. Surah-surahnya tidak disusun sesuai urutan saat mereka didiktekan. Sebaliknya, surah yang lebih panjang diurutkan di depan dan yang lebih pendek di urutan belakang. Bahkan ayat-ayat dalam surah yang sama bisa berasal dari periode yang berbeda. Ayat-ayat tersebut tidak memiliki suatu konteks, yang membuatnya sulit untuk mengetahui mana ayat yang datang pertama dan mana yang diucapkan belakangan. Pengetahuan ini sangat penting karena beberapa ayat yang datang belakangan membatalkan yang awal. Akibatnya, membaca Quran tanpa ada buku yang menafsirkan dan menjelaskan konteks bisa mengarah kepada kebingungan.

 

Mengumpulkan Tradisi

       Jika Muhammad tidak peduli dengan menyusun Quran, ia bahkan lebih tidak peduli lagi dengan kitab sejarahnya. Kebutuhan akan kitab ini menjadi jelas ketika generasi yang telah melihatnya mulai punah.

       Muhammad mengklaim dirinya sebagai ciptaan yang terbaik, (2:253) berbudi pekerti luhur, (68:4)  diangkat ke tempat yang terpuji, (17:79) suri teladan untuk diikuti. (33:21)

       Quran tidak menjelaskan tentang kehidupannya. Hal ini tidak menjadi masalah bagi orang-orang yang mengenalnya. Generasi selanjutnya harus diceritakan tentang dirinya. Bagaimana mereka akan menirunya jika mereka tidak tahu bagaimana ia menjalani hidup?

       Kesenjangan ini diisi oleh para sahabatnya yang sudah lanjut usia yang merasa bangga untuk menceritakan apa yang telah mereka lihat dan dengar ketika mereka bersamanya. Setiap orang punya beberapa kisah untuk diceritakan dan kadang-kadang kisah yang sama diceritakan oleh narator yang berbeda dengan cara yang berbeda. Ini adalah hal yang wajar. Variasi tidak mementahkan keaslian dari cerita. Mereka justru menegaskan kebenarannya. Kisah-kisah ini diturunkan dari generasi ke generasi. Pada saat itu tidak perlu untuk memberikan daftar para narator (asnad), untuk membuktikan kisah-kisah tersebut. Para narator umumnya adalah saksi matanya.

       Menjadi pusat perhatian dan dikerumuni orang banyak, bagi orang-orang tua tersebut menjadi menggiurkan dan banyak dari mereka yang mulai mengarang-ngarang hadis, hanya supaya mereka mau didengarkan. Dengan segera jumlah hadis palsu melebihi hadis yang sahih. Ini seperti memasukkan uang palsu yang banyak ke pasaran. Untuk membedakan kisah yang palsu dari yang benar, para cendekiawan dipaksa untuk merancang semacam “ilmu”, yang disebut Ilmul Hadis dan mengklasifikasikan tradisi, berdasarkan reliabitilitasnya.

       Semua cendekiawan di zaman itu, dengan pengecualian beberapa orang, menjadi ahli hadis (muhadith). Salah satu yang pertama adalah Aban (20-100 H) putera Uthman khalifah ketiga. Meskipun tidak ada teks tertulis miliknya yang ditinggalkan, banyak dari kisahnya digunakan oleh Ibn-al Mughira, yang dikatakan al Waqidi, “Ia tidak menuliskan apa pun tentang hadis kecuali maghazi nabi, yang ia dapatkan dari Aban.”

       Maghazi adalah bentuk jamak dari ghazwa. Kalangan tradisionis awal lebih tertarik untuk mencatat cerita-cerita tentang serangan Muhammad daripada rincian lain dari kehidupannya. Meskipun merupakan tokoh penting, baik Ibn Ishaq maupun al Waqidi tidak ada yang mengatakan Aban sebagai sumber mereka. Hal ini mungkin karena mereka menganut aliran Syiah dan tidak mau memberikan penghargaan kepada putera Uthman, yang mereka anggap sebagai perampas hak kekhalifahan Ali.

       Detail kehidupan Muhammad sebagian besar dicatat oleh Urwa ibn Zubair (23-94). Ayah Urwa adalah putera dari Safiya, bibi dari Muhammad, dan ibunya adalah Asma puteri dari Abu Bakr dan kakak dari Aisha.

       Urwa menuliskan banyak hadis yang dinarasikan oleh bibinya Aisha, karena tanpa itu mungkin akan sulit, bahkan mustahil, untuk mengetahui rincian kehidupan sang pendiri Islam. Tidak ada satupun teks tertulis milik Urwa yang terlestarikan, tetapi mungkin saja ia tidak pernah menulis apa-apa. Ia mengatakan, “Sebelum Aisha meninggal, aku melihat bahwa aku telah menjadi salah satu dari empat pihak yang berwenang. Aku berkata, ‘Jika ia (Aisha) mati, tidak akan ada hadis yang hilang dari orang-orang yang ia kenal. Aku telah menghafal semuanya.’”[13]

       Guillaume berpendapat meskipun tidak jelas apakah Urwa menulis buku atau tidak, karena kontribusinya yang sangat besar bagi biografi Muhammad, ia pantas disebut sebagai penemu sejarah Islam.

       Dua orang tradisionis penting lainnya adalah Wahb (34-110 H) dan Hammam (132 H), keduanya putera dari Munabbih. Ayah mereka adalah orang Persia dan ibu mereka dari Yaman.

       Wahb memiliki pengetahuan yang luas tentang kitab suci orang Yahudi dan mentransmisi banyak Isrâîliyât (kumpulan kisah yang berasal dari tradisi orang Yahudi dan Kristen) ke dalam literatur Islam. Ia sangat terpelajar dalam hal yang menyangkut nabi-nabi di Alkitab. Karyanya yang paling terkenal adalah Qisas al Anbiya (Kisah Para Nabi) dan Kitab al Isrâîliyât (Kitab Bangsa Israel). Barangkali karena ketertarikannya terhadap literatur Yahudi sehingga beberapa orang menganggap ia atau ayahnya adalah mualaf Yahudi. Buku Wahb, Kitab al Mubtada, merupakan versi Muslim tentang kehidupan para nabi dan kisah-kisah alkitabiah lainnya. Kisah-kisah Wahb ibn Munabbih dikutip oleh Ibn Ishaq, Ibn Hisham, Tabari, dan Abu Nuaym al-Isfahani. Pengaruh Wahb dalam penulisan sejarah Islam sangatlah besar. Ia menyatukan tradisi alkitabiah dengan tradisi Islam, menciptakan narasi yang berkesinambungan tentang rencana ilahi Tuhan yang dimulai dengan Adam dan berakhir dengan Muhammad.

       Selain Wahb ada mualaf-mualaf Yahudi atau Kristen lainnya yang memasukkan pengetahuannya tentang Isrâîliyât ke dalam literatur Islam. Beberapa di antaranya adalah ‘Abdullâh ibn Salaam (43 H), Ka’b al-Ahbâr (32 H) dan ‘Abdul Mâlik ibn Jurayj (150 H).

       Saudara lelaki Wahb, Hammam ibn Munabbih, adalah salah seorang dari sembilan murid dari rekan Muhammad, Abu Huraira (58/678). Abu Huraira adalah pemindah hadis yang produktif, ada sejumlah 5.300 narasi yang dikaitkan dengan dirinya.[14] Hammam memindahkan 138 kisah milik Abu Huraira. Kumpulan cerita milik Hammam, dikenal dengan Sahifah Hammam ibn Munabbih, mampu bertahan dan beberapa dari kisahnya digunakan oleh Bukhari dan Muslim.

       Tak lama kemudian datang Asim ibn Umar ibn Qatada al-Ansari (d.c. 120). Ia mengajar di Damaskus tentang operasi militer sang nabi dan eksploitasi yang dilakukan para pengikutnya. Ia adalah pelopor para tradisionis terakhir sehingga ia berusaha sangat keras untuk menanyai orang-orang, pria maupun wanita, yang mungkin memiliki pengetahuan tentang masa lalu. Ia juga menulis buku tentang maghazi. Sebagian besar kisah tradisionalnya selamat dalam catatan ceramahnya yang ditulis oleh murid-muridnya dengan mengutip kewenangannya atas tradisi yang mereka tulis. Ia tinggal di Madinah selama beberapa tahun saat masih pemuda. Ibn Ishaq bertemu dengannya saat ia melakukan perjalanan ziarah ke selatan dan ia sering disebut sebagai pemegang wewenang di Sira.[15]

       Tradisionis penting lainnya yang hadisnya digunakan oleh Ibn Ishaq adalah Shihab al Zuhri (51-124 H), Amr ibn Hazm (d. 130/135), Ibn Naufal (d. 131/137), dan Musa ibn Uqba (55-141).

 

Biografi Lengkap Pertama dari Muhammad

       Salah satu keganjilan dari Quran, sebagaimana disebutkan di atas, adalah kitab tersebut adalah sebuah kitab tanpa konteks. Awalnya hal ini tidak menjadi masalah. Kenangan akan Muhammad masih segar dalam ingatan banyak orang. Mereka mengetahui konteks dari wahyu (asbâb an-nuzûl), tetapi ini menjadi masalah besar bagi generasi selanjutnya.

       Quran berulang-ulang mengklaim sebagai “kitab yang menjelaskan” (5:15), “mudah dipahami”(44:58, 54:22, 54:32, 54:40) , “dijelaskan secara rinci” (6:114), “disampaikan secara jelas”(5:16, 10:15), sebuah kitab dengan “tidak ada keraguan di dalamnya”(2:1) dan lain-lain. Namun bagi seorang pembaca yang tidak mengetahui konteks dari ayat-ayatnya, itu tidak masuk akal. Pada akhirnya, tampak jelas bahwa diperlukan buku lain untuk mengkontekstualisasi ayat-ayat dalam Quran, dan Khalifah al-Mansur, khalifah Abbasiyah yang pertama, memberi amanat kepada Ibn Ishaq untuk menuliskan biografi tentang Muhammad.

       Muhammad ibn Ishaq ibn Yasar (85/705-159/770) adalah pria yang berpengetahuan sangat luas. Kakeknya Yasar ditangkap oleh Khalid Ibn Walid pada tahun 12 H dan dibawa sebagai budak ke Madinah, di mana ia masuk Islam sehingga ia dibebaskan. Puteranya Ishaq lahir pada tahun 50 dan Ibn Ishaq lahir pada tahun 85 H di kota yang sama. Kedua putera Yasar, Ishaq dan Musa, adalah tradisionis yang terkenal.

       Ada bukti yang cukup bahwa Ibn Ishaq tidak asing dengan apostolik dan tradisi dan cukup mengenal Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Ia pasti memperoleh pengetahuannya ketika ia melakukan perjalanan ke Mesir pada usia tigapuluh dan menghadiri ceramah Yazid ibn Abu Habib. Bahkan diusia tigapuluhan ia telah dipandang sebagai seorang ahli karena gurunya sering mengutip darinya. Saat ia kembali ke Madinah di tahun 123 H, al Zuhri mengatakan, Madinah tidak akan kekurangan ‘ilm (ilmu) selama Ibn Ishaq berada di sana.[16]

       Tugas Ibn Ishaq adalah menyatukan kisah-kisah tentang Muhammad yang tercerai-berai secara berurutan dan membuat biografi tentang kehidupannya. Tetapi Sira bukan sekedar biografi, ia juga sebuah hagiografi. Tujuannya adalah membuat sebuah naratif yang mempresentasikan Muhammad dengan sudut pandang yang akan membuatnya tampak seperti penggenapan rencana ilahi yang Tuhan awali dari Adam.

       Rizwi Suhadha Faizer mengatakan, “Sîra-maghâzî, yang bercerita tentang kehidupan sang Nabi dan masyarakat Islam mula-mula, bukan termasuk kategori sejarah. Ragam literatur yang berasal-usul dari transmisi lisan, pada dasarnya adalah hagiografis dalam roh.”[17]

       Frank E. Reynolds dan Donald Capps mengamati, “Penulis biografi orang kudus utamanya tidak peduli untuk memberikan gambaran atau ‘persamaan’ dari subjek. Membangun gambaran mitos yang ideal atau apa yang disebut dengan gambaran biografis, lebih diutamakan daripada mencatat fakta biografi yang biasa-biasa saja. Seringkali gambaran biografis ini dibangun dengan mengarahkan perhatian kepada beberapa peristiwa penting dalam kehidupan si subjek termasuk di dalamnya, umumnya, kelahirannya, usaha pencarian agamanya dan kesimpulan akhirnya, dan kematiannya. Di sisi lain, karena si penulis biografi ini mementingkan untuk membangun gambaran mitos yang ideal, seringkali ia merasa perlu untuk mengisi kesenjangan dalam kehidupan si subjek yang biasanya diketahui tetapi diabaikan begitu saja oleh biografer yang kurang ‘tekun’. Cerita yang bersifat apokripal mungkin akan disertakan untuk mengisi kekosongan karena tidak adanya akses tentang kisah masa kecil atau karena masa kecilnya yang biasa-biasa saja.”[18]

       Perhatian Ibn Ishaq adalah menceritakan kisah Muhammad, menggunakan kumpulan hadis yang ia miliki dan pada saat yang sama menyisipkan dia ke dalam keseluruhan rencana ilahi. Oleh sebab itu ceritanya dimulai dengan kejadian, dan persis seperti Alkitab yang berusaha ia tiru, bercerita tentang nabi-nabi alkitabiah dan memuncak pada Muhammad.

       Pengetahuan Muhammad tentang nabi-nabi alkitabiah hanya sedikit. Terlepas dari beberapa petunjuk, Quran hanya mengandung sedikit informasi tentang mereka, dan yang sedikit itupun salah.

       Untuk menghubungkan Muhammad dengan nabi-nabi di Alkitab, Ibn Ishaq sangat bergantung kepada Isrâîliyât dan khususnya kepada Qissas al Anbiya karya Wahb ibn Munabbih. Namun, Wahb bukan seorang sejarawan yang handal. Ia tidak mempedulikan keakuratan ceritanya. Ia adalah seorang pendongeng – seorang penghibur. Sebagian besar dari ceritanya bersifat apokripal. Tentang dia F.E. Peters mengatakan, “Seperti yang lain dari kumpulannya, [Wahb] memperbesar Quran dengan memasukkan konteks-konteks yang menyenangkan (dan masuk akal) ke dalam kehidupan Muhammad untuk wahyu yang ini atau yang itu. Masuk akal, sudah tentu, bukan berarti benar, seperti yang mungkin terlihat dari hampir semua tradisi di setiap tahap kehidupan Muhammad. Kami memiliki potongan dari salah satu versi Wahb tentang sejarah awal Islam dan yang mungkin Ibn Ishaq dan Waqidi miliki–dan gunakan–versi cerita lengkap lainnya tentang para nabi dan cerita tentang Muhammad, kemungkinan yang melemparkan keraguan mendalam terhadap kebenaran atas apa yang kita baca dalam tulisan para penulis yang disebut belakangan.”[19]

       Para cendekiawan Barat sering bersikap kritis terhadap Sira dan Maghazi, sebagian besar karena mereka menggunakan cerita-cerita Wahb sebagai narasumber mereka. Leone Caetani yang meneliti sumber-sumber biografi dari Sira pada peralihan abad ke-20, menyimpulkan bahwa mereka adalah rumusan doktrin atau hal yang bersifat polemik, bukan pernyataan sejarah. [20]

       Levi della Vida menegaskan, “Meningkatnya pemujaan yang terus-menerus terhadap Muhammad memicu meningkatnya gambaran figurnya sebagai legenda karakter hagiografis di mana bersamaan dengan itu kurang lebih merusak kenangan bersejarah yang dikumpulkan untuk meniru tradisi religius Yahudi atau Kristen.[21]

       Menurut Griffin, “Ibn Ishaq sesungguhnya adalah salah satu cendekiawan Muslim yang tercatat untuk mencari ayat-ayat kanonik Injil dengan tujuan untuk membela kebenaran klaim agama Islam.”[22]

       Kesamaan antara mukjizat yang ditemukan dalam Alkitab yang dikaitkan dengan Muhammad tidak terbantahkan. Di dalam Alkitab, Abraham ingin mengorbankan anaknya dan ia dihentikan oleh malaikat yang mengorbankan seekor domba sebagai gantinya. Dalam Sira Abdul Muttalib ingin mengorbankan anaknya Abdullah, ia diperintahkan untuk melemparkan undian dan tuhannya menerima pengorbanan unta sebagai gantinya. Pembuahan Yesus adalah keajaiban, dan demikian juga dengan Muhammad. Seorang wanita melihat cahaya di dahi Abdullah lalu menawarkan dirinya kepadanya. Tetapi Abdullah menghampiri isterinya Amina dan berkata kepada isterinya bahwa ia telah siap. Isterinya menolak dan mengatakan engkau memberikan cahaya yang kau miliki di dahimu bagi wanita lain jadi pergilah. Malaikat memberitahu Maria bahwa puteranya adalah Mesias. Malaikat berkata kepada Amina bahwa puteranya akan menjadi pemimpin bangsanya. Simeon dan Elizabeth mengenali Yesus ketika ia masih kanak-kanak. Bahira mengenali Muhammad ketika ia masih kanak-kanak. Orang majus mencari Yesus dengan mengikuti bintang. Sekelompok orang Kristen Abesinia mencari Muhammad ketika ia masih tinggal dengan orangtua angkatnya. Yohanes pembaptis mengenali Yesus. Warqa ibn Naufal mengenali Muhammad. Maria telah diperingatkan lebih dulu tentang penderitaan Yesus. Muhammad diperingatkan tentang penganiayaan oleh Waraqa ibn Naufal. Yesus melipatgandakan makanan. Muhammad melakukan hal itu berkali-kali.

       Kita sudah mengetahui masalah yang akan kita hadapi ketika kita mengamati Sira. Itu adalah kantong berisi campuran cerita yang benar dan yang salah. Tantangan kita adalah memisahkan keduanya. Kita tidak akan menerima semuanya, seperti yang dilakukan Muslim, dan kita juga tidak akan menolak semuanya. Di bawah cahaya nalar, kita akan membuang segala sesuatu yang terdengar tidak masuk akal dan akan menerima apa yang masuk akal dan sesuai dengan karakter Muhammad. Ada tiga hal yang harus kita singkirkan: mukjizat, nubuat, fitnah atas para penentang Muhammad.

 

Mukjizat

       Ada mukjizat yang tak terhitung jumlahnya yang dikaitkan dengan Muhammad. Namun, ia membantah bahwa ia mampu melakukan mukjizat. Kaum Quraisy berulang kali memintanya untuk memperlihatkan mukjizat kepada mereka agar mereka percaya (17:90, Q. 25:7-8; 15:07) , dan Muhammad memberitahu mereka bahwa mukjizat itu sia-sia karena para utusan yang datang sebelum dia ditolak meskipun mereka melakukan mukjizat. (3:138, 184) Ia menegaskan bahwa ia adalah seorang manusia biasa, hanya seorang pemberi peringatan tanpa kekuatan untuk melakukan mukjizat, (17:94-95) dan bahwa Quran adalah satu-satunya mukjizat yang mereka perlukan sebagai alat bukti. (29:50-52)

       Terlepas dari ayat-ayat Quran yang sudah jelas ini, Sira dan Hadis tetap mengaitkan mukjizat yang tak terhitung jumlahnya kepada Muhammad. Salah satu mukjizat tersebut dilansir oleh Ibn Sa’d. “Ketika Nabi hendak memenuhi panggilan alam, ia biasanya pergi menjauh dari tempat-tempat hunian, sampai tidak ada lagi rumah yang terlihat. Sejak ia memulai perjalanan menuju tujuannya, saat di padang gurun, setiap pohon dan batu akan memberi salam padanya. Sang Nabi akan berpaling ke kanan atau kiri atau ke belakangnya tetapi tidak melihat siapa-siapa kecuali pohon-pohon dan batu-batu. Ia mendengar mereka menyapanya dengan salam kenabian, “Salam bagimu, Nabi Allah.”[23]

       Tarif Khalid, seorang cendekiawan Muslim berkata, “Pada titik ini dalam kehidupan sang Nabi peristiwa-peristiwa ajaib atau menakjubkan seperti ini menjadi ciri tetap dalam Sira . . . Kemudian akan dimasukkan binatang-binatang yang berbicara dan benda-benda alam seperti tunggul pohon yang mendesah keras dalam kerinduan akan dirinya . . . Dalam Hadis, mukjizat-mukjizat umumnya ditempatkan dalam bab atau bagian yang terpisah dan jelas sekali merupakan penunjukan karakter. Namun, dalam Sira, mukijzat-mukjizat ini ditenun ke dalam lembaran narasi. Apa tujuan Sira melakukannya? Jika kita meminjam kalimat iklan, Sira boleh dikatakan sebagai “kemasan” untuk disesuaikan dengan Muhammad, pendapat saya, dari sudut kenabian, menciptakan bagi Muhammad sebuah gambaran dan kisah yang kaya dan penuh dengan supranatural sebagaimana gambaran dan kisah Musa dan Yesus.[24]

       Berikut ini adalah dua contoh tentang mukjizat yang dilansir oleh Tabari. Ia menulis seorang pria mendatangi sang Nabi dan berkata, perlihatkan padaku materai kenabian di antara bahumu, jika kamu memang berkata benar, sebab jika kamu bukan seorang nabi, aku adalah seorang dokter dan aku dapat menyembuhkanmu, (Muhammad mengklaim bahwa tahi lalat besar di punggungnya adalah tanda bahwa ia adalah seorang nabi). Sang Nabi berkata, aku akan perlihatkan padamu sesuatu yang lebih bagus, lalu ia memanggil sebatang pohon palem dan pohon itu menghampiri Muhammad dan kemudian Muhammad berkata, sekarang pergi, dan pohon itu kembali ke tempatnya semula.

       Kisah berikutnya dinarasikan oleh Anas ibn Malik, yang berkata, Nabi sedang tidur di samping Ka’bah ketika tiga orang malaikat membalikkan tubuhnya. Mereka membuka perutnya dan mengeluarkan jantungnya dan mengambil segumpal darah darinya dan membuangnya. Kemudian mereka mencuci jantung dan perutnya dan dibersihkan dari keraguan. Salah satu malaikat membawa nampan emas penuh dengan iman dan mereka memasukkannya ke dalam perutnya dan menjahitnya.[25]

       Tak satupun mukjizat yang dinyatakan dalam Sira yang benar. Jika mereka benar maka berarti Quran yang salah. Selain itu, seperti yang dinyatakan oleh cendekiawan Iran Ali Dhasti, tidakkah lebih logis dan lebih meyakinkan bagi Muhammad untuk melakukan mukjizat penafsiran yang berguna? Lagipula, Muhammad menyatakan bahwa saat ia menerima misi ilahi tersebut, ia dipenuhi oleh keraguan sampai-sampai ia mengira dirinya kerasukan setan dan ingin bunuh diri dengan melompat dari atas gunung. Kalau begitu apa yang terjadi dengan semua iman yang dijejalkan ke dalam perutnya oleh para malaikat?

 

Nubuat

       Selain mukjizat, Sira juga berisi banyak klaim yang mendalilkan tentang Muhammad dinubuatkan dalam kitab suci sebelumnya. Di situ ditegaskan bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen telah menemukan referensi tentang Muhammad dalam kitab-kitab suci mereka dan menyadari sepenuhnya bahwa ia adalah nabi Tuhan yang mereka tunggu-tunggu dan meskipun demikian mereka menyangkal dirinya.[26] Dan bahwa orang-orang Arab kafir mengetahui bahwa seorang nabi dengan nama Muhammad akan segera hadir dan karenanya banyak dari mereka yang menamai anak-anak lelakinya dengan nama tersebut dengan harapan bahwa siapa tahu anak mereka mungkin nabi yang ditunggu-tunggu tersebut. Kebohongan ini mungkin mengesankan bagi para pengikut awal yang sebagian besar belum pernah membaca satu buku pun dalam hidup mereka. Tidak ada disebutkan tentang Muhammad dalam Alkitab maupun ajaran agama kepercayaan lainnya. Jika kita membuang kisah mukjizat dan klaim tentang nubuat, Sira akan menjadi lebih pendek dan jauh lebih mudah untuk dibaca.

 

Fitnah

       Karakteristik dari narsisis adalah merendahkan, menfitnah, dan menjelek-jelekkan lawan-lawannya. Muhammad biasa melakukan hal-hal tersebut. Bahkan Quran penuh berisi ayat-ayat yang merendahkan orang-orang kafir, orang Yahudi, orang Kristen, dan kelompok lain dari orang-orang yang dicap Muhammad sebagai orang munafik.

       Sebutan kafir yang Muhammad berikan kepada orang-orang yang mencelanya sebenarnya adalah istilah yang sangat menghina. Kata tersebut diterjemahkan secara keliru sebagai orang yang tidak beriman atau tidak percaya. Pada kenyataannya itu adalah ad hominem. Kafir mungkin memiliki akar yang sama dengan kata bahasa Inggeris cover (menutupi). Artinya seseorang yang menutupi (kebenaran). Label ini paling cocok diberikan kepada Muslim. Yang melakukan penyensoran? Yang membungkam orang-orang yang mengkritik mereka? Yang melakukan tindak kerusuhan dan protes setiap kali seseorang mempertanyakan kepercayaan mereka? Yang lebih memilih kekerasan daripada berdebat? Muslim adalah kafir, bukan mereka yang menolak Islam. Merekalah yang ingin menutupi kebenaran.

       Para pengikut Muhammad membawa tradisinya dan melancarkan kejahatan mereka sendiri terhadap lawan-lawan mereka. Fitnah atas orang-orang yang mengkritik Islam masih berlangsung bahkan hingga saat ini. Alasan kaum Muslim meledakkan diri mereka demi membunuh orang lain, adalah karena fitnah ini telah mencapai intensitas yang sedemikian rupa, dan telah memenuhi mereka dengan begitu banyak kebencian sehingga mereka rela mati demi membunuh orang-orang yang mereka benci tersebut.

       Sira membusuk-busukkan, merendahkan, dan memfitnah lawan-lawan Muhammad dengan cara yang sangat menghina. Bila kita melihat dengan seksama akan apa yang sebenarnya mereka lakukan, kita akan menemukan tidak satupun dari fitnahan mereka yang beralasan. Mereka adalah orang-orang biasa yang bereaksi terhadap sikap permusuhan Muhammad. Mereka selalu bersikap defensif – kesalahan besar yang membawa mereka ke liang kubur sebelum waktunya.

       Sepanjang sejarah, Islam selalu bersikap ofensif dan korbannya selalu bersikap defensif, meminta-minta maaf dan bagai berjalan di atas cangkang telur jangan sampai mereka menyinggung kelopak halus penindas mereka dan membangkitkan agresi mereka. Si penindas  melahap rasa takut korbannya dan menjadi kian berani.

 

Pengrusakan

       Selain yang disebut di atas, kita juga harus waspada terhadap pengrusakan. Sebagaimana dinyatakan di atas, karya orisinil Ibn Ishaq hilang. Yang tersisa adalah resensi Ibn Hisham atas buku tersebut. Versi yang sudah diedit inilah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris oleh Alfred Guillaume. Ibn Hashim mengaku telah menghilangkan “hal-hal yang tidak sopan untuk dibahas; hal-hal yang akan menyusahkan orang-orang tertentu”[27] Jadi kita tidak saja harus berurusan dengan usaha melebih-lebihkan, kita juga harus mewaspadai adanya tindak pengrusakan.

       Beberapa bagian dari apa yang dihilangkan oleh Ibn Hisham diselamatkan oleh Tabari. Contohnya, saat menceritakan tentang pembunuhan Umm Qirfa, ibn Hisham berkata, “ia dibunuh secara kejam.” Ia menghilangkan detilnya. Tabari yang juga mengutip dari Ibn Ishaq mengatakan bahwa kaki (Umm Qirfa) masing-masing diikat dengan tali dan masing-masing tali ditarik oleh seekor unta sampai ia tercabik menjadi dua bagian.[28]

            Guillaume menunjukkan bagaimana Ibn Hisham telah merusak bukti dan berdusta pada beberapa kesempatan. Ia menuliskan, ibn Hisham mengatakan bahwa Ibn Ishaq tidak mengatakan apa-apa tentang misi ‘Amr ibn Umayya yang dikirim oleh Nabi untuk membunuh Abu Sufyan. Kisah ini diceritakan oleh Tabari. Jadi, bukan saja Ibn Hisham tidak menyertakan hal ini ke dalam versi ceritanya yang sudah diedit, ia bahkan telah berdusta dan menyangkal keberadaannya.[29]

       Terlepas dari upaya hampir semua penulis biografi untuk menggambarkan nabi mereka sebagai manusia yang sempurna, Sira penuh dengan kisah-kisah kekejamannya. Ada tiga alasan untuk itu. Kisah-kisah ini dikenal luas dan dinarasikan di seluruh negeri. Standar moral para pengikut begitu rendah sehingga mereka tidak melihat sesuatu yang salah di dalamnya. Dan dengan menghilangkan mereka hanya akan tersisa sebagian kecil dari sejarah. Selain itu, persaingan di kalangan cendekiawan sedang merebak. Mereka terus-menerus saling menyerang dan saling menyebut lawannya sebagai pembohong. Oleh karena itu, meskipun para tradisionis merasa bebas untuk mengarang-ngarang cerita tentang mukjizat, para sejarawan dengan seksama menceritakan rincian dan fakta yang telah diketahui umum, seakurat mungkin, dan untuk berjaga-jaga, mereka sering menceritakan peristiwa bersangkutan lebih dari satu versi. Selain itu Quran juga banyak menyinggung tentang banyak serangan dan pembantaian yang dilakukan Muhammad. Salah satu tujuan Quran adalah memberikan konteks kepada Quran.

       Mengatakan bahwa karena sumber-sumber paling awal berasal dari generasi yang jauh sesudah Muhammad sehingga mereka harus dibuang adalah sama tidak masuk akalnya dengan mengklaim bahwa segala sesuatu yang ada di dalam Sira adalah benar. Tantangan kita adalah menggali kebenaran dari gunung kebohongan.

 

Apa dan Mengapa

       Ada dua cara untuk bercerita. Yang pertama adalah menceritakan apa yang terjadi dan yang kedua adalah memberitahukan mengapa hal itu terjadi. Kisah di balik cerita itu sendiri seringkali lebih penting dari cerita itu sendiri. “Mengapa” adalah kunci untuk memahami “apa”.

       Ada banyak sekali biografi tentang Muhammad. Mereka semua mengulang kembali cerita keempat penulis biografi awal yang disebut di atas. Saya juga menggunakan sumber yang persis sama, hanya saja saya membacanya dengan menggunakan nalar, bukan melalui mata seorang pengikut, dan sampai kepada kesimpulan yang berbeda.

       Dalam buku ini, kita akan meneliti Sira, Hadis, dan Quran untuk menemukan sosok Muhammad yang sesungguhnya. Kitab-kitab ini karut-marut, tetapi hanya buku-buku ini yang kita miliki. Ia bersembunyi di suatu tempat di dalam sana. Tidaklah bijaksana untuk menyingkirkan hal-hal yang berguna saat kita membuang hal-hal yang kurang penting.

 

Apakah Muhammad itu ada?

       Dalam beberapa dekade terakhir ini beberapa ulama Islam telah mengangkat keraguan bahwa Muhammad mungkin bukan seorang tokoh sejarah. Seperti yang dilontarkan oleh Ahmad Fareed, “Pendekatan penting terhadap penulisan sejarah Islam muncul secara bertahap di abad ke-18 dan 19. Memang, bisa dimengerti, hanya masalah waktu saja “upaya pencarian sosok Kristus yang historis” karya Alber Schweitzer akan disesuaikan oleh para ahli sejarah Islam dalam pencarian mereka atas Muhammad yang dimitoskan; lagipula, penggunaan alat analisis yang berasal dari studi tentang kekristenan untuk mengungkap perjalanan historis Islam seperti ini sudah nyaris menjadi sebuah kebiasaan dalam studi slamic dan Timur Tengah. Namun keseluruhan proses, saya percaya, penuh dengan hipotesis yang dipertanyakan, generalisasi dan ketidakpedulian terhadap faktor-faktor spatiotemporal yang membentuk peristiwa yang seolah-olah mirip. Penerapan prosedur heuristis Perjanjian Baru seperti kritik redaksional dan bentuk terhadap corpus (batang tubuh) informasi yang berkaitan dengan sira tampaknya justru memperlihatkan ketidakpedulian atas sitz im leben dari corpus yang bersangkutan. Kehidupan dan pekerjaan Yesus jelas berbeda dari Muhammad; misi Yesus jika bisa dideskripsikan – adalah, contohnya, secara luar biasa tidak memiliki tujuan politik dan sosio-ekonomi yang tidak demikan halnya dengan Muhammad. Oleh sebab itu, tidaklah terlalu mengejutkan, seperti yang dikatakan oleh F. E. Peters dalam artikel terbarunya “Upaya Pencarian Sosok Muhammad yang Historis”, bahwa ‘meskipun banyak upaya telah diinvestasikan bagi penelitian ke dalam kehidupan dan zaman Muhammad, tampaknya hasilnya tidak sebanding dengan apa yang telah dicapai dalam penelitian tentang Yesus, dan alasannya sama sekali tidak jelas.’”[30]

       Alasan untuk argumen dari non-eksistensi Muhammad berkisar pada fakta bahwa biografi awal tentang dirinya yang masih tersisa ditulis lebih dari satu abad setelah kematiannya pada 632 M dan tidak ada sumber lain di luar sumber Islam yang menyinggung tentang eksistensi seorang nabi Arab di abad ketujuh. Sebuah pertanyaan diajukan, khususnya oleh Yehuda D. Nevo dan Judith Koren, adalah mengapa nama Muhammad tidak ditemukan dalam koin Arab dan prasasti dan papirus dan bukti dokumen lainnya sebelum tahun 680-an.

       Patricia Crone menuliskan. “Tidak diragukan bahwa Muhammad itu ada, terlepas dari beberapa upaya untuk menyangkalnya. Tetangganya di Bizantium Suriah mestinya mendengar tentang dirinya setidaknya dalam rentang dua tahun setelah kematiannya; sebuah naskah Yunani yang ditulis selama invasi Arab terhadap Suriah antara 632 and 634 menyebutkan bahwa “seorang nabi palsu telah muncul di kalangan Saracen”, dan menolak dirinya karena menganggapnya sebagai penipu dengan alasan bahwa nabi-nabi tidak datang “dengan pedang dan kereta perang”. Hal itu menyampaikan kesan bahwa ia sebenarnya memimpin invasi tersebut. Jika tanggal revisi tersebut akurat, bukti dari naskah Yunani tersebut akan berarti bahwa Muhammad adalah satu-satunya pendiri agama yang dibuktikan dalam sumber kontemporer. Tetapi setidaknya, sumber ini memberi kita bukti yang cukup kuat bahwa ia adalah seorang tokoh sejarah. Selain itu, sebuah dokumen Armenia yang mungkin ditulis tak lama setelah tahun 661 mengidentifikasi namanya dan menceritakan tentang khotbah monoteisnya.”[31]

       Crone tidak percaya kepada sejarah Muhammad yang diceritakan oleh Ibn Ishaq. Ia yakin Islam bukan dimulai di Mekah, tetapi di daerah selatan Suriah, sebab, seperti yang dikatakannya, “Quran dua kali menjelaskan tentang lawan-lawannya yang hidup di daerah bangsa yang telah sirna, maksudnya sebuah kota yang dihancurkan Tuhan karena dosa-dosa penduduknya. Ada banyak tempat yang hancur seperti itu di barat laut Arabia. Sang Nabi sering mengatakan kepada lawan-lawannya untuk mempertimbangkan signifikansi mereka dan pada salah satu kesempatan menyatakan, dengan mengacu kepada sisa-sisa keturunan Lot, bahwa ‘Engkau melewati mereka di pagi hari dan di malam hari.’ Pernyataan ini membawa kita ke suatu tempat di wilayah Laut Mati. ... Satu-satunya cara di mana seseorang bisa melewati sebuah tempat pada pagi dan malam hari jelas karena ia tinggal di sekitar tempat tersebut.”[32]

       Ini bukan bukti yang cukup untuk menulis ulang sejarah Islam. Penjelasan tentang apa yang dikatakan Muhammad dalam Quran (37:136-137) bisa jauh lebih sederhana dibandingkan kesimpulan drastis yang ditarik crones. “Engkau melewati mereka di pagi hari dan di malam hari” adalah kalimat kiasan. Yang artinya “sering”. Kesalahpahaman seperti ini bisa muncul saat kita mempelajari budaya dan bahasa yang asing bagi kita. Kalimat kiasan ada dalam semua bahasa. Jika saya berkata, “jangan berteriak, seluruh dunia mendengarmu,” yang saya maksudkan bukan keseluruhan tujuh miliar manusia di planet ini.

       Dengan asumsi bahwa Muhammad berbicara secara harafiah dan yang ia singgung adalah reruntuhan yang ia temui dalam perjalanannya menuju para pendengarnya di pasar, (itu adalah satu-satunya cara mereka bisa melewatinya setiap pagi dan malam), dan katakanlah ia berpikir bahwa reruntuhan tersebut adalah milik keturunan dari Lot. Bukankah lebih logis untuk menghubungkan kesalahan ini dengan ketidaktahuannya?

       Muhammad juga berpikir bahwa Musa adalah paman Yesus dari pihak ibu. Ketika sekelompok orang Kristen dari Najran datang ke Madinah untuk mengunjunginya, ia menyuruh mereka untuk bertobat. Lalu, untuk membuat mereka terkesan dengan pengetahuannya tentang kekristenan, Ibn Ishaq mengatakan, “beliau menyebutkan tentang peristiwa isteri ‘Imran dan perkataannya: MyLord, I vow to Thee what is in my womb as a consecrated offering,' i.e. I have

vowed him and made him entirely devoted to God's service subservient to noworldly interest.'Accept (him) from me. And when she was delivered of himshe said: O my Lord, I have givenbirth to a female— and Allah knew best ofwhat she was delivered—and the male is not as thefemale,’ i.e. the two werenot the same when I vowed her to thee as a consecrated offering. 'Ihave calledher Mary and I put her in Thy keeping and her offspring from Satan thedamned.'God said: 'And her Lord accepted her with kindly acceptance andmade her grow up to a goodlygrowth and made Zachariah her guardian'after her father and mother were dead.”’ (3:35-37)

       Imran adalah ayah dari Harun, Musa, dan Miriam. Menurut tradisi Katolik Roma, Ortodoks, dan Anglikan ayah dari Maria adalah Yoakim. Ada jarak 1.500 tahun yang memisahkan kedua tokoh Alkitab ini. Muhammad mengacaukan nama Maria dengan Miriam karena kedua nama tersebut dalam bahasa Arab diucapkan sebagai Maryam. Ia mengulangi kesalahan ini di dua tempat lainnya di Quran. Di 66:12 “Dan Maryam puteri ‘Imran” dan di 19:28 “Wahai saudara perempuan Harun”. Haruskah kita menulis ulang sejarah bangsa Yahudi dan kekristenan demi membenarkan kekeliruan Muhammad?

       Cendekiawan Islam menyadari kesalahan ini dan berusaha keras untuk menutupi hal itu. Komentator Quran, ibn Kathir, dalam Tafsir-nya mengatakan, “(Wahai saudara perempuan Harun!) Artinya “Wahai seseorang yang menyerupai Harun dalam hal ibadahnya”.

       Namun begitu, sura Imran memiliki lebih banyak detail tentang Maria yang bahkan ibn Kathir, dengan penjelasannya yang tidak masuk akal sekalipun, tidak mampu pecahkan. Dalam sura ini Muhammad mengatakan bahwa ketika Imran, orang yang diduga sebagai ayah Maria meninggal, Zakharia, ayah dari (Yahya) Yohanes menjadi walinya, dengan cara melemparkan anak panah. Tetapi karena kekeringan dan kelaparan melanda negeri itu, Zakharia tidak mampu lagi menjadi wali Maria, dan Jurayj si pertapa yang menjadi walinya, yang juga ditetapkan melalui ramalan. Ada kemungkinan Muhammad mencampur kisah Maria dengan cerita lainnya. Bagaimanapun ini bukanlah kisah tentang Maria.

       Seperti para pengikutnya, Muhammad percaya bahwa Ka’bah dibangun oleh Abraham. Adakah kebenaran dalam kepercayaan ini? Ia membuat kekeliruan dalam banyak hal. Kita tidak bisa menulis ulang sejarah demi menyesuaikannya dengan kekeliruan-kekeliruan Muhammad.

       Crone menolak Sira secara keseluruhan. Beliau menegaskan, “Seseorang bisa menerima Sira atau mengabaikannya, tetapi kita tidak bisa memahaminya.”[33] Masalahnya jika kita mengabaikan Sira, maka tidak ada lagi yang tersisa, selain dugaan dan spekulasi, yang mengarah kepada kesimpulan yang absurd seperti yang didapati Crone.

       Suku Quraisy ada disebutkan dalam Quran bahkan ada sura yang dinamai berdasarkan nama tersebut. Kita tahu bahwa kaum Quraisy tinggal di Mekah. Crone mengabaikan bukti nyata ini dan tiba pada kesimpulan yang aneh karena ia ingin menafsirkan kalimat kiasan secara harafiah.

       Crone berargumen bahwa Mekah tidak berada dalam jalur perdagangan kemenyan dari Suriah ke Yaman dan bukan merupakan pusat perdagangan yang penting sebagaimana yang dilaporkan oleh para sejarawan Muslim. “Sudah jelas jika orang Mekah menjadi perantara dalam perdagangan jarak jauh seperti yang diuraikan dalam literatur (Islam tradisional),” katanya, “seharusnya ada yang menyinggung tentang hal itu dalam tulisan-tulisan para pelanggannya... yang menulis secara ekstensif tentang bagian selatan Arab yang memasok wangi-wangian untuk mereka. Meskipun cukup banyak perhatian yang diberikan kepada perdagangan bangsa Arab, sama sekali tidak ada disebutkan tentang Quraisy (suku dari Muhammad) dan pusat perdagangan mereka (Mekah), baik dalam literatur berbahasa Yunani, Latin, Syria, Aram, Koptik, atau literatur lainnya yang ditulis di luar wilayah Arabia.”[34]

       Mari kita menyetujui dulu argumen dari Crone. Mengapa penemuan sepele seperti ini harus mengarah kepada asumsi bahwa segala sesuatu yang dikatakan Sira tentang Muhammad adalah palsu? Katakanlah para sejarawan Muslim membesar-besarkan tentang kehebatan Mekah. Hal ini tidak membenarkan kita untuk menolak keseluruhan sejarah Islam.

       Mekah adalah pusat keagamaan yang penting. Di mana ada pusat keagamaan yang sepenting ini, di sana pasti ada kegiatan perdagangan. Zaman sekarang, orang-orang memperindah kota-kota mereka untuk menarik wisatawan. Di masa lalu, mereka membangun kuil untuk menarik para peziarah.

       Masing-masing suku di Arab memiliki dewa pelindung mereka sendiri, sebagai perantara mereka dengan Hubal sang dewa agung, yang mereka panggil sesuai gelarnya Al Lah (Sang Dewa). Para dewa kecil memiliki kuil mereka masing-masing, seringkali berupa bangunan berbentuk kubus, tersebar di seluruh negeri. Kuil dewi Manat ada di daerah pantai, antara Madinah dan Mekah. Semua orang Arab biasanya memujanya dan mempersembahkan korban baginya, khususnya penduduk Madinah dan Mekah dan daerah sekitarnya. Kuil dewi Lat berada di Taif. Ia adalah batu berbentuk kubus dan para penjaganya telah membangun sebuah bangunan di atasnya. Semua orang Arab mempunyai kebiasaan untuk memuja Lat. Di Nakhlat Sha’miyah, di sebelah kanan jalan dari Mekah menuju Irak ada sebuah batu yang merupakan perwujudan roh Uzza, dewi kesuburan. Sebuah rumah menutupinya dan orang-orang biasanya menerima sabda dewa di sana. Kaum Quraisy mempunyai kebiasaan mengelilingi Ka’bah sambil berucap:

Demi Allat dan al-‘Uzza,

Dan Manah, dewa yang ketiga.

Sungguh mereka wanita yang paling ditinggikan,

yang doa perantaraannya harus diupayakan.[35]

       Masih banyak lagi kuil-kuil lainnya. Mereka menarik para peziarah dan kekayaan. Mekah adalah tempat Dewa yang terbesar, pencipta alam semesta. Hal ini membuatnya menjadi kota yang penting, sekalipun kota ini tidak berada dalam rute perdagangan kemenyan. Saat para peziarah datang, mereka melakukan kegiatan dagang di sana. Kaum-kaum suku di sekitar Mekah juga datang ke kota tersebut secara teratur untuk menjual komoditas kulit dan hasil peternakan lainnya dan membeli barang-barang yang diimpor orang Mekah dari negara lain. Mekah adalah satu-satunya pusat komersial bagi ratusan ribu, mungkin jutaan, kaum Badui. Bagaimana bisa kota itu dikatakan tidak penting?

       “Mekah,” kata Aloys Sprenger, “pada zaman Muhammad, memiliki 12.000 penduduk.”[36] Sir William Muir mengatakan, “Perdagangan di Mekah itu besar dan menguntungkan. Dari sana dan dari kota kembarnya Taif, rombongan karavan berjalan di musim gugur menuju Yaman dan Abesinia dan di musim semi menuju Suriah. Kulit, getah, kemenyan, logam mulia, dan produk lainnya dari Arabia, membentuk kegiatan ekspor yang stabil. Kulit dari Mekah, Taif, dan Yaman banyak diminati di Suriah dan Persia, dengan harga jual tinggi. Barang-barang berharga, sutera dan artikel mewah diterima sebagai pengganti di Gaza dan pasar-pasar Suriah lainnya, dan dibawa kembali ke Mekah.” Setidaknya ada enam ekspedisi seperti ini yang dikirim ke Suriah setiap tahunnya. Muir mengutip Sprenger yang memperkirakan beberapa dari rombongan karavan ini terdiri dari 2.000 ekor unta, yang muatannya bernilai sebesar 50.000 dinar. Sprenger memperkirakan perdagangan ekspor tahunan Mekah tidak kurang dari 250.000 dinar dengan barang dagangan pengganti senilai itu juga. Dinar adalah koin emas senilai 2/3 poundsterling. (Kira-kira 167.000 pon perak.) Menurut Muir, “Mengingat tingginya nilai logam mulia di zaman itu, rombongan karavan dengan komoditas senilai angka-angka yang disebut di dalam teks pastilah sangat kaya.”[37]

       Selain suku Quraisy dan Thaqif (penduduk Taif), beberapa suku-suku besar di sekitar Mekah, seperti Hawazin, Khuza’a, Bani Sulaim, Kinana, dan Bani Kilab, datang ke Mekah untuk melakukan perdagangan.

       Argumen yang diberikan oleh revisionis sejarah Islam sangat lemah. Untuk menjawab semua argumen tersebut, seseorang harus menulis sebuah buku khusus. Buku ini adalah tentang biografi Muhammad. Tetapi layak untuk sekilas menghilangkan prasangka terhadap beberapa klaim tersebut.

       Al-Rawandi bahkan mengambil satu langkah lebih jauh dan menyangkal eksistensi Muhammad. Ia percaya bangsa Arab memulai penyerangan dan menaklukkan terlebih dahulu baru kemudian, memutuskan untuk memberi legitimasi ilahi atas pemerintahan mereka dan karenanya menciptakan Islam. Beliau menuliskan, “Begitu bangsa Arab berhasil menaklukkan sebuah kekaisaran, maka diperlukan sebuah agama yang masuk akal untuk menyatukan kekaisaran tersebut dan melegitimasi kekuasaan mereka. Dalam proses yang melibatkan pembacaan ulang sejarah secara besar-besaran, dan menyesuaikan dengan model orang Yahudi dan Kristen yang tersedia, ini berarti mereka membutuhkan sebuah wahyu dan seorang penerima wahyu -- seorang Nabi – yang kehidupannya bisa segera digunakan sebagai seorang teladan dalam hal tindakan moral dan sebagai kerangka kerja bagi perwujudan wahyu tersebut. Oleh karena itu (Abu’l Kassim terpilih menjadi sang Nabi), Quran, Hadis (perkataan-perkataan sang Nabi), dan Sira disusun dan disatukan selama beberapa abad. Secara topografis, setelah lebih kurang satu abad monoteisme Yahudi-Muslim berpusat di Yerusalem, untuk membuat Islam berciri khas Arab...sebuah biografi Arab tentang Mekah, Madinah, kaum Quraisy, sang Nabi, dan Hijriyah-nya (pelariannya dari Mekah ke Madinah diduga pada tahun 622, Tahun Satu dalam kalender Islam) dibuat murni sebagai artefak sastra. Terlebih lagi, artefak yang bukan didasarkan kepada ingatan atas kejadian yang sebenarnya, tetapi kepada imajinasi berlebihan dari para pendongeng Arab yang dikembangkan dari  referensi teks Quran yang sukar dipahami, teks kanonik Quran tidak diperbaiki selama hampir dua abad.”[38]

       Al-Rawandi menyimpulkan bahwa Muhammad adalah sebuah mitos, sebuah “cerita fiksi tak berdasar”. Di mana dasar dari “fakta”nya? Ia melandaskan tesisnya di atas asumsi yang sangat keliru bahwa para penguasa butuh agama yang koheren untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Agama sering digunakan sebagai sarana untuk mendapatkan kekuasaan, tetapi jika para penguasa ini telah mendapatkan kekuasaan melalui pedang, mengapa mereka memerlukan agama yang justru membatasi otoritas mereka? Mengapa mereka mau menundukkan diri kepada ketetapan-ketetapan sekelompok agamawan?

       Hal yang pertama adalah menolak keaslian kisah yang diceritakan dalam Sira, dengan alasan bahwa mereka tidak terdokumentasi sepenuhnya atau tidak masuk akal. Hal kedua adalah membuat sebuah dongeng fantastis sebagai pengganti dari apa yang telah ditolak.

       Yang mengejutkan, Crone dan Al Rawandi tidak sendirian. Beberapa Islamis menolak historisitas Muhammad. Tidak diragukan bahwa Sira mengandung banyak kisah palsu, tetapi menyimpulkan Muhammad itu tidak ada atau bahwa kebenaran tentang kehidupannya sangat berbeda dengan apa yang telah ditulis oleh para penulis biografinya, jauh lebih bisa dipertahankan daripada apa yang ditolak oleh para revisionis. Kita tidak bisa mengharapkan objektifitas dari para pengikutnya. Keyakinan menutupi objektifitas. Saya khawatir jika yang bukan pengikutnya yang kehilangan objektifitas.

       Beberapa argumen yang disampaikan oleh para revisionis  kurang kredibilitasnya. Contohnya klaim dari Cristoph Luxenberg bahwa bidadari yang dijanjikan untuk para martir bukanlah perawan, tetapi buah anggur kering.

       Mari kita lihat apa yang dikatakan Quran.

44:54 Thus (shall it be), and We will wed them with houris pure, beautifulones.

52:20 Reclining on couches ranged in rows, we shall mate them withhouris, most beautifulof eye.

55: 72 Houris guarded in pavilions.

56: 22 And (there are) houris with wide, lovely eyes.

37:48 And with them shall be those (houris) who restrain the eyes.

       Jika kita menerima terjemahan Luxenberg terhadap kata houri, ayat-ayat ini meyakinkan para martir bahwa di surga mereka akan dikawinkan dengan anggur kering yang tersipu malu dan bermata indah. Adakah seseorang selain Luxenberg yang memahami hal itu?

       Mengapa argumen tak masuk akal seperti itu dianggap serius? Yang harus dilakukan untuk melihat bahwa ini adalah argumen yang konyol hanyalah dengan membaca ayat-ayat bersangkutan.

       Argumen lain yang disampaikan oleh revisionis lainnya tidak lebih kuat.

  

                Koin-koin ini, contohnya, digunakan sebagai bukti bahwa Muhammad tidak dikenal pada abad pertama. Di atasnya, ada gambar seorang penguasa memegang sebuah salib dan tulisan Arab yang berbunyi Muhammad. Para revisionis berargumen bahwa karena Muslim tidak percaya bahwa Yesus disalibkan, “They did not slay him, neither crucified him” (4:157) mengapa seorang khalifah mengizinkan gambar salib ditatah di atas koin? Cendekiawan terkenal Robert Spencer menolak kemungkinan bahwa barangkali ini adalah sikap toleransi Islam, mengingat banyaknya populasi orang Kristen di wilayah kekaisaran Arab yang baru.

            Ia berargumen, “Penjelasan yang paling nyata adalah bahwa ‘Muhammad’, yang ada di atas koin bukanlah nabi Islam. Dengan kata lain, gambar pada koin bisa saja berevolusi menjadi sang Muhammad pendiri Islam tetapi tidak terlihat begitu mirip dirinya pada saat koin tersebut dikeluarkan. Atau bisa juga kata muhammad bukan mengacu kepada nama tetapi gelar, yang artinya ‘yang dipuji’ atau ‘yang dipilih’.

            Spencer menunjukkan koin lainnya, yang juga berasal dari zaman Mu’aviyah, di mana sang kaisar (kemungkinan Mu’aviyah) sedang memegang salib dengan gambar berbentuk sabit di bagian atas batang vertikalnya.

 


       Spencer bertanya, “Mungkinkah desain yang tidak biasa ini merupakan sisa dari perpaduan yang telah lama terlupakan? Ataukah itu muncul pada saat perbedaan antara kekristenan dan monoteisme Arab/Islam belum setajam apa yang ada saat ini? Apapun yang terjadi, sungguh sulit untuk membayangkan bahwa koin seperti ini akan dicetak jika kebencian dogmatik Islam terhadap salib sudah ada pada saat itu, seperti dugaan orang jika Islam benar-benar berasal dari Arab dalam keadaan sudah terbentuk sepenuhnya.”[39]

       Benda lain yang ditunjukkan Spencer adalah tulisan di sebuah rumah pemandian di Gadara Palestina, di mana Mu’aviyah diidentifikasikan sebagai “hamba Tuhan, pemimpin para pelindung”, diawali dengan sebuah salib. Spencer percaya bahwa tampaknya tidak mungkin seorang khalifah Muslim akan membiarkan hal seperti itu.

       “Yang lebih mencolok lagi,” kata Spencer, “adalah identifikasi tahun pada tulisan di rumah pemandian tersebut “mengikuti penanggalan Arab”–yakni “era Arab” bukan “era Islam” atau “era setelah Hijriyah” seperti yang diharapkan.[40]

       Ia mengutip perkataan Luxemburg yang menunjukkan bahwa tulisan di dalam Kubah Batu, yang selesai dibangun pada tahun 691 adalah campuran dari ayat-ayat Quran dan tulisan-tulisan lainnya. Menurut kedua cendekiawan ini, tidak akan ada Muslim sejati yang akan melakukan penistaan seperti itu, dan lebih jauh lagi keduanya bahkan menyatakan bahwa Kubah Batu mungkin telah ada sebelum Quran.

       Spencer menyimpulkan bahwa ada kemungkinan tulisan di Kubah Batu sebenarnya adalah “peninggalan ungkapan teologi dari kelompok Kristen sesat yang memandang Yesus semata-mata utusan ilahi saja, bukan sebagai Anak Tuhan atau Juruselamat dunia.”[41] Kelompok sesat seperti ini sudah pasti hanya hipotesa saja. Karena tidak ada catatan tentang sekte Kristen manapun yang mempunyai pandangan seperti ini.

       Argumen-argumen lain yang disajikan, menimbulkan pertanyaan yang sama. Mereka semua menunjuk kepada fakta bahwa empat khalifah pertama bani Umayyah tidak menanggapi Islam secara serius.

       Koin-koin ini dicetak selama kekhalifahan Mu’aviyah dan Yazid dari dinasti Umayyah. Khalifah-khalifah bani Umayyah bukan pemeluk Islam. Keagamaan mereka hanya untuk pamer saja demi memegang tampuk kekuasaan. Abu Suyan, ayah dari Mu’aviyah, yang sanak keluarganya telah banyak dibunuh oleh Muhammad, adalah musuh bebuyutan Islam sampai ia dipaksa menyerah dan menerima Islam ketika Muhammad menyerang Mekah. Pilih Islam atau mati. Apakah Abu Sufyan bisa menjadi pemeluk yang tulus di bawah ancaman? Beliau adalah paman dari Uthman dan anak-anaknya mendapat kekuasaan ketika Uthman menjadi khalifah. Mereka menggunakan Islam untuk bertahan dalam kekuasaan, bukan karena mereka mempercayainya.

       Mu’aviyah yang ditunjuk sebagai guberner Damaskus oleh Uthman, setelah kematian Uthman, melancarkan perang berdarah melawan Ali, keponakan sekaligus menantu Muhammad, untuk memperebutkan kursi kekhalifahan. Isteri pertamanya, Masyum (ibunda Yazid) adalah seorang Kristen dan ia sangat bertoleransi terhadap orang-orang Kristen sehingga banyak Muslim yang menganggap bahwa pajak yang dikenakannya terhadap mereka “tidak adil”. Orang-orang Arab membenci pertanian dan bergantung sepenuhnya kepada hasil jarahan dan jizyah untuk kelangsungan hidup mereka. Di bawah pemerintahan Mu’aviyah, populasi non-Muslim diberi otonomi. Masalah peradilan mereka ditangani sesuai dengan hukum mereka sendiri dan oleh pemimpin agama sendiri atau orang yang mereka tunjuk.[42]

       Barangkali ini satu-satunya waktu di bawah penguasa Islam di mana hubungan antara Muslim dan orang Kristen setara. Ini bukan karena Mu’aviyah percaya bahwa Islam itu toleran. Ia hanya tidak percaya kepada agama Islam. Ali Aldosari menuliskan, “Bani Umayyah sering terlibat perang dengan Bizantium Kristen tanpa mempedulikan garis pertahanan belakang mereka di Suriah, yang sebagian besar penduduknya tetap menganut Kristen seperti banyak bagian lain dari kekaisaran tersebut. Posisi penting dipegang oleh orang-orang Kristen, beberapa di antaranya berasal dari keluarga yang pernah bertugas dalam pemerintahan Bizantium. Mempekerjakan orang Kristen adalah bagian dari kebijakan yang lebih luas terhadap toleransi beragama yang diperlukan karena besarnya populasi Kristen di propinsi yang ditaklukkan, terutama di Suriah. Kebijakan ini juga mendongkrak popularitasnya dan mengukuhkan Suriah sebagai basis kekuasaannya.”[43]

       Ibn Rushd, filsuf besar Muslim percaya bahwa Mu’aviyah mengubah sistem kekuasaan kekhalifahan menjadi kerajaan. Ia menuliskan, “Kondisi masyarakat Arab pada masa khalifah-khalifah yang saleh (Khulafa Rasyidin) berada pada sisi kebenaran seperti pemerintahan yang digambarkan Plato dalam bukunya, The Republic – sebuah pemerintahan yang demokratis, menjadi teladan bagi semua pemerintah. Namun, Mu’aviyah menghancurkan fondasi hebat tersebut. Ia mengubahnya menjadi kerajaan bani Umayyah dan kekuasaan bagi kekejaman mereka. Dengan cara ini ia membuka jalan yang lebar bagi kerusakan yang terus berlangsung hingga saat ini di negeri kita Andalusia.”[44]

       Ibn Rushd menunjukkan ketidaktahuannya tentang demokrasi. Meskipun kekhalifahan tidak diberikan secara turun-temurun, itu sama sekali tidak berarti demokrasi. Namun, ia benar tentang Mu’viyah yang mengubah kekhalifahan menjadi monarki dan menjadikan pemerintahannya bersifat turun-temurun.

       Dengan apa yang kita ketahui tentang Mu’aviyah dan Yazid, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para revisionis dapat dijawab dengan mudah. Yang menjadi perhatian utama Mu’aviyah adalah membangun kerajaannya, di mana sebagian besar rakyatnya adalah non-Muslim. Dengan mempercayakan administrasi wilayahnya kepada orang Kristen, jelas bahwa ia lebih percaya kepada mereka daripada kepada Muslim, yang kesetiaannya bisa beralih ke Ali dan pesaing lainnya atas kekhalifahan tersebut. Namun demikian ia memerlukan kaum Muslim untuk kepentingan ekspansi kerajaannya.

       Adalah suatu kesalahan untuk berasumsi bahwa kaum Muslim awal dimotivasi oleh iman. Selain para pendamping Muhammad yang telah menghadiri ceramah-ceramahnya di Madinah, Muslim lainnya masuk Islam secara massal dan di bawah paksaan. Mereka tidak tahu apa-apa tentang Islam dan mereka juga tidak dipaksa untuk menjalankannya. Mereka cukup mengucapkan kalimat syahadat (pengakuan iman Islam, yakni aku bersaksi tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusanNya). Setelah mereka masuk Islam, maka mereka dibebaskan dari membayar jizyah. Namun, mereka harus masuk tentara atau membayar zakat untuk membiayainya. Banyak yang memilih pilihan pertama, karena itu adalah cara cepat untuk menjadi kaya. Orang-orang Kristen dan Zoroaster memilih untuk membayar jizyah. Ini bukan pajak yang berat di bawah pemerintahan Mu’aviyah. Muhammad membebankan setengah dari pendapatan orang-orang Yahudi di Khaybar dan Fadak ketika ia menaklukkan kota-kota tersebut, tetapi Mu’aviyah tahu bahwa pajak yang berat akan membuat taklukannya melawan dia.

       Sebuah hadis menyatakan bahwa ketika Umar mengirim tentara Muslim ke Persia, “wakil dari Khosrau keluar dengan 40.000 orang prajurit, dan seorang penerjemah bangkit mengatakan, “Silakan salah satu dari kalian bicara denganku!” Al-Mughira menjawab, “Mintalah apa saja yang kamu inginkan.” Yang lain bertanya, “Siapa Anda?” Al-Mughira menjawab, “Kami beberapa orang dari Arab; kami menjalani hidup yang keras, sengsara, dan penuh bencana. Kami dulu menghisap kulit mentah dan biji kurma akibat kelaparan; kami dulu mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu unta dan kambing, dan menyembah pohon-pohon dan batu-batu. Saat kami dalam kondisi ini, Tuhan atas langit dan bumi, ditinggikan karena perhatianNya dan dimegahkan karena kemuliaanNya, mengirimkan kepada kami seorang Nabi, salah seorang dari antara kami yang orangtuanya kami kenal. Nabi kami, utusan Tuhan kami, telah memerintahkan kami untuk memerangi kami hingga kamu menyembah Allah saja atau memberikan jizya (upeti); dan Nabi kami telah memberitahukan kepada kami bahwa Tuhan kami berkata: –“Barangsiapa di antara kami terbunuh (mati syahid), akan pergi ke surga untuk menjalani hidup mewah yang belum pernah ia lihat, dan barangsiapa di antara kami tetap hidup, akan menjadi tuan atas dirimu.”[45]

       Kaum Arab adalah kaum penakluk. Mereka tahu bagaimana membunuh, menjarah, dan memperkosa. Tetapi mereka tidak memiliki ketrampilan dalam administrasi. Michael Haag menuliskan, “Di tahun-tahun setelah penaklukan mereka, orang-orang Arab tidak mampu mengelola Suriah, Palestina, Mesopotamia, atau Mesir, dan yang paling penting mereka tidak mampu mengumpulkan pajak tanpa layanan para pejabat berpengalaman dari penduduk setempat, yang artinya tetap membiarkan pejabat Kristen di pos mereka, seperti pejabat-pejabat Zoroaster di Persia yang tetap dibiarkan menjabat.”[46]

       Penguasa kedua Umayyah, Yazid, dibesarkan di gurun bersama paman-pamannya dari bani Kilab yang beragama Kristen. Alaili mengatakan: “Kemungkinan atau hampir dapat dipastikan bahwa Yazid tidak dididik secara Islam sepenuhnya; dengan kata lain, murni Kristen karena tidak diragukan bahwa kejahatannya, sikap tidak tahu malunya, dan ketidakpeduliannya terhadap moral dipandang benar-benar tidak Islami dan tak seorangpun yang menganggap bahwa semua tindakannya itu ada hubungannya dengan nilai-nilai atau kepercayaan Islam sama sekali. Tidak ada lagi yang bisa dibayangkan.”[47]

       Sebagai contoh, dikatakan bahwa ia memiliki anjing dan senang bermain dengan mereka. Tidak ada Muslim sejati yang akan melakukan hal tersebut. Yazid juga suka minum-minum. Di antara kumpulan puisinya tentang anggur adalah bait berikut:

Aku berkata kepada teman-teman yang berkumpul untuk minum-minum dan para penyanyi dan musisi yang sibuk bernyanyi.

Ambil rasa malumu dari kenikmatan ini dan nikmatilah seakan-akan bisa untuk waktu yang lama, karena itu akan segera berakhir.[48]

       Penyair Muslim independen mengarang puisi yang mengejek kecintaan Yazid terhadap minuman keras. Bolus Salamah berkata,

Bersikap baiklah terhadap raja ini karena ia telah tertambat kepada pelayan yang cantik lebih daripada Allah.

Seribu “Alaho Akbar” dalam pandangan Yazid tidak lebih baik daripada seteguk anggur.

Sari buah anggur segar dimasak dalam minuman anggur tanpa tersentuh tangan atau tercampur dengan air.”[49]

       Sedangkan tentang kesetiaan Yazid kepada Muhammad, dikatakan bahwa sesudah ia mendengar bahwa gubernurnya Ibn Ziyad telah membunuh Hussein ibn Ali, cucu Muhammad di Karbila, ia bersuka dan mendeklamasikan bait berikut.

“Kalau saja leluhurku yang tewas di Badar masih hidup dan melihat bagaimana lawan-lawan mereka (sanak keluarga Muhammad) ditindas, mereka pasti berteriak dalam sukacita: Oh Yazid! Kiranya tanganmu tak pernah lelah!

Kami telah membunuh pemimpin mereka dan dengan demikian telah membalas dendam atas Badar. Dan aku tidak pantas disebut keturunan para pejuang Perang Parit (Khandaq) jika aku gagal membalas dendam dari Muhammad dan sanak keluarganya.”[50]

       Yazid juga memerintahkan para pendukungnya untuk membantai para sahabat Muhammad sebanyak-banyaknya di Madinah, selama tiga hari berturut-turut.

       Koin pada gambar di atas, menunjukkan seorang pria yang sedang memegang salib, kata Muhammad dalam bahasa Arab, dan ankh, simbol kehidupan dalam tulisan Mesir. Seharusnya tidak mengherankan apabila Mu’aviyah dan Yazid masih menggunakan koin bergambar salib dan ankh. Mayoritas rakyatnya beragama Kristen, dan jelas masih ada beberapa yang percaya kepada agama Mesir kuno. Tujuan Mu’aviyah adalah untuk menggambarkan dirinya sebagai kaisar dari seluruh rakyatnya.

       Adalah Abdul Malik ibn Marwan, khalifah Umayyah kelima, yang mengubah bahasa resmi Mesir menjadi Arab, dan untuk pertama kalinya koin-koin yang menggunakan simbol Kristen dan Zoroaster diganti dengan koin yang telah didesain ulang, bertuliskan bahasa Arab dengan kalimat syahadat.

       Apakah Abdul Malik seorang Muslim yang taat? Belum tentu. Pemerintahannya  ditentang oleh Abdullah ibn Zubayr, anak dari sepupu Muhammad dan cucu dari Abu Bakr, (sudah pasti dari garis keturunan yang lebih terhormat dari Abdul Malik), yang menuding bani Umayyah bukan Muslim sejati. Ibn Zubayr telah memperoleh kesetiaan para Muslim di daerah telah Arabia, Irak, dan Iran yang telah terkendali sehingga menjadi ancaman bagi bani Umayyah. Abdul Malik harus mengembalikan citra keluarganya sebagai Muslim yang taat atau akan kehilangan kekhalifahan. Sejarawan Robert G. Hoyland yakin bahwa, “tekanan dari kelompok pemberontak” yang menyebabkan Abdul Malik dan para penerusnya “secara publik menyatakan Islam sebagai dasar ideologi dari negara Arab.”[51]

       Hoyland menyatakan bahwa ini “berarti bahwa bukti awal pengakuan Islami berasal dari partai oposisi. Hal ini bukan tidak masuk akal. Sumber Kristen kontemporer menegaskan bahwa pemberontakan Abdullah bin Az-Zubayr memiliki implikasi keagamaan, dikatakan bahwa ‘ia muncul karena semangatnya bagi rumah Tuhan dan ia penuh ancaman terhadap orang-orang Barat, menyatakan bahwa mereka adalah pelanggar hukum Tuhan.’”[52]

       Islam selalu digunakan sebagai alat untuk menggalang dukungan politik. Di setiap konflik di antara kaum Muslim, para pemimpin menuduh lawan mereka sebagai pihak yang sesat dan menggambarkan dirinya sendiri sebagai pembela Islam. Semua perang adalah jihad, sekalipun dilancarkan terhadap kaum Muslim lainnya.

       Hadis imam Suyuti menceritakan bahwa Abdul Malik menyatakan, ”Aku telah mengumpulkan Quran (jama’tul-Qurana),” harus dipandang sebagai bualannya untuk mengukuhkan dirinya sebagai seorang Muslim yang taat dan melegitimasi posisinya. Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa Quran dikumpulkan selama kekhalifahan Uthman.

       Para penguasa dari bani Umayyah tidak tertarik kepada Islam, hingga kekuasaan mereka ditentang. Mereka lantas menjadi jawara yang membela Islam. Khalifah pertama yang mencetak koin dengan tulisan “Muhammad adalah utusan Allah” adalah Ibn Zubayr. Abdul Malik harus bisa mengungguli dalam hal pengabdiannya kepada Islam, kalau tidak, seperti pendahulunya ia akan dituduh bukan orang Muslim.

       Uthman juga menunjuk Abdullah ibn Sa’d ibn Abi Sarh sebagai gubernur atas Mesir. Ia adalah juru tulis dari Muhammad di Madinah. Sebagai orang yang lebih berpendidikan dari nabinya, ia sering menyarankan cara yang lebih baik untuk menulis ayat-ayat Quran, dan sang nabi akan menerima sarannya dengan senang hati. Menyadari bahwa Muhammad mengarang-ngarang semuanya, Abdullah melarikan diri ke Mekah dan memberitahu semua orang tentang hal tersebut. Ketika Muhammad menyerang Mekah, ia menjanjikan pengampunan secara umum, jika kota itu menyerah tanpa perlawanan. Abu Sufyan, pemimpin kota tersebut pada saat itu, menerima tawaran tersebut. Tetapi begitu masuk ke kota, Muhammad melanggar janjinya dan memerintahkan untuk membunuh sepuluh orang. Di antara mereka adalah dua gadis penyanyi yang biasanya menyanyikan lagu-lagu sindiran tentang dirinya, dan si Abdullah. Uthman yang merupakan saudara angkat Abdullah, menjadi penengah dan Abdullah lolos dari kematian.

       Dengan segala hal yang kita ketahui tentang Abdullah, saya pikir cukup wajar untuk menganggap bahwa ia bukanlah penganut Islam yang tulus. Namun, setelah Uthman mengangkatnya sebagai gubernur Mesir, ia menyerang Tripoli dan mencaploknya ke dalam kerajaan Islam. Apakah ini karena keyakinan dan cinta untuk Islam, atau karena keserakahan dan nafsu atas barang jarahan?

       Sejarawan Koptik dan Bishop Severus dari El Ashmunein (d. 987) menuliskan, Abdullah putera Sa’d mendatangkan rombongan asing yang besar, “dan, karena ia adalah seorang pecinta uang, ia mengumpulkan kekayaan bagi dirinya di Mesir; dan ia adalah orang pertama yang membangun Divan at Misr, dan memberi perintah bahwa semua pajak dari negeri tersebut harus dialirkan ke sana.”[53]

       Abdullah ibn Sa’d adalah tokoh sejarah yang nyata. Ia adalah orang Mekah dan berhubungan dengan kaum Umayyah, dan ia disebut-sebut dalam Quran 6:93.  “Who is more wicked than the man who invents a falsehood about God, or say: ‘This was revealed to me’, when nothing was revealed to him? Or the man who says. ‘I can reveal the like of what God has revealed’?” Jika Quran disusun pada masa kekhalifahan Abd al Malik, apa maksud ayat ini? Bahkan Uthman, yang menyusun Quran dan saudara angkat Abdullah dan sangat dekat dengannya, tidak mampu menyingkirkan ayat yang menghina ini.

       Jelas bahwa bukan iman yang memotivasi para pemimpin dan perampok Muslim mula-mula, tetapi karena nafsu untuk memperoleh kekuasaan dan barang jarahan. Alasan hanya sedikit saja yang menyebutkan tentang Muhammad di tahun-tahun awal penaklukan Islam, adalah karena tidak ada seorangpun yang peduli kepadanya. Orang-orang Arab penghuni gurun tersebut akhirnya menemukan cara untuk membangun sebuah kerajaan dan mendapatkan kekayaan. Islam adalah sarana menuju kekuasaan, bukan tujuan.

       Khalifah-khalifah Umayyah tidak peduli terhadap Islam, kecuali fakta bahwa itu memberi mereka dalih dan tentara yang fanatik untuk membangun kerajaan mereka. Bahkan para penjarah Muslim sekalipun tidak peduli akan Islam. Mereka juga hanya termotivasi oleh barang jarahan saja. Islam adalah bisnis yang sangat menguntungkan bagi semua orang. Kaum muslim mula-mula telah dipaksa untuk masuk Islam. Pilihan mereka adalah mati atau bergabung dengan para bandit dan memperkaya diri mereka – bukan pilihan yang sulit, khususnya jika Anda adalah seorang Arab penyembah berhala.

       Didorong oleh kesuksesan dan kegembiraan atas hadiah yang tersebar dimana-mana,” tulis Muir, terkait dengan penaklukan atas tentara Persia, “Khalid mengumpulkan pasukannya dan menyampaikan kata-kata pengobar semangat berikut: ‘Kamu lihat kekayaan negeri ini. Jalanannya meneteskan lemak dan kelimpahan, makanan berserakan di mana-mana, sebagaimana bebatuan berserakan di Arabia. Ini adalah ketetapan bagi kehidupan saat ini, bukan melancarkan perang suci, adalah layak bagi kita untuk memperjuangkan tanah yang indah ini dan menyingkirkan kepedulian dan kemelaratan untuk selamanya.’” Muir mengatakan, “Di sini Khalid tepat mengenai sasaran di mana hati setiap orang Badui melonjak kegirangan. Sekarang, yang juga merupakan alat licik dari Quran, sehubungan dengan jenis kelamin lainnya, mulai diceritakan. Wanita-wanita Persia, baik pelayan maupun majikan, ‘yang ditangkap oleh tangan kanan’, dengan segera, tanpa batasan jumlah, sah secara hukum jatuh ke dalam pelukan sang penakluk; dan demi menikmati hak istimewa ini, mereka tidak segan-segan mengeksekusi para kafir ‘yang tercantum dalam ketetapan. Demikianlah fanatisme agama yang dinyalakan oleh semangat bela diri, dan keduanya dipancangkan pada insentif yang sangat menarik bagi orang Arab–perkelahian dan perampokan, jarahan perang, dan pesona tawanan perang.”[54]

       Seperti yang bisa kita lihat para petobat baru termotivasi oleh barang jarahan dan bukan oleh agama. Hanya generasi berikutnya saja yang diindoktrinasi ke dalam Islam. Hal ini pun dilakukan agar para pemimpin dapat terus memegang kekuasaan. Oleh karena itu, Muhammad itu ada dan fakta-fakta utama tentang biografinya adalah benar. Dia hanya tidak terlalu relevan. Kaum muslim tidak mengobarkan peperangan demi Islam, tetapi demi uang dan seks. Para revisionis membaca sejarahnya dengan benar, tetapi mereka salah menafsirkannya. Memang benar para penguasa menggunakan Islam demi kepentingan politik mereka, tetapi tidak dapat dipertahankan sama sekali untuk mengatakan bahwa merekalah yang menemukan Islam.

       Spencer beralasan, “Jika Abdul Malik membangun agama Islam untuk tujuan politik, maka keheningan di awal dari semua pihak tentang Muhammad, Islam, dan Quran dapat dijelaskan dengan sangat sederhana: Tidak adanya referensi tentang hal ini karena Muhammad, Islam dan Quran belum eksis, atau memang eksis tetapi dalam taraf yang belum jelas.”

       Abdul Malik tidak mendirikan Islam. Namun, ia menggunakan Islam untuk mengkonsolidasikan kekuasaannya, seperti yang dilakukan para penguasa Islam lainnya saat tampuk kekuasaan mereka melemah. Menurut Quran 3:28, Muslim tidak boleh mematuhi pemimpin yang non-Muslim. Oleh sebab itu, penguasa Muslim akan menggunakan segala cara untuk membuktikan bahwa mereka adalah Muslim berkinerja baik dan pendukung Islam.

 

Bukti Eksistensi Muhammad dalam Teks Islam

       Kita tidak memerlukan lebih dari teks-teks Islam untuk mengetahui bahwa Muhammad itu ada. Berikut ini adalah beberapa alasan yang kita temukan dalam teks-teks ini.

 

1- Karakter Muhammad

       Biografi Muhammad itu ruwet. Mengandung banyak detil, beberapa daripadanya memalukan bagi kaum Muslim. Berbagai upaya dilakukan untuk menyembunyikannya, menyangkalnya, membenarkan dan merasionalisasikannya. Ambil contoh pembantaian bani Qurayza, episode dari ayat-ayat setan, kisah perilaku seksual aneh Muhammad dengan pelayannya Mariyah, pertengkaran antara para isterinya dan pembangkangan mereka terhadap dia, tuduhan perzinahan terhadap Aisha dan Mariyah, kisah dirinya di bawah pengaruh sihir, dan halusinasi berhubungan seks dengan isteri-isterinya, dan cerita yang terhitung jumlahnya menggambarkan dirinya sebagai orang gila, kejam, pemerkosa, penyiksa genosida. Mengapa ada orang yang mau mengarang-ngarang cerita yang begitu merendahkan nabi mereka dan memalukan bagi mereka?

       Saya sudah menyinggung tentang Ibn Hisham yang mengubah Sira. Guillaume, setelah membandingkan berbagai biografi awal Muhammad menyebutkan, “Bagaimanapun, kita menduga bahwa I.H. telah mengubah alat bukti.”[55] Ibn Hisham tidak menutup-nutupi fakta bahwa ia telah menghilangkan beberapa material yang digunakan Ibn Ishaq yang memberi gambaran negatif tentang karakter Muhammad. Mengapa perubahan tiba-tiba ini diperlukan?

       Buku orisinil yang ditulis oleh Ibn Ishaq terdiri atas tiga jilid yang tebal. Bagian pertama, Mubtada atau Mabda’ (Awal Mula) dimulai dengan penciptaan. Bagian ini meliputi kisah Adam dan Hawa dan nabi-nabi dalam Alkitab hingga Yesus. Bagian kedua disebut Mab’ath, meliputi kehidupan Muhammad sejak lahir hingga migrasinya ke Madinah. Bagian ketiga dikenal sebagai Maghazi (penyerangan), menyajikan detil tentang penyerangan Muhammad.

       Ibn Hisham berusaha keras menyusutkan kumpulan besar tulisan Ibn Ishaq menjadi satu jilid dengan sekitar 420.000 kata, barangkali mengurangi hingga setengah dari ukuran aslinya. Jika seseorang ingin menciptakan sebuah agama untuk apa ia bersusah-payah menulis buku yang sedemikian masif bila orang dapat dengan gampangnya menulis sebuah buku berukuran kecil seukuran satu kitab Injil?

 

2 – Keragaman Sumber

       Kebanyakan buku fiksi datang dengan satu versi, ditulis oleh satu orang penulis, contohnya, Dante’s Divine Comedy, novel-novel Shakespeare, Shah-nameh (Kitab Para Raja) karya Ferdousi. Sejarah Islam dicatat dalam bentuk potongan-potongan dan datang dari ratusan sumber. Ini saja sudah merupakan bukti bahwa ini tidak dikarang seseorang di abad kedelapan.

       Siapa para konspirator ini yang menciptakan Islam dan bagaimana mereka meyakinkan semua orang untuk meninggalkan agama mereka dan percaya kepada nabi yang belum pernah mereka dengar sebelumnya? Mengapa tidak seorang pun merasa keberatan dengan penipuan sejarah terbesar ini? Apakah semua cendekiawan dan sejarawan merupakan bagian dari konspirasi ini? Klaim ini sungguh di luar batas.

 

3 – Muncul Begitu Saja

       Kita bisa mempertanyakan validitas dari beberapa cerita dan kata-kata yang diucapkan Yesus, tetapi dapatkah kita menyangkal keberadaannya? Kisah dari para tokoh agama bisa berkembang melewati batas. Para pengikut biasanya mengarang-ngarang mukjizat dan menganggap supranatural berkaitan dengan pemimpin kharismatik yang mereka anggap sebagai nabi. Namun, sebuah agama tidak bisa diciptakan dari ketiadaan. Selalu ada sejumlah kebenaran bahkan dalam mitos yang paling menakjubkan sekalipun. Vlad III Dracula dari Wallachia di abad ke-15 adalah karakter bersejarah di balik fabel Drakula, dan Santo Nicholas dari Myra di abad ke-4 adalah orang yang menjadi inspirasi bagi mitos Santa Klaus. Apakah para konspirator menciptakan karakter Muhammad dari ketiadaan?

       Jika sulit untuk membayangkan 12 orang pria bersekongkol untuk mengarang-ngarang tentang seorang tokoh fiktif, dan mengklaim dia sebagai Mesias lalu rela martir untuk sesuatu yang mereka tahu adalah dusta, akan lebih sulit lagi untuk percaya bahwa ribuan orang yang bersekongkol mengarang-ngarang tentang Muhammad. Teori harus masuk akal kalau tidak mereka akan terdengar janggal. Teori bahwa Yesus tidak eksis itu tidak masuk akal. Teori bahwa Muhammad tidak eksis lebih tidak masuk akal lagi. Yesus bertahan oleh 12 muridnya; Muhammad bertahan oleh ribuan orang. Nama mereka, silsilah mereka, hubungan mereka satu sama lain dan dengan keturunan mereka yang merupakan tokoh sejarah yang nyata benar-benar tercatat.

       Benar! Buku-buku utama tentang kehidupan Muhammad disusun lebih dari satu abad setelah kematiannya. Namun begitu, orang-orang yang disebut di dalam biografi Muhammad bukan orang yang tidak dikenal oleh mereka yang membacanya. Sejumlah besar pengikut tersebut adalah generasi kedua dan ketiga dari para pendamping Muhammad dan masing-masing telah mendengar beberapa kisah tentang Muhammad dari ayah atau kakek mereka. Ibn Ishaq menyusun kisah-kisah tersebut dalam buku triloginya. Mustahil bagi seseorang untuk mengarang kisah sebesar ini dan berhasil membodohi jutaan orang tanpa seorangpun meragukannya dan merasa keberatan. Tidak adakah sejarawan Arabia di abad ke-8 menentang hal ini? Dan apakah setiap orang meninggalkan agama leluhur mereka secara damai dan menerima agama palsu hanya karena pemimpin mereka memerintahkan demikian?

 

4 – Sumber Paling Awal Tentang Muhammad

       Robert Spencer berargumen, “Tidak ada sketsa biografi tentang keberadaan Muhammad  yang tidak bergantung kepada Ibn Ishaq. Jika terdapat analisa bahwa buku Ibn Ishaq dengan alasan apapun tidak bisa dijadikan sebagai sumber sejarah, maka semua pengetahuan yang kita miliki tentang Muhammad pun lenyap.”[56]

       Tidak benar bahwa seluruh sejarah Islam bertumpu kepada Sira Ibn Ishaq. Berikut ini adalah kumpulan hadis yang terkemuka sebelum Ibn Ishaq dan potongan-potongan teks yang selamat dari pemusnahan. Kitab-kitab hadis didasarkan pada sumber-sumber ini dan bukan Sira Ibn Ishaq.

       Sahl ibn Abī Hathma (era kekuasaan Mu’aviyah, 41-60 H), adalah pemuda pendamping Muhammad. Bagian-bagian tulisannya dilestarikan dalam Ansāb al-Baladhuri, Tabaqāt Ibn Sa’d, dan tulisan-tulisan Ibn Jarir al-Tabari dan al-Waqidi.

       Abdullah ibn Abbas (78 H), sepupu dan pendamping Muhammad, tradisi-tradisinya ditemukan dalam berbagai Hadis dan Sira.

       Saīd ibn Sa’d ibn Ubada al-Khazraji, pemuda pendamping lainnya, tulisan-tulisannya diselamatkan dalam Musnad Ibn Hanbal dan Abī Iwāna, dan Tarikh al-Tabari.

       Saīd ibn al-Masib al-Makhzumi (94 H), seorang Tabi’i yang terkenal dan salah seorang guru dari al-Zuhri. Tradisi-tradisinya dikutip dalam kumpulan enam kitab hadis utama, dan dalam Sira karya Ibn Ishaq, Ibn Sayyid al-Nās, dan lain-lain.

       Abu Fidala Abdullah ibn Ka’b ibn Malik al-Ansari (97 H), tradisi-tradisinya disinggung dalam Ibn Ishaq dan al-Tabari.

       Abban ibn Uthman ibn Affan (101-105 H). Tradisi-tradisinya disebarkan oleh Malik ibn Anas dalam Muwatta-nya, Tabaqat Ibn Sa’d, dan dalam tulisan-tulisan sejarah al-Tabari dan al-Ya’qubi.

       Amir ibnSharahil al-Sha’bi (103 H). Tradisi-tradisinya disebarkan oleh Abu Ishāq al-Subai’i, Sa’id ibn Masruq al-Thawri, al-Amash, Qatada, Mujalid ibn Sa’id, dan lain-lain.

       Dokumen-dokumen ini, meskipun tidak lengkap, merupakan bukti yang cukup bahwa Muhammad bukan ditemukan pada abad kedua Masehi.

       Kumpulan maghazi dari Wahb ibn Munabbih juga selamat. Walaupun di dalamnya tidak ada hal baru yang belum dituliskan oleh tradisionis lainnya, ini membuktikan bahwa pada akhir abad pertama, atau beberapa tahun sebelum 100 H, fakta-fakta utama tentang kehidupan Muhammad ditulis seperti yang kita temukan dalam tulisan-tulisan yang dibuat belakangan.[57]

       Tradisionis awal lainnya yang sebagian tulisannya berhasil selamat adalah Musa ibn Uqba (55/675 – 141/758). “Bagian ini terdiri dari duapuluh kutipan lengkap dengan isnad mereka, beberapa daripadanya adalah perkataan sang nabi pada peristiwa tertentu, yang lainnya merupakan kisah-kisah kehidupannya. Kumpulan ini secara jelas menegaskan bahwa karya aslinya terdiri atas sepuluh bagian, sehingga kitab yang dulunya mengandung kumpulan lengkap Sira ini tampaknya cukup aman dari gangguan.”[58]

       Kontribusi besar Ibn Ishaq adalah mengumpulkan ribuan cerita-cerita pendek dan menyusunnya dalam urutan kronologis.

 

5 – Quran Bersumber Dari Alkitab

       Argumen lain yang diajukan oleh para penggugat non-historisitas Muhammad, adalah bahwa Quran dibentuk dari materi yang sudah ada di mana sebagian besarnya berasal dari tradisi-tradisi Yahudi dan Kristen. Meskipun sebagian besar ini adalah benar, khususnya dalam ayat-ayat Mekah, ayat-ayat Madinah hampir seluruhnya berisi tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Muhammad. Seseorang bahkan tidak bisa memahaminya kecuali orang tersebut tidak asing dengan kisah-kisah di baliknya. Robert Spencer menggambarkan hal tersebut seperti memasuki percakapan antara dua orang yang tidak ia kenal, yang sedang berbicara tentang peristiwa yang tidak diketahuinya, dan mereka merasa tidak perlu repot-repot menjelaskan pembicaraan mereka kepadanya.

       Tidakkah ini membuktikan bahwa Muhammad itu ada dan fakta-fakta utama yang diceritakan tentang dirinya adalah benar? Quran adalah percakapan antara Muhammad dengan para pendampingnya. Jika buku ini ditulis bagi orang-orang yang berbeda tidakkah ia akan diberi konteks? Bayangkan sebuah skenario hanya dialognya saja. Tanpa aksi di dalamnya Anda akan sulit memahaminya. Itulah perasaan yang Anda dapatkan ketika membaca Quran. Mengapa ada orang yang menulis buku semacam itu? Hanya bila pembaca dapat menonton peran yang dimainkan, maka dialog tersebut akan menjadi masuk akal. Penerima Quran adalah para pemeran itu sendiri. Mereka tidak perlu lagi diberitahu konteks dari ayat-ayat di dalamnya.

 

6 – Rendahnya Kualitas Quran

       Quran tampaknya merupakan kumpulan ucapan seseorang yang buta huruf. Ia ditulis dengan buruk, sangat menjemukan dan membosankan, dan tidak berurutan. Kata gantinya sering tidak teridentifikasi. Pembaca harus menebak-nebak siapa berbicara dengan siapa. Berisi segala macam kesalahan tata bahasa, logika, sejarah, dan matematika. Jika Islam diciptakan untuk memberikan legitimasi atas kekuasaan seseorang, seperti yang diklaim, tidakkah lebih rasional jika menugaskan seorang yang terpelajar untuk menuliskan kitab suci yang lebih masuk akal dan jelas?

       Quran penuh dengan kontradiksi dan ayat-ayat yang saling membatalkan. Mengapa hal ini perlu? Apa tujuan kisah ayat-ayat setan yang menimbulkan keraguan sang Nagi akan kebenaran dan kewarasannya? Mengapa ia digambarkan sebagai pria yang jahat dan sakit mental dan bukan sebagai orang yang kudus? Jika ia adalah manusia fiktif, mengapa tidak memberinya hikmat Salomo, kekuatan Samson, kesabaran Ayub, atau kemuliaan Yesus? Muhammad kekurangan segala kebajikan sedemikian rupa sehingga kaum Muslim modern harus mengarang-ngarang beberapa cerita agar ia terlihat baik.

 

7 – Mengapa Seorang Nabi Penjahat?

       Terlepas dari banyaknya klaim tentang kehebatan Muhammad, apa yang hilang di Sira adalah cerita tentang kebaikan dan rasa kemanusiaannya. Ada sebuah cerita yang beredar di internet yang menceritakan seorang Yahudi yang selalu melemparkan sampah kepada Muhammad ketika ia melewati rumahnya. Selama beberapa hari orang ini tidak terlihat. Setelah dicari tahu, kepada nabi diberitahu bahwa orang Yahudi ini sedang sakit. Nabi lalu mengunjungi pria ini dan menunjukkan kebaikan kepadanya.

       Tidak ada orang Yahudi yang tinggal di Mekah dan dengan teror yang telah dibuat Muhammad di Madinah, hal seperti ini tidak mungkin terjadi. Muhammad tidak punya kepentingan untuk lewat di depan rumah orang Yahudi yang manapun setiap hari karena ia tinggal di mesjidnya dan orang-orang Yahudi tinggal di kota benteng mereka. Asal-usul dari hadis baru ini terdapat dalam kisah-kisah yang dikaitkan dengan Abdul Baha, the Center of the Covenant of the Bahai Faith. Dikisahkan di sana bahwa saat berada di pembuangan di Akka, Abdul Baha harus melewati depan rumah seorang Arab yang suka membuang sampah ke arahnya, dan seterusnya dari cerita tersebut. Kehidupan Muhammad begitu tanpa kebaikan sehingga kaum Muslim terpaksa melakukan plagiarisme untuk membuatnya terlihat bagus. Mengapa menciptakan seorang nabi dan membuatnya terlihat seperti penjahat?

       Buku kanonik Islam menampilkan Muhammad sebagai seorang pengecut yang alih-alih memimpin pengikutnya dalam pertempuran justru berada di belakang, meminta mereka untuk melindunginya seperti mereka melindungi anak-anak dan isteri-isteri mereka.

       Meskipun begitu banyak mukjizat dikaitkan dengan dirinya di Sira, menurut Quran, Muhammad tidak dapat melakukan mukjizat satu pun. Ia disanjung dan dipuji-puji, dipuja dan dimuliakan, akan tetapi, kisah-kisah tentang dirinya justru menunjukkan dirinya sebagai preman, seorang penyiksa yang kejam, pelanggar kata-katanya sendiri, pria cabul, pria kasar yang tidak mampu mengendalikan amarah dan gairahnya. Rasanya tidak masuk akal untuk mengarang-ngarang tentang seorang nabi dan membuatnya terlihat sedemikian jahatnya sehingga beberapa sejarawan merasa perlu untuk mengacaukan sejarah dan menyembunyikan detil kehidupannya yang paling buruk.

 

8 – Daftar Panjang Protagonis

       Biografi Muhammad, secara umum memberikan daftar panjang dari generasi pertama, kedua dan ketiga dari para pengikut, non-Muslim, sahabat-sahabat dan musuh-musuh yang memainkan peran dalam sejarah Islam. Ada ribuan nama disertai silsilah pendek mereka dan mereka semuanya berhubungan satu sama lain. Dalam bukunya Book of Grand Classifications (Kitab Tabaqat Al-Kobra) Ibn Sa’d telah menyusun biografi pendek dari ribuan Muslim awal, pria maupun wanita. Apa gunanya bersusah-payah seperti itu?

       Kisah Yesus dalam kitab-kitab Injil ringkas dan jelas. Tokoh sentralnya sempurna. Pembaca tidak dibuat bingung dengan cerita yang kontradiktif seperti di Quran, yang sebagian besarnya tidak menambah nilai apapun atas klaim bahwa Muhammad adalah seorang nabi, sebaliknya malah mendiskualifikasi dirinya. Mengapa orang-orang yang diduga pemalsu ini menyulitkan diri mereka sendiri?

       Tantangan terbesar yang dihadapi oleh para sejarawan Muslim awal adalah menjelaskan kelicikan nabi mereka dan mencari pembenaran atas kejahatannya. Jika ia adalah tokoh fiktif untuk apa mereka membuat begitu banyak kisah yang memalukan tentang dirinya lalu kemudian berusaha menutup-nutupinya?

 

9 – Mengapa Orang Lain?

       Jika sebuah agama diperlukan untuk memberikan legitimasi bagi seorang penguasa, dan hal seperti ini dapat dilakukan, bukankah lebih logis bila si penguasa mengklaim hak ilahi bagi dirinya sendiri dan menyatakan dirinya sebagai raja sekaligus nabi? Mengapa membangun kultus pribadi bagi orang lain? Islam membatasi kekuasaan para penguasa. Ia mensyaratkan legitimasi mereka berdasarkan syariah, membuat kekuasaan mereka lebih rentan dan harus bertanggung jawab kepada para ulama. Mengapa seorang penguasa yang waras mau melakukan hal seperti itu?

       Kisah Muhammad kadang-kadang masuk akal dan kadang-kadang tidak. Teori-teori dari mereka yang menyangkal keberadaan dirinya sama sekali tidak masuk akal.

 

 

 

 

Kehidupan Muhammad di Mekah

 

Kelahiran Muhammad

       Pada tahun 570 SM, seorang janda muda, mungkin pada pertengahan usia remaja, melahirkan bayi laki-laki yang ia beri nama Muhammad. Seperti yang dinyatakan Sira, Amina enggan mengurus anak satu-satunya itu. Untuk beberapa waktu Thuaiba, pelayan dari salah satu paman anak tersebut, Abu Lahab, yang merawatnya. Ketika bayi itu berumur enam bulan, Amina menyerahkannya kepada Halima sebagai anak angkat, seorang wanita Badui, untuk dibesarkan di gurun pasir.

       Kadang-kadang wanita dari keluarga kaya menyerahkan bayi mereka. Hal ini memungkinkan mereka untuk segera memiliki anak lagi. Lebih banyak anak berarti status sosial yang lebih tinggi, dan anak yang diserahkan tadi akan kembali kepada keluarga mereka setelah mereka disapih.

       Para sejarawan menjelaskan bahwa menyerahkan anak untuk diasuh wanita lain merupakan kebiasaan orang-orang Arab. Fakta menyatakan bahwa praktek ini tidaklah umum. Khadijah, isteri pertama Muhammad yang merupakan wanita kaya, membesarkan sendiri kesembilan anaknya (enam daripadanya adalah anak-anak Muhammad).

       Sejarah Muhammad sarat dengan asumsi yang salah yang belum pernah ditentang. Mereka mungkin terlihat sepele, tetapi mereka memegang kunci untuk memahami Muhammad dan Islam.

       Amina adalah janda miskin dan Muhammad adalah anak satu-satunya. Mengapa ia tidak mau mengasuh anaknya? Ini adalah pertanyaan yang krusial. Ini membantu kita memahami pengaruh masa kanak-kanak terhadap psikologi dan kepribadian Muhammad.

       Kadang-kadang insiden kecil bisa mengubah perjalanan sejarah. Alois Hitler bersikap kejam terhadap anaknya. Ia sering mengintimidasi Adolph supaya patuh. Anak yang diperlakukan dengan kejam ini belakangan menyebabkan kematian jutaan orang.

       Penyiksaan terhadap anak ada berbagai bentuk. Bisa berupa penyiksaan fisik, seksual atau emosional. Penelantaran adalah salah satu bentuk penyiksaan terhadap anak. Anak-anak butuh mengetahui bahwa mereka dikasihi tanpa syarat. Sejak mereka lahir, dan saya berani katakan bahkan sebelum mereka lahir, anak-anak bisa merasakan kasih. Mereka merasakannya lewat sentuhan, pelukan, dan ciuman. Kita memiliki sifat ini sama seperti hewan. Seorang anak yang ditelantarkan adalah anak yang disiksa. Dampaknya akan meluap saat mereka dewasa. Orang tersebut akan menunjukkan kecemasan, ketakutan, kemarahan, rasa bersalah, sifat agresif, sindrom depresi, serangan kesedihan, penarikan diri dari masyarakat, dan kesulitan dalam hubungan. Dalam kasus yang lebih serius mereka akan menderita gangguan pikiran, keinginan bunuh diri, fobia akut, kesadaran yang terdistorsi seperti paranoid, dan berpikir tidak logis. Mereka mungkin memiliki anggapan yang rusak terhadap dunia dan kesulitan dalam menentukan apa yang nyata.

       Apakah Amina mengalami depresi? Depresi pasca melahirkan biasa terjadi pada ibu-ibu muda tunggal yang miskin, yang tidak memiliki dukungan yang cukup dari orang-orang di sekitar mereka. Apakah ia meyakini bahwa anaknya akan memperkecil kemungkinannya untuk menikah lagi? Apa motivasinya menyerahkan anak semata wayangnya untuk diasuh oleh orang asing? Apapun yang menjadi motifnya, pastilah lebih meyakinkan baginya dibandingkan kasihnya sebagai ibu terhadap anak semata wayangnya. Ini adalah petunjuk penting, yang terabaikan oleh semua penulis biografi Muhammad. Namun hal ini memberi terang bagi seluruh kisahnya dan menjelaskan apa yang tak dapat dijelaskan. Jika Muhammad merasa ditolak saat kanak-kanak, kepribadian dan karakternya mungkin terpengaruh karenanya, dan ini menjelaskan sebagian besar pilihan yang ia buat di tahun-tahun belakangan dari kehidupannya.

 

Keluarga Asuh Muhammad

       Halima belakangan mengatakan bahwa ia dan sembilan wanita dari sukunya datang ke Mekah bersama suami mereka untuk melakukan barter barang-barang dagangan dan mengambil anak untuk diasuh. Ini adalah cara mereka untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Semua wanita lainnya telah mendapatkan anak, kecuali Halima. Ia miskin, kekurangan gizi dan payudaranya kering. Wanita-wanita Mekah tidak bersedia mempercayakan anak mereka kepadanya. Di lain pihak, tidak ada yang bersedia mengasuh anak yatim milik seorang janda miskin. Hadis yang menceritakan tentang Halima mengatakan, “Jadi kami tiba di Mekah, aku bersumpah, tidak satupun wanita dari kaumku yang tidak ditawarkan mengasuh sang Utusan Allah; tetapi semua menolaknya ketika diberitahu bahwa ia adalah anak yatim. Kami menolaknya dan berkata, ‘Apa keuntungan yang bisa diberikan ibu anak ini? Yang kami inginkan adalah sedikit bantuan dari ayah anak ini, apa yang bisa dilakukan ibunya bagi kami?’ Aku bersumpah, setiap teman wanitaku, semuanya kecuali aku, mengambil seorang bayi untuk disusui.”[59]

       Pulang dengan tangan kosong, sementara semua temannya telah mendapatkan bayi untuk diasuh sungguh memalukan bagi Halima. Pada hari terakhir pasar raya, ia menerima Muhammad. Wanita yang disisihkan dan anak yang tidak diinginkan akhirnya disatukan.

       Alasan Halima ingin mengasuh seorang anak adalah untuk membantu keluarganya secara finansial. Dengan mengasuh anak yatim miskin imbalannya sangat kecil.  Meskipun tidak ada indikasi bahwa Halima menyiksa Muhammad, cukup logis untuk berasumsi bahwa sudah pasti ia lebih menyayangi anak-anaknya sendiri.

       Anak-anak sangat peka saat usia muda. Mereka bisa merasakan bila mereka tidak dikasihi atau tidak diperlakukan secara adil. Karenanya cukup masuk akal untuk percaya bahwa Muhammad pasti merasa diabaikan di rumah orangtua asuhnya. Memperhatikan saudara angkatnya Abdullah, menerima perlakuan istimewa pasti memberi dampak jangka panjang terhadap psikologi dan karakter kepribadiannya.

       Muhammad tumbuh dengan menyadari bahwa ia bukan bagian dari keluarga tersebut. Menyadari bahwa semua anak di desa tersebut mempunyai orangtua sedangkan ia tidak punya, pastilah traumatis bagi seorang anak kecil.

       Ia mengenal ibu kandungnya. Halima membawanya mengunjungi Amina setiap enam bulan. Anak asuh dikembalikan setelah mereka disapih. Untuk beberapa alasan Amina tidak menginginkan anaknya kembali. Muhammad tinggal bersama keluarga asuhnya selama lima tahun. Setiap kali Halima mencoba mengembalikannya, Amina akan mendesaknya untuk memelihara Muhammad lebih lama lagi.

       Anak-anak lain pasti mengejek Muhammad. Anak-anak bisa sangat kejam. Menjadi yatim piatu merupakan aib di negeri tersebut, karena masih berada di antara kaum Muslim yang tak berpendidikan. Secara otomatis satus Anda akan direndahkan. Bagi seorang anak kecil hal ini sangat menghancurkan.

       Muhammad tentunya bertanya-tanya mengapa ibunya menolak dirinya. Sesungguhnya kenapa? Satu-satunya alasan yang terpikirkan oleh saya adalah karena ibunya menganggapnya sebagai beban, penghalang bagi apapun yang menjadi prioritas dirinya. Jika kita mengetahui lebih banyak tentang Amina, kita bisa membuat penilaian yang lebih baik tentang psikologinya. Nyaris tidak ada apa-apa tentang Amina dalam buku-buku sejarah. Dari sedikit yang kita ketahui, satu hal yang jelas adalah bahwa ia tidak cukup peduli terhadap anaknya dan keprihatinannya terhadap hal lain lebih penting baginya daripada anaknya.

       Ini bukan tebakan asal-asalan. Masyarakat patriarkis yang menindas jarang menghasilkan individu yang sehat secara emosional maupun psikologis. Kebanyakan orang Arab, dan sesungguhnya kebanyakan Muslim, menderita satu atau lebih gangguan psikologis. Mereka bersifat agresif, bengis, paranoid, obsesif, penggertak, atau pemalu. Kondisi dari masyarakat Islam sudah membuktikannya.

       Sejarawan Muslim menceritakan bahwa Safiyah, bibi dari Muhammad, sering memukul anaknya Zubair ibn Awwam tanpa belas kasihan. Awwam sudah meninggal sehingga paman Zubair, Naufal, menjadi walinya. Ia mengeluhkan tentang perlakuan brutal terhadap Zubair. Isterinya menjawab bahwa ia memukulnya sedemikian rupa untuk membuatnya kuat. Zubair menjadi sangat keras dan mengajak anak lain untuk berkelahi, berbadan lebih besar darinya dan memukulnya sedemikian rupa hingga anak itu harus kehilangan salah satu tangannya. Ia menurunkan kebengisannya kepada anak lelakinya yang kemudian menjadi musuh bebuyutan satu sama lain. Anaknya yang lebih muda, Amro, mengobarkan perang melawan kakaknya di Mekah, di mana perang adalah tindakan penistaan. Ketika ia kalah, Abdullah menangkapnya dan memukulnya hingga mati.[60]

       Kita nanti akan mempelajari lebih lanjut tentang kecenderungan Safiyah terhadap kekerasan. Sesungguhnya semua anggota di keluarga Muhammad mempunyai sifat kejam. Seluruh kaum tersebut adalah kaum barbar.

       Salah satu dampak dari penelantaran adalah sifat agresif. Muhammad begitu penuh dengan kemarahan sehingga ia menggigit bahu Shayma, kakak angkatnya, dengan keras, ketika Shayma sedang menggendongnya. Gigitan itu begitu parah, sehingga lebih dari lima puluh tahun kemudian, ketika Muhammad menyerang Hawazin, kaum dari suku Halima, dan Shayma ditangkap lalu diperlakukan dengan kasar oleh para Muslim, ia menyatakan dirinya sebagai kakak angkat dari nabi mereka. Ketika ia dihadapkan kepada Muhammad dan diminta untuk membuktikan, ia menunjukkan tanda bekas gigitan di bahunya dan Muhammad mengingatnya.[61] Ini pasti gigitan yang luar biasa, dan itu menunjukkan betapa frustrasinya Muhammad saat itu dan betapa banyak kemarahan yang ia miliki.

       Muhammad tinggal selama empat setengah tahun bersama keluarga asuhnya hingga kesehatan mentalnya menjadi keprihatinan bagi Halima dan suaminya. Ia tidak pernah bermain dengan anak-anak lain dan sering menarik diri dari mereka dan berbicara dengan teman khayalannya.

       Memiliki teman khayalan bagi anak-anak adalah hal yang biasa. Namun, kasus Muhammad pasti telah membuat khawatir Halima dan suaminya, Harith, sampai-sampai mereka berpikir bahwa ia kesurupan setan. Ia mengalami kejang-kejang dan berhalusinasi. Pada satu peristiwa ia berkata, “Dua pria berpakaian putih datang dan melemparkan saya ke bawah dan membuka perut saya dan mencari-cari di dalamnya, entah apa yang dicari aku tak tahu.”[62] Orangtua asuhnya merasa khawatir dan Harith memberitahu Halima untuk membawa anak itu ke keluarganya sebelum akibat penyakitnya jadi nyata.

       Belakangan Muhammad memoles cerita ini dan berkata, “Dua pria berpakaian putih mendatangiku dengan baskom emas penuh dengan salju. Mereka membawaku dan membelah tubuhku. Lalu mereka mengambil jantungku dan membelahnya dan mengeluarkan gumpalan hitam dari dalamnya dan melemparkannya. Kemudian mereka mencuci mencuci jantung dan tubuhku dengan salju itu dan membuatnya menjadi murni.”[63]

       Cerita ini mungkin masuk akal baginya sebab ia, seperti orang-orang di zamannya, percaya bahwa pikiran berasal dari hati dan membayangkan pikiran kotor sebagai gumpalan hitam, dan karena salju terlihat putih dan bersih, pasti merupakan alat pembersih yang bagus.

       Kepercayaan bahwa suatu kekuatan eksternal telah mengeluarkan organ internal seseorang dan menggantinya dengan milik orang lain, atau mencucinya dan mengembalikannya lagi tanpa meninggalkan luka atau bekas luka, adalah contoh delusi skizofrenia.

       Hampir setengah dari biografi Muhammad adalah tentang mukjizat. Sira menyatakan bahwa ketika Halima membawa pulang Muhammad, tidak hanya payudaranya yang menjadi penuh oleh susu, payudara dari unta dan kambing-kambingnya menjadi penuh oleh susu dan keledainya yang sekarat yang sudah tidak bisa berjalan, berderap sepanjang jalan kembali ke desa mereka. Narasi itu mengatakan bahwa meskipun tahun itu adalah tahun kekeringan, kambing-kambing milik Halima bisa menemukan banyak makanan dan menjadi gemuk dan penuh dengan susu sementara kambing-kambing lain tidak bisa menemukan satu helai rumput pun untuk dimakan.

       Kisah lain mengatakan bahwa saat Amina hamil, ia melihat cahaya keluar dari dirinya di mana ia bisa melihat istana Busra di Suriah melalui cahaya itu.

       Mukjizat-mukjizat yang diceritakan ini diingkari oleh kejadian sebenarnya dalam kehidupan Muhammad. Sebagai salah satu contoh yang bagus adalah fakta bahwa ketika ia dan pengikutnya hijrah ke Madinah, mereka harus melakukan perampokan untuk kelangsungan mereka seperti yang kita lihat dibenarkan oleh Karen Armstrong. Tidak ada manna yang diturunkan dari surga dan tidak mukjizat yang datang kepada Muhammad.

 

Muhammad Dikembalikan Kepada Ibunya

       Setelah peristiwa kejang-kejangnya, Halima membawa anak itu kembali ke Mekah, tetapi ketika ia memberitahunya bahwa kali ini ia akan tinggal bersama ibunya, anak itu melarikan diri. Ia mencarinya kemana-mana. Ketika akhirnya ia ke rumah Amina untuk menyampaikan kabar tersebut, ia menemukan Muhammad di sana. Ia telah ditemukan oleh dua pria yang mengenalinya dan membawanya kepada ibunya.

       Lagi-lagi, Amina ingin Halima membawa anak itu. Tetapi Halima menolak dan ketika Amina tetap bersikeras, ia memberitahu Amina tentang kejang-kejang anak itu dan ketakutannya bahwa anak itu kerasukan setan.

       Ketidakpedulian Amina terhadap anaknya tidak luput dari sejarawan Muslim yang berusaha mencari-cari alasan untuk hal itu. Salah satu alasan adalah bahwa udara di gurun pasir lebih bersih. Apakah Mekah memiliki industri berat atau terlalu banyak mobil di jalanan sehingga udaranya terpolusi? Alasan lainnya adalah karena bahasa kaum Badui lebih murni. Bagaimana bahasa sekelompok penggembala bisa lebih murni daripada bahasa yang dipakai di Mekah, ummul qura (ibu dari segala kota)? Ini sama seperti mengatakan bahwa bahasa Inggeris Cockney lebih murni daripada bahasa Inggeris Oxford. Ini adalah alasan yang tidak memuaskan. Anak itu kehilangan kasih orangtuanya, sehingga mempengaruhi psikologinya.

       Kaburnya Muhammad, ketika Halima hendak mengembalikannya kepada ibunya, juga merupakan petunjuk penting, karena menunjukkan betapa sakit hati dan marahnya dia kepada ibunya. Untuk apa ia melarikan diri jika ia mengasihi ibunya? Tidakkah seharusnya ia lari menuju rumahnya dan bukan sebaliknya lari bersembunyi di bagian lain dari Mekah? Ia pasti merasakan sikap ibunya yang dingin. Setiap detil dari kisah Muhammad mengungkapkan aspek psikologisnya.

 

Kematian Amina

       Muhammad tinggal bersama ibunya selama satu tahun. Ia tidak pernah menyebut soal ibunya, barangkali sebuah kenangan yang lebih suka ia hindari. Ia bahkan mengatakan bahwa ibunya akan masuk neraka karena mati bukan sebagai Muslim.

       Amina membawa anaknya mengunjungi kakaknya yang tinggal di Yathrib, dan dalam perjalanan pulang ia meninggal di Abwa. Di usia enam tahun, anak itu dikirim ke dalam asuhan kakeknya Abdul Muttalib.

       Setelah Muhammad menaklukkan Mekah, di usia enampuluh satu, ia mengunjungi makam ibunya dalam perjalanannya kembali menuju Madinah. Ia menangis tetapi menolak untuk mendoakannya. Ia mengatakan kepada para pendampingnya, “Ini adalah makam ibuku; Allah telah mengizinkan aku mengunjunginya. Dan aku meminta izin untuk berdoa baginya, tetapi tidak dikabulkan. Jadi aku mengenang ibuku, dan kenangan lembut akan dirinya menguasai diriku, dan aku menangis.”[64]

       Tidak masuk akal jika Tuhan melarang nabinya berdoa bagi orang yang telah mati, terutama jika orang tersebut adalah ibunya, untuk dosa yang menjadi tanggungjawab Tuhan. Amina meninggal sebelum Islam ditemukan. Jadi bagaimana ia menerima sebuah agama bila agama itu belum ada dan bahkan nabi masa depannya pun tidak menyadarinya? Itu adalah Muhammad yang tidak bersedia memaafkan ibunya, bahkan setelah lebih dari setengah abad kematiannya.

       Tahun-tahun terbaik dari masa kanak-kanak Muhammad dihabiskan di rumah kakeknya. Kepala keluarga yang telah berumur ini merasa kasihan kepada cucunya yang yatim piatu dan memanjakannya dalam segala hal. Perhatian yang diberikannya tidak pernah ia berikan kepada satupun dari anak-anaknya. Sekali-sekali Muhammad akan lari ke bagian tempat tinggal kakeknya dan duduk di sebelahnya atau tidur di tempat tidurnya.

       Ia ingat perlakuan istimewa yang diterimanya dari Abdul Muttalib dan membumbuinya dengan imajinasinya, belakangan ia mengatakan bahwa kakeknya suka berkata, “ia [Muhammad] mempunyai takdir besar, dan akan menjadi pewaris kerajaan;” dan akan berkata kepada pengasuhnya Baraka (umm Ayman), “Hati-hati, jangan sampai engkau membiarkannya jatuh ke tangan orang-orang Yahudi dan Kristen, sebab mereka sedang mencarinya, dan akan melukainya!”[65]

       Kenapa ada orang yang ingin melukai orang yang mereka yakini sebagai mesias mereka? Klaim seperti ini menyingkap delusi persecutory Muhammad. Delusi persecutory adalah keyakinan seseorang bahwa ia akan dicelakai, dilecehkan, dan sebagainya oleh orang tertentu, organisasi, atau kelompok lainnya.

       Kamus Internasional Psikoanalisis menuliskan, “Kepribadian paranoid ditandai oleh sejumlah karakter umum: ketidakpercayaan dasar; kecurigaan; kesediaan untuk merasa diremehkan, dilukai atau dianiaya; cenderung mengumpulkan keluh-kesah dan dendam; dan suka balas dendam. Kepribadian paranoid khawatir atau merasa takut dieksploitasi dan disiksa; memiliki rasa curiga yang tidak rasional terhadap bahaya atau ancaman tersembunyi; mengharapkan atau mempercayai bahwa pasangannya berselingkuh, ketidaksetiaan sahabatnya, dan gagasan tentang persekongkolan yang tidak bersahabat. Selalu waspada atau berasumsi akan adanya pengkhianatan.”[66]

       Ingatlah sifat-sifat ini saat kita meninjau biografi Muhammad. Hampir semua yang ia katakan dan lakukan memastikan bahwa ia menderita gangguan kepribadian paranoia dan kepribadian narsisistik.

       Takdir tidak bermurah hati terhadap Muhammad. Setelah dua tahun hidup dengan kakeknya, sang kakek meninggal, di usia delapanpuluh dua, dan pamannya Abu Talib menjadi walinya. Abu Talib adalah kakak kandung dari Abdullah.

       Muhammad merasa getir karena kehilangan kakeknya. Saat ia mengikuti usungan jenazah menuju pemakaman Hajun, ia terlihat menangis; dan bertahun-tahun kemudian, ia tetap menyimpan kenangan indah tentang kakeknya.

 

Muhammad Di Bawah Perwalian Abu Talib

       Meskipun tidak kaya, Abu Talib dengan setia menjalankan kepercayaan tersebut. Kecintaannya kepada anak itu sama dengan Abdul Muttalib. Muhammad suka menyendiri, sering termenung dan menarik diri. Hal ini membangkitkan kasih sayang pamannya yang memanjakannya melebihi yang ia berikan kepada anak-anaknya sendiri. Ia mengizinkannya tidur di tempat tidurnya, makan di sisinya, dan pergi bersamanya setiap kali ia pergi ke luar kota. Dan perlakuan lembut ini terus ia berikan hingga Muhammad keluar dari ketidakberdayaan di masa kecilnya.[67]

       Memahami keadaan masa kanak-kanak Muhammad adalah penting agar dapat memahami psikologisnya. Sama seperti kita tahu bahwa seorang anak perlu diberikan makanan tertentu, tempat tinggal, dan perlindungan dari unsur-unsur ekstrim, bahwa ia membutuhkan udara yang bersih dan air yang bersih agar tubuhnya bisa menjadi kuat dan tangguh, ia juga membutuhkan lingkungan yang tegas yang tanggap terhadap kebutuhan psikologisnya.

       Anak-anak membutuhkan kasih tanpa syarat di setiap tahap perkembangannya. Saat mereka mencapai usia lima tahun mereka harus mulai diajari disiplin. Kebutuhan narsisistik mereka harus dipenuhi saat mereka masih bayi dan balita. Secara bertahap mereka harus belajar bahwa mereka bukan pusat alam semesta dan bahwa ada orang lain yang sama pentingnya dengan mereka.

       Apa yang terjadi jika keadaan ini dibalik? Jon Mardi Horowitz, penulis Stress Response Syndromes, menjelaskan: “Ketika gratifikasi kebiasaan narsis yang timbul karena dipuja, diberi perlakuan istimewa, dan mengagumi diri menjadi terancam, akibatnya bisa menjadi depresi, selalu murung, gelisah, malu, destruktif diri, atau kemarahan yang ditujukan kepada orang lain yang bisa dipersalahkan atas situasi yang bermasalah. Anak dapat menghindari keadaan emosi yang menyakitkan ini dengan mendapatkan cara pengolahan informasi narsisistik.”[68]

       Muhammad mengalami pengabaian dan penelantaran selama enam tahun pertama kehidupannya, dan hidup serba diperbolehkan setelah itu. Gigitan yang ia berikan kepada Shayma, kakak angkatnya, adalah pertanda besarnya amarah yang ia miliki. Kemudian ia hidup dimanja. Oleh karenanya, itu menjadi keadaan yang mendukung dan kondusif baginya untuk menjadi seorang yang narsisis.

       Psikolog memberitahukan kepada kita bahwa lima tahun pertama dari kehidupan seorang anak adalah tahun yang paling penting bagi pembentukan kepribadiannya. Kebutuhan emosional Muhammad di tahun-tahun awal ini tidak terpenuhi. Ia membawa kenangan menyakitkan dari tahun-tahun kesepian itu hingga dewasa dan masa tuanya. Ia dibesarkan dengan perasaan tidak aman dan memiliki rasa harga diri yang tidak stabil, kelemahan yang ia coba sembunyikan dengan kesombongan yang berlebihan, menumbuhkan rasa bahwa ia berhak atas segala hal, maha hebat, dan ilusi superioritas.

 

Perjalanan Ke Suriah

       Ketika Muhammad berusia 12 tahun, Abu Talib merencanakan untuk pergi dengan rombongan karavan ke Suriah. Pada hari keberangkatannya, Muhammad mencengkeram pamannya dan menangis tersedu-sedu hingga pamannya yang berhati lunak merasa kasihan dan membawanya.

       Potongan informasi ini tidaklah insignifikan. Ini adalah indikasi lain dari kerusakan emosional yang telah diderita Muhammad selama masa kanak-kanak. Takut ditinggalkan adalah ciri narsisistik.

       Penulis biografi mengatakan bahwa ketika rombongan karavan tiba di Busra, Suriah, seorang rahib bernama Bahira yang memiliki pengetahuan tentang kitab suci Kristen, yang diturunkan kepadanya dari generasi ke generasi mengenali Muhammad sebagai nabi yang ditunggu-tunggu. Bahira melihat segumpal awan menudungi Muhammad dengan bayangannya dan cabang-cabang pohon tempat ia beristirahat membungkuk dan terkulai di atasnya. Sehingga ia mengadakan pesta dan mengundang setiap orang yang ada dalam rombongan karavan tersebut. Ia lalu menatap Muhammad memeriksa tanda-tanda kenabian pada dirinya dan melihat bahwa mereka sesuai dengan apa yang ia baca di buku-buku. Ia menatap punggungnya dan melihat materai kenabian dan menjadi yakin bahwa ia adalah nabi yang dijanjikan. Ia lalu memberitahukan kepada Abu Talib, yang mengatakan bahwa Muhammad adalah anaknya, bahwa ia tidak mungkin ayah dari anak tersebut sebab berdasarkan nubuat ayah dari anak tersebut telah meninggal. Abu Talib menjawab bahwa ia adalah keponakannya. Bahira lalu memberitahukan kepadanya bahwa anak itu adalah anak yang dijanjikan dan bahwa Abu Talib harus segera membawanya pulang dengan segera dan jangan sampai orang-orang Yahudi dan Kristen melihatnya sebab mereka akan membunuhnya.[69]

       Apa yang terjadi dengan buku-buku yang memiliki deskripsi tentang Muhammad itu? Tidak ada disebutkan  tentang Muhammad di kitab suci Kristen atau Yahudi manapun. Bagaimana semua tulisan itu bisa lenyap bila semua orang Kristen dan Yahudi mengetahuinya dan dapat mengenalinya karena apa yang telah mereka baca? Kristus hanya memperingatkan tentang nabi-nabi palsu. Tidak ada dikatakan di dalam Alkitab bahwa seorang Arab akan bangkit sebagai nabi. Bagaimana mungkin saat orang-orang menemukan mesias mereka yang dijanjikan dan kemudian ingin membunuhnya? Ini bertentangan dengan akal sehat, tetapi konsisten dengan referensi tentang narsisis dan delusi paranoid.

       Muhammad memiliki tahi lalat besar di antara bahunya. Ia mengklaim bahwa itu adalah tanda kenabian. Apakah ada buku keagamaan yang mengkonfirmasi bahwa memiliki tahi lalat besar di antara kedua bahu adalah tanda kenabian?

       Yang terakhir, jika Bahira memberitahu Abu Talib bahwa Muhammad adalah nabi yang dijanjikan, mengapa Abu Talib tidak pernah menjadi Muslim? Kita tidak bisa memastikan apakah pernyataan-pernyataan ini dibuat-buat oleh Muhammad atau yang dikarang-karang belakangan. Sira penuh dengan kisah-kisah seperti ini.

 

Masa Muda Muhammad

       Tidak ada yang terjadi di masa muda Muhammad, tidak cukup penting baginya untuk dibicarakan. Ia pemalu, pendiam, dan tidak bisa bersosialisasi. Ia sensitif terhadap statusnya sebagai anak yatim piatu. Kenangan akan masa kecilnya yang kesepian menghantui dirinya sepanjang hidupnya.

       Ia menceritakan, “Aku tidak pernah tertarik dengan perbuatan orang-orang jahiliyyah, kecuali dua kali, ketika aku dihalangi oleh Allah, sampai aku ditunjuk sebagai Nabi.”[70]

       Jahiliyyah artinya era kebodohan. Muhammad merendahkan segala sesuatu yang tidak Islami sebagai jahiliyyah.

       Pada kedua peristiwa itu ia menjelaskan bahwa ia tergoda untuk pergi ke pesta pernikahan dan menikmati malam itu sebagaimana yang dilakukan para pemuda, tetapi ia tidak bisa masuk dan jatuh tertidur. Ia mengklaim bahwa Tuhan telah melindunginya sehingga ia tidak terlibat dalam kejahatan, misalnya mendengarkan musik. Tidak jelas kenapa Muhammad berpikir musik, tarian dan bergembira adalah dosa, sedangkan merampok, memperkosa, mencuri, dan membunuh bukan dosa.

       Di tempat lain, berbicara tentang masa mudanya, Muhammad berkata, “Aku mendapati diriku di antara para pemuda Quraisy, mengangkat batu-batu yang biasa dimainkan anak-anak lelaki. Kami semua membuka pakaian kami, masing-masing mengambil baju (kain pembungkus) dan mengalungkannya di leher saat ia mengangkat batu-batu tersebut. Aku berjalan mondar-mandir dengan cara yang sama, ketika sebuah sosok gaib menampar saya dengan menyakitkan sambil berkata, ‘Pakai bajumu’.”[71]

       Ilmu pengetahuan memberi kita penjelasan yang lebih baik tentang “tamparan” itu. Apa yang dialami Muhammad dalam kasus di atas dan ketika ia jatuh tertidur, (kehilangan kesadaran) ketika ia hendak pergi ke pesta pernikahan, kemungkinan besar adalah serangan kejang. Serangan kejang terjadi ketika sejumlah besar sel mengirimkan muatan listrik pada waktu yang sama. Gelombang listrik yang tidak normal dan kuat ini membebani otak dan mengakibatkan serangan kejang, yang dapat menyebabkan kejang otot, kehilangan kesadaran, atau gejala-gejala lainnya.

       Serangan kejang juga dapat terjadi dalam kondisi tertentu, contohnya, kekurangan oksigen, trauma pada kepala, atau penyakit. Muhammad rentan terhadap serangan kejang, yang disertai dengan kekejangan, nyeri, dan halusinasi pendengaran dan penglihatan.

       Rasa sakit emosional dapat memperburuk rasa sakit fisik. Kesedihan, kemarahan terpendam, kegelisahan, rasa malu dan bersalah dan menyebabkan rasa sakit jasmani. Amarah melepaskan adrenalin, yang menyebabkan ketegangan pada otot dan mempercepat pernafasan. Rasa malu dan rasa bersalah sering mengakibatkan mulas atau perasaan berat di bagian perut.

       Semua ini memberitahukan kepada kita bahwa Muhammad tidak merasa nyaman berbaur bersama teman sebayanya dan bersenang-senang seperti pemuda normal lainnya. Akibatnya ia lebih banyak hidup sendiri.

       Tahun berganti tahun. Muhammad tetap menjadi penyendiri, menyendiri dalam dunianya sendiri, menjaga jarak dan menarik diri. Bukhari mengatakan bahwa ia “lebih pemalu dari gadis perawan bercadar.”[72] Ia tidak mampu menjalin persahabatan dengan pemuda seusianya atau hubungan dengan wanita. Ia tetap hidup selibat sampai ia menikah. Hidup selibat di masa mudanya jangan disangka sebagai sebuah tindak kesucian. Ketika ia memegang tampuk kekuasaan, ia tidak punya masalah memperkosa wanita yang ditangkap dalam aksi penyerangannya.

       Muhammad tidak terlibat dalam pekerjaan apapun maupun belajar berdagang. Dari waktu ke waktu ia akan mengurus domba-domba pamannya, sebuah pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan wanita oleh orang Arab. Ini lebih cocok dengan temperamennya yang tertutup, sebab tidak memerlukan interaksi dengan manusia lain. Narsisis memiliki kesulitan untuk berhubungan dengan orang lain sebagai makhluk yang setara. Jika mereka tidak bisa berada dalam posisi superioritas, mereka akan menghindari interaksi sama sekali.

 

Pekan Raya Okaz

       Di Okaz ada pekan raya tahunan di mana orang-orang Arab bertemu untuk melakukan transaksi perdagangan. Itu juga merupakan acara budaya. Para penyair memamerkan bakat mereka dan orator memamerkan seni deklamasi mereka. Para musisi tampil untuk penonton mereka dan para penari menghibur para penonton. Peramal memperdagangkan jimat mereka, pendongeng memikat penonton dengan kisah-kisah mereka tentang raja-raja, dan pengkhotbah menyebarkan agama. Agama Kristen sedang berkembang pesat. Landasan bagi monoteisme telah diletakkan.

       Ketika masih muda, Muhammad menghadiri pekan raya ini dan ia secara khusus sangat terpesona dengan pidato Qays ibn Sa’ada, uskup dari Najran. Ia tidak pernah mengambil bagian di dalam kegiatan olaraga kaum muda lainnya dan menghindari perkumpulan mereka. Tetapi ia menikmati khotbah-khotbah agama. Sebagai seorang anak yatim piatu yang mendambakan kasih sayang, rasa kagum, dan rasa hormat, ia pasti memiliki angan-angan menjadi nabi dan menerima semua rasa hormat yang dinikmati oleh nabi-nabi.

 

Perang Yang Mencemari Kesucian

       Ketika Muhammad mencapai usia dua puluh, sebuah perang pecah di antara suku Quraisy dan suku Arab lainnya. Perang itu dikatakan Mencemari Kesucian karena terjadi pertumpahan darah di sekitar Mekah yang bagi orang-orang Arab merupakan tanah suci. Mereka tidak pernah berperang di dalam ataupun di sekitar Mekah. (Belakangan Muhammad melanggar aturan itu.) Perannya dalam perang tersebut adalah mengumpulkan panah-panah selama terjadi gencatan senjata, lalu menyerahkannya kepada pamannya. Ia juga mengklaim telah melontarkan beberapa panah.[73] Muhammad mengobarkan banyak perang tetapi tidak satupun dari semua itu di mana ia maju secara pribadi. Ia berdiri di belakang, seringkali di bawah perlindungan pengawalnya sambil mendorong pasukannya untuk bersikap berani dan meyakinkan mereka akan pahala mereka. Seperti disebutkan Muir, “Sesungguhnya keberanian fisik dan kenekatan ilmu bela diri bukanlah sifat utama sang Nabi di tahap manapun dari karirnya.”[74]

 

Muhammad Mendapat Pekerjaan

       Muhammad telah mencapai usia duapuluh lima, tetapi masih hidup bergantung kepada pamannya. Abu Talib memiliki beberapa anak. Agak sulit baginya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang besar.

       Abu Talib adalah petugas penjaga Ka’bah, posisi politik tertinggi untuk warga Mekah. Dia adalah seorang pembesar dan seluruh anggota keluarganya melek huruf. Bahkan anak-anak perempuan di klan itu bisa membaca dan menulis. Bibi-bibi Muhammad semuanya penyair. Sama seperti paman-paman dan sepupu-sepupunya, Muhammad pasti menerima pendidikan, dan kemudian tentunya putus sekolah. Beberapa hadis menunjukkan bahwa ia bisa membaca, tetapi juga jelas bahwa keaksaraannya sangat terbatas dan bahwa ia tidak pernah membaca satu buku pun seumur hidupnya.

       Narsisis suka melamun, akibatnya mereka mengalami gangguan defisit perhatian. Mereka juga merasa tidak nyaman di tengah rekan-rekan sebayanya. Kedua faktor ini menjelaskan mengapa tidak seperti anggota keluarga lainnya, Muhammad tetap setengah buta huruf. Ia juga tidak belajar tentang perdangan. Tanpa ketrampilan apa-apa, bagaimana ia bisa mendapatkan pekerjaan?

       Dipaksa oleh kemiskinan, akhirnya Abu Talib memutuskan untuk mencoba mengatur agar keponakannya  bisa mencari nafkah bagi dirinya sendiri. Ia memberitahukan kepadanya, “Seperti yang kamu ketahui, saya berpenghasilan terbatas; dan kehidupan cukup berat. Saat ini ada rombongan karavan yang akan berangkat menuju Suriah dan Khadijah anak dari Khuweilid butuh pria-pria dari kaum kita untuk dikirim bersama barang-barang dagangannya. Jika kamu menawarkan diri, ia akan siap sedia mempekerjakanmu. Apakah kamu mau saya membicarakan hal ini dengannya?” Muhammad merespons, “Jika itu yang paman inginkan.” Jadi Abu Talib mendatangi Khadijah dan berkata, “Apakah Anda bersedia mempekerjakan Muhammad?” Khadijah setuju dan karena masih kerabat Abu Talib ia bahkan memberikan lebih dari upah yang biasa.[75]

       Sejak itu, Muhammad memangku jabatan sebagai amin (wali amanat). Ini adalah gelar pedagang yang membawa barang dagangan orang lain dan diperdagangkan mewakili pemiliknya. Amin juga berarti dipercaya. Kaum muslim mengklaim bahwa Muhammad dipanggil Amin karena ia adalah orang yang jujur. Hal ini tidak benar. Quran mengatakan bahwa penduduk Mekah menyebut Muhammad pembohong  dan orang gila. Seperti yang akan kita lihat nanti, ia sering berbohong dan mengizinkan pengikutnya untuk berbohong dan menipu.

 

Muhammad Dikenali oleh Rahib lain

       Ibn Ishaq mengatakan bahwa Muhammad membawa barang dagangan Khadijah ke Suria dan Khadijah mengirimkan bersamanya seorang anak lelaki bernama Maysara. Ketika Muhammad berteduh di bawah pohon yang dekat dengan tempat tinggal seorang rahib, rahib tersebut mendekat dan bertanya kepada Maysara siapa pria yang sedang beristirahat di bawah pohon. Ia memberitahukan kepadanya bahwa Muhammad berasal dari kaum Quraisy, kaum yang menjadi pengurus tempat kudus; dan si rahib berseru, “Tak ada orang lain selain seorang nabi yang pernah duduk di bawah pohon ini.” Sangat jelas siapa saja yang memiliki pengetahuan tentang Alkitab bisa segera mengenali Muhammad bila bertemu dengannya. Tetapi semua tulisan yang menjelaskan tentang dirinya telah menghilang secara misterius dari antara ribuan salinan Kitab Suci yang tersebar di tiga benua.

       Cerita tersebut berlanjut bahwa dalam perjalanan kembali, pada tengah hari ketika matahari sangat terik saat ia mengendarai keledainya, Maysara melihat dua orang malaikat menudungi Muhammad dari sinar matahari.[76]

 

Muhammad Menikah dengan Khadijah

       Sekembalinya Muhammad dari perjalanannya ke Suriah, Khadijah merasa tertarik kepadanya. Ia menginstruksikan salah seorang saudari atau pelayannya untuk mencari tahu apakah Muhammad bersedia menikah dengannya. Muhammad sangat bersedia. Tetapi ada beberapa kendala yang menghalangi.

       Khadijah berusia empat puluh tahun, cantik dan janda kaya. Ia adalah wanita terkaya di Mekah. Banyak pria berkuasa yang ingin menikahinya dan ia menolak semuanya. Muhammad adalah pemuda yang tidak memiliki apa-apa dan tidak punya nama. Ia tidak memiliki pekerjaan, uang, maupun ketrampilan. Meskipun sudah berusia 40, dalam masyarakat patriarkis seperti Mekah, Khadijah butuh izin dari ayahnya. Ini tidak gampang.

       Ia merancang rencana yang berani. Tahu akan kelemahan ayahnya terhadap minuman keras, ia mengundang ayahnya, menyuguhinya minuman anggur, dan ketika ayahnya mabuk, ia menaburinya dengan wangi-wangian dan mengenakan pakaian Yaman yang mahal. Ia lalu menyiapkan pesta dan mengundang Muhammad dan pamannya dan saat ayahnya  masih mabuk, ia mendapat restunya untuk menikah dengan Muhammad.

       Ketika Khuweilid sadar dari mabuknya, ia melihat ke sekelilingnya dengan heran. Ia menanyakan apa maksud dari tanda-tanda adanya pesta pernikahan, sapi yang dipotong, wangi-wangian, dan pakaian pernikahan. Ketika ia diberitahu akan apa yang terjadi, kepadanya diberitahu “pakaian pernikahan itu dikenakan Muhammad kepadamu, menantumu;” ia menjadi sangat marah dan menyatakan bahwa ia tidak akan pernah setuju untuk memberikan kepada pemuda tanpa nama seorang puteri yang ditaksir oleh orang-orang hebat Quraisy. Rombongan Muhammad menjawab dengan marah bahwa rancangan pernikahan itu bukan berasal dari mereka, tetapi tidak lain dan tidak bukan merupakan tindakan puterinya sendiri. Kedua belah pihak mengeluarkan senjata dan pertumpahan darah nyaris terjadi, ketika Khadijah turun tangan dan rekonsiliasi pun terjadi.[77]

       Kisah memalukan di atas diceritakan oleh Tabari dan Ibn Sa’d, tetapi ibn Hisham telah menghilangkannya dari Sira Ibn  Ishaq dan Waqidi menyangkali keotentikannya. Kaum Muslim juga membuat sebuah hadis yang mengatakan bahwa Khuwelid mati saat kejadian itu dan Khadijah dinikahkan dengan Muhammad oleh paman dari Khadijah. Penyangkalan ini memang sudah diharapkan. Ada banyak hadis palsu lainnya yang dikarang-karang untuk menghindari rasa malu. Dengan sedikit akal sehat tidak sulit untuk menentukan versi mana yang benar dan mana yang tidak. Tidak mungkin kaum Muslim akan mengarang sebuah hadis, sedemikian luarbiasanya sehingga bisa mempermalukan mereka.

       Mengapa seorang wanita berstatus tinggi dan cantik jatuh cinta dan menikah dengan seorang pemuda miskin, ini saja sudah merupakan permasalahan yang menarik. Khadijah hampir sama umurnya dengan Amina. Ia lebih cocok menjadi ibu Muhammad. Sesungguhnya selama pernikahan mereka ia bersikap seperti ibu terhadap Muhammad, dan Muhammad, bersikap seperti anaknya.

       Dalam buku Understanding Muhammad, saya telah memberikan penjelasan detil tentang dinamisme antara Muhammad dan Khadijah. Di sini saya akan katakan dengan singkat bahwa ia bersifat ko-dependen (kebalikan dari narsisis). Mereka membentuk hubungan yang simbiosis, berdasarkan sifat saling membutuhkan. Seorang narsisistik dan seorang ko-dependen saling menarik satu sama lain, dan biasanya hubungan mereka bertahan lama. Namun itu bukan hubungan karena cinta.

       Dalam sepuluh tahun Khadijah melahirkan enam orang anak bagi Muhammad. Yang pertama adalah anak lelaki bernama Qasim dari situlah asal julukan Muhammad, Abul Qasim. Qasim meninggal di usia dua tahun. Anak kedua adalah Zeinab. Kita akan membicarakan tentang dirinya nanti. Ia diikuti oleh Ruqayyah dan Umm Kulthom. Kedua anak perempuan ini menikah dengan Uthman ibn Afan yang kemudian menjadi khalifah ketiga, dan keduanya mati tidak lama setelah itu. Anak perempuan terakhir bernama Fatimah Zahra yang menikah dengan Ali, sepupu dari Muhammad dan khalifah keempat. Dia adalah satu-satunya anak perempuan yang selamat dari ayahnya, tetapi hanya untuk enam bulan. Anak lelaki kedua adalah Abdul Menaf. Ia juga meninggal saat masih bayi. Manaf adalah nama dewa pagan. Untuk menyembunyikan namanya yang memalukan, kaum Muslim memberikan berbagai macam nama kepada anak ini, seperti Abdullah, Tayib, dan Tahir. Namun, hal itu tidak seharusnya membuat malu kaum Muslim, karena Muhammad sendiri tidak malu untuk mengakui, “Aku telah mempersembahkan seekor domba putih bagi al Uzza, saat aku masih menjadi pengikut agama kaumku.”[78]

       Setelah pernikahannya dengan Khadijah, Muhammad mulai memperoleh status. Dari yang bukan siapa-siapa, ia menjadi suami dari wanita terhormat dan kaya. Baginya hal ini merupakan pencapaian besar. Angan-angannya tentang kebesaran telah menjadi kenyataan.

       Selain status, semua kebutuhan finansialnya juga terpenuhi. Ia tidak perlu lagi bekerja dan ia memang berhenti bekerja. Orang narsisis itu pemalas. Mereka merasa berhak mendapat tanpa perlu memberikan usaha yang sepadan. Mengapa harus berusaha bila Anda dapat memanipulasi orang lain untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan? Sebaliknya, orang yang ko-dependen suka mengorbankan diri. Mereka mendapatkan kepuasan diri dengan memberi dan mengurus orang yang membutuhkan mereka. Hubungan antara seorang narsisis dan seorang ko-dependen adalah bentuk sadomasokisme di mana masing-masing pihak memuaskan kebutuhan yang lainnya.

 

 

 

Peran Muhammad dalam Pembangunan Kembali Ka’bah

       Ketika Muhammad berusia 35 tahun, Ka’bah dalam keadaan rusak dan masyarakat Mekah memutuskan untuk membangunnya kembali. Ketika tiba waktunya untuk menempatkan batu hitam di pojoknya, berbagai klan mulai bertengkar untuk mendapatkan kehormatan itu. Karena mereka tidak bisa mencapai kata mufakat, mereka memutuskan untuk menunjuk pria pertama yang memasuki mesjid itu sebagai wasit. Pria pertama yang masuk ternyata Muhammad. Mereka memberitahukan kepadanya tentang kesepakatan mereka dan semua mata tertuju kepadanya. Ia sekarang menjadi pusat perhatian semua orang dan penengah mereka. Ini adalah dorongan besar atas rasa harga dirinya. Yang dibutuhkan oleh seorang narsisis untuk merasa bahwa ia berada di puncak dunia adalah sedikit pasokan narsisistik. Dan Muhammad tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia memerintahkan untuk menebarkan sebuah jubah di atas tanah dan batu hitam tersebut diletakkan di atasnya. Lalu ia meminta wakil dari masing-masing klan untuk memegang sudut jubah dan mengangkatnya bersama-sama. Ketika batu itu sudah berada pada ketinggian yang diinginkan, ia sendiri yang mengambilnya dan meletakkannya di tempatnya, dengan demikian mengambil kemuliaan bagi dirinya sendiri. Bagi Muhammad ini merupakan puncak hidupnya sebelum klaimnya atas kenabian – prestasi terbesarnya.

       “Apa yang dilakukan oleh Muhammad selama lima belas tahun antara pernikahannya dan panggilan kenabiannya,” tanya Tarif Khalidi. “Sebagaimana yang kita lihat di atas, anehnya Sira tidak mengatakan apa-apa.”[79] Sira tidak mengatakan apa-apa karena ia bukan orang penting. Ia tidak cukup layak untuk diperhatikan siapa pun.

 

Kehidupan yang Tertutup

       Muhammad suka menghabiskan waktunya dengan menyendiri. Ia akan meninggalkan isteri dan anak-anaknya di rumah, membawa bekal dan pergi ke sebuah gua bernama Hira, di bukit Noor, dekat Mekah. Aisha menarasikan, “Allah membuatnya mencintai kesendirian sehingga tidak ada yang lebih ia sukai selain menyendiri.”[80]

       Orang yang narsisis butuh dipandang dalam cahaya kemuliaan, dan bersama dengan orang-orang yang akan mencerminkan keistimewaan mereka. Apabila itu tidak bisa didapatkan mereka menarik diri dari masyarakat dan menjadi penyendiri.

       Otto Friedmann Kernberg, seorang psikoanalis dan dosen bidang studi psikiatri di Weill Cornell Medical College dan seorang pakar tentang narsisisme berkata, “Kondisi dasar dalam NPD biasanya adalah perasaan kosong karena menyendiri. Para penderita ini biasanya tidak mampu belajar dari orang lain, sangat membutuhkan dorongan, dan merasa bahwa hidup itu tidak berarti. Mereka memiliki sifat merasa bosan bila kebutuhan mereka untuk dikagumi dan kesuksesan tidak terpenuhi.”

       Muhammad bukan pencari nafkah. Bisnis Khadijah merosot. Bagi Khadijah, Muhammad seperti anak lain yang harus diurusnya. Ia ingin menikahi seseorang yang membutuhkan sehingga orang ini bergantung kepadanya dan ia bisa mengurus orang ini. Inverted narsisis sangat mendambakan berada dalam hubungan dengan seorang yang narsisistik,” kata Dr. Sam Vaknin, penulis Malignant Self Love, “terlepas dari pelecehan yang dilakukan terhadap dirinya. Ia secara aktif mencari hubungan dengan orang yang narsisistik dan hanya dengan orang yang narsisistik, tidak peduli dengan pengalaman (pahit dan traumatis) di masa lalunya. Ia merasa kosong dan tidak bahagia bila berhubungan dengan orang yang non-narsisistik.”[81]

       Hanya dengan wawasan ini kita bisa melihat mengapa seorang wanita sukses dan menarik seperti Khadijah mau menikah dengan pemuda miskin seperti Muhammad, menguruskan seperti seorang ibu, dan mengabaikan sikap acuh tak acuhnya terhadap keluarga dan tanggung jawabnya sebagai seorang pria.

 

Muhammad Menerima Wahyu

       Suatu malam, saat tidur di gua Hira, Muhammad mengalami hal yang aneh. Ia merasakan sakit di bagian rusuknya, seolah-olah seseorang telah menendangnya. Ia terbangun dan tidak melihat siapa pun. Ia mencoba untuk tidur lagi dan kembali merasa seseorang menendang bagian rusuknya, tetapi tidak ada siapa pun di sana. Hal ini terjadi tiga kali, hingga ia melihat sebuah penampakan, cahaya putih dan di dalam cahaya itu berdiri sesosok manusia. “’Ia mendatangiku,’ kata Rasulullah, ‘saat aku tidur, dengan selimut brokat yang di atasnya terdapat tulisan, dan berkata, ‘Baca!’ Aku berkata, ‘Apa yang harus kubaca?’ Ia membekapku dengan selimut itu untuk ketiga kalinya sampai aku berpikir ini adalah kematian dan ia berkata lagi, ‘Baca!’ Aku berkata, ‘Apa yang harus kubaca?’ – dan aku mengatakan ini hanya demi menyelamatkan diriku darinya, jangan-jangan ia akan melakukan hal yang sama lagi terhadapku. Ia berkata:

Baca dalam nama Allahmu yang menciptakan,

Yang menciptakan manusia dari gumpalan darah,

Baca! Allahmu adalah yang paling dermawan,

Yang mengajar dengan pena,

Mengajarkan apa yang tidak diketahui manusia.[82]

       Sulit untuk dipercaya bahwa Tuhan akan berkomunikasi dengan para nabiNya dengan cara yang lucu seperti ini. Apa yang dialami Muhammad adalah contoh khas kejang yang disebabkan oleh epilepsi lobus temporal. Dalam buku Understanding Muhammad, saya telah mendedikasikan satu bab untuk topik ini.

       Muhammad tertegun. Ia melihat ke kiri dan ke kanan dan kemanapun ia menoleh ia melihat Gabriel berdiri di depannya. Itu adalah petunjuk yang jelas bahwa sosok yang ia lihat hanya ada di dalam kepalanya, bukan di luar dirinya. Itu adalah bagian dari imajinasinya. Kita tidak bisa memiliki bukti yang lebih baik lagi bahwa apa yang ia alami adalah halusinasi.

       Muhammad berpikir bahwa ia telah kerasukan setan, atau kerasukan roh penyair. Untuk alasan yang hanya ia ketahui, ia membenci para penyair. Ia berkata, “Lebih baik perut kalian dijejali dengan nanah, daripada menjejali (pikiran seseorang) dengan puisi.”[83] “Tidak ada makhluk Allah yang lebih membenci aku daripada penyair atau orang kesurupan,” katanya, “ Aku bahkan tidak bisa memandang mereka. Aku berpikir, celakalah aku penyair atau kesurupan? Kaum Quraisy tidak akan pernah mengatakan hal ini kepadaku! Aku akan pergi ke puncak bukit dan menjatuhkan diriku ke bawah supaya aku terbunuh dan dapat beristirahat dengan tenang. Jadi aku berangkat untuk melaksanakannya dan kemudian, saat aku di tengah perjalanan menuju puncak bukit, aku mendengar suara dari langit berkata, ‘O Muhammad! Engkau adalah rasul Allah dan aku adalah Jibril.’ Aku mendongakkan kepalaku ke arah langit untuk melihat (siapa yang berbicara), dan sesungguhnya, Jibril dalam wujud manusia dengan kaki mengangkang di cakrawala. Berkata, ‘Wahai Muhammad! Engkau adalah rasul Allah dan aku adalah Jibril.”[84]

       Muhammad pulang ke rumah dengan ketakutan dan gemetar. “Aku mendatangi Khadijah dan duduk di pangkuannya dan merapatkan diriku padanya.”[85] Ia kemudian menceritakan pengalamannya. “Lindungi aku, lindungi aku,” ia memohon isterinya. Cobalah untuk membayangkan Muhammad, pria berusia empat puluh, duduk di pangkuan Khadijah, seperti seorang balita, dan Khadijah berusaha menenangkannya.

       “Puer Aeternus,” kata Sam Vaknin, “remaja abadi, Peter Pan yang abadi, adalah fenomena yang sering dikaitkan dengan narsisme patologis. Orang-orang yang menolak untuk menjadi dewasa memberi kesan kepada orang lain sebagai orang yang egois dan penyendiri, suka merajuk dan bandel, congkak dan penuntut – singkatnya: seperti anak kecil atau kekanak-kanakan. Orang narsisistik adalah orang dewasa parsial. Ia berusaha menghindari kedewasaan. Beberapa narsisis bahkan kadang-kadang menggunakan nada suara kekanak-kanakan dan meniru bahasa tubuh balita. Mereka menolak atau menghindari tugas-tugas dan fungsi orang dewasa. Mereka tidak mau berusaha menguasai ketrampilan orang dewasa atau pendidikan formal orang dewasa. Mereka melemparkan tanggungjawab orang dewasa kepada orang lain, termasuk dan khususnya kepada orang-orang terdekat dan terkasih mereka. Mereka tidak memiliki pekerjaan tetap, tidak pernah menikah, tidak pernah membesarkan anak-anak, menyembunyikan asal-usul, tidak memelihara persahabatan yang sejati atau hubungan yang bermakna.”[86]

       Semua ini cocok dengan Muhammad, kecuali bahwa ia menikah, bukan hanya sekali tetapi berkali-kali. Tetapi apakah itu benar-benar pernikahan? Hubungannya dengan Khadijah adalah hubungan ibu dan anak. Ia tidak pernah berfungsi sebagai seorang pria – seorang pencari nafkah, seorang pelindung. Ia tidak pernah memenuhi tanggungjawabnya sebagai suami atau ayah. Ia bukan anggota masyarakat yang aktif. Ia tinggal sebagai seorang penyendiri di gua. Dan setelah Khadijah, ia menjadi kumbang seksual, menikahi atau hanya bersetubuh dengan sejumlah wanita, tanpa ikatan pernikahan yang sebenarnya dengan mereka. Bagaimana seorang pria berusia limapuluhan bisa menciptakan hubungan pernikahan yang berarti dengan wanita yang seharusnya menjadi anaknya atau bahkan cucunya? Tak satupun hubungan Muhammad yang sesuai dengan definisi pernikahan, yang merupakan kemitraan dari dua orang yang sepadan. Para isteri dan gundiknya hanyalah sekedar objek untuk dinikmati, mainan untuk dimainkan atau sebagaimana ditekankan oleh kaum Muslim, sebagai pion dalam langkah politiknya.

       Ketika Muhammad memberitahu Khadijah, “Khadijah, aku pikir aku telah menjadi gila,”[87] insting untuk melindungi si narsisisnya yang sedang membutuhkan langsung tergerak. Seorang inverted narsisis bergantung kepada pendamping narsisisnya untuk memenuhi kebutuhan narsistiknya. Ia mengupayakan kehebatannya dalam bayangan pendamping narsisisnya. Khadijah dihadapkan kepada dua pilihan: Mengakui bahwa pendamping narsisisnya telah menjadi gila dan menghadapi ejekan orang-orang yang mencemooh dirinya ketika ia menikah dengan Muhammad atau mendukung halusinasinya dan mendorongnya untuk merintis karir kenabian. Pilihan pertama berarti dipermalukan di depan publik dan pilihan kedua berarti kemuliaan. Pilihan yang sangat jelas baginya. Inverted narsisis adalah kebalikan dari narsisis. Pegangannya terhadap realita sama rapuhnya dengan orang yang narsisis.

       Jika Khadijah adalah wanita normal, ia tentu akan terkejut dan akan meminta bantuan. Ia tentu akan memanggil pengusir setan atau tabib untuk menyembuhkan suaminya. Sesungguhnya jika ia memang normal ia tidak akan pernah menikahi Muhammad. Tetapi sebagai inverted narsisis ia meyakinkan Muhammad bahwa ia telah menjadi seorang nabi. Ia berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari hal itu wahai Abul Qasim. Allah tidak akan memperlakukan engkau demikian sebab ia tahu tentang kejujuranmu, kau sungguh dapat dipercaya, karaktermu yang baik, dan kebaikanmu. Hal ini tidak mungkin, sayangku. Bersukacitalah, dan berbesar hatilah. Sesungguhnya oleh dia yang memegang jiwaku, aku memiliki harapan bahwa engkau akan menjadi nabi bagi orang-orang ini.”[88]

       Hadis mengatakan bahwa Khadijah berangkat menemui sepupu tuanya Waraqa ibn Naufal yang telah menjadi Kristen. Ia memberitahu sepupunya apa yang telah terjadi kepada suaminya dan sepupunya meyakinkan dirinya bahwa Muhammad telah menerima wahyu yang sama yang diterima oleh Musa dan Yesus. Kebetulan sekali, Waraqa meninggal tidak lama setelah menyatakan Muhammad sebagai nabi Tuhan sehingga tidak ada seorangpun yang dapat menyanggah apa yang diklaim oleh Muhammad dan Khadijah. Namun, ada sesuatu dalam cerita itu yang membuatnya janggal. Dikatakan bahwa Waraqa mengenali Muhammad sebagai nabi karena pengetahuannya akan kitab-kitab suci. Hal ini tidak benar. Tidak ada dalam kitab suci Yahudi maupun Kristen yang mengisyaratkan tentang akan datangnya seorang nabi dari Arabia.

       Ceritanya berlanjut dengan mengatakan bahwa Waraqa meramalkan Muhammad akan ditolak dan diusir oleh kaumnya. Apakah Waraqa seorang cenayang? Bagaimana ia bisa mengetahui hal-hal ini? Hadis ini, jika bukan buatan Muhammad tentunya merupakan karangan bertahun-tahun kemudian.

 

Laporan dari Peramal-peramal Arab, tentang Muhammad

       Ibn Hisham mengatakan, “Rabi orang Yahudi, rahib orang Kristen, dan peramal-peramal Arab telah membicarakan tentang rasul Allah sebelum misinya dimulai saat waktunya telah dekat. Ada pun kepada para rabi dan rahib, diberitahu tentang gambaran dirinya dan penjelasan tentang waktu kedatangannya yang mereka temukan dalam kitab-kitab suci dan apa yang telah diperintahkan oleh nabi-nabi mereka kepada mereka. Sedang kepada para peramal Arab, mereka telah dikunjungi oleh setan-setan yang dikirim jin dengan laporan-laporan yang diam-diam telah mereka dengar sebelum akhirnya mereka dihalang-halangi untuk mendengar dengan dilempari bintang-bintang.”[89]

       Ia mencoba memvalidasi klaim yang dibuat dalam Quran bahwa kitab-kitab suci orang Yahudi dan Kristen ada menyinggung tentang Muhammad dan bahwa orang-orang kafir tahu akan kedatangannya melalui infomasi yang diberikan kepada peramal-peramal mereka melalui jin. Menurut sura 72, para jin terus mencuri dengar percakapan para dewa hingga mereka dihalang—alangi dengan cara dilempari dengan bintang. Klaim bahwa meteorit adalah bintang jatuh dibuat di Quran. (37:6-10; 67:5) Memandangi langit cerah di gurun pasir, Muhammad bisa melihat meteorit terbakar saat memasuki atmosfir bumi dan mengira bahwa mereka adalah bintang-bintang yang dilempar ke arah para jin.

       Ibn Hisham menarasikan sebuah kisah tentang bintang-bintang yang dilempar. Ia mengatakan bahwa orang-orang Arab sangat takut kepada bintang jatuh dan mereka mendatangi salah seorang warga suku mereka yang merupakan orang paling cerdik dan pintar, dan menanyakan kepadanya apakah ia melihat bintang-bintang yang terlempar ini. Ia menjawab, “Ya, tetapi tunggu dulu, jika mereka adalah bintang-bintang terkenal yang memandu para musafir baik di darat maupun laut, yang  memberitahu musim panas dan musim dingin sehingga membantu manusia dalam kehidupan sehari-harinya, jika bintang-bintang itu yang dilemparkan, maka itu dilempar oleh Allah! Itu artinya akhir dunia dan kemusnahan bagi semua yang ada di dalamnya. Tetapi jika bintang-bintang itu tetap di tempatnya dan bintang-bintang lain yang dilemparkan, maka itu untuk beberapa tujuan yang Allah maksudkan bagi umat manusia.”[90]

       Ibn Hisham mengatakan bahwa Muhammad mengoreksi kesalahan orang-orang tentang bintang jatuh, yang bahkan terdengar lebih lucu lagi. Ia bertanya, “Menurutmu apa maksud dari bintang jatuh ini?” Mereka menjawab, “Menurut kami, seorang raja telah mati, seorang raja telah ditunjuk, seorang anak telah lahir, seorang anak telah mati.” Ia menjawab, “Bukan begitu, tetapi ketika Allah telah menetapkan sesuatu tentang ciptaanNya para pengusung tahkta mendengarnya dan memujiNya, dan mereka yang ada di bawahnya memujiNya, dan mereka yang lebih rendah lagi memujiNya karena mereka yang di atas telah memuji, dan hal ini berlanjut terus hingga pujian tersebut turun ke tingkap langit paling rendah di mana mereka memuji. Kemudian mereka bertanya satu sama lain ada apa, dan diberitahu bahwa karena mereka yang ada di atas melakukan demikian dan mereka berkata, “Mengapa engkau tidak tanyakan pada mereka yang di atasmu ada apa?”, jadi demikianlah pertanyaan itu diteruskan hingga sampai kepada para pengusung takhta yang mengatakan bahwa Allah telah menetapkan sesuatu tentang ciptaanNya dan berita itu diteruskan lagi dari tingkap langit paling atas hingga paling bawah, dan para setan ikut mencuri dengar berita itu, membaurkannya dengan dugaan-dugaan keterangan-keterangan yang salah. Kemudian mereka menyampaikannya kepada para peramal, beberapa yang salah dan beberapa yang benar. Lalu Allah mendiamkan setan-setan itu dengan bintang-bintang yang dilemparkan ke arah mereka, sehingga tidak ada lagi ungkapan-ungkapan halus saat ini.”[91]

 

Nubuat Orang Yahudi tentang Muhammad

       Ibn Hisham juga mengutip sebuah kisah dari seorang Yahudi yang datang ke Yathrib dari Suriah dan beliau orang yang demikian sucinya sehingga bisa berdoa meminta hujan dan hujan turun dengan deras sebelum ia selesai berdoa. Pria ini, memberitahu orang-orang Yahudi bahwa alasan ia datang dari negeri yang berlimpah susu dan roti ke negeri terkutuk yang dipenuhi penderitaan dan kelaparan seperti Yathrib adalah karena berdasarkan hasil pembelajarannya seorang nabi akan segera muncul dan ini adalah kota di mana ia akan bermigrasi, “dan waktunya telah tiba,” ia memberitahu mereka. “Jangan sampai ada orang lain mendapatkannya sebelum kamu, wahai orang-orang Yahudi, sebab ia akan diutus untuk menumpahkan darah dan menangkap kaum wanita dan anak-anak dari orang-orang yang melawannya. Janganlah kamu mundur darinya.”[92]

       Tidak ada dalam Perjanjian Lama dinubuatkan tentang nabi pembunuh muncul di Arabia. Kitab Kejadian 16 sampai 22 adalah satu-satunya kitab yang membicarakan tentang keturunan Ismael, yang diduga sebagai nenek moyang bangsa Arab. Tetapi sebelum kita membahas lebih jauh saya hendak katakan bahwa klaim bahwa Ismael adalah bapa leluhur suku Quraisy tidak dapat dibuktikan, sebaliknya dapat dengan mudah ditunjukkan bahwa klaim tersebut sangatlah tidak mungkin.

       Mari kita lihat apa yang dikatakan pasal-pasal ini. Di Kejadian 16 kita membaca bahwa karena isteri Abraham, Sara, tidak bisa memiliki anak, ia menganjurkan suaminya untuk tidur dengan Hagar, hamba perempuannya yang orang Mesir, agar ia dapat melahirkan anak bagi Abraham. Ketika Hagar mengandung, ia mulai bersikap kurang ajar kepada majikan perempuannya. Sara mengeluh kepada Abraham. Ia menjawab, “Perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik.” Hagar lalu melarikan diri ke gurun pasir dan melahirkan anaknya, Ismael, dekat sebuah mata air yang bernama Beer Lahai Roi, letaknya antara Kadesh dan Bered, di tepi jalan menuju Syur. Tempat ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Mekah. Oleh sebab itu, kisah Islam bahwa Hagar berlari antara Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali untuk mencari air, dan bahwa bayinya menendang tanah dengan kakinya dan sumur Zamzam muncul adalah dongeng. Baiklah kita tidak sebutkan keanehan cerita ini dan fokus pada kenyataan bahwa tempat yang diberitahu dalam Alkitab adalah sumur yang dikenal dengan nama Lahai Roi, antara Kadesh dan Bered, dan bukan Zamzam, yang letaknya antara Safa dan Marwah. Sumur ini ada di jalan menuju Syur. Menurut ahli Alkitab Daniel Isaac, Syur terletak di sepanjang Wadi Tumilat, di tanah Gosyen yang tertulis dalam Alkitab. Ini adalah jalur sempit dengan tanah yang subur, yang digunakan sebagai titik akses ke Mesir oleh para pelancong bila menuju Kanaan melintasi Sinai.[93]

       Bukan saja Wadi di Mekah sama sekali jauh dari Wadi Tumilat, juga tidak masuk akal bahwa seorang wanita hamil berjalan sejauh 1.200 km di gurun pasir, dari semua tempat yang ada di Mekah, ke tempat yang sama sekali tidak ada sehelai rumput pun, untuk melahirkan bayinya.

       Cerita di Alkitab berlanjut dengan seorang malaikat Tuhan muncul dan menanyakan kepadanya apa yang terjadi. Ketika Hagar menceritakan kepadanya, malaikat itu menyuruh Hagar untuk kembali kepada majikan perempuannya dan patuh kepada majikannya dan menambahkan bahwa Hagar akan memiliki keturunan yang banyak. Sementara, menurut narasi Muslim, Hagar dengan anak terikat di punggungnya berjalan kembali ke Kanaan. Apakah cerita ini masuk akal?

       Malaikat juga memberitahu Hagar bahwa anak lelakinya akan “seperti keledai liar. Tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya.”[94]

       Nah, bagian yang ini tidak terlalu menyanjung. Hagar, yang diduga sebagai ibu leluhur bangsa Arab, sikapnya kasar dan tidak tahu berterimakasih. Ia tidak bisa diperlakukan dengan hormat. Ia harus direndahkan dulu baru mau bersikap sopan. Ismael juga disebut sebagai keledai liar yang melawan semua orang dan memusuhi semua saudaranya. Akankah Allah menghina nenek moyang dari nabi terakhirnya sedemikian rupa?

       Dalam Kejadian 17 dikatakan Allah menampakkan diri kepada Abraham ketika ia telah berusia 99 tahun dan berjanji bahwa ia akan memperoleh seorang anak laki-laki, Ishak, dan berkata: “Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.”[95]  Dia juga mengatakan bahwa melalui Ishak, Abraham akan memiliki banyak keturunan dan bahwa “seluruh Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya.[96] Jika Muslim percaya kepada Tuhan yang ada di Alkitab, seperti yang mereka katakan, maka mereka seharusnya tahu bahwa mereka ada di pihak yang salah dalam konflik Israel – Palestina. Janji Tuhan dalam Alkitab adalah tanpa syarat, jadi klaim Muhammad bahwa Tuhan berubah pikiran tentang orang-orang Yahudi karena mereka menolakNya adalah tidak benar.

       Kemudian Abraham meminta Tuhan untuk memberkati Ismael, dan Tuhan setuju untuk memberinya keturunan yang banyak. Mungkin karena kurang jeli. Sebab Tuhan tahu bahwa tangan-tangan keturuan dari si keledai liar ini akan melawan tangan-tangan semua orang dan akan memusuhi semua umat manusia, Dia seharusnya tidak mengabulkan permintaan Abraham hanya demi menyenangkan Abraham. Sebagai akibatnya kata Timur Tengah menjadi identik dengan perang, dan terorisme menyebar di seluruh dunia.

       Ketika Ishak lahir, Ismael yang telah berusia 14 tahun, telah mulai menganiaya dia. (Keturunan Ismael, yang lebih banyak jumlahnya dari keturunan Ishak, meneruskan tradisi ini). Akhirnya Sara berkata kepada Abraham, “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.”[97] Meskipun bangsa Arab memiliki tanah 500 kali lebih luas daripada bangsa Yahudi, dengan berlimpah minyak bumi untuk digunakan, mereka tidak suka jika melihat keturunan Ishak memiliki sepotong kecil tanah yang dapat mereka sebut sebagai kampung halaman mereka. Setali tiga uang dengan bapa leluhurnya!) Jadi Abraham dan Sara kembali mengusir Hagar dan Ismael dari rumah mereka.

       Jika ibu dan anak ini memang melakukan perjalanan ke Mekah, seharusnya pada waktu inilah mereka lakukan, bukan pada saat Hagar sedang mengandung. Jadi narasi Islam tidak mungkin benar. Namun, tidak ada bukti bahwa Abraham pernah melakukan perjalanan sejauh itu, apalagi mendirikan tempat ibadah di tengah-tengah padang pasir di mana jemaahnya sama sekali belum ada.

       Kisah di Alkitab menceritakan bahwa Abraham merasa sedih. Bagaimanapun, Ismael adalah anaknya. Allah mengatakan kepadanya, “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala hal yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak.”[98] Namun, Dia menghibur Abraham dengan mengatakan, “Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu.”[99] Itulah janji Tuhan dalam Alkitab yang diklaim oleh Muhammad sedang ia wakili.

       Quran mengatakan bahwa Ismael yang akan dipersembahkan oleh Abraham. Ini juga salah. Menurut Alkitab, Tuhan berkata kepada Abraham, “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”[100]

       Sekarang, kita tahu bahwa Ishak bukan anak tunggal Abraham, tetapi Ismael tidak masuk dalam hitungan Tuhan. Ayat ini juga menegaskan bahwa Abraham hanya mengasihi Ishak saja. Tuhan memang menjanjikan bahwa Ismael akan memiliki banyak keturunan. Tetapi Dia tidak menjanjikan bahwa keturunannya ada yang akan menjadi nabi. Tidak ada yang perlu dibanggakan dari mempunyai keturunan yang banyak, sebab kalau memang demikian maka kelinci dan laba-laba tentunya akan menjadi makhluk yang paling berbangga hati. Tidak ada bangsa yang memberi kontribusi terhadap ilmu pengetahuan dan kemajuan umat manusia melebihi orang-orang Yahudi. Apa yang telah dikontribusi oleh orang-orang yang dianggap sebagai keturunan Ismael?

 

Nubuat Kristiani tentang Muhammad

       Adapun nubuatan tentang Muhammad di kitab-kitab Injil, Ibn Hisham hanya mempunyai Yohanes 15:26 sebagai bukti. “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.

       Ayat ini samasekali tidak mengatakan tentang Arabia, Mekah, Muhammad, atau bahkan Ahmad. Penghibur, artinya seseorang yang menghibur dan menenangkan orang yang tertimpa kemalangan atau yang kehilangan orang terkasih mereka. Apakah Muhammad sesuai dengan gambaran tersebut? Ibn Hisham mengatakan bahwa nabi yang dinantikan oleh semua orang ini haruslah seorang nabi yang akan menumpahkan darah dan menangkap para wanita dan anak-anak. Jadi bagaimana nabi semacam ini bisa menjadi seorang penghibur?

       Fakta bahwa Ibn Hisham menerima gagasan tentang seorang nabi yang menumpahkan darah dan menangkap kaum wanita dan anak-anak sebagai tawanan sungguh meresahkan. Ia bukan Muslim yang bodoh, tapi salah seorang tokoh Islam terbesar, yang memiliki pemahaman yang baik tentang agamanya. Pandangannya dipergunakan oleh semua Muslim. Hal ini menunjukkan bahwa kaum Muslim memiliki gagasan yang berbeda tentang agama, Tuhan, dan peran seorang nabi dengan pandangan penganut agama lainnya. Hal ini juga menjelaskan mengapa kemana saja Islam menyebar di sana terjadi pertumpahan darah.

       Ironisnya adalah justru penulis yang sama mengatakan, Allah mengutus Muhammad “dengan penuh belas kasih bagi umat manusia.” Tidak terpikirkan oleh si penulis bahwa seseorang itu tidak bisa menjadi orang yang penuh belas kasih bagi umat manusia dan pada saat yang sama merupakan seorang pembunuh massal dan orang yang suka memperbudak. Dikotomi ini membawa dilema bagi kita, tetapi tidak demikian bagi seorang Muslim. Mereka tidak melihat adanya kontradiksi dalam hal ini, sama seperti mereka tidak melihat adanya kontradiksi antara gagasan tentang jihad dan menyebut agama mereka sebagai agama yang damai.

       Tidak ada di dalam Perjanjian Lama ataupun Baru, atau tulisan agama lain yang bernubuat tentang Muhammad. Jadi bagaimana semua orang Yahudi dan Kristen tahu Muhammad adalah yang dijanjikan oleh agama mereka? Tak terhitung jumlah klaim semacam itu, tetapi tidak ada yang benar.

 

Hal-hal yang Mempengaruhi Pemikiran Muhammad

       Masyarakat Arab sedang mengalami perubahan yang cepat. Mereka dikelilingi oleh bangsa-bangsa yang monoteis. Banyak suku-suku Yahudi yang telah menjadikan Arabia sebagai rumah mereka selama berabad-abad. Kaum Zoraster di bagian Timur, dan orang-orang Kristen di Barat Laut dan Selatan, semuanya memiliki kebudayaan yang lebih unggul, dan orang-orang Arab beralih menjadi Kristen dengan sangat cepat. Banyak juga dari mereka yang percaya kepada agama Hanifi, agama yang diduga dianut oleh Abraham.

       Ibn Hisham menyebut empat orang yang dengan kesadaran sendiri telah meninggalkan politeisme. Yang pertama adalah Waraqa ibn Naufal ibn Asad, sepupu dari Khadijah. Yang kedua adalah Ubaydullah ibn Jahsh ibn Ri’ab, yang ibunya adalah Umayma bint Abdu’l-Muttalib, bibi Muhammad dari pihak ayah dan yang ayahnya adalah paman dari pihak ibu Muhammad. Yang ketiga adalah Uthman ibn Huwayrith ibn Asad. Dan yang keempat adalah Zayd ibn Amr ibn Naufal ibn Asad. Ia adalah paman sekaligus sepupu dari Umar ibn Khattab, dan ketika Umar menikahi puterinya Atika, ia juga menjadi ayah mertuanya. Ayah Umar adalah paman dari Zayd dan kakak tirinya dari satu ibu, yang berarti Amr tentunya telah menikahi ibu tirinya setelah ia melahirkan Khattab bagi Naufal. “Mereka beranggapan bahwa orang-orang mereka telah merusak agama bapa mereka Abraham, dan bahwa batu yang mereka kelilingi tidak ada gunanya; batu itu tidak bisa mendengar, atau melihat, atau merasa sakit, atau menolong. ‘Carilah bagimu sebuah agama,’ kata mereka, ‘sebab bagi Allah engkau tidak punya agama.’ Jadi mereka pergi ke berbagai tempat di negeri itu, mencari Hanifiya, agama dari Abraham.”[101]

       Waraqa menjadi seorang Kristen dan ahli kitab-kitab suci.

       Ubaydullah, pada mulanya memeluk agama Islam dan merupakan salah satu emigran yang pergi ke Abesinia. Ia menikahi Ramla bint Abu Sufyan, (Umm Habiba), dan kemudian beralih ke agama Kristen dan selalu memberitahu teman-teman Muslimnya, “Kita melihat dengan jelas, tetapi matamu hanya setengah terbuka,” artinya, “Kita melihat, tetapi kamu hanya berusaha melihat dan belum bisa benar-benar melihat.” Ia meninggal tidak lama setelah berpindah agama dan Muhammad menikahi janda mudanya. Para penulis biografi tidak memberikan detil kematiannya, tetapi berhubung Muhammad tidak memiliki toleransi atas pembelotan khususnya seseorang yang berusaha mengubah Muslim menjadi Kristen, kita tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa ia mungkin telah memerintahkan pembunuhan atas Ubaydullah. Seorang yang murtad jauh lebih berbahaya daripada orang yang belum percaya. Mereka bisa merusak iman orang percaya yang tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak percaya. Muhammad tidak sungkan untuk mengklaim kemenangan setelah pembunuhan-pembunuhan yang ia lakukan. Bahkan allahnya seringkali melantunkan satu atau dua ayat untuk menyetujui kejahatan nabinya yang pengecut dan mengungkapkan kegembiraannya. Tetapi dalam kasus ini, Muhammad akan membuat kaum Negus, yang beragama Kristen, memusuhinya. Oleh sebab itu, jika ia memerintahkan pembunuhan atas Ubaydullah, pastilah ia lakukan dengan sangat rahasia.

       Uthman ibn Huwayrith pergi kepada kaisar Bizantium dan menjadi seorang Kristen. Di sana ia diberi jabatan yang tinggi.

       Zayd ibn Amr tetap sebagaimana adanya dirinya. Ia tidak menerima agama Yahudi maupun Kristen. Ia meninggalkan agama yang dianut kaumnya dan berpantang dari berhala-berhala, binatang-binatang yang telah mati, darah, dan benda-benda dipersembahkan kepada berhala (jelas merupakan pengaruh dari kepercayaan Yahudi, yang diterapkan oleh umat Kristen mula-mula (Kis. 15:29)). Ia melarang pembunuhan bayi perempuan, menyatakan bahwa ia menyembah Allah Abraham, dan ia secara terbuka menegur bangsanya atas praktek-praktek yang mereka lakukan.[102]

       Zayd adalah satu-satunya non-Muslim yang menurut Muhammad boleh didoakan oleh para Muslim, beliau mengatakan, “Ia (Zayd ibn Amr) akan dibangkitkan sebagai satu-satunya wakil dari semua manusia.” Puisi berikut ini ditulis oleh Zayd.

Apakah aku harus menyembah satu tuhan atau seribu?

Jika memang ada sebanyak yang kau katakan,

Aku tinggalkan al-Lat dan al-‘Uzza

Sebagaimana orang berpendirian kuat.

Aku takkan menyembah al-‘Uzza dan kedua puterinya,[103]

Aku juga takkan kunjungi kedua patung Banu ‘Amr.

Aku tidak akan menyembah Hubal

Pada hari-hari saat aku tidak begitu sadar.

Aku bertanya-tanya (sebab di malam hari banyak yang aneh,

Namun di siang hari tampak jelas bagi yang berhikmat),

Allah telah memusnahkan banyak manusia

Yang perbuatannya benar-benar jahat

Dan meluputkan yang lain karena kesalehannya

Agar seorang anak bisa tumbuh dewasa.

Seorang manusia bisa merana sebentar dan kemudian pulih

Seperti cabang pohon hidup kembali setelah hujan.

Aku melayani Allahku yang penuh belas kasih

Agar Allah maha pengampun mengampuni dosaku,

Ingatlah untuk takut kepada Allah Tuhanmu;

Selama engkau berpegang pada itu engkau takkan binasa.

Engkau akan lihat mereka yang saleh tinggal di taman,

Sementara api neraka membakar orang-orang kafir.

Dipermalukan dalam hidup, ketika mereka mati.

Dada mereka mengkerut dalam penderitaan.

 

Zayd juga berkata:

Kepada Allah aku panjatkan pujian dan syukur,

Sebuah kata pasti yang takkan luntur sepanjang masa,

Kepada Raja surgawi – tidak ada lagi Allah yang melebihi Dia

Dan tidak ada tuhan yang bisa mendekat kepadaNya

Waspadalah, hai orang-orang, dari apa yang mengikuti kematian!

Tak ada yang bisa kau sembunyikan dari Allah.

Jangan ada yang lain selain Allah,

Sebab jalan yang benar telah menjadi jelas.

Aku mohon belas kasihan, yang lain percaya kepada jin,

Tetapi engkau, Allahku, adalah Allah kami dan harapan kami.

Aku puas dengan engkau, ya Allah, sebagai Tuhan,

Dan tak akan menyembah ilah lain selain engkau.

Karena kebaikan dan kemurahanMu

Engkau kirimkan utusan kepada Musa sebagai pembawa berita.

Engkau berkata kepadanya, pergilah kau dan Harun,

Dan meminta firaun yang lalim untuk berpaling kepada Allah

Dan katakan kepadanya, ‘Apakah engkau yang menghamparkan (bumi) ini tanpa penopang,

hingga berdiri teguh seperti sekarang?’

Katakan kepadanya, ‘Apakah engkau yang meninggikan (langit) tanpa penopang?

Sungguh engkau seorang pembangun yang hebat!’

Katakan kepadanya, ‘Apakah engkau yang menempatkan bulan di awang-awang

Sebagai cahaya untuk memandu saat malam tiba?’

Katakan kepadanya, ‘Siapa yang mengirimkan matahari pada siang hari

Sehingga bumi yang disentuhnya mencerminkan kemegahannya?’

Katakan kepadanya, ‘Siapa yang menanam benih ke dalam tanah

Sehingga rumput-rumputan dapat tumbuh dan bertambah besar?

Dan memunculkan benihnya di pucuk tanaman?’

Disitu terdapat tanda-tanda hikmat.

Engkau dalam kebaikanMu menyelamatkan Yunus

Yang menghabiskan malam di perut ikan.

Meskipun aku memuliakan namaMu, aku berulang-ulang mengatakan

‘Ya Tuhan ampuni dosa-dosaku.’ (Atau ‘Dosaku akan bertambah kecuali Engkau mengampuniku.’)

Tuhan segala makhluk, limpahkan karunia dan belas kasihMu ke atasku

Dan berkati putera-puteraku dan harta milikku. [104]

jm  Kesamaan antara pemikiran keagamaan Zayd dan Muhammad sungguh mencolok. Perintah untuk menyembah satu tuhan, menolak penyembahan berhala, pernyataan untuk berpegang kepada tali Allah, larangan untuk mengubur bayi perempuan (meskipun ini bukan praktek yang umum dilakukan), kepercayaan kepada api neraka dan surga, kepercayaan bahwa bumi ini terhampar layaknya permadani, penggunaan gelar Al Rahman (Maha Penyayang), Al Rabb (Tuhan), dan Al Ghafur (Maha Pengampun) bagi Allah. Percaya kepada jin, kisah tentang Musa, Harun dan Firaun, dan kisah Yunus yang tinggal di dalam perut ikan, adalah tema-tema yang  digunakan dalam Quran. Satu-satunya perbedaan adalah apabila Zayd menulis puisi yang indah, Muhammad menulis dalam prosa berirama. Ini adalah puisi Zayd yang lain yang ditujukan bagi isterinya Safiya.

 

Jangan menahan aku dalam penghinaan,

Safiya. Itu bukan jalanku sama sekali.

Bila aku takut dihina

Aku adalah pria pemberani dengan kuda yang patuh.

Pria yang terus-menerus mendatangi gerbang raja-raja,

Yang untanya menyeberangi gurun pasir!

Yang memutuskan hubungan dengan orang lain!

Yang kesulitannya mampu diatasi tanpa (bantuan) teman.

Keledai hanya menerima penghinaan,

Bila bulunya sudah kusam.

Ia berkata, ‘Aku tidak akan pernah menyerah,

Karena beban membuat lecet rusukku.

Kakak lelakiku, (putera ibuku dan kemudian pamanku),

Menggunakan kata-kata yang tidak menyenangkan buatku.

Ketika ia mencelaku aku katakan,

‘Aku tidak punya jawaban baginya.’

Namun aku berharap aku bisa mengatakan hal-hal

di mana aku memegang kunci-kunci dan pintu.

 

       Ibn Hisham menuliskan, “Aku diberitahu oleh salah seorang keluarga Zayd ibn Amr ibn Nufayl bahwa ketika Zayd menghadap Ka’bah di dalam mesjid ia biasa berkata,

Labbayka dalam kebenaran, dalam penyembahan dan dalam pelayanan.

‘Inilah aku penyembah yang tulus’.

Aku berlindung di tempat Abraham berlindung

Ketika ia berdiri dan menghadap kiblat.

 

Kemudian ia berkata:

 

Tahanan yang rendah hati, Ya Allah, wajahku di tanah.

Apapun perintahMu harus kulakukan.

Bukan kebanggaan yang kucari, tetapi berkah kesalehanku.

Musafir di tengah hari tidak sama dengan dia yang tidur di siang hari.

 

Ia juga berkata:

Aku tunduk kepadaNya yang

KepadaNya bumi dengan batuan perkasa tunduk.

Dia menghamparkannya dan ketika dilihatnya sudah tenang

Di atas air, Dia membentuk gunung di atasnya.

Aku tunduk kepadaNya yang kepadaNya awan

Dengan air yang manis tunduk.

Ketika mereka diterbangkan di atas tanah

Dengan patuh mereka menumpahkan hujan yang berlimpah ke atasnya.[105]

 

       Tidak diragukan bahwa puisi-puisi ini yang mengilhami Muhammad ketika ia menulis Quran Mekahnya. Sayangnya puisi-puisi Zayd yang selamat hanya berupa potongan-potongan, namun mereka terdiri dari sejumlah tema yang kemudian digabungkan menjadi Quran.

       Zayd juga membenci pengorbanan hewan bagi berhala. Sebuah hadis menarasikan, “Rasulullah berkata bahwa ia bertemu Zaid bin ‘Amr Nufail di suatu tempat dekat Baldah dan ini telah terjadi sebelum Rasulullah menerima Wahyu Ilahi. Rasul menyajikan sepiring daging (yang dipersembahkan baginya oleh para pagan) kepada Zaid bin ‘Amr, tetapi Zaid menolak untuk memakannya dan kemudian mengatakan, “Aku tidak memakan apa yang engkau sembelih di atas altar batumu (Ansabs) aku hanya makan apa yang telah disembelih dengan menyebut nama Allah.”[106]

       Penulis lain dari hadis yang sama mungkin merasa malu karena nabinya memakan daging yang dipersembahkan bagi berhala. Versi hadisnya mengatakan, “Makanan disajikan kepada Nabi tetapi ia menolak untuk memakannya. (Lalu makanan itu disajikan bagi Zayd) yang berkata, “Aku tidak memakan apa yang engkau sembelih dalam nama berhala batumu.”[107]

       Hadis apokrif yang sama mengatakan, Zayd pergi ke Sham untuk mencari kebenaran dan di sana ia bertemu seorang cendekiawan Yahudi dan berkata kepadanya, “Aku ingin memeluk agamamu, jadi beritahukan kepadaku tentang agamamu.” Orang Yahudi itu berkata, “Kamu tidak akan memeluk agama kami kecuali kamu menerima bagian dari kemarahan Allah.” Zaid berkata, “Aku tidak lari kecuali dari kemarahan Allah, dan aku tidak akan menanggungnya sedikitpun jika aku punya kuasa untuk menghindarinya. Bisakah Anda memberitahuku tentang agama lainnya?” Pria itu berkata, “Aku tidak tahu tentang agama lainnya kecuali agama Hanif.” Zaid bertanya, “Apa itu agama Hanif?” Ia menjawab, “Hanif adalah agama dari (nabi) Abraham yang bukan orang Yahudi maupun Kristen, ia hanya menyembah Allah (saja).” Kemudian Zaid bertemu seorang cendekiawan Kristen dan percakapan yang persis sama kembali terjadi. Lalu Zaid mengangkat kedua tangannya dan berkata, “Ya Allah! Aku menjadikanMu saksiku bahwa aku memeluk agama Abraham.”

       Kisah ini tidak mungkin benar. Tidak ada seorang Kristen maupun Yahudi yang berpikir bahwa mereka akan menanggung kemarahan Tuhan karena iman mereka. Logika ini hanya dapat masuk ke akal seorang Muslim dan oleh sebab itu kisah ini tidak lain hanya berupa khayalan dari pikiran seorang Muslim.

       Dalam hadis yang sama Asma bint Abu Bakr menarasikan bahwa ia ingat Zayd “berdiri dengan punggu menghadap Ka’bah dan berkata, “Wahai kaum Quraisy! Demi Allah, tidak ada seorangpun di antara kamu yang memeluk agama Abraham kecuali aku.”[108]

       Ibn Hisham mengatakan, “Ia berjalan mencari agama dari Abraham, bertanya kepada para rahib dan rabbi sampai melintasi al-Mausil dan seluruh Mesopotamia; kemudian ia berjalan melalui seluruh Suriah hingga ia bertemu dengan seorang rahib di dataran tinggi Balqa. (Amman adalah ibukota dari distrik ini.) Pria ini, diduga, adalah seorang yang sangat memahami kekristenan. Zayd menanyakan kepadanya tentang Hanifiya, agama dari Abraham, dan si rahib menjawab, ‘Engkau mencari agama yang tidak ada seorangpun bisa memandumu saat ini, tetapi waktu bagi seorang nabi yang akan muncul dari negerimu yang baru saja engkau tinggalkan akan segera tiba. Ia akan diutus dengan Hanifiya, agama dari Abraham, jadi berpeganglah pada itu, sebab ia akan segera diutus sekarang dan ini adalah waktunya.’ Zayd telah mencicipi agama Yahudi dan Kristen dan tidak puas dengan satupun di antaranya; jadi mendengar kata-kata ini ia segera berangkat kembali menuju Mekah; tetapi ketika ia ada di desa Lakhm ia diserang dan dibunuh.”[109]

       Kisah ini juga tidak benar. Pertama-tama, siapa yang melaporkannya? Bagaimana orang mengetahui tentang percakapan antara Zayd dengan si rahib bila ia terbunuh sebelum mencapai Mekah? Dan bagaimana si rahib tahu tentang Muhammad bila di dalam Alkitab sama sekali tidak ada disebutkan mengenai dirinya? Kedua, anak Zayd, Saeed, mengatakan bahwa ayahnya meninggal di Aqiq dan dibawa ke Madinah untuk dikuburkan.[110] Hal ini mengimplikasikan bahwa ia tentunya mati setelah Muhammad, bukan sebelum Muhammad memulai agamanya seperti yang dinyatakan hadis di atas, dan bahwa selama itu ia tidak pernah memeluk agama Islam, yang pasti telah ia dengar. Jelas, ia telah meninggalkan Mekah dan Muhammad pasti mengira bahwa ia telah mati. Bukan tidak mungkin bahwa pria yang lurus seperti Zayd akan mendukung penipuan seperti itu.

       Pengaruh Zayd dalam ayat-ayat Quran berikut sangat jelas. The Jews and the Christians have asked the Muslims to accept their faith to have the right guidance. (Muhammad) tell them, “We would rather follow the upright religion of Abraham who was not a pagan”. (2:135)

       Ini adalah ayat yang menarik. Selama tigabelas tahun di Mekah Muhammad telah menganjurkan agama Yahudi dan Kristen dengan menyatakan mereka sebagai agama yang benar, dan disini dalam ayat Madinah, ia berkata bahwa satu-satunya agama yang benar adalah agama dari Abraham, agama Hanif. Hal ini jelas bahwa setelah bertahun-tahun, ia memiliki beberapa keraguan tentang kedua agama tersebut. Perubahan sikap ini adalah akibat para pengikut dari kedua agama tersebut menolak dirinya. Meskipun ia tidak mengeluarkan ayat yang telah ia “ungkapkan” tentang agama Yahudi dan Kristen, ia tetap diam setelah itu. Ia menuliskan, “Abraham was not a Jew or a Christian. He was an upright man, a Muslim who had submitted himself to the will of Allah and he did not join gods with Allah.(3:67) Tema yang sama diulang dalam 3:95, 4:125, 6:161, 16:120, 22:31.

       Dikatakan juga bahwa Zayd mengutuk pembunuhan bayi. “Ia biasa mempertahankan hidup seorang anak perempuan: Jika seseorang ingin membunuh anak perempuannya, ia akan berkata kepadanya, ‘Jangan bunuh dia sebab aku akan memberinya makan mewakili Anda.’ Jadi ia akan mengambil anak itu dan ketika anak itu tumbuh dengan sehat, ia akan berkata kepada ayahnya, ‘Sekarang jika Anda menginginkan anakmu, aku akan berikan kepadamu, dan jika Anda mau, aku akan memberinya makan mewakili Anda.’”

       Praktek ini bisa jadi tidak lazim di kalangan orang-orang Arab. Namun setidaknya pasti pernah terjadi sekali sehingga Zayd mengutuknya. Muhammad juga menggunakan itu dalam Qurannya. (17:31; 81:8-9) dan 15:58 yang berbunyi, “When the news of the birth of their daughter is brought to them, their faces turn gloomy and black with anger.

       Ayat ini aneh sebab tidak ada yang memberikan kontribusi terhadap pencemaran kaum wanita melebihi Muhammad. Di banyak tempat ia mengakui superioritas kaum pria atas wanita (4:34) dan menghardik orang-orang Arab karena mengatakan Tuhan memiliki anak perempuan ketika mereka membanggakan diri memiliki anak laki-laki. (53:22) Ia menyebutnya sebagai “pembagian yang tidak adil”. Kontradiksi ini dapat dipahami jika kita mempertimbangkan bahwa Muhammad ditarik oleh dua kekuatan, pemikirannya yang bersifat misoginis, dan ajaran luhur dari mentornya yang ia jiplak.

       Apakah Muhammad dan Zayd bertemu? Tentu saja mereka tinggal di kota yang sama, tetapi mari kita lihat apa yang dikatakan oleh Ibn Hisham. Al-Khattab mengintimidasi Zayd (ibn Amr) sehingga memaksanya untuk mundur ke tanah yang lebih tinggi di Mekah, dan ia berhenti di gunung Hira yang menghadap ke arah kota. Al-Khattab memberi instruksi kepada kaum pria muda Quraisy yang tidak bertanggungjawab bahwa mereka tidak boleh membiarkan ia memasuki Mekah dan ia bisa melakukannya adalah suatu rahasia.”[111]

       Hal ini terjadi kira-kira pada waktu yang sama ketika Muhammad sering mengunjungi gua tersebut. Pengaruh Zayd terhadap Muhammad tidak dapat disangkal dan sekarang kita memiliki alasan untuk mempercayai bahwa mereka berdua menghabiskan cukup banyak waktu bersama-sama, berbicara tentang gagasan-gagasan keagamaan mereka.

       Para pagan di sana mempunyai sikap toleran terhadap semua kepercayaan. Alasan Zayd diintimidasi oleh kakak tiri/pamannya jelas karena ia, seperti Abraham, ingin menjadi seorang ikonoklas (orang yang menentang penyembahan berhala) dan menghina agama orang Mekah, suatu sifat yang diwarisi Muhammad dari dirinya.

       Hanya ada satu perbedaan antara pemikiran Zayd dengan pemikiran Muhammad. Zayd percaya bahwa batu hitam yang ada di Ka’bah, hanyalah berhala tak berdaya lainnya, tetapi Muhammad memasukkannya ke dalam agamanya. Namun, pada mulanya hal ini tidak demikian. Mulanya Muhammad tidak ingin berurusan dengan Ka’bah dan batu hitam di dalamnya. Ia memilih masjidul Aqsa (mesjid paling jauh) di Yerusalem sebagai kiblatnya. Pada saat kaum Yahudi di Madinah menolaknya barulah ia mengganti kiblatnya ke Mekah dan mempercayai batu hitam tersebut. Alasan lain kenapa ia enggan untuk mengecam batu tersebut mungkin karena ia turut berperan dalam penempatan batu tersebut, saat pembangunan kembali Ka’bah.

       Sebagai perbandingan antara puisi-puisi Zayd dengan kata-kata Muhammad dalam Quran, lihat Appendix I.

 

Perkembangan Islam

       Khadijah mulai mempromosikan suaminya sebagai nabi Allah yang baru. Orang pertama yang masuk ke dalam iman Muhammad adalah sepupunya, Ali. Ia berusia sekitar sepuluh tahun dan tinggal di rumah Muhammad. Orang berikutnya adalah Zeid ibn Haritha. Ia kira-kira sepuluh atau lima tahun lebih muda dari Muhammad. Muhammad mengadopsinya sebagai anak setelah ia dewasa. Pria yang bergabung selanjutnya adalah Abu Bakr yang dua tahun lebih muda dari Muhammad. Ia adalah pedagang kain dan telah mengumpulkan sejumlah kekayaan. Abu Bakr sangat menghormati Khadijah. Khadijah berperan penting dalam pertobatan Abu Bakr. Tentunya ia beralasan, jika Islam bagus untuk Khadijah, pasti bagus juga bagi saya. Inilah adalah bagaimana kebanyakan Muslim beralasan ketika mereka mencoba membenarkan iman mereka. Abu Bakr selanjutnya berperan dalam pertobatan beberapa orang lainnya; termasuk Uthman ibn Affan, tujuh tahun lebih muda dari Muhammad. Ibunya adalah puteri dari Abdul Muttalib, dengan demikian ia adalah sepupu Muhammad. Ia juga seorang pedagang yang kaya. Abu Bakr dan Uthman yang menyokong kegiatan Muhammad secara finansial.

       Patut dicatat bahwa pada masa tersebut, berkat pengaruh agama Yahudi dan Kristen di Semenanjung Arabia, banyak pagan yang menjadi condong ke arah monoteisme. Orang-orang Yahudi tidak melakukan kegiatan penginjilan, tetapi kekristenan maju dengan pesat. Bagi Muhammad, waktunya sangat tepat. Ajarannya tentang monoteisme selaras dengan orang-orang yang telah mempertanyakan penyembahan berhala nenek moyang mereka.

       Sebagian besar mualaf awal adalah kaum muda yang mudah dipengaruhi dan para kerabat Muhammad. Sa’d ibn Abi Waqqas (b. 595) adalah keponakan Amina, ibunda Muhammad. Zubair ibn Awwam (b. 594) adalah keponakan Khadijah dan anak dari Safiyah, bibi Muhammad. Talha ibn Obaidullah (b.597) adalah kerabat Abu Bakr. Mereka semua berada pada pertengahan usia remaja ketika mereka menjadi mualaf.

       Muhammad biasa mengadakan pertemuan di rumah Khadijah. Salah seorang Muslim awal adalah Abdal Rahman bin Auf, (b. 580). Pada kunjungan pertamanya, Abdal Rahman datang dengan empat orang teman yang semuanya memeluk agama Islam. Mereka adalah Ubeida, anak dari paman Muhammad, Harith; Abu Salma, dari bani Makhzum, Abu Ubeida dan ibn Al Jarrah. Yang terakhir ini mempertobatkan beberapa anggota keluarganya. Di antaranya adalah Abu Hudhaifa ibn Utba yang keluarganya selalu menentang Islam. Pemuda lain yang menghadiri pertemuan-pertemuan ini dan yang memainkan peranan penting dalam penyebaran Islam adalah Mussab ibn Umair. Kita akan pelajari lebih banyak tentang dia, nanti.

       Selain pemuda-pemuda ini, beberapa budak juga turut menghadiri pertemuan ini. Yang paling terkenal di antara mereka adalah Bilal, putera dari budak Abesinia. Yang lain adalah Amir ibn Fuhaira, budak dari kakak lelaki Aisha dari pihak ibu. Abdullah ibn Ma’sud, dan Khabbab ibn al-Arrat yang merupakan pembuat pedang.

       Banyak dari mualaf ini membawa serta isteri dan saudara perempuan mereka ke pertemuan tersebut dan beberapa dari mereka menerima kepercayaan baru ini. Pada tiga atau empat tahun pertama, sekitar empat puluh orang beralih kepada Islam.

       Sebuah bagian dari Tabaqat memberi kita nuansa dari pertemuan-pertemuan itu dan bagaimana Muhammad membuat pendengarnya terkesan.

       “Selama khotbah-khotbahnya, mata sang nabi akan berubah menjadi merah sambil ia mengeraskan suaranya dan berbicara dengan penuh amarah, seakan-akan ia adalah komandan tentara yang sedang memberi peringatan kepada anak buahnya. Ia akan berkata ‘kebangkitan dan saya adalah seperti dua jari (sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya). Ia akan berkata, ‘bimbingan yang terbaik adalah bimbingan dari Muhammad dan hal yang terburuk adalah inovasi dan inovasi apapun itu akan menghasilkan kebinasaan. Selama khotbahnya, nabi biasanya memegang sebuah tongkat.”[112]

       Kisah di atas mengingatkan kita akan pidato-pidato Hitler yang berapi-api. Kemarahan Muhammad menyampaikan keyakinannya dan membakar semangat para pengikutnya. Anda tidak mungkin mendengar pidato yang berkobar-kobar seperti itu dan tetap bersikap acuh tak acuh. Seorang narsisis yang diabaikan adalah seorang penyendiri. Tetapi berikan kepadanya khalayak maka ia akan bermetamorfosis menjadi tokoh kultus. Para pengikut awal Muhammad, sebagaimana para pendukung utama Hitler, adalah orang-orang yang tidak berpendidikan, tertindas, rentan, mudah dipengaruhi, dan sebagian besar pemuda.

 

Rima Wahyu

       Muhammad menekankan pentingnya ayat-ayat Quran yang ia klaim sebagai wahyu dari Tuhan. Ia mendorong para pengikutnya untuk menghafal dan melagukannya, seperti cara orang-orang Yahudi menyanyikan kitab suci mereka.

       Kontemporer bagi Muhammad, ada beberapa nabi pembohong yang juga menulis ayat-ayat mereka dalam gaya puisi. Tabari mengutip beberapa ayat karya Musailama[113] yang pengikutnya dikalahkan oleh Abu Bakr dan ia sendiri terbunuh dalam pertempuran. Ayat-ayat tersebut terdengar konyol, kemungkinan besar dikarang-karang oleh kaum Muslim dan dikait-kaitkan dengannya untuk mengejeknya. Namun, gayanya sangat mirip dengan Quran. Fakta bahwa diakui ada nabi pura-pura yang menulis dalam prosa berirama, adalah bukti bahwa jenis penulisan seperti ini diyakini sebagai bahasa ilahi. Ini adalah gaya bicara para kahins (para peramal). Itulah sebabnya ketika Muhammad mulai mengungkapkan ayat-ayatnya, warga Mekah menudingnya sebagai seorang penyair gila atau seorang kahin, (37:36; 52:29-30) tudingan yang menurutnya dibantah oleh Allah. (36:69; 69:41-42)

       Gaya berbicara seperti ini telah menjadi populer dan dihubungkan dengan bahasa wahyu berkat para penyanyi dan pendongeng bardic yang berkeliling melantunkan epos Homeric.

       Menulis balada ke dalam ayat-ayat berirama yang ekspresif membutuhkan beberapa persiapan. Para penyair jarang berimprovisasi. Mereka merancang pekerjaan mereka secara pribadi sebelum tampil di depan umum. Hal ini diperlukan di awal karena bagi nabi baru ini kata-katanya merupakan senjata satu-satunya. Sajak-sajak dalam Quran Mekah juga dapat dilihat sebagai pengaruh dari puisi Zayd ibn Amr yang coba ditiru oleh Muhammad. Dia meninggalkan gaya penulisan berirama setelah ia berada di Madinah dan mendapati bahwa teror merupakan instrumen yang lebih ampuh untuk memperoleh kekuasaan. Ayat-ayat Madinah tidak berirama.

 

Wahyu Berhenti

       Setelah memulai khotbah-khotbahnya dan mempertobatkan beberapa orang, pengalaman halusinasi Muhammad berhenti.

       Tabari melaporkan, “Untuk sementara waktu inspirasi dari nabi (PBUH) berhenti dan ia menjadi sedih. Dan ia pergi ke puncak sebuah gunung yang tinggi untuk menjatuhkan dirinya. Saat ia mendaki Gabriel muncul dan mengatakan, engkau adalah nabi Allah dan hatinya menjadi tenang.”[114]

       Berhentinya “wahyu” ini  juga sulit bagi Khadijah. Ia telah menyatakan harapannya bahwa suaminya akan menjadi nabi bagi orang-orang Mekah. Mereka telah mengumumkan berita itu ke segala pelosok negeri. Jika hal ini tidak benar, mereka akan menghadapi rasa malu dan cemoohan. Untuk mengungkapkan kekecewaannya ia berkata, “Aku rasa Tuhanmu pasti telah membencimu.”

       Ini pasti merupakan saat yang sulit bagi pasangan tersebut, khususnya bagi Muhammad yang menyatakan bahwa ia sampai mempertimbangkan untuk bunuh diri. Tetapi narsisis tidak melakukan bunuh diri. Mereka menganggap diri mereka terlalu berharga, terlalu penting untuk mati. Yang harus ia lakukan adalah mengklaim bahwa ia telah menerima wahyu baru dan semuanya akan baik-baik saja. Lagipula, ia telah menerima konfirmasi bahwa ia adalah utusan Allah.

       Muhammad juga menderita epilepsi lobus temporal sejak kecil dan mengalami kejang-kejang beberapa kali. Pengalamannya di gua Hira pasti tampak nyata baginya dan ia pasti merasa yakin bahwa ia telah menjadi seorang nabi. Ketika halusinasi itu berhenti, ia mulai mengarang-ngarang wahyu yang sesuai baginya.

       Pada satu titik dalam karir kenabiannya, Muhammad pasti telah memutuskan bahwa ia bisa menciptakan wahyu dan tidak perlu bergantung kepada malaikat aneh yang kadang-kadang muncul dan kadang-kadang tidak. Saya percaya bahwa inilah saat tersebut. Pada suatu tahap, pengalaman menggembirakan Muhammad berhenti dan ia mulai mengarang-ngarang wahyunya.

       Percakapan pemberi semangat berikut mungkin merupakan salah satu dari antara wahyu-wahyu pertama yang dikarang-karang olehnya dalam menanggapi keprihatinan Khadijah bahwa barangkali Allah membenci dirinya.

       Your Lord has not forsaken you, nor does He hate you. The future will be better for you than the past. And soon your Lord will give you so that you will be content. Did He not find you and orphan and give you shelter? Did He not find you wandering and guide you? Did He not find you in need and enrich you?[115] (93:3-8)

       Narsisis itu mempunyai kejiwaan depresif. Di satu saat ia depresi dan selaras dengan realita dan di saat yang lain ia kembali berada di puncak dunia. Ia bisa melambung dari perasaan terpuruk dengan sangat cepat. Yang ia perlukan hanyalah sedikit pasokan narsisistik dan semua malapetaka dan kesuraman akan segera digantikan oleh kegembiraan dan kesenangan. Muhammad bisa memanfaatkan imajinasinya untuk pasokan narsisistiknya – kemampuan yang telah ia tumbuhkan sejak kanak-kanak, saat ia menghabiskan waktunya dalam kesendirian.

 

Muhammad Mengundang Bani Muttalib

       Sekitar tiga tahun setelah pengalaman halusinasi pertamanya, dan sesudah memiliki segelintir pengikut, Muhammad berpikir sudah saatnya untuk mengembangkan agamanya. Ia memanggang seekor kambing dan mengundang para kerabatnya datang ke perjamuan. Sekitar empat puluh orang paman dan sepupu yang datang. Setelah mereka makan, ia berbicara dengan mereka.

       “Anak-anak dari Abdul Muttalib. Aku tidak kenal seorang Arab pun yang datang kepada kaumnya dengan pesan yang lebih mulia daripadaku. Aku membawakan bagimu yang terbaik dari dunia ini dan yang akan datang. Allah telah memerintahkan aku untuk memanggilmu kepadaNya. Dia memberitahu aku, ‘Warn thy nearest kinsmen. And lower thy wing of mercy to the believers who follow thee.’[116]  Jadi siapa di antara kamu yang akan bekerjasama denganku dalam hal ini?” Abu Lahab berkata, “Apakah kamu mengumpulkan kami di sini untuk hal ini?”

       Muhammad ingin orang lain percaya kepadanya tanpa ia harus memperlihatkan bukti. Dan satu-satunya pesan yang pernah ia sampaikan adalah bahwa ia adalah nabi Allah. Klaim tersebut sekaligus menjadi bukti dan juga pesan.

       Ketika para tamu tidak memberikan respons, Ali, yang menggambarkan dirinya sebagai, “yang paling muda, dengan mata paling berair, dengan tubuh paling gemuk dan kaki paling kurus” berdiri dan berkata, “Wahai nabi Allah, aku akan menjadi penolong Anda dalam hal ini.” Muhammad lalu meletakkan tangannya di punggung Ali dan berkata, “Ini adalah saudaraku, pelaksana dan penerusku di antara kamu. Dengarkan dan patuhilah dia.” Orang-orang itu berdiri sambil tertawa dan mengatakan kepada Abu Talib, “Ia telah memerintahkan kamu untuk mendengarkan dan mematuhi anakmu.”[117]

       Kisah di atas mungkin hanya sebagian yang benar. Kedengarannya seperti hadis yang diramu oleh seseorang yang condong kepada Syiah. Tampaknya tidak mungkin bahwa Muhammad akan menunjuk pengganti dirinya pada tahap seawal ini, khususnya kepada anak lelaki berusia 13 tahun.

       Kaum Muslim tidak bisa menceritakan kisah tentang nabi mereka tanpa membumbuinya dengan cerita mukjizat. Sehubungan dengan kisah ini, penulis biografinya mengklaim bahwa Muhammad menyuruh Ali menyiapkan makanan bagi para tamu. Ali hanya memasak cukup untuk satu orang saja. Ketika makanan itu disajikan, Muhammad mengambil sepotong daging kambing, menggigitnya dan melemparkannya kembali ke baki dan makanan itu menjadi berlipat ganda. Kemudian para tamu makan dari baki itu sampai kenyang, tetapi makanannya tampak seakan-akan tidak tersentuh. Bagaimana mungkin bagi semua orang yang menyaksikan keajaiban yang menakjubkan seperti ini dan masih tidak percaya juga?

 

Agama bagi Kelompok Terbatas

       Di tahun terakhir kehidupannya, ketika ia telah menaklukkan sebagian besar dari Arabia, Muhammad mengirim pasukan untuk menyerang Yaman dan Bizantium dan mengklaim dirinya sebagai nabi bagi seluruh umat manusia. Namun, pada permulaan karir kenabiannya, ia mengklaim bahwa Islam diperuntukkan secara eksklusif bagi orang-orang Mekah (Umul Qura), dan sekitarnya.

       Thus have we sent by inspiration to you and Arabic Quran: that you may warn the Mother of Cities and all around her. (42:7, 6:92)

       Di ayat-ayat lainnya ia mengatakan bahwa ia telah datang secara khusus bagi mereka yang belum pernah menerima wahyu dari Allah sebelumnya. “Nay, it is the Truth from thy Lord, that thou mayest admonish a people to whom no warner has come before thee: in order that they may receive guidance.(32:3)In order that thou mayest admonish a people, whose fathers had received no admonition, and who therefore remain heedless (of the Signs of Allah).(36:6)

       Menurut ayat-ayat ini, orang-orang Yahudi, Kristen, dan Zoroaster bukanlah penerima pesannya, sebab mereka telah menerima wahyu.

       Quran 62:2 mengatakan, “He it is Who hath sent among the unlettered ones a messenger of their own, to recite unto them His revelations and to make them grow, and to teach them the Scripture and Wisdom, though heretofore they were indeed in error manifest.

       Kata ‘buta huruf’ disini mengacu kepada orang-orang Arab karena mereka bukan ahli kitab. Mereka buta huruf terhadap kitab-kitab suci.

       Menurut Muhammad, pada hari Penghakiman Tuhan akan bertanya kepada semua nabiNya untuk bersaksi apakah orang-orang kepada siapa mereka dikirim menerima mereka atau tidak.

       Every people are given a witness, and (you) Muhammad are a witness against the Meccans. (4:41, 16:89, 33:45, 48:8)

To every people there is a guide. (13:7)

And indeed, within every nation have We raised up an apostle. (16:36)

He it is Who sent among you the unlettered ones [Arabs] a Messenger from among themselves. (3:164, 62:2)

We have sent unto you a messenger from among you.(2:151)

For every nation there is a Messenger. (10:47)

And for every nation We have appointed a ritual. (22:34, 10:34)

And unto thee We have revealed the Scripture with the truth. (5:48)

And we never sent a messenger save with the language of his folk. (14:4)

[Islam is a revelation] in plain Arab speech. (26:195)

If We had revealed it to any of the non-Arabs and he had recited it to them they would not have believed in it. (26:198-199)

       Semua ayat ini menunjukkan bahwa pada awalnya Muhammad memaksudkan agamanya sebagai agama terbatas, hanya untuk orang-orang Mekah.

       Ada ayat-ayat Mekah yang tampaknya dialamatkan kepada semua umat manusia, seperti ayat 2:22 Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu.

       Wahidi, menerjemahkan ayat ini dalam Asbab al Nuzul (Alasan Wahyu), mengutip Al Qamah yang mengatakan, “Setiap wahyu dengan perkataan ‘Wahai manusia (ya ayohal nas) adalah ayat Mekah dan setiap wahyu dengan perkataan ‘Wahai orang percaya’ adalah ayat Madinah”. “Wahai manusia’ dialamatkan kepada orang-orang Mekah dan ‘Wahai orang percaya’ dialamatkan kepada orang-orang Madinah. Ayat-ayat yang dialamatkan kepada ‘manusia’ (nas) artinya hanya manusia dan jin di Mekah, bukan dunia; dan ‘orang percaya’ hanya manusia dan jin di Madinah, bukan dunia.”

       Meskipun awalnya hanya dirancang untuk orang-orang Mekah, setelah Muhammad menyadari bahwa keberhasilannya bergantung kepada bantuan orang-orang Madinah dan Arab lainnya, ia mulai menyebarkan agamanya untuk semua orang Arab.

       Ibn Khathir dalam penafsiran atas ayat 8:26 mengatakan, “Ketika para pengikut masih di Mekah jumlah mereka hanya sedikit, mempraktekkan agama mereka secara rahasia, tertindas, takut bahwa para pagan, penyembah api atau orang-orang Romawi akan menculik mereka dari muka bumi ciptaan Allah, karena mereka semua adalah musuh kaum Muslim, khususnya karena jumlah mereka sedikit dan lemah. Kemudian, Allah mengizinkan mereka untuk bermigrasi ke Madinah, di mana ia memungkinkan mereka untuk menetap di sebuah tempat yang aman. Allah membuat penduduk Madinah menjadi sekutu mereka, memberi mereka perlindungan dan dukungan selama Perang Badr dan pertempuran-pertempuran lainnya. Mereka membantu para emigran dengan kekayaan mereka dan menyerahkan hidup mereka dalam ketaatan kepada Allah dan utusanNya.”

       Ibn Khathir mengutip Qatadah, seorang cendekiawan muslim lain yang menyatakan, “Orang-orang Arab adalah yang terlemah dari antara yang lemah, memiliki kehidupan paling sulit, perut paling keroncongan, kulit paling sederhana dan yang paling jelas kesesatannya. Dari antara mereka yang hidup, hidup dalam kemiskinan; yang mati, mati dalam Api. Mereka digerogoti, tetapi tidak bisa menggerogoti orang lain! Demi Allah! Kami tidak mengenal manusia yang kehidupannya lebih buruk dari mereka di muka bumi ini pada waktu itu. Ketika Allah membawa Islam, Dia membuatnya dominan di muka bumi, sehingga membawa perlengkapan dan kekuasaan bagi mereka atas orang lain. Melalui Islam Allah memberikan semua yang Anda lihat.”[118]

       Komentar-komentar Ibn Khathir dan Qatadah di atas menunjukkan bahwa Islam ditujukan bagi orang-orang Mekah dan akhirnya dikembangkan sebagai cara orang-orang Arab untuk mendapatkan dominasi dan supremasi atas orang lain.

       Ibn Khaldun mengkonfirmasi pernyataan di atas dan mengatakan bahwa melalui Jihad, “otoritas kerajaan dan pemerintahan bangsa Arab menjadi mapan dan kuat pada waktu itu. Bangsa-bangsa non-Arab menjadi pelayan orang-orang Arab dan berada dibawah kontrol mereka.”[119]

 

Muhammad Memprovokasi Kaum Quraisy

       Sekarang setelah ia membuat klaimnya kepada publik, Muhammad memulai dakwah secara terbuka. Ibn Ishaq mengatakan, “Ia berdiri di lembah dan berkata, Wahai anak-anak Abdul Muttalib, (dan ia menyebutkan semua suku-suku dari kaum Quraisy) aku memanggilmu kepada Tuhan, dan aku peringatkan kamu akan hukumanNya.”

       Kaum Quraisy menanggapi dengan acuh tak acuh. Di Mekah, para pagan, Yahudi, Kristen, Hanif, dan Majus hidup bersama secara harmonis. Ka’bah menampung 360 berhala, masing-masing merupakan dewa pelindung bagi setiap suku yang berbeda. Semua berhala itu dihormati. Orang-orang Yahudi tidak menyebarkan agama mereka, tetapi agama Kristen berkembang secara pesat. Ketidaktoleransian dalam beragama dan penganiayaan agama tidak pernah terjadi di Arabia saat itu.

       Ketidakpedulian kaum Quraisy lebih menyiksa bagi Muhammad dibandingkan jika mereka menentangnya terang-terangan.

       Sam Vaknin menjelaskan, “Seorang narsisis selalu berusaha mendapatkan pasokan narsisistik – sanjungan, pujian, kekaguman, sikap tunduk, perhatian, ditakuti – oleh orang lain guna menopang egonya yang rapuh dan disfungsional. Oleh karena itu, ia tergantung kepada orang lain. Dia menyadari resiko yang terkait dengan ketergantungan yang tinggi seperti ini. Ia terjebak di antara kebiasaannya dan rasa frustrasinya. Tidak heran ia cenderung mengamuk, memukul dan bertingkah, dan amat sangat pendengki (semua ekspresi agresi terpendam).

       “Seorang narsisis memperlakukan masukan yang tidak harmonis – kritikan, atau perselisihan atau data yang menyangkal persepsi dirinya – dengan berbeda sama sekali. Ia jauh lebih sulit menerima informasi yang menentang, menantang, dan menggoyahkan semacam ini sebab hal itu terasa “lebih nyata” baginya dan datang langsung dari luar dirinya. Jelas, seorang narsisis tidak bisa menempatkan dirinya sebagai penyebab dan sumber penghinaan, celaan, dan ejekan.

       “Ketidakseimbangan dalam menerima informasi dan menimbangnya adalah alasan bagi reaksi berlebihan dari seorang narsisis dalam menerima penghinaan. Ia serta-merta menerima hal itu sebagai sesuatu yang lebih “nyata” dan lebih “serius”. Narsisis selalu waspada terhadap sikap meremehkan. Ia sangat waspada. Ia memandang setiap ketidaksetujuan sebagai kritikan dan setiap pernyataan bernada kritis sebagai penolakan sepenuhnya yang memalukan: seperti ancaman. Lambat laun, pikirannya berubah menjadi medan perang paranoia dan gagasan-gagasan yang kacau.”[120]

       Muhammad perlu memprovokasi kaum Quraisy guna memperoleh tanggapan. Ia mulai menghina agama mereka.

       Ibn Ishaq melanjutkan, “Ketika rasul secara terbuka menyampaikan bahwa Islam adalah perintah Allah kepadanya, kaumnya tidak mengundurkan diri atau melawan dia, sejauh yang saya dengar, sampai ia meremehkan dewa-dewa mereka. Ketika ia melakukan hal tersebut mereka sangat tersinggung dan sepakat untuk memberontak dan memperlakukan dirinya sebagai musuh.”[121]

       Bagian ini adalah bukti bahwa kaum Quraisy tidak menganiaya kaum Muslim karena kepercayaan mereka. Mereka merasa tersinggung karena Muhammad menghina agama mereka.

       Kaum Muslim membuat kerusuhan dan membunuh orang tak bersalah, jika ada seseorang di suatu tempat mengejek rasul mereka. Mereka sangat tersinggung jika agama mereka diremehkan. Namun mereka mengejek kepercayaan orang lain. Standar ganda ini sudah ada sejak masa awal Islam.

       Muhammad ingin ditanggapi dengan serius. Ia tidak peduli apakah ia disukai atau dibenci. Semuanya sama bagi dia. Ia ingin diperhatikan dan satu-satunya cara untuk mendapatkan hal itu adalah dengan menghina agama orang lain dan memprovokasi mereka.

       Vaknin menjelaskan, “Publisitas (selebriti atau ketenaran, menjadi terkenal atau bercitra jahat) adalah pemicu pasokan narsisistik karena memprovokasi orang untuk memperhatikan si narsis (dengan kata lain, hal itu menggerakkan sumber-sumber untuk memberikan pasokan narsisistik kepada sang narsis). Publisitas bisa diperoleh dengan cara mengekspos diri, dengan menciptakan sesuatu, atau dengan cara memancing perhatian.”[122]

       Jika seorang narsisis tidak bisa disukai ia memilih untuk ditakuti. Semuanya sama baginya. Yang tidak bisa ia toleransi adalah bila diabaikan. Jadi ia menghina orang-orang yang mengabaikannya dengan tujuan memprovokasi mereka. Dalam reaksi kemarahan mereka, ia menemukan pasokan narsisistiknya.

 

 

 

Pertumpahan Darah Pertama Dalam Islam

       Sebagai akibat dari provokasi ini, ketegangan menjadi meningkat di Mekah dan permusuhan siap meletus menjadi kekerasan.

       Suatu hari sekelompok pemuda Mekah mendapati beberapa pemuda Muslim sedang berdoa di lembah di luar kota. Mereka mengejeknya, dan pemuda-pemuda Muslim menerjang mereka dan Sa’d ibn Abu Waqas, memukul dan melukai salah seorang dari mereka dengan tulang rahang unta. Ibn Ishaq mengatakan, “Ini adalah pertumpahan darah pertama dalam Islam.”[123]

       Permusuhan di Mekah diprakarsai oleh Muslim dan tindakan kekerasan pertama juga disebabkan oleh Muslim. Ini adalah norma dimanapun ada konflik antara Muslim dan non-Muslim, yang terjadi di semua tempat di mana kaum Muslim hidup berdampingan dengan orang-orang yang memiliki kepercayaan yang lain. Muslim selalu menjadi biang keladinya. Mereka yang menyulut kekerasan, baik mereka kelompok mayoritas maupun minoritas. Saya benci untuk mengatakan selalu karena selalu ada pengecualian untuk setiap aturan. Namun, saya belum menemukan pengecualian dalam aturan yang ini. Bahkan bila terlihat di atas permukaan Muslim yang menjadi korbannya, bila Anda menggali lebih dalam Anda akan melihat bahwa merekalah yang memulai permusuhan, sampai korban mereka membalas.

 

Negosiasi antara Para Pemimpin Quraisy dengan Muhammad

       Merasa prihatin dengan perpecahan yang disebabkan oleh Muhammad di dalam masyarakat, para penetua Quraisy memutuskan untuk berbicara dengan Muhammad. Muhammad menerima undangan mereka. Mereka memberitahu dia bahwa tidak seorang Arab pun yang memperlakukan sukunya sebagaimana ia memperlakukan mereka dan mengulangi tuduhan mereka bahwa ia telah menghina dewa-dewa mereka, mencerca cara hidup mereka, memecah-belah masyarakat, menyulut perpecahan dan membuat anak-anak mereka merendahkan orangtuanya. Ahli sejarah Muslim mengklaim bahwa para pemimpin mengatakan kepadanya, “Jika yang engkau inginkan adalah uang, kami akan mengumpulkan bagimu dari harta benda kami sehingga engkau akan menjadi yang terkaya dari antara kami; jika engkau menginginkan kehormatan, kami akan menjadikanmu ketua kami sehingga tidak seorang pun yang dapat memutuskan apa-apa selain engkau; jika engkau ingin kekuasaan, kami akan menjadikanmu raja, dan jika roh yang mendatangimu ini, yang engkau lihat, tidak dapat engkau singkirkan, kami akan mencari tabib bagimu, dan mengerahkan segala cara kami untuk menyembuhkanmu.”[124] Muhammad menolak tawaran mereka dan mengatakan bahwa ia telah diutus oleh Tuhan sebagai pemberi peringatan.

       Dengan asumsi bahwa kaum Quraisy membuat tawaran seperti itu, apakah mereka bersungguh-sungguh? Jika saja Muhammad menerimanya, maka permainan pun selesai. Itu akan menjadi pengakuan bahwa ia adalah seorang penipu. Mengapa ada orang yang bersedia menjadikan seseorang yang mengaku pembohong sebagai orang terkaya dan raja? Tentu saja Muhammad tidak sebodoh itu dan jatuh ke dalam perangkap semacam ini dan sangat kekanak-kanakan untuk mengambil kisah ini sebagai bukti ketulusan Muhammad. Kemungkinan besar cerita ini adalah cerita bohong.

 

Orang-orang Mekah Menguji Muhammad

       Para pemimpin Mekah meminta bukti dari Muhammad atas klaimnya. Ia tidak punya bukti satu pun. Ia ingin orang mempercayainya berdasarkan kata-katanya saja. Itu tidak cukup bagi orang-orang yang berpikir rasional. Baiklah Muhammad, kata mereka, jika engkau tidak bersedia menerima propsisi kami, minta tuhanmu untuk memindahkan gunung-gunung ini, ratakan tanah di negeri kita dan bukakan sungai-sungai di dalamnya dan jadikan gurun pasir kita mekar dengan bunga-bunga sehingga kami tahu bahwa engkau memang utusan Tuhan. Mereka mengingatkan dia tentang Yesus yang membangkitkan orang mati dan memintanya untuk membangkitkan sanak mereka yang telah mati sebagai bukti dari klaimnya. Muhammad mengatakan bahwa ia tidak memiliki kuasa seperti itu, bahwa ia manusia biasa seperti yang lain, menyampaikan pesan Tuhan. (21:3)

       Mereka memintanya untuk membuat salah satu dari malaikat yang muncul di hadapannya, muncul di hadapan mereka dan bersaksi tentang kebenaran klaimnya. Muhammad mengatakan bahwa ia tidak bisa melakukan hal itu. Lalu mereka berkata kepadanya, melihat engkau memperingatkan kami akan semua musibah yang akan menimpa kami jika kami tidak percaya, mintalah tuhanmu untuk mempercepat musibah itu dan jatuhkan sepotong langit agar kami bisa melihat bahwa engkau bukan seorang penipu. Muhammad menjawab Allah akan melakukan itu bilamana Dia mau melakukannya. Mereka berkata, tidakkah tuhanmu tahu bahwa kami akan menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini? Jadi, mengapa dia tidak menginstruksikan padamu bagaimana harus menjawab kami?

       Muhammad tidak memberikan bukti logis untuk klaimnya dan tidak mampu melakukan satu mukjizat pun. Ia menegaskan kembali, “Am I naught save a mortal messenger?” (7:93)

       Orang-orang Mekah tersebut mengatakan mereka tahu bahwa ia diajar oleh seseorang dari al Yamama, yang bernama al-Rahman dan karena ia tidak bisa menjawab satu pun pertanyaan kami, hati nurani kami menjadi jelas dan kami tahu bahwa ia adalah seorang penipu.[125]

       Ibn Ishaq mengatakan bahwa ketika sang rasul meninggalkan tempat itu, Abu Hakam bersumpah akan menghancurkan kepala Muhammad. Keesokan harinya, ia mengambil sebuah batu besar dan menunggu Muhammad sujud saat berdoa. Tetapi saat ia akan melaksanakan tujuannya, ia berbalik melarikan diri, pucat-pasi ketakutan, dan tangannya lemah di atas batu. Ia kemudian memberitahu teman-temannya bahwa saat ia mendekati Muhammad, seekor unta jantan merintangi jalan dengan kepala dan gigi yang menakutkan seakan-akan ingin memakannya.

       Jika memang hal ini terjadi, sangat tidak mungkin bahwa Abu Hakam akan terus memusuhi Muhammad. Setidaknya sebagian dari orang-orang Mekah yang mendengar ceritanya akan beralih kepada Islam. Biografi Muhammad penuh dengan klaim mukjizat palsu semacam ini.

       Orang-orang Mekah meminta bukti. Mempercayai klaim aneh buatan Muhammad ini tanpa adanya bukti akan menjadi sebuah kebodohan. Lagipula Quran mengatakan, “Here are our people setting up gods besides Him. If only they could provide any proof to support their stand! Who is more evil than the one who fabricates lies and attributes them to God?” (18:15) Jika orang lain harus menyediakan bukti bagi kepercayaan mereka, bukankah ia juga harus melakukan hal yang sama? Itu yang diminta orang-orang Mekah darinya, dan ia tidak mampu memberikannya.

       Setelah gagal memberikan bukti atau menunjukkan mukjizat sebagai tanda klaimnya, para penetua mencoba untuk menguji pengetahuan umumnya. “Tentunya jika ia diilhami, tuhannya akan memberinya jawaban yang benar,” kata mereka, dan mengajukan tiga pertanyaan kepadanya. Yang pertama adalah tentang dongeng yang terkenal tentang Tujuh Pemuda Tertidur dari Efesus. Bercerita tentang sekelompok pemuda Kristen, yang melarikan diri dari penganiayaan, bersembunyi di dalam gua di luar kota Efesus, sekitar tahun 250 M, dan jatuh tertidur. Menurut legenda, kaisar Romawi, Decius, menutup mulut gua agar mereka mati di dalam. Mereka bangun bertahun-tahun kemudian pada masa pemerintahan Kaisar Theodosius, yang I atau II [masing-masing berkuasa pada 379-395 dan 408-450 M].

       Tanpa menyadari bahwa mereka telah tertidur sekian lama, mereka mengirim salah satu di antara mereka ke kota untuk membeli makanan, dengan pesan agar berhati-hati, jangan sampai para pagan mengenali dirinya. Pada saat itu semua orang telah menjadi Kristen, dan si pemuda merasa takjub melihat salib dipajang di mana-mana. Warga kota juga merasa heran ketika si pemuda berbelanja menggunakan koin-koin kuno dari jaman pemerintahan Decius. Kisah pemuda-pemuda ini kemudian menjadi terkenal, dan mereka mati tidak lama setelah itu.

       Versi awal dari dongeng ini berasal dari uskup dari Suriah, Jacom dari Sarug (450-521), yang ia akui berasal dari sumber Yunani awal, yang telah hilang.[126]

       Pertanyaan kedua adalah tentang identitas dari seorang tokoh legendaris yang dikenal sebagai Dzul Qarnayn (Penguasa Dua Tanduk) yang telah menjelajah dari satu ujung dunia ke ujung lainnya. Ini adalah sebutan dari Alexander Agung. Kekaisaran Alexander membentang dari Laut Adriatik hingga Sungai Indus. Berusaha untuk mencapai “ujung dunia”, ia menginvasi India pada tahun 326 SM. Kisah penaklukannya tercatat dalam berbagai kumpulan legenda mengenai eksploitasi mitosnya yang dikenal dengan Roman Alexander. Kisah-kisah ini dikenal oleh orang-orang terpelajar di Arabia. Warga Mekah meminta Muhammad untuk menyebutkan nama sang penakluk legendaris ini dan memberitahu mereka tentang dirinya. Pertanyaan ketiga adalah tentang sifat roh.

       Muhammad memberitahu mereka bahwa ia akan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka keesokan harinya. Lima belas hari berlalu dan ia tidak bisa memberikan jawaban. Warga Mekah memiliki alasan untuk menyebutnya seorang pembohong. Setelah 15 hari ia mengklaim bahwa ia telah menerima jawabannya dari Tuhan. Ia berkata bahwa alasan keterlambatannya adalah karena, sebagaimana dikatakan Tuhan kepadanya, ketika ia berjanji untuk memberi jawaban keesokan harinya ia tidak mengucapkan kata ajaib “inshaallah”. Untuk menghindari kesalahan seperti ini di masa yang akan datang, Tuhan menasihatinya, “And never say I will do that tomorrow, unless you say if Allah will.” (18:23-24)

       Kebenaran tentang masalah ini sebenarnya tidak sekonyol alasan yang diberikan. Lebih masuk akal untuk menganggap bahwa sahabat Muhammad, al-Rahman, sedang tidak bisa dihubungi. Muhammad menunggunya selama dua minggu dan akhirnya harus mengarang sebuah alasan sebelum seluruh dunia menertawakannya. Jawabannya atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dikumpulkan dalam Sura 18 dan 17.

       Alih-alih mengatakan bahwa kisah tentang para pemuda yang tertidur adalah mitos; Allah menceritakan kembali dongeng tersebut, sembari membuat beberapa kesalahan yang terlihat jelas.

       Quran mengatakan, “The people then disputed among themselves regarding them. Some said, ‘Let us build a building around them.’ Their Lord is the best Knower about them. Those who prevailed said, ‘We will build a place of worship around them.’ Some would say, ‘They were three; their dog being the fourth,’ while others would say, ‘Five, the sixth being their dog,’ as they guesssed. Others said, ‘Seven, and the eighth was their dog.’ Say, ‘My Lord is the best Knower of their number.’ Only a few knew the correct number. Therefore do not argue with them; just go along with them. You need not consult anyone about this. They stayed in their cave three hundred years increased by nine. Say [To them], ‘God is the best Knower of how long they stayed there.’ He knows all secrets in the Heavens and the earth. By His grace you can see; by His grace you can hear. There is none beside Him as Lord and Master, and He never permits any partners to share in His kingship.” (18:21-26)

       Dari ayat-ayat ini jelas terlihat bahwa Allah tidak lebih tahu daripada utusannya. Alih-alih memberikan jawaban yang pasti, ia memberitahukan apa yang dikatakan orang-orang, dan menambahkan bahwa Allah yang paling tahu. Tampaknya ingatan Allah tidak berfungsi dan dia tidak pasti jumlah para pemuda yang tertidur tersebut. Ketidakjelasan seperti ini adalah kekhasan dari Quran. Fakta-fakta disajikan dengan sedemikian samar sehingga mereka bisa ditafsirkan dalam berbagai cara sesuai keinginan siapapun. Cerita aslinya mengatakan bahwa ada tujuh orang pemuda dan di sana tidak ada disinggung tentang anjing. Demikian juga tahun 300 atau 309 yang disebutkan dalam Quran sebagai lamanya waktu tidur para pemuda tertidur adalah salah. Jika para pemuda ini jatuh tertidur pada tahun 250 M dan terbangun pada masa pemerintahan Theodosius II yang meninggal tahun 450 M, mereka tidak mungkin tertidur selama 300 tahun. Selain itu, Uskup Jacom dari Sarug yang menceritakan kisah ini meninggal di tahun 521 M. Itu berarti 271 tahun setelah para pemuda tersebut jatuh tertidur.

       Kisah Tujuh Pemuda yang Tertidur adalah mitos. Ini adalah corak dan bentuk dari kebanyakan kisah yang mendahului kekristenan dan bisa ditemukan dalam mitologi Yunani dan Yahudi.

       Pieter W. van der Horst mengutip sebuah cerita yang diceritakan oleh Theopompus yang hidup pada abad keempat SM, tentang seseorang yang bernama Epimenides yang konon hidup pada dekade sekitar 600 SM. Ceritanya adalah seperti berikut:

       “[Epimenides] berasal dari Knossos di Kreta, meskipun, karena rambutnya yang panjang ia tidak mirip warga Kreta. Suatu hari ia dikirim ke desa oleh ayahnya untuk mencari domba yang lari dari kawanannya, saat tengah hari ia keluar dari jalan utama dan tidur di sebuah gua, di mana ia tidur selama limapuluh tujuh tahun. Setelah itu ia bangun dan pergi mencari dombanya, mengira bahwa ia hanya tertidur sebentar saja. Dan ketika ia tidak bisa menemukan dombanya, ia mendatangi peternakan dan mendapati semuanya telah berubah demikian juga pemiliknya. Lalu ia kembali ke kota dengan sangat kebingungan, dan disana, saat memasuki rumahnya, ia berpapasan dengan orang-orang yang menanyakan siapa dirinya. Akhirnya ia menemukan adiknya, yang sudah tua, dan mendengar cerita sebenarnya dari dia. Demikianlah ia menjadi terkenal di seluruh Yunani dan diyakini sangat dikasihi oleh para dewa (theopilestatos).[127]

       Kisah-kisah tentang para tukang tidur ini, dikenal oleh Muslim sebagai The Companions of Cave, ada disebutkan di dalam Quran. Kaum Muslim bisa menyangkal keabsahan hadis manapun bila terlihat jelas tidak masuk akal, contohnya batu yang melarikan diri dengan pakaian dalam Muhammad[128] dan cerita-cerita konyol lainnya yang tak terhitung jumlahnya. Tetapi mereka tidak bisa menyangkal Quran.

       Jawaban Muhammad untuk pertanyaan kedua tercatat di bagian akhir sura yang sama.

       Sura yang sama mengatakan, “They will ask thee of Dhul-Qarneyn. Say: I shall recite unto you a remembrance of him. Lo! We have made him strong in the land and gave unto everything a road. And he followed a road. Till, when he reached the setting place of the sun, he found it setting in a muddy spring, and found a people thereabout: We said: O Dhul-Qarneyn! Either punish or show them kindness. He said: As for him who doeth wrong, we shall punish him, and then he will be brought back unto, his Lord, who will punish him with awful punishment! But as for him who believeth and doeth right, good will be his reward, and We shall speak unto him a mild command. Then he followed a road Till, when he reached the rising place of the sun, he found it rising on a people for whom We had appointed no helper therefrom. So (it was). And We knew all concerning him. Then he followed a road. Till, when he came between the two mountains, he found upon their hither side a folk that scarce could understand a saying. They said: O Dhul-Qarneyn! Lo! Gog and Magog are spoiling the land. So may we pray thee tribute on condition that thou set a barrier between us and them? He said: That wherein my Lord hath established me better (than your tribute). Do but help me with strength (of men), I will set between you and them a bank.(18:83-95)

       Lagi-lagi Muhammad salah. Wahb ibn Munabbih dalam Kitab al-Isrâîliyât menarasikan banyak kisah orang Yahudi dan tradisi-tradisi barat. Beberapa dari kisah tersebut kemudian dimasukkan dalam kisah Seribu Satu Malam. Kisah Dzul-Qarnayn adalah kisah #460 dari karya besar ini yang diterjemahkan oleh Sir Richard Burton ke dalam bahasa Inggris (1850 Vol. 5). Judulnya: “Iskandar Dhul-Qarneyn and a Certain Tribe of Poor Folk”. Kisahnya adalah sebagai berikut:

       “Alkisah Iskandar Dzul-Qarnayn suatu hari tiba, dalam perjalanannya, di suku rakyat kecil, yang hidup melarat dan yang menggali kubur mereka berhadapan dengan pintu rumah mereka, dan setiap saat mengunjungi kubur tersebut dan membersihkan tanahnya dan menjaganya tetap bersih dan mendoakan dan menyembah Allah Maha Kuasa di atasnya; dan mereka tidak makan daging tetapi rumput yang tumbuh dari tanah. Jadi Iskandar mengutus seorang pria untuk memanggil raja mereka, tetapi sang raja menolak untuk datang, dengan mengatakan, “Aku tidak punya keperluan dengannya.” Kemudian Iskandar mendatanginya dan berkata, “Laki-laki macam apa kamu ini? Sebab sesungguhnya aku melihat kamu tidak memiliki emas maupun perak, aku juga mendapati engkau tidak memiliki kekayaan sedikitpun.” Jawab sang Raja, “Kekayaan dunia tidak bisa mengenyangkan siapapun.” Iskandar lalu bertanya, “Mengapa kalian menggali kubur kalian berhadapan dengan pintu rumah?”; dan Raja menjawab, “Agar pandangan mata kami selalu tertuju kepadanya; sehingga kami dapat melihatnya dan selalu bebicara dan memikirkan tentang kematian, tidak lupa akan dunia yang akan datang; dan dengan hikmat ini kecintaan akan dunia dibuang dari hati kami dan karenanya kami tidak akan terganggu dalam melayani Tuhan kami, yang Maha Kuasa.” Iskandar berkata, “Mengapa kamu makan rumput?”; dan Raja menjawab, “Sebab kami jijik membuat perut kami sebagai kuburan bagi hewan dan karena kenikmatan makan hanya terasa di tenggorokan saja.” Lalu sambil mengulurkan tangannya ia mengeluarkan sebuah tengkorak dari anak Adam, dan meletakkannya di depan Iskandar, ia berkata, “Wahai Dzul Qarnayn, Penguasa Dua Tanduk, tahukah engkau siapa pemilik tengkorak ini?” Jawabnya, “Tidak;” dan yang lainnya berkata, “Pemilik tengkorak ini adalah raja dari segala raja dunia, yang memerintah rakyatnya dengan tangan besi, khususnya menindas yang lemah dan menyia-nyiakan waktunya untuk menumpuk sampah dunia, sampai Allah mengambil rohnya dan membakar tempat tinggalnya; dan ini adalah kepalanya.” Ia lalu mengulurkan tangannya lagi dan menunjukkan tengkorak yang lain, dan meletakkannya di depan Iskandar, sambil berkata kepadanya, “Tahukah kamu yang ini?” “Tidak,” jawab sang penakluk; dan raja menyahut, “Ini adalah tengkorak raja yang lain, yang berlaku adil terhadap bawahannya dan baik hati kepada rakyat di negerinya dan di negeri kekuasaannya, sampai Allah mengambil jiwanya dan menempatkannya di tamanNya dan meninggikan derajatnya di surga.” Lalu sambil meletakkan tangannya di atas kepala Iskandar ia berkata, “Andai aku tahu yang mana di antara kedua orang ini adalah kamu.” Menangislah Iskandar dengan amat pilu dan sambil mendekap si Raja ke dadanya ia berseru, “Jika kamu bersedia menemaniku, aku akan mengangkatmu sebagai Wazir dari urusan pemerintahanku dan membagi kerajaanku denganmu.” Yang lainnya menjawab, “Jauhlah daripadaku. Aku tidak menginginkan ini.” “Kenapa?” tanya Iskandar, dan Raja menjawab, “Sebab engkau membuat semua orang musuhmu dengan segala kekayaan dan negeri yang telah engkau taklukkan: sementara aku membuat semua orang sahabat sejatiku karena puas atas hidup yang bersahaja, karenanya aku tidak memiliki apa-apa, tidak juga mengidamkan kesenangan hidup; aku tidak memiliki hasrat atas mereka atau mengharapkannya, demikian juga aku sedikitpun tidak memelihara kepuasan.” Jadi Iskandar mendekap sang Raja ke dadanya dan mencium dahinya dan pergi.”

       Alexander dikenal sebagai Penguasa Dua Tanduk, menurut interpretasi tulisan klasik, karena ia telah mencapai kedua ‘Tanduk’ matahari, timur dan barat, di mana matahari terbit dan terbenam selama perjalanannya. Muhammad bukan saja tidak menyebut nama Alexander, sangat jelas bahwa ia tidak mengetahui kisahnya. Ia berkata, Dzul Qarnayn mencapai kedua ujung bumi dan melihat matahari terbit dan terbenam dalam air berlumpur. Kebodohan seperti ini wajar untuk seorang pria buta huruf di abad ke tujuh, tetapi tidak bagi sang pencipta alam semesta.

       Dari judul cerita dan informasi yang diberikan kepadanya di dalam pertanyaan, ia mengarang cerita yang benar-benar berbeda. Ia membuat Dzul Qarnayn menjadi utusan atau malaikat Tuhan padahal dalam kisah aslinya ia adalah seorang raja lalim yang dibenci. Mencoba untuk menyertakan “rakyat miskin” ke dalam ceritanya, ia mengatakan Allah menyuruh Dzul Qarnayn untuk menghukum atau memberi hadiah kepada mereka. Inilah gagasan Muhammad tentang kekuasaan. Orang yang memiliki kekuasaan, adalah orang yang bertindak ceroboh dan menghukum atau memberi hadiah sesuka hatinya.

       Muhammad sangat bingung atas identitas Dzul Qarnayn. Ibn Ishaq berkata, “Thaur ibn Yazid dari Khalid ibn Ma’dan  al Kala’i yang merupakan orang yang hidup di zaman Islam, mengatakan kepada saya bahwa rasul ditanya tentang Dzul Qarnayn dan ia menjawab, ‘Ia adalah malaikat yang mengukur bumi dengan tali.’”[129]

       Hadis ini tampaknya membingungkan bagi Ibn Ishaq. Ia menambahkan, “Allah yang mengetahui kebenarannya, apakah Rasulullah mengatakan hal itu atau tidak. Jika ia mengatakannya, maka yang ia katakan adalah benar.”[130] Ini adalah cara berpikir Islam yang khas. Jika Muhammad mengatakan sesuatu, meskipun yang ia katakan bertentangan dengan fakta yang telah ada, maka perkataan Muhammadlah yang benar dan fakta-fakta yang ada itu adalah salah. Muslim yang paling bijaksana sekalipun tidak mampu melewati titik ini. Tak diragukan lagi ini adalah mental blok terbesar dari setiap Muslim. Jika Muhammad yang mengatakannya, maka itu pastilah benar, sekalipun bertentangan dengan akal sehat dan semua bukti yang ada.

       Muhammad pasti mengatakannya karena di tempat yang sama Ibn Ishaq mengutip kisah lain dari seseorang yang bernama Khalid yang menarasikan, “Umar mendengar seorang pria memanggil Dzul Qarnayn, dan berkata “Tuhan mengampunimu, tidakkah engkau merasa puas menamai anak-anakmu dengan nama rasul sehingga engkau harus menamai mereka dengan nama-nama malaikat?”

       Respons Allah atas pertanyaan ketiga adalah, “And they ask you, [O Muhammad], about the soul. Say, “The soul is of the affair of  my Lord. And mankind has not given of knowledge except a little.(17:85)

       Dari ketiga pertanyaan yang diajukan oleh warga Mekah, Muhammad hanya menjawab dua dan kedua jawabannya salah. Oleh sebab itu, warga Mekah cukup waras untuk menolak dirinya. Ia telah gagal dalam setiap tes yang mereka berikan kepadanya.

       Ibn Ishaq mengatakan bahwa ketiga pertanyaan ini diberikan kepada warga Mekah oleh orang-orang Yahudi – kambing hitam favorit kaum Muslim. Ia mengatakan bahwa kaum Quraisy mengutus Nadr ibn Harith dan seorang lainnya ke Yathrib, meminta kepada para rabi di sana untuk mengajukan tiga pertanyaan yang sulit agar mereka dapat menguji Muhammad, karena mereka [para rabi] adalah ahli kitab-kitab suci. Klaim ini tidak benar. Di mata kaum Quraisy, Muhammad tidak sepenting itu sampai-sampai mereka harus mengutus dua orang ke Yathrib untuk mendapatkan pertanyaan-pertanyaan ini. Ketiga pertanyaan ini tidak ada hubungannya dengan kitab-kitab suci. Kisah Ketujuh Pemuda yang Tertidur adalah dongeng orang Kristen yang bukan berasal dari Alkitab. Untuk apa orang-orang Yahudi tertarik dengan kisah orang Kristen? Kisah Dzul Qarnayn adalah cerita legenda Romans Alexander, bukan cerita Alkitab.

       Sayangnya, tidak ada versi alternatif dari sejarah Islam dan versi sejarah yang ditulis oleh kaum Muslim dipenuhi oleh cerita yang berlebih-lebihan dan klaim palsu.

       Dunia tahu kebenaran tentang Khomeini. Kita tahu bahwa ia adalah pembunuh massal yang kejam. Tetapi ia bukan seperti itu ia digambarkan oleh rezim Islam di Iran. Murid-murid sekolah di Iran di ajari bahwa Khomeini adalah imam suci. Warga Muslim mengunjungi musoleumnya dan berdoa meminta kesembuhan dan penyelesaian bagi masalah mereka. Bayangkan jika satu-satunya versi sejarah tentang Khomeini yang eksis adalah versi yang diceritakan oleh para mullah. Bagaimana generasi-generasi di masa mendatang mengetahui kebenarannya?

       Inilah masalah yang dihadapi oleh para pelajar Islam. Fakta bahwa kita tidak memiliki versi sejarah Islam yang tidak berat sebelah tidak boleh dianggap enteng. Tidak kritis dalam membaca sejarah Islam dan mempercayai semua yang dikatakan di dalamnya, adalah pembelajaran yang tidak bertanggungjawab. Apabila orang tersebut tidak mengevaluasi setiap kalimat, mendalaminya lewat kacamata akal sehat, di bawah cahaya nalar, orang tersebut bisa jatuh ke dalam perangkap dan mempercayai hal-hal yang tidak benar.

       Untungnya, ada banyak petunjuk bagi siapa saja mengincar kebenaran. Menemukan jarum kebenaran di antara tumpukan jerami kebohongan, bagi seorang pelajar yang tidak membabi-buta mempercayai Islam bukanlah tugas yang mustahil. Bagi yang percaya secara membabi-buta memang sulit. Nalar adalah cahaya pengetahuan. Iman adalah lompatan tanpa pikir panjang menuju hal yang tidak diketahui. Kepercayaan adalah antitesis dari nalar. Jika Anda bernalar, Anda tidak akan percaya dan jika Anda percaya Anda tidak bisa bernalar. Nalar dan iman saling terpisah satu sama lain. Berusaha memperdamaikan keduanya menunjukkan kurangnya pemahaman seseorang terhadap salah satunya atau kedua-duanya.

 

Kaum Quraisy Mengeluh kepada Abu Talib

       Bahkan ketika Muhammad meremehkan agama Abu Talib, Abu Talib tetap memperlakukannya dengan baik dan melindunginya. Tetapi kaum Quraisy merasa berang. Beberapa pemimpin mereka, Utba dan Shayba, anak-anak dari Rabi’a, Abu Sufyan ibn Harb, Abdul Bakhtari, Aswad ibn Muttalib, Walid ibn Mughira, Nubayah dan Munabbi, anak-anak Hajjaj, As ibn Wali dan Amr ibn Hisham, yang dikenal sebagai Abul Hakam (bapa yang berhikmat), mendatangi Abu Talib dan berkata, “Wahai Abu Talib, keponakan Anda telah memaki dewa-dewa kita, menghina agama kita, mengejek cara hidup kita dan menyalahkan bapa leluhur kita. Anda harus menghentikannya atau Anda biarkan kami berurusan dengannya, sebab Anda sebenarnya ada dalam posisi yang sama dengan kami.”[131] Abu Talib memberi mereka jawaban yang lembut dan bersifat mendamaikan, dan mereka pun pergi.

       Ibn Ishaq berkata, “Rasulullah meneruskan caranya. ...Sejalan dengan itu, hubungannya dengan kaum Quraisy memburuk dan orang-orang menarik diri dari dia dengan penuh kebencian. ... Lalu mereka mendatangi Abu Talib untuk kedua kalinya dan berkata, ‘kami meminta Anda untuk menghentikan kegiatan keponakan Anda tetapi Anda tidak melakukannya. Demi Tuhan kami tidak tahan jika leluhur kami dicerca, adat istiadat kami diejek dan dewa-dewa kami dihina,’”[132] lalu mereka mengeluarkan ultimatum.

       Abu Talib mengirim pesan kepada keponakannya. Ia berkata, “Orang-orang ini adalah para pemuka kaum kita dan mereka menginginkan keadilan darimu, yaitu kamu tidak menghina dewa-dewa mereka dan mereka tidak akan menghina tuhanmu.” Muhammad berkata, “ Aku mengundang mereka kepada sesuatu yang lebih baik dari agama mereka.” “Kepada apa?” tanya Abu Talib. “Aku mau mereka mengatakan kalimat yang akan membuat orang-orang Arab mematuhi mereka dan orang-orang Persia tunduk kepada mereka.” Pernyataan ini mengkonfirmasi sifat agama Islam mula-mula yang hanya diperuntukkan bagi kelompok yang terbatas. Pada tahap ini, Muhammad tidak berencana menjadikan agamanya sebagai agama universal. Abul Hakam mengatakan, “Apa bunyi kalimat tersebut, kami akan sebutkan sepuluh kali.” “Katakan tidak ada tuhan selain Allah,” jawab Muhammad. Para pemuka mengatakan mereka tidak akan mencela dewa mereka. Abu Talib meminta Muhammad membuat permintaan lain. Ia menjawab, “Jika mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiri, dengan syarat bahwa saya harus mengabaikan hal ini, sampai Allah membuatnya menang, atau aku binasa di dalamnya, aku tidak akan mengabaikannya.” Para pemuka kaum Quraisy bangkit dengan marah dan berkata, “Demi Tuhan kami akan menista engkau dan menista dewa-dewamu yang memerintahkan engkau untuk bersikap kasar kepada dewa-dewa kami,” dan mereka pergi.

       Pembicaraan ini ada disinggung dalam Quran 38:5-7, di mana dikatakan bahwa para pemuka kaum mengatakan, “What! Makes he the gods a single God? A strange thing is this, to be sure! And the chief persons of them break forth saying: Go and steadily adhere to your gods; this is most surely a thing sought after. We never heard of this in the former faith; this is nothing but a forgery.

       Tentu saja tidak ada seorang pun yang akan meletakkan matahari dan bulan di tangan Muhammad. Menarik kembali kata-katanya berarti mengakui bahwa ia telah berbohong. Ia bukan saja kehilangan decak kagum, prestise, dan segala pasokan narsistik yang ia peroleh dari penggemarnya, ia akan dicemooh dan disebut sebagai penipu. Oleh sebab itu pernyataan megah tersebut sebenarnya hanya untuk menjaga gengsi saja.

       Abu Talib berkata kepada Muhammad, “Tolonglah saya dan dirimu. Jangan menaruh beban lebih dari yang dapat kutanggung.” Muhammad mengira pamannya hendak meninggalkan dirinya. Ia bangkit, berpaling dan menangis. Ia tahu bagaimana memanipulasi pamannya yang baik hati. Abu Talib memanggilnya kembali, “Pergilah dan katakan yang engkau mau, demi Tuhan aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

       Ibn Ishaq mengatakan, “Demikianlah keadaan bertambah buruk, perseteruan menjadi panas dan orang-orang terpecah-belah, dan menunjukkan sikap permusuhan mereka secara terbuka kepada lawan mereka.”[133]

 

Abu Talib Melindungi Muhammad

       Abut Talib khawatir kaum Quraisy akan mencelakai Muhammad. Ia memanggil para pemuda dari klannya (Bani Hashim) dan menyuruh mereka menyembunyikan senjata tajam dan mengikuti Muhammad kemanapun dan ketika ia masuk ke mesjid (tempat doa yang berdekatan dengan Ka’bah), masing-masing dari mereka harus duduk di sebelah salah satu pembesar kota, khususnya Abul Hakam yang dianggap sebagai musuh bebuyutan Muhammad, dan bunuh mereka sekaligus jika Muhammad sampai dicelakai.

       Namun, kaum Quraisy tidak merencanakan untuk membunuh Muhammad. Abu Talib kemudian mengungkapkan rencananya dan orang-orang menjadi kecewa mengetahui bahwa ia berpihak kepada keponakannya.[134]

 

Muhammad Bersumpah akan Melakukan Pembantaian

       Akibat perlindungan terang-terangan dari Abu Talib, Muhammad semakin berani dan semakin hebat menghina kaum Quraisy dan agama yang mereka anut.

       Para pengikutnya melakukan hal yang sama. Para pemuda Muslim mencaci kepercayaan leluhur mereka dan para budak memaki dewa-dewa tuan mereka. Upaya provokasi berhasil dan kaum Quraisy menjadi sangat berang.

       Ibn Ishaq menarasikan sebuah kisah tentang para pembesar Mekah yang membahas masalah yang mereka hadapi akibat ulah Muhammad selagi mereka berdiri dekat Ka’bah. “Mereka mengatakan bahwa mereka belum pernah menghadapi kesulitan seperti yang ditimbulkan oleh orang ini; ia menyatakan bahwa cara hidup mereka bodoh, menghina leluhur mereka, mencerca agama mereka, memecah-belah masyarakat, dan menista dewa mereka. Hal itu sudah sangat kelewatan, tidak dapat digambarkan dengan kata-kata lagi.”[135]

       Sementara mereka sedang berdiskusi, Muhammad berjalan mendekati mereka ketika sedang mengelilingi bangunan itu. Salah seorang dari mereka mengatakan sesuatu. Ia berhenti. Pada wajahnya terlihat raut kemarahan. Ia berkata, “Maukah engkau mendengarkan aku wahai kaum Quraisy? Demi dia yang memegang nyawaku di tanganNya aku akan membawa pembantaian bagimu.”[136] Semua yang mendengar ancaman ini menjadi terpana. Jelas bahwa mereka telah meremehkan ancaman yang diajukan Muhammad terhadap komunitas kehidupan mereka.

 

 

Penganiayaan Apa?

       Tabari menuliskan, “Ketika Rasulullah mengundang kaumnya ke jalan yang benar dan terang Allah, mereka tidak menunjukkan sikap permusuhan dan sepertinya ada harapan bahwa mereka akan mendengarkannya. Tetapi ketika ia menghina berhala mereka, sekelompok pemuka kaum Quraisy dari Bani Taif, mencelanya dan menghasut kaum mereka untuk mengucilkan dirinya. Setelah itu, para pemuka kaum Quraisy setuju untuk melarang anak-anak mereka, saudara-saudara dan anggota dari klan mereka masuk Islam. Akibatnya situasi menjadi sulit bagi kaum Muslim dan kembali kepada agama mereka.”[137]

       Ibn Ishaq berkata, “Setiap suku menyerang Muslim yang ada di antara mereka, memukul mereka dan membujuk mereka agar meninggalkan agama mereka.”

       Bisakah kita menyebut ini sebagai penganiayaan? Bukankah setiap orangtua yang bertanggungjawab akan berusaha menyelamatkan anak-anak mereka jika mereka menjadi korban ajaran sesat? Islam adalah ajaran sesat. Setidaknya warga Mekah menganggapnya demikian. Adalah wajar bagi setiap orangtua untuk mencegah anak-anak mereka terseret ke dalam ajaran sesat. Di mata para warga Mekah, Muhammad mengajarkan penghujatan agama. Ia memecah belah masyarakat dan menghina agama leluhur mereka.

       Penganiayaan adalah apa yang dilakukan oleh kaum Muslim terhadap kaum minoritas non-Muslim yang tinggal di antara mereka. Pembunuhan kaum Koptik di Mesir, penahanan dan hukuman mati atas kelompok Baha’is di Iran, kekerasan terhadap kelompok Ahmadiyah di Pakistan, pembunuhan massal warga Hindu di Kashmir dan Bangladesh, pembakaran gereja-gereja, penghancuran kuil-kuil, pembantaian warga Kristen di Nigeria, Somalia, dan di manapun kaum Muslim merupakan kelompok yang lebih kuat, di sana terjadi penganiayaan agama. Jika seorang ayah mendisiplinkan putera atau puteri remajanya, itu tidak bisa disebut sebagai penganiayaan.

       Ibn Ishaq mengutip perkataan Abdullah ibn Amr ibn As yang berkata setelah Muhammad mengatakan bahwa ia telah membawa pembantaian bagi warga masyarakat di sana, mereka mengelilinginya keesokan harinya dan berkata, “Apakah engkau orang yang mengatakan ini dan itu tentang dewa kami dan agama kami?” Muhammad merespons, “Ya, aku orang yang mengatakannya.” Salah satu dari mereka menarik pakaiannya dan Abu Bakr menyela orang tersebut sambil menangis dan berkata, “Apakah engkau akan membunuh seorang pria karena mengatakan Allâh adalah Tuhannya?” Ibn Amr berkata, “Lalu mereka meninggalkan dia. Ini adalah hal terburuk yang pernah saya lihat yang dilakukan kaum Quraisy terhadapnya.”[138]

       Muhammad menghina agama orang-orang tersebut dan mengancam akan membantai mereka dan hal terburuk yang mereka lakukan kepadanya adalah menarik pakaiannya.

       Ada sebuah cerita tentang Bilal yang diharuskan berbaring di atas tanah di bawah terik matahari dan di atas dadanya diletakkan sebuah batu. Alasan atas penganiayaan ini adalah karena ia menghina agama tuannya. Ia dibebaskan segera setelah Abu Bakr menukarnya dengan seorang budak kafir. Abu Bakr membayar harga beberapa budak yang telah masuk Islam dan membebaskan mereka. Hal ini membuktikan bahwa budak-budak ini bukan dianiaya karena iman kepercayaan mereka, tetapi mereka didisiplinkan atas kekurangajaran mereka.

       Cerita lainnya adalah tentang Abdullah ibn Mas’ud yang sedang menghadiri upacara keagamaan kaum Quraisy dan tiba-tiba melantunkan beberapa ayat Quran dengan lantang. Ibn Ishaq mengatakan, “Orang-orang berkata, ‘Apa gerangan yang dikatakan anak dari seorang hamba perempuan ini?’ Dan ketika mereka menyadari bahwa ia sedang membaca beberapa doa yang diucapkan Muhammad, mereka bangkit dan memukuli wajahnya; tetapi ia terus membaca selama yang Allah inginkan ia baca.”[139]

       Apakah hal ini bisa dikualifikasikan sebagai penganiayaan agama? Orang ini seorang pengejek. Ia menghadiri perkumpulan keagamaan kaum pagan, menaikkan suara dan melantunkan ayat-ayat dari agama lain. Kita semua tahu apa yang akan dilakukan kaum Muslim jika ada seseorang yang memasuki mesjid mereka dan melantunkan ayat-ayat dari agama lain dengan lantang. Di banyak negara Islam, para penganut agama lain tidak memiliki hak untuk membaca dari kitab-kitab mereka bahkan dalam pertemuan mereka sendiri sekalipun. Tidak jarang seorang Hindu atau Kristen diserang, dianiaya, dibunuh karena lewat di depan mesjid.

       Ibn Ishaq menuliskan cerita tentang seorang hamba perempuan yang telah masuk Islam dan Umar memukulnya bertubi-tubi hingga Umar kelelahan. Umar adalah pria yang kasar, baik sebelum maupun sesudah ia masuk Islam. Islam menarik orang-orang yang kejam. Abu Bakr membeli gadis itu dari Umar dan membebaskannya.

       Ada pula kisah tentang Sumayyah, seorang budak wanita Muslim yang dikatakan  dihukum mati akibat imannya. Ibn Ishaq menulis, “Bani Makhzum sering mengeluarkan Ammar ibn Yasir bersama ayah dan ibunya, yang merupakan Muslim, di tengah hari dan menjemur mereka di bawah teriknya matahari Mekah, dan Rasulullah berhenti di depan mereka dan berkata, ‘Bersabarlah, wahai keluarga Yasir! Tempat Anda ada di surga.’ Mereka membunuh ibunya karena ia menolak untuk meninggalkan Islam.”[140]

       Cerita tentang Sumayyah dikisahkan dengan sedikit lebih detil oleh Ibn Sa’d. Ia menulis,”Sumayyah adalah salah satu pemeluk Islam awal di Mekah, ia sering disiksa agar ia meninggalkan agama Allah dan ia tetap menunjukkan kesabaran. Hingga suatu hari Abu Jahal lewat di depannya dan memukul dadanya dengan lembing. Ia meninggal akibat luka yang ia derita. Ia, seorang wanita tua yang lemah, adalah martir pertama bagi Islam.”[141]

       Cara memahami cerita ini, dari apa yang tertulis, adalah bahwa Abul Hakam memukul wanita tua itu dengan lembingnya, sehingga melukainya. Luka itu bisa jadi tidak mematikan, tetapi karena ia adalah wanita yang sudah tua dan mengingatnya kurangnya higienitas di masa itu, lukanya tidak sembuh dan akibatnya ia meninggal. Si penulis mengatakan bahwa ia sering disiksa. Jika dugaan tersebut benar adanya, itu adalah karena ia bersikap kasar terhadap dewa tuannya. Namun, pada hari ia dicederai ia tidak sedang disiksa. Cerita tersebut mengatakan bahwa Abul Hakam lewat. Sumayyah, karena mengikuti perintah nabinya, menghina agamanya. Abul Hakam memukulnya dengan lembing. Ia mengalami cedera dan mati akibat cederanya. Adalah wajar untuk mengatakan bahwa pembunuhan itu tidak disengaja. Mengapa ada orang yang ingin membunuh seorang wanita tua dan membiarkan yang lain yang jauh lebih berbahaya? Suami dan anaknya juga penganut Islam. Mengapa mereka tidak dibunuh? Mengapa tidak ada Muslim lain yang dibunuh? Hal ini tampaknya bukan kasus pembunuhan yang disengaja.

       Kita harus ingat bahwa Sira diedit habis-habisan oleh Ibn Hisham dan ia tidak sepenuhnya jujur. Sangat sulit untuk tidak bersikap berat sebelah jika Anda adalah seorang penganut. Penyiksaan adalah apa yang dilakukan Muslim terhadap orang-orang yang meninggalkan Islam. Berikut ini dua lukisan yang menggambarkan bagaimana kaum Muslim di Iran menyiksa kelompok Baha’is, meskipun kelompok Baha’is tidak menghina Muhammad.

 


 

Contoh tentang bagaimana Muslim Iran memperlakukan kelompok Baha’is di akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20


Emigrasi ke Abisinia

       Tekanan yang diberikan oleh kaum Quraisy kepada anak-anak mereka berhasil, dan beberapa dari mereka meninggalkan Islam. Untuk mencegah lebih banyak pembelotan Muhammad menyadari bahwa ia harus memisahkan pengikutnya dari keluarga mereka. Ini adalah karakteristik dari semua sekte sesat. Ia memerintahkan mereka untuk bermigrasi ke Abisinia. Selain segelintir umat yang telah keluar dari Islam, semua Muslim pindah. Migrasi pertama terjadi sekitar 615 M, lima tahun setelah deklarasinya.

       Kelompok emigran pertama terdiri dari sebelas pria dan empat wanita. Lebih banyak lagi bergabung dengan mereka hingga jumlah mereka mencapai 81 atau 82. Pihak keluarga dari Muslim ini jadi kelimpungan. Mereka mengutus Abdullah ibn Abu Rabi’a dan Amr ibn al-‘As, yang anak-anak dan beberapa anggota dari keluarganya ada di antara para pelarian, kepada Negus, raja Abisinia, memintanya agar mengembalikan anggota keluarga mereka. Kaum Negus meminta para pelarian untuk menjelaskan kasus mereka. Ja’far ibn Abu Talib berbicara.

       “Wahai paduka raja, kami adalah masyarakat tak beradab, menyembah berhala, makan bangkai, melakukan kekejian, memutuskan hubungan keluarga, memperlakukan tamu dengan buruk, dan masyarakat kami yang lebih kuat melahap yang lebih lemah. Demikianlah adanya kami hingga Allah mengutus seorang rasul bagi kami. Ia memanggil kami untuk mengakui kesatuan Allah dan menyembahNya dan menolak menyembah batu dan berhala. Ia memerintahkan kami untuk berbicara jujur dan setia kepada janji yang kami buat, ingat akan ikatan kekerabatan dan bersikap ramah dan baik hati dan menjauhkan diri dari kejahatan dan pertumpahan darah. Ia melarang kami melakukan kekejian dan mengucapkan kebohongan, dan melahap harta milik yatim piatu, mencemarkan wanita-wanita yang suci. Kemudian orang-orang kami menyerang kami, memperlakukan kami dengan keras dan membujuk kami meninggalkan iman kepercayaan kami dan kembali menyembah berhala. Kami datang ke negeri Anda. Di sini kami bahagia di bawah perlindungan Anda, dan kami berharap kami tidak akan diperlakukan secara tidak adil, wahai paduka raja.”[142]

       Pembaca yang bijaksana pasti bisa melihat bahwa semua ini adalah fitnah. Muslim yang biasanya menjelekkan dan mencaci-maki semua budaya dan memuji budaya mereka sendiri. Ini ciri khas dari semua sekte ajaran sesat. Meskipun kedua utusan ini membantah fitnah ini, kaum Negus memutuskan untuk tidak mengembalikan para pelarian Muslim. Jika mereka tidak ingin kembali, hanya dua orang pria saja tidak mungkin memaksa lebih dari 80 orang pria dan wanita muda itu untuk pulang.

       Kaum Muslim mengatakan bahwa episode ini sebagai bukti adanya penganiayaan. Fakta-fakta yang ada tidak mendukung klaim tersebut. Anak-anak kedua pria ini ada di antara para pelarian. Ibn Ishaq menuliskan, “Setelah keduanya meninggalkan tempat tersebut, Amr berkata, ‘Besok aku akan memberitahu dia [raja kaum Negus] suatu hal yang akan menjatuhkan mereka semua.’ Abdullah, yang lebih saleh dalam perilaku berkata, ‘Jangan lakukan itu, sebab mereka adalah kerabat kita meskipun mereka telah melawan kita.’ Ia berkata, ‘Demi Tuhan, aku akan memberitahu dia bahwa mereka menyatakan bahwa Yesus, putera Maria, adalah seorang budak.’” Hal ini menunjukkan sejauh mana kekhawatiran orang-orang Mekah tentang kesejahteraan anak-anak durhaka Muslim mereka yang telah melawan mereka.

       Gagasan bahwa orang-orang Mekah berusaha membawa pulang para Muslim supaya dapat disiksa adalah hal yang tidak masuk akal. Jika para warga Mekah tidak menginginkan mereka, ini adalah cara terbaik untuk menyingkirkan mereka. Argumen-argumen kaum Muslim tidak pernah masuk akal. Kita tidak bisa memastikan berapa banyak fakta yang hilang dan berapa banyak pemalsuan dan cerita yang dilebih-lebihkan yang dimasukkan ke dalam tulisan-tulisan yang ada. Tetapi kita bisa melihat bahwa di dalam tulisan-tulisan yang tercatat, fakta-fakta dipelintir dan kesimpulan-kesimpulan yang salah dibuat.

 

Hamzah Menerima Islam

       Masyarakat Mekah telah jenuh menghadapi Muhammad dan ejekan-ejekannya terhadap agama mereka, tetapi mereka tidak melihat betapa besarnya bahaya yang ia timbulkan. Mereka berusaha menyelesaikan masalah mereka dengannya secara baik-baik -- kesalahan besar jika lawan Anda adalah seorang narsisis. Mereka tidak tahu bagaimana menghadapinya. Mereka gagal melakukan tindakan yang sesuai dan banyak dari mereka yang membayar kelalaian ini dengan nyawa mereka. Alhasil, ribuan, jutaan, ratusan juta nyawa binasa akibat pria ini dan jumlah korban semakin meningkat saja.

       Suatu hari, ketika Muhammad sedang duduk di sebelah Safa, sebuah batu besar kira-kira 100 m di sebelah tenggara Ka’bah, Abul Hakam lewat dan memarahinya. Isi dari percakapannya tidak dicatat. Pada kesempatan lainnya ia berkata kepada Muhammad, “Demi Tuhan, Muhammad, engkau harus berhenti menista tuhan kami atau kami akan menista Tuhan yang engkau layani.”[143] Kita bisa menganggap bahwa ia pasti mengatakan sesuatu yang lain di dalam percakapan tersebut. Wajah Muhammad berubah merah karena marah, tetapi ia tidak menjawab.

       Pada hari itu juga, seorang wanita yang telah menyaksikan kejadian itu dari jendela rumahnya mengatakan kepada Hamzah, paman Muhammad yang paling muda, tentang hal itu. Ia tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Abul Hakam, tetapi menceritakan bagaimana wajah Muhammad berubah merah karena marah dan tetap diam.

       Hamzah lebih tua dua tahun dari Muhammad. Ia adalah pria yang kuat dan kasar. Ketika ia mendengar apa yang dikatakan wanita itu, kemarahan meliputi dirinya. Ia langsung pergi ke mesjid di mana menurut wanita itu ia bisa menemukan Abul Hakam. Abul Hakam sedang duduk-duduk dengan yang lain, Hamzah berjalan mendekatinya dan menginjak tubuhnya. Lalu ia mengangkat busurnya dan secara mendadak memukulnya dengan keras menggunakan busur itu, sambil berkata, “Apakah engkau akan menghina dia bila aku mengikuti agamanya, dan mengatakan apa yang ia katakan? Pukul aku kembali jika kamu bisa!”

       Abul Hakam jatuh ke tanah, kepalanya berdarah. Kerabatnya menangkap Hamzah untuk menghukumnya, tetapi Abul Hakam menyuruh mereka melepaskannya. Penulis sejarah Muslim mengatakan alasan Abul Hakam tidak melawan adalah karena ia telah menghina Muhammad dan ia tahu bahwa ia pantas untuk dipukul. Hanya kaum Muslim yang menganggap alasan ini masuk akal. Penjelasan yang lebih logis adalah ia mewaspadai pemuda-pemuda Bani Hisham, yang saat itu bersenjata dan mengintai di sekitar tempat itu. Ia tahu alasan Hamzah bertindak sangat berani karena ia tidak sendirian.

       Masuknya Hamzah sebagai pengikut membuat Muhammad semakin berani yang meningkatkan sikap permusuhannya terhadap kaum Quraisy.

 

Umar Menerima Islam

       Orang lainnya lagi yang perpindahannya kepada Islam memegang peranan penting adalah Umar ibn Khattab. Dalam kata-kata Ibn Ishaq, Umar adalah pria yang keras kepala yang perpindahannya kepada Islam menguatkan kaum Muslim dan menambah keberanian mereka.

       Muhammad berharap agar Umar ataupun Abul Hakam (paman dari Umar dari pihak ibu) menerima Islam. Abul Hakam terpelajar dan berpengaruh, dan Umar berani dan kuat. Penerimaan mereka terhadap Islam akan sangat memperkuat Islam.

       Dikatakan bahwa Umar mendengar tentang saudara perempuan beserta suaminya yang masuk Islam dan pergi ke rumah mereka saat mereka sedang membaca beberapa ayat Quran. Ketika mereka mendengar suaranya, mereka menyembunyikan bacaan mereka dan menyangkalnya. Umar memukul saudara iparnya dan ketika saudara perempuannya menengahi, Umar juga memukulnya. Tetapi ketika ia melihat wajah saudaranya yang berdarah, ia merasa bersalah dan masuk Islam.

 

Pemboikotan

       Para pemuka kaum Quraisy memutuskan untuk memboikot Muhammad dan Bani Muttalib dan Bani Hisham yang mendukungnya. Boikot tersebut berupa tidak menikahi kaum mereka dan tidak melakukan kegiatan dagang dengan mereka. Mereka menuliskan naskahnya, dan semua orang menandatanganinya dan mereka menggantung dokumen itu di dalam Ka’bah.

       Kedua klan itu membuat barikade di lorong milik Abu Talib. Ketika Abu Lahab ditanyai di pihak siapa ia berdiri, ia menjawab, “Muhammad menjanjikan saya hal-hal yang tidak saya lihat. Ia menyatakan bahwa hal-hal itu akan terjadi setelah saya mati. Apa yang sudah ia letakkan di tangan saya?” Lalu ia meniup telapak tangannya dan berkata, “Semoga kalian binasa. Aku tidak melihat hal-hal yang dijanjikan Muhammad dalam diri kalian.”

       Ketika Muhammad mendengar hal ini, ia membuat sebuah sura yang mengutuk paman dan bibinya.

Abu Lahab and his hand God blast,

His wealth and gains useless at the last.

He shall roast in flames, he held fast,

With his wife, the bearer of the wood, aghast.

On her neck a rope of palm-fiber cast (111:1-5)

       Abu Lahab dan isterinya Umm Jamil merawat Muhammad ketika ia masih berusia beberapa bulan dan ibunya entah tidak mau atau tidak mampu menyusuinya. Mereka membawanya ke rumah mereka dan memberikan Muhammad kepada Thuaiba, hamba perempuan mereka, untuk disusui.

       Boikot tersebut dianggap tidak efektif oleh para kerabat kedua klan yang tetap tinggal bersama kaum Quraisy, tetapi mereka menyediakan makanan bagi mereka dan segala sesuatu yang mereka perlukan.

       Suatu malam, Abul Hakam bertemu Hakim, keponakan Khadijah, sedang membawa sekarung beras yang dipanggul budaknya menuju lorong milik Abu Talib. Ia memegangnya dan berkata, “Apakah kamu membawa makanan bagi Bani Hisham? Demi Tuhan di depanmu dan bila makanan yang kau bawa bergerak dari sini aku akan mengadukan engkau di Mekah.” Abul Bakhtari, sepupu Muhammad lainnya, muncul dari kegelapan dan berkata, “Apa yang terjadi dengan kalian berdua?” Ketika Abul Hakam memberitahu bahwa Halim melanggar ketetapan boikot, Abul Bakhtari mengatakan, “Makanan itu milik bibinya, dan bibinya yang menyuruh mengambilnya.” Menyadari bahwa Abul Bakhtari ikut berkomplot, Abul Hakam bertengkar dengan Abul Bakhtari, yang mengambil tulang rahang onta (senjata yang mematikan) dan memukulnya hingga pingsan, mencederainya, dan menginjak-injak tubuhnya dengan kejam. Hamzah menyaksikan tidak jauh dari tempat itu.[144]

       Ibn Ishaq menuliskan bahwa Hisham ibn Amr yang berkerabat dengan Bani Hisham dan Bani al Muttalib, sering membawa seekor onta yang sarat dengan makanan dan pakaian pada malam hari dan saat ia sampai di mulut gang tersebut ia melepaskan tali onta tersebut, memukul keras sisi tubuhnya, dan membiarkan onta itu lari ke dalam gang ke tempat mereka.[145]

       Suatu malam Hisham dipergoki oleh sepupunya Zama’a saat sedang menyuplai klan yang sedang diboikot. Keduanya setuju untuk mencari lebih banyak pendukung dan menentang para pemuka untuk mencabut aksi pemboikotan. Mereka bersekongkol dengan beberapa sepupu lainnya pada malam hari dan keesokan harinya, saat warga kota berkumpul, salah seorang dari mereka, Zuhayr, berseru dengan suara lantang, “Wahai warga Mekah, apakah kita bisa makan dan berpakaian cukup sementara Bani Hisham binasa karena tidak bisa menjual maupun membeli? Demi Tuhan aku tidak akan duduk diam sampai dokumen pemboikotan yang jahat ini disobek!” Abul Hakam menyatakan bahwa dokumen aksi pemboikotan itu tidak akan disobek. Lalu pria-pria lainnya berbicara dan menyatakan dukungan mereka atas Zuhayr. Abul Hakam memprotes bahwa orang-orang itu telah saling bersekongkol dan sebenarnya aksi pemboikotan tersebut telah diputuskan dan disetujui oleh semua orang. Tetapi orang-orang tersebut berlari menuju Ka’bah dan menyobek dokumen itu menjadi serpihan.[146]

 

Toleransi atau Arogansi?

       Pada saat ini, Ibn Ishaq mengatakan, beberapa pembesar dari Mekah, yaitu al-Aswad ibn Muttalib, Walid ibn Mughira, Umayya ibn Khalaf dan ‘As ibn Wa’il al Sahmi – para pria terkemuka di masyarakat menemui Muhammad dan berkata, “Muhammad, kemarilah! Kami akan menyembah yang engkau sembah, dan engkau menyembah yang kami sembah. Jika apa yang engkau sembah lebih baik daripada yang kami sembah kami akan ambil bagian di dalamnya, dan jika apa yang kami sembah lebih baik daripada apa yang engkau sembah engkau boleh mengambil bagian di dalamnya.” Para pemuka ini berusaha melakukan yang terbaik untuk mendamaikan warga mereka dan mengakhiri permusuhan yang disulut oleh Muhammad. Menanggapi permintaan mereka, Muhammad berkata,

Disbelievers! I worship not that which you worship;

Nor worship you that which I worship.

And I shall not worship that which you worship.

Nor will you worship that which I worship.

Unto you your religion, and unto me my religion.

       Kata “katanya” ditambahkan belakangan ke ayat satu agar terkesan seperti wahyu dari Tuhan dan ayat-ayat ini menjadi sura Kafirun (sura 109)

       Sura ini tidak menunjukkan toleransi beragama. Maududi, salah satu cendekiawan terbesar Muslim di abad ke 20, menjelaskan: “Jika sura itu dibaca dengan latar cerita ini di otak, orang akan menganggap bahwa sura ini tidak diwahyukan untuk mengajarkan toleransi beragama sebagaimana yang tampaknya dipikirkan orang-orang zaman sekarang, tetapi diwahyukan dengan tujuan untuk memisahkan para Muslim dari agama kafir, ritual penyembahan mereka, dan dewa-dewa mereka, dan untuk menyatakan rasa muak dan ketidakpedulian mereka dan untuk memberitahu bahwa Islam dan kufr (kafir) tidak memiliki kesamaan dan tidak mungkin mereka digabungkan dan dicampur menjadi satu kesatuan. Meskipun sura itu pada awalnya ditujukan kepada kaum Quraisy yang kafir dalam menanggapi usulan kompromi mereka, namun itu tidak terbatas kepada mereka saja, tetapi dengan menjadikannya bagian dari Quran, Allah memberikan ajaran yang kekal bagi para Muslim bahwa mereka harus memisahkan diri mereka baik dalam perkataan maupun perbuatan dari kepercayaan kafir dimanapun dan apapun bentuknya, dan harus menyatakan tanpa ragu bahwa mereka tidak bisa berkompromi dengan para kafir dalam hal iman kepercayaan. Itu sebabnya surah ini terus dikumandangkan saat orang-orang yang mendengarnya sebagai jawaban atas tawaran mereka di masa awal dulu, telah meninggal dan dilupakan, dan kaum Muslim pada masa itu juga terus membacakannya bagi para kafir, dan kaum Muslim masih terus membacakannya berabad-abad kemudian setelah kaum Muslim awal itu telah meninggal, sebagai ungkapan rasa jijik dan pemisahan mereka dari kafir dan ritualnya adalah tuntutan abadi dari iman kepercayaan mereka.[147]

       Penafsiran Ibn Kathir atas Sura Kafirun adalah sebagai berikut: “Surah ini adalah Surah penyangkalan (penolakan) dari perbuatan para penyembah berhala. Ia memerintahkan penolakan sepenuhnya dari hal tersebut. Pernyataan ini secara khusus ditujukan kepada orang-orang kafir Quraisy. Dikatakan bahwa dalam ketidakpahaman mereka, mereka mengajak Utusan Allah untuk menyembah berhala mereka selama setahun dan mereka (sebagai gantinya) akan menyembah Allahnya selama setahun. Oleh sebab itu, Allah mewahyukan Surah ini dan di dalamnya Dia memerintahkan UtusanNya untuk benar-benar menjauhkan dirinya dari agama mereka. Dan aku tidak akan menyembah apa yang engkau sembah. Demikian pula engkau tidak akan menyembah siapa yang aku sembah, artinya, ‘aku tidak beribadah sesuai ibadah Anda, yang artinya aku tidak menyetujuinya maupun mengikutinya. Aku hanya menyembah Allah dengan cara yang Dia senangi dan kehendaki.’ Oleh karena itu, Allah berfirman (Demikian pula engkau tidak akan menyembah siapa yang kusembah) artinya, ‘engkau tidak mengikuti perintah Allah dan peraturanNya dalam ibadahNya. Sebaliknya, engkau telah menciptakan sesuatu yang keluar dari dorongan jiwamu sendiri.’ Oleh karena itu, penolakan itu adalah penolakan terhadap semua yang mereka lakukan. Sebab tentunya seorang umat memiliki tuhan yang ia sembah dan memiliki tindakan ibadah yang ia ikuti untuk mendekatkan dirinya. Jadi sang Utusan Allah dan pengikutnya menyembah Allah sesuai dengan aturanNya.”

       Kedua penafsiran ini dan penafsiran lainnya dari al Wahidi dan juga al Jalalayne mengkonfirmasi bahwa sura ini bukan tentang toleransi. Sura ini adalah tentang penolakan, penghinaan terhadap agama kaum Quraisy dan penolakan atas ajakan mereka untuk bertoleransi.

 

Ayat-ayat Setan dan Rekonsiliasi Singkat

       Muhammad telah menyebarkan Islam selama hampir tujuh tahun dan dengan pengecualian beberapa orang, semua pengikutnya adalah anak-anak muda atau budak. Permusuhan semakin marak dan ia dikucilkan oleh warga Mekah. Masyarakat marah kepadanya, bukan saja karena ia menghina dewa mereka, tetapi juga karena ia membujuk anak-anak mereka dan memisahkan mereka dari keluarga mereka.

       Muhammad berpikir mungkin perubahan strategi akan membuat kaum Quraisy menerima dia. Narasi Ibn Ishaq mengatakan bahwa ia pergi ke mesjid di mana orang banyak berkumpul dan membacakan ayat-ayat berikut.

       “By the star when it sets. Your comrade errs not and is not deceived. He speaks not from his own desire. It is naught save an inspiration that is inspired. (53:1-4)  “Have you thought of al-Lat and al-Uzza? And Manat, the third, the other? (the three daughters of Allah)” (53:19-20)  These are the exalted Gharaniq [148] whose intercession is approved.”[149]

       Ketika kaum Quraisy mendengarnya, mereka merasa gembira dan sangat senang dengan cara ia berbicara tentang dewa-dewa mereka dan mereka mendengarkan dia.[150]

       Setelah membacakan ini, Muhammad bersujud dan pengikutnya bersujud. Warga Mekah yang mendengar nama dewa-dewa mereka disebut juga bersujud. Kaum Quraisy berpikir bahwa penerimaan Muhammad terhadap dewa-dewa mereka akan mengakhiri permusuhan dan barangkali mereka bisa bersatu kembali dengan kerabat terkasih mereka.

       Berita tersebut sampai kepada warga Muslim di Abisinia yang juga merasa sangat gembira dan banyak yang pulang kembali ke Mekah. Konsesi tersebut mengakhiri permusuhan, tetapi kaum Quraisy tidak berbondong-bondong berpindah ke agamanya seperti yang diharapkan dan diperkirakan Muhammad.

       Sekarang Muhammad mendapati dirinya dalam situasi yang sulit. Langkah yang ia ambil tidak terbayar. Bukan hanya warga Mekah tidak pindah ke agamanya, dengan mengakui dewa-dewa mereka ia telah membuat agamanya jadi tak terbedakan dengan agama mereka, sehingga menjadikan dirinya tidak ada artinya.

       Ia ingin dikenal sebagai seorang nabi. Jika ia tidak disukai, lebih baik ia ditakuti daripada diabaikan. Setelah gagal memenangkan kaum Quraisy sebagai pengikutnya, ia harus menyulut kebencian mereka kembali. Untuk itu ia harus menarik kembali apa yang telah ia katakan tentang anak-anak perempuan Allah. Tetapi bagaimana caranya! Ia telah mengatakan bahwa ayat-ayat itu diwahyukan oleh Allah. Ia tidak bisa mengatakan bahwa Allah telah melakukan kesalahan. Ini adalah kasus yang sulit. Untung baginya, pengikutnya sangat mudah ditipu. Mereka menerima bulat-bulat semua yang ia katakan.

       Ia mengklaim karena penolakan kaum Quraisy sangat menyakiti dia, ia menjadi khawatir akan kesejahteraan dan berharap bisa menarik mereka sekuat yang ia mampu, karena kasihnya kepada mereka [orang-orang yang diancam hendak ia bantai], ia merindukan wahyu yang bisa mendamaikan dirinya dengan mereka. Ia berharap dan berdoa agar rintangan yang membuat tugasnya demikian berat bisa diangkat dan merenungkan caranya dan merindukannya. Katanya ketika setan mengetahui keinginannya, ia menunggu kesempatan dan saat Allah menurunkan Sura an-Najm dan saat tiba pada kalimat “Have you thought of al-Lat and al-Uzza, and Manat, the third, the other?” Setan meletakkan kalimat berikut di atas lidahnya “these are the exalted gharaniq (cranes) whose intercession is approved.”

       Catat bahwa al Kalbi mengutip ayat-ayat ini dalam Book of Idols karangannya sebagai apa yang biasa dibacakan oleh kaum Quraisy saat mengelilingi Ka’bah. Muhammad mengatakan bahwa ia tidak sadar bahwa ia telah dibohongi oleh setan hingga Jibril muncul dan berkata kepadanya, “Apa yang telah engkau lakukan, Muhammad? Engkau telah membacakan bagi orang-orang ini hal yang tidak aku bawakan dari Allah dan engkau telah mengatakan hal yang tidak dikatakanNya kepadamu.”[151]

       Ia lalu memberitahu pengikutnya bahwa ia menjadi amat sangat sedih dan sangat ketakutan terhadap Allah. Tetapi Allah, karena kasihNya yang begitu besar bagi dirinya, menurunkan wahyu untuk menghibur nabiNya dan tidak membesar-besarkan masalah itu. Dia mengatakan kepada Muhammad untuk tidak bersedih maupun khawatir tentang apa yang terjadi karena, ”We have not sent an apostle or prophet before you, but when he longed Satan cast suggestions into his longing. But God will annul what Satan has suggested. Then God will establish his verses. God being knowing and wise.(22:52)

       Ayat-ayat baru yang menggantikan  ayat-ayat setan adalah , “For you males and for him females? That indeed is an unfair division! (most unjust).” Dengan kata lain tidaklah adil untuk mengatakan bahwa Allah memiliki anak-anak perempuan sementara kebanyakan orang membangga-banggakan bila memiliki anak laki-laki.

       Penjelasan Ibn Kathir, “Allah bertanya kepada para penyembah berhala, ‘engkau memilih keturunan wanita bagi Allah dan lebih mengutamakan dirimu dengan keturunan laki-laki. Jika engkau membuat pemisahan ini di antara dirimu dan ciptaan lainnya, itu akan terjadi. (Pemisahan yang sungguh tidak adil!) artinya, itu akan menjadi pemisahan yang tidak adil dan tidak bijaksana. ‘Bagaimana mungkin engkau membuat pemisahan seperti ini antara engkau dan Allah,  padahal ini akan menjadi pemisahan yang tidak adil dan konyol jika kamu lakukan itu terhadap dirimu dan sesamamu?”

       Ada keadilan yang wajar atas misogini (kebencian terhadap wanita) Muhammad. Kedua anak laki-lakinya meninggal saat masih bayi dan hanya menyisakan empat anak perempuan baginya. Kita bisa bayangkan bagaimana ia merasa malu dan diperlakukan tidak adil akibat “pemisahan yang tidak adil dan tidak bijaksana” tersebut.

       Kisah ini sudah cukup untuk memperlihatkan bahwa Muhammad mengarang-ngarang wahyu-wahyunya. Ia mengklaim bahwa ia ditipu oleh setan dan Allah mengkonfirmasi klaim itu. Tetapi ayat 2 dari Sura yang sama, di mana kasus penipuan tersebut sedang terjadi meyakinkan para Muslim, “your comrade errs not and is not deceived.” Ayat mana yang benar? Sebenarnya Muhammad tertipu atau tidak? Jika ia tertipu maka ayat 53:2 itu salah dan jika ia tidak tertipu maka ayat 22:52 yang salah. Tidak ada kontradiksi yang lebih jelas lagi dari ini. Kedua ayat ini saling terpisah satu sama lain.

       Masih ada masalah lain dalam cerita ini. Bagaimana mungkin Allah yang mahatahu tidak mengetahui bahwa nabinya telah ditipu? Mengapa Dia tidak langsung mengkoreksi nabinya? Fakta bahwa kabar perkataan nabi sampai ke Abisinia dan para imigran pulang kembali memberitahu kita bahwa kasus penipuan ini mungkin berlangsung selama berbulan-bulan. Apakah Allah sedang tidur, atau setan menipuNya juga?

       Alasan yang diberikan tidak masuk akal sama sekali. Mustahil setan dapat menyuntikkan sepatah katapun saat Jibril sedang berdiri di dekat situ, sambil mendikte bagi Muhammad. Kita juga tahu bahwa Jibril biasanya meminta Nabi untuk mengulangi wahyunya, untuk meyakinkan bahwa Muhammad sudah menghafal dengan benar.

       Anggaplah Allah sedang teralih perhatiannya, dan Jibril itu tolol, bagaimana mungkin Muhammad tidak menyadari bahwa ayat-ayat ini mengkontradiksi semua hal yang telah ia ajarkan sejauh ini? Apakah ia sedemikan bodohnya sehingga tidak menyadari bahwa memuji-muji dewa-dewa lainnya menentang ajarannya yang dianggap menganut faham monoteisme?

       Ibn Ishaq mengatakan bahwa “para umat percaya bahwa apa yang disampaikan oleh nabi mereka dari Allah mereka adalah benar, tidak pernah mencurigai adanya kesalahan atau keinginan yang sia-sia atau ada yang luput.”[152] Hal ini memberitahu kita tentang tingkat intelektual kaum Muslim mula-mula. Mereka adalah sekelompok orang bebal, yang nyaris tidak mampu berpikir rasional.

       Di ayat 22:52, Allah menghibur Muhammad dan menyuruhnya untuk tidak bersedih sebab semua nabi pernah ditipu oleh setan. Tetapi tidak pernah ada pengakuan seperti ini di dalam Alkitab. Tidak satupun nabi di dalam Alkitab yang dilaporkan pernah ditipu oleh setan, meneruskan ayat-ayat setan kepada orang banyak.

 

Allah Bersumpah seperti Orang Kafir

       Menyembah bintang-bintang, matahari, dan bulan adalah kepercayaan para orang kafir. Mengapa Allah ingin bersumpah dalam nama dewa-dewa tersebut? Ini bukan satu-satunya ayat di mana Allah bersumpah dalam nama dewa-dewa kafir. Di ayat 56:75 ia bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Di ayat 79:1-4 Dia bersumpah demi yang membawa kehancuran, demi meteor yang turun dengan cepat, demi bintang tunggal yang melayang-layang [Allah mengira planet-planet adalah bintang-bintang yang melayang-layang], dan demi malaikat-malaikat yang sedang bergegas. Di ayat 85:1 Dia bersumpah demi langit, yang memegang gugusan bintang; di ayat 86:1 demi langit dan Bintang Fajar, di ayat 69:38-39, demi apa yang dapat dilihat dan apa tidak bisa dilihat. [Ada banyak benda yang bisa dilihat dan tidak sepenuhnya layak dijadikan sumpah.] Di ayat 70:40 Allah bersumpah demi Tuhan yang mengatur temat terbit dan terbenamnya planet-planet; ayat 75:2, demi jiwa yang menyesal; ayat 84:16, demi cahaya di waktu senja; ayat 93:1, demi waktu duha, dan demi malam saat gelap; ayat 90:1, demi Mekah; ayat 95:1-3, demi buah ara dan buah zaitun, demi gunung Sinai, dan demi negeri yang aman ini.

 

Permusuhan Dimulai Kembali

       Perdamaian di Mekah tidak berlangsung lama. Muhammad mencabut kata-katanya dan kembali menista dan menghina dewa-dewa kaum Quraisy. Ia menyadari bahwa ia akan lebih diuntungkan dengan memprovokasi mereka daripada hidup damai dengan mereka. Ia harus menjadi perhatian, sekalipun ia harus menjadi agitator dan provokator.

       Ibn Ishaq menuliskan, “Ketika pembatalan atas kata-kata yang setan tempatkan di lidah Muhammad datang dari Allah, kaum Quraisy berkata, ‘Muhammad telah bertobat dari apa yang ia katakan tentang posisi dewa-dewa kita dengan Allah, mengubahnya dan memasukkan sesuatu yang lain. Kedua kalimat yang telah ditempatkan setan di lidah sang rasul adalah kalimat yang ada di bibir setiap orang kafir dan mereka menjadi lebih memusuhi kaum Muslim dan para pengikut rasul.’”[153]

       Muhammad memerintahkan kaum Muslim yang telah kembali dari Abisinia untuk balik kembali ke sana. Hanya Uthman dan isterinya, Ruqayya bint Muhammad, dan Abu Hudhaifa dan isterinya, Sahla bint Suhayl ibn Amr yang tetap tinggal di Mekah sampai kemudian mereka diperintahkan untuk hijrah ke Madinah kira-kira enam tahun kemudian. Tabari mengatakan bahwa jumlah mereka yang tinggal ada tigapuluh tiga orang.[154] Setelah kejadian ini aksi boikot dicabut.

 

Kematian Khadijah dan Abu Talib

       Tahun ke sepuluh (tahun ketiga sebelum Hijriah) adalah tahun bencana bagi Muhammad. Khadijah meninggal pada Desember 619 M dan lima minggu kemudian Abu Talib, pelindung Muhammad lainnya meninggal. Muhammad sangat setia kepada Khadijah.

       Sekitar enam minggu setelah kematian Khadijah, Muhammad menikahi Sauda dan Aisha. Sauda adalah seorang janda, berusia akhir duapuluhan atau awal tigapuluhan (ia meninggal pada 54 Hijra[155]), dan Aisha berusia enam tahun. Atas permintaan Abu Bakr, Muhammad menunggu tiga tahun sebelum melakukan hubungan badan dengannya.

       Kematian Abu Talib barangkali merupakan pukulan terbesar bagi Muhammad. Ia adalah tetua kaum yang dihormati yang telah mengajak klannya untuk mendukung Muhammad dan melindunginya dari musuh-musuhnya. Ia tidak pernah menerima Islam, tetapi tanpa dirinya, Muhammad mungkin tidak akan berhasil untuk mempertahankan dan menyebarkan agamanya. Ibn Ishaq mengatakan bahwa setelah kematian Abu Talib, kaum Quraisy mulai memperlakukan Muhammad secara ofensif, yang tidak berani mereka lakukan saat pamannya masih hidup. Salah satu kasus adalah seorang pemuda melemparkan debu tanah ke kepala Muhammad dan kasus yang lain ada yang melemparkan plasenta hewan ke rumah Muhammad.[156] Seburuk-buruknya hal ini, mereka masih belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan kaum Muslim kepada orang-orangnya yang murtad dan korban-korban lainnya. Muhammad menghina dewa-dewa mereka dan mereka membalas dengan tidak menaruh hormat kepadanya. Ini bukan definisi dari penganiayaan.

       Saat Abu Talib menjelang ajalnya, Muhammad memintanya untuk pindah ke Islam. Si penetua ini tersenyum dan berkata bahwa ia lebih memilih mati dalam agama para leluhurnya. Muhammad lalu berjalan keluar kamar sambil bergumam, “Aku ingin mendoakannya tetapi Allah menghalangi aku.” Ia menegaskan hal itu di dalam Quran. “It is not for the Prophet, and those who believe, to pray for the forgiveness of idolaters even though they may be near kin (to them) after it hath become clear that they are people of hell-fire.” (9:113)

       Pamannya, Abbas, mengatakan kepadanya, “Engkau tidak berguna bagi pamanmu (Abu Talib) (meskipun) demi Allah, ia selalu melindungi engkau dan marah demi engkau.” Muhammad menjawab, “Ia ada di api yang dangkal, dan seandainya bukan karena aku, ia akan berada di bagian terbawah api (Neraka).”[157]

 

Undangan Kepada Kaum Thaqif

       Islam tidak bertumbuh di Mekah. Setelah sepuluh tahun berkhotbah, memecah-belah masyarakat dan menghina agama kaum Quraisy, orang-orang telah mengambil sikap mereka. Sekitar 100 hingga 120, sebagian besar anak-anak muda dan budak, mengikuti Muhammad dan sisanya menentang dia dengan keras.

       Setelah kematian pamannya, dan menghadapi penolakan di Mekah, Muhammad berusaha menjangkau orang-orang yang bukan termasuk kaum Quraisy. Ibn Ishaq menuliskan, “Setelah kematian Abu Talib, Rasulullah pergi ke Taif untuk meminta bantuan kepada kaum Thaqif (suku yang tinggal di Taif) dan pembelaan mereka terhadap sukunya. Ia juga berharap mereka mau menerima pesan, yang telah Allah berikan kepadanya.”[158]

       Untuk memahami Islam dan Muhammad, sangat penting untuk memperhatikan apa yang dikatakan penulis biografinya. Muhammad ingin orang-orang menerima agamanya dan membantu dia melawan musuh-musuhnya. Sebagai imbalan atas bantuan mereka, ia menjanjikan sebagian dari hasil jarahan, jika mereka menang, dan imbalan surgawi, jika mereka terbunuh. Ia memberitahu kaum Quraisy bahwa ia diutus secara khusus bagi mereka dan menawarkan ketaatan suku-suku bangsa Arab lainnya dan sikap tunduk dari bangsa Persia. Mereka menolaknya. Sekarang kita menemukannya berada di Taif, menawarkan kepada kaum Thaqif kekayaan dan dominasi atas kaum Quraisy.

       Warga Mekah bukan saja menolak  Muhammad dan mengabaikan undangannya, mereka mengejek dan mencemoohkan dia saat ia menawarkan kekuasaan atas suku Arab lainnya dan bangsa Persia kepada mereka. Menurut pendapat seorang narsisis, hukuman bagi sikap tidak tahu berterimakasih seperti ini adalah pembantaian.

       Untuk membalas dendam terhadap kaum Quraisy yang tidak tahu berterimakasih, Muhammad membutuhkan bantuan dari suku Arab lainnya. Ia menawarkan hadiah yang sama kepada setiap orang: supremasi dan harta jarahan, jika mereka menang, dan perawan-perawan di firdaus, jika mereka terbunuh. Ini adalah ajaran agama Islam dan banyak ayat dalam Quran yang menegaskan hal itu.

       Catat bahwa Allah, dengan semua kekuasaanNya, benar-benar tidak berdaya. Dia tidak mengangkat satu jari pun untuk menolong nabiNya. Allah dan utusannya bergantung kepada para pengikut untuk bertindak sebagai kaki tangan mereka, mengobarkan perang dan berjuang untuk mereka.

       Ibn Ishaq menuliskan, “Ketika rasul tiba di al-Taif ia bertemu sejumlah orang yang pada saat itu merupakan pemimpin dan kepala suku, yaitu tiga bersaudara: Abdu Yalil, Mas’ud dan Harb, anak-anak dari Amr ibn Umayr ibn ‘Auf. Salah seorang dari mereka memiliki isteri dari suku Quraisy. Rasul duduk bersama mereka dan mengundang mereka untuk menerima Islam dan meminta mereka membantunya menghadapi musuh-musuhnya di kampung halamannya.”[159]

       Suku Thaqif adalah sekutu suku Quraisy, dan pria ini meminta mereka membantunya melancarkan peperangan terhadap sekutu mereka -- kaumnya sendiri. Ketiga bersaudara itu sangat marah. Mereka memarahinya dan mengusirnya keluar dari rumah mereka. Muhammad memohon kepada mereka untuk memelankan suara mereka. Ia takut orang lain akan mendengar mereka. Selain mendapat malu, berita tersebut bisa sampai ke Mekah dan pengkhianatannya akan terekspos. Tetapi ketiga bersaudara itu memanggil semua orang dan mengatakan kepada mereka apa yang ia lakukan dan anak-anak berkumpul dan melemparinya dengan kerikil lalu mengejarnya sampai keluar dari kota.

       Ibn Ishaq mengatakan bahwa dalam perjalanan ini Muhammad pergi sendiri. Tabari mengutip versi cerita yang lain yang mengatakan bahwa ia ditemani oleh anak angkatnya, Zein ibn Haritha.

       Kabur dari kejaran massa, Muhammad berlindung di sebuah kebun. Kebun tersebut ternyata milik Utba dan Shayba, anak-anak dari Rabi’a. Kedua bersaudara ini adalah tetua dan pemuka masyarakat di Mekah. Putera Utba, Abu Hudhaifa, telah berpindah ke Islam dan atas perintah Muhammad, telah memutuskan tali kekerabatannya dengan ayahnya. Meskipun kedua bersaudara ini bersimpati terhadap warga suku mereka, mereka tetap memberi Muhammad makan dan membiarkannya beristirahat hingga ia pulih dan kembali ke Mekah. Kakek Muhammad, Abdul Muttalib adalah kakak laki-laki dari kakek Utba dan Shayba, Abdul Shams.

       Ibn Ishaq menuliskan, “Ketika Utba dan Shayba melihat yang terjadi mereka merasa iba dan memanggil budak mereka yang beragama Kristen, Addas, dan menyuruhnya untuk membawa seikat anggur di piring dan diberikan kepada Muhammad untuk dimakan.”[160] Tiga tahun kemudian di Bard, Muhammad menyeret dan melemparkan begitu saja ke dalam sumur mayat kedua bersaudara yang mati terbunuh ini.

 

Jin Memeluk Agama Islam

       Perjalanan ke Taif merupakan pengalaman yang memalukan. Diperlakukan seperti orang gila, dikejar-kejar seperti anjing, sudah melampaui apa yang dapat ditanggung oleh seorang narsisis. Menambah rasa terhina atas cederanya, ia dilihat dalam keadaan kondisi memalukan itu oleh Utba dan Shayba, yang sudah pasti akan menceritakan kepada kaum Quraisy apa yang telah mereka lihat dan memberitahu mereka tentang pengkhianatannya.

       Muhammad perlu menyembuhkan harga dirinya yang terluka. Di sinilah kita bisa melihat akal daya dari seorang narsisis dan kemampuan Hercules-nya untuk bangkit kembali dan mengeluarkan dirinya dari jurang keputuasaan ke puncak optimisme dan harapan. Yang ia perlukan hanya suntikan pasokan narsisistik, dan jika itu tidak tersedia dari sumber di luar dirinya, ia bisa menciptakannya melalui kemampuan imajinasinya.

       Bagi seorang narsisis, efek dari apa yang ia bayangkan senyata realitas. Ia tidak bisa mengenali perbedaannya. Ia bisa percaya kepada kebohongannya sendiri, dengan keyakinan yang sama sebagaimana ia percaya hal yang ia alami yang berasal dari luar dirinya.

       Muhammad mengklaim bahwa setelah kaum Thaqif memperlakukannya dengan buruk, dalam perjalanannya kembali ke Mekah, ketika ia tiba di Nakhlah, ia bangkit untuk berdoa di tengah malam dan sejumlah jin lewat. Mereka mendengarkannya dan setelah ia selesai berdoa mereka kembali kepada sesama mereka dan memperingati mereka, karena percaya dan merespons apa yang telah mereka dengar. [161]

       Para jin yang pergi menuju Tuhama berpapasan dengan Nabi di tempat bernama Nakhlah dan itu dalam perjalanan menuju Suq ‘Ukaz dan Nabi sedang melakukan doa subuh dengan pengikut-pengikutnya. Ketika mereka mendengar Quran mereka mendengarkannya dan berkata, “Demi Allah, inilah yang telah menempatkan penghalang antara kita dan berita dari surga.” Mereka pergi kepada warga mereka dan berkata, “Wahai kaum kami sekalian, sungguh kami telah mendengar lantunan indah (Quran) yang menunjukkan jalan yang benar; kami percaya kepadanya dan tidak akan mempersekutukan apapun dengan Tuhan kami.” Allah mewahyukan ayat-ayat tersebut kepada nabiNya (Sura ‘Jinn’) (72): “Say: It has been revealed to me.” Dan apa yang telah diwahyukan kepadanya adalah percakapan dari para jin tersebut.”[162]

       Kisah fantastis ini ditegaskan di dalam Quran 46:29-30. Untuk apa Muhammad mengarang cerita seperti ini? Ini adalah caranya untuk menyelamatkan wajahnya dan membual bahwa walaupun manusia memperlakukannya dengan buruk, jin mengakui dia sebagai utusan Allah dan percaya kepadanya.

       Namun, kisah ini berkontradiksi dengan perkataan Muhammad sendiri dalam Quran 17:94, dimana dalam menjawab mereka yang berkata mengapa Allah tidak mengirimkan malaikat untuk menuntun kami dan “Kamu hanyalah manusia seperti kami juga.” (14:10) ia menjawab, “if there were on earth angels, God would have sent for them angels as Messenger, but to humans, humans will be sent as messengers. (17:95)

       Ibn Kathir menjelaskan, “Dia [Allah] mengirimkan Utusan yang sejenis dengan mereka agar mereka dapat memahami apa yang ia katakan dan bisa berbicara langsung dengannya. Jika Dia mengirimkan kepada manusia Utusan yang berasal dari antara malaikat, mereka tidak akan bisa bertatap muka langsung dengannya dan belajar darinya, seperti yang dikatakan Allah: “Indeed, Allah conferred a great favor on the believers when He sent among them a Messenger from among themselves.” (3:164)

       Dari cerita di atas, jelaslah bahwa kepada setiap spesies, Allah mengirimkan utusan yang sejenis dengan mereka agar mereka bisa berbicara langsung dengannya. Oleh sebab itu, bagaimana mungkin Muhammad bertindak sebagai utusan bagi para jin bila ia dilahirkan sebagai manusia dan menyatakan diri sebagai manusia?

       Semua kontradiksi ini menunjukkan bahwa Muhammad mengarang ceritanya sesuai tuntutan situasi yang terjadi saat itu. Pembohong biasanya mempunyai daya ingat yang pendek.

 

Muhammad Menunjukkan Kemurahan Hati

       Ia mengingat pengalaman pahitnya di Taif sebagai perlakuan terburuk yang pernah ia terima. Ia mengklaim bahwa dalam perjalanannya kembali ke Mekah, Jibril menampakkan diri kepadanya dan berkata, “Allah, yang dihormati dan dimuliakan, telah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu, dan bagaimana mereka bereaksi terhadap panggilanmu. Dan Dia telah mengirimkan bagimu malaikat yang menguasai gunung-gunung. Malaikat penguasa gunung-gunung (kemudian) berseru kepadaku, memberi salam kepadaku dan berkata: Muhammad, Allah telah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu. Aku malaikat penguasa gunung-gunung dan Tuhanmu telah mengutus aku bagimu agar engkau bisa memberi aku perintah sesuai keinginanmu. Jika engkau ingin aku menyatukan kedua gunung yang berdiri berhadapan di kedua ujung Mekah untuk menghancurkan mereka di antara kedua gunung, (akan aku lakukan). Tetapi Rasulullah mengatakan kepadanya: Aku lebih mengharapkan Allah akan memberikan keturunan kepada mereka orang-orang yang akan menyembah Allah, yang Esa, dan tidak akan mempersekutukan apapun denganNya.”[163]

       Mari kita berlakon sebagai psikoanalis dan membaca hadis di atas dengan pembacaan yang lebih rasional. Alasan dibuatnya klaim ini sama dengan alasan dibuatnya kisah tentang jin yang masuk Islam. Muhammad di tolak. Ia dihina, dipermalukan, dan dihajar. Ini bukan pengalaman yang menyenangkan bagi siapa pun. Bagi seorang narsisis, hal ini sudah terlalu berlebihan. Ia harus menyatukan kembali egonya yang hancur. Ia mengklaim bahwa Jibril dan malaikat penguasa gunung-gunung (mitos dari paganisme), menawarkan untuk menghancurkan Taif dan meremukkan penduduknya di antara kedua gunung. Ia memverbalisasi angan-angannya dan apa yang akan ia lakukan jika ia mampu. Namun, karena ia tidak bisa melakukan hal itu, ia ingin dianggap sebagai orang yang murah hati dan pemaaf. Dengan kata lain, “jika aku tidak menghukum engkau, bukan karena aku tidak bisa, tetapi karena aku adalah seorang yang pemaaf.” Sang pencipta manusia tidak peduli terhadap ciptaannya, tidak seperti nabiNya yang maha pemaaf ini. Dia mengirim dua malaikatNya untuk mendapatkan ijin dari Muhammad untuk menghancurkan kota tersebut dan membunuh semua penduduknya, tetapi sang Nabi, yang jauh lebih mengasihi dan pemaaf daripada Allah, mengatakan bahwa lebih berharap agar keturunan orang-orang ini menjadi Muslim, dan ia memaafkan mereka.

       Ini adalah orang yang sama yang bersumpah akan membawa pembantaian bagi kerabatnya sendiri, dan alasan ia pergi ke Taif adalah untuk meminta bantuan melancarkan peperangan melawan mereka, membantai mereka dan menjarah mereka. Tetapi sekarang saat ia tidak berdaya, ia malah lebih pemaaf dan lebih baik hati daripada Allah.

       Pengikutnya menelan segala hal yang ia katakan kepada mereka dan tidak ada yang bertanya kenapa Jibril dan sobat bersayapnya yang berkuasa untuk memindahkan gunung tidak muncul ketika ia sedang dilempari batu untuk melindungi dirinya. Atau kenapa mereka tidak menampakkan diri di hadapan orang-orang tersebut agar mereka tidak mencederainya?

 

Warga Mekah Melindungi Muhammad

       Dalam dunia yang beradab, orang dilindungi oleh hukum. Dalam masyarakat tanpa hukum seperti di Arab pada abad ketujuh, orang mengandalkan kehormatan. Jika Anda dibunuh dan tidak memiliki siapa-siapa untuk membalaskan darah Anda, si pembunuh bisa terbebas dari hukum. Jadi orang-orang dari kota-kota yang berbeda mengikat tali persekutuan dan menyatakan diri sebagai pelindung bagi satu sama lain. Jika Anda bepergian ke negara yang baru dan Anda bisa menemukan seorang yang berkuasa dan yang bersedia melindungi Anda, Anda akan selamat. Membunuh Anda berarti tidak menghormati pelindung Anda, dan pembunuh Anda bisa menjadi target pembalasannya.

       Selama Abu Talib masih hidup, Muhammad ada di bawah perlindungannya. Meskipun bukan pria yang berkuasa, kaum Quraisy menghormati sang tetua suku yang sudah tua itu dan tidak mencederai orang yang dilindunginya, agar mereka tidak menghinanya. Setelah kematiannya, Muhammad merasa rentan. Umar dan khususnya Hamza sangat kuat secara fisik, tetapi mereka adalah penjahat, bukan pejabat maupun tokoh penting. Ibn Ishaq mengatakan bahwa kaum Muslim berasal dari masyarakat kelas bawah.[164]

       Menyadari bahwa pengkhianatannya terhadap Mekah telah terungkap, Muhammad takut untuk masuk ke kota. Ia mengutus seseorang kepada Akhnas ibn Shariq, salah satu pemuka dan sekutu masyarakat Mekah, untuk meminta perlindungan kepadanya. Akhhas menjawab bahwa seorang sekutu tidak bisa memberikan perlindungan terhadap anggota warga suku setempat. Muhammad lalu mengirim utusannya kepada Suhayl ibn Amr, salah satu anggota masyarakat yang dihormati, untuk meminta perlindungan. Suhayl juga menolak. Muhammad mengirim utusannya kepada Mut’im ibn Adiy. Yang terakhir ini setuju bertindak sebagai pelindungnya. Keesokan harinya ia pergi ke mesjid dan mengumumkan janjinya secara terbuka. Begitu Mut’im memberikan perlindungan kepada Muhammad, semua orang menghormatinya. Abul Hakam yang merupakan musuh terbesar Muhammad juga mengatakan, “Kami akan memberikan perlindungan bagi dia yang engkau lindungi.” Demikianlah Muhammad memasuki Mekah dan tinggal di sana dan pengkhianatannya terhadap mereka telah terungkap, ia tidak disakiti.

       Ibn Ishaq menarasikan, “Suatu hari ketika ia pergi ke mesjid suci saat para kafir berada di Ka’bah, dan ketika Abu Jahal [Abul Hakam] melihatnya ia berkata dengan nada mengejek, ‘Inilah nabimu wahai ibn Abdu Manaf.’ Utba ibn Rabi’a menjawab, ‘ Dan mengapa Anda harus ambil peduli jika kami memiliki nabi atau raja?’ Ketika sang Nabi mendengarnya, ia berkata, ‘Wahai Utba, engkau bukan marah atas nama Allah atau atas nama rasulNya, tetapi atas keinginanmu sendiri. Adapun engkau, Abu Jahal, pukulan besar takdir akan datang kepadamu di mana hanya ada sedikit kebahagiaan dan banyak tangisan. Dan engkau, wahai para pemuka Quraisy, pukulan besar akan datang kepadamu sehingga Anda akan mengalami apa yang jijik bagi Anda secara paksa.”[165]

       Pernyataan nubuatan di atas adalah apokrif. Dengan asumsi bahwa itu benar, hal itu menunjukkan bahwa meskipun diberi perlindungan di Mekah, Muhammad sedang mengeluarkan ancaman kepada para pemuka di sana. Jika seseorang mengatakan bahwa ia ingin membunuh Anda, adalah bijaksana untuk percaya kepadanya. Banyak pemuka-pemuka Mekah membayar dengan nyawa mereka karena tidak mengindahkan sepotong ungkapan tua ini.

       Dikatakan bahwa mereka yang tidak belajar dari kesalahan masa lalu, akan mengulangi kesalahan yang sama. Saat ini hukum di negara-negara beradab dan demokratis menawarkan perlindungan bagi kaum Muslim, banyak dari mereka yang dengan bebas menghina tuan rumah mereka dan tidak menutup-nutupi niat mereka yang ingin membawa pembantaian bagi mereka. Tidak semua Muslim adalah teroris. Mereka yang tidak demikian, tidak memahami Islam. Ketidakpahaman mereka tidak membuat mereka atau kepercayaan mereka jadi kurang berbahaya. Setiap Muslim bisa menjadi radikal jika ia membaca kitab sucinya dan percaya bahwa itu adalah firman Allah.

 

Patriotisme atau Narsisisme?

       Sedikit Islamis yang memahami motivasi Muhammad dalam menciptakan Islam. Pendeta Cannon Sell percaya bahwa ia adalah patriot yang berjuang untuk persatuan masyarakat Arab dan melihat perlunya pemerintahan pusat di Hijaz. “Kedudukan masalah pada waktu itu adalah,” kata Sell, “jika eksistensi politik di Arabia harus diselamatkan, maka harus ada perubahan. Saatnya sudah siap untuk itu. Diperlukan seorang pemimpin yang mampu menyatukan suku-suku Arab berlandaskan agama, dan tetap melestarikan kepercayaan konservatif takhayul mereka terhadap Ka’bah dan ibadah haji, atau perjalanan ziarah tahunan ke Mekah. Demikianlah situasinya ketika Muhammad telah cukup umur untuk memahaminya, dan ini bukan mendiskreditkan dia untuk menganggap bahwa ia adalah seorang Arab yang patriotis, yang sangat ingin melihat negeri ini bebas dari musuh-musuhnya dan dengan demikian bersatu dan kuat. Kemungkinan sekali perasaan patriotis ini memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membentuk karya hidupnya, dan bahwa gagasannya yang pertama adalah menemukan agama nasional sebagai sumber kekuatan dan persatuan, bukan agama yang univesal.”[166]

       Tidak ada petunjuk tentang apa yang dikatakan Sell dalam tulisan-tulisan Muhammad, dan tidak ada satu hal pun yang ia lakukan yang mengindikasikan bahwa ia adalah seorang patriot. Definisi kamus standar Patriotisme adalah “kecintaan seseorang terhadap tanah airnya”. Stephen Nathanson mendefinisikan patriotisme sebagai sifat yang melibatkan:

·         Kecintaan khusus seseorang terhadap negaranya,

·         Merasa memiliki identifikasi pribadi dengan negara tersebut,

·         Memiliki perhatian khusus terhadap kesejahteraan negara tersebut,

·         Bersedia berkorban untuk memperkenalkan kebaikan negara.[167]

       Apakah kita menemukan karakteristik ini dalam diri Muhammad? Mengutip kata-kata F. E. Peters, “Allah (atau Muhammad berbicara atas namaNya) tertarik kepada ‘kepatuhan’, tetapi tidak begitu tertarik dengan sejarah baik lokal maupun kontemporer. Ketertarikan Quran terhadap kisah masa lalu sebagian besar terletak pada Sejarah Suci, kisah tentang Penciptaan dan sejarah dari berbagai nabi mulai dari Abraham hingga Yesus yang dikirim bagi umat manusia untuk menjaga mereka di atas jalan yang lurus. Tentang Mekah dan penduduknya, bahkan tentang Muhammad, sedikit sekali yang diberitahukan kepada kita. Tetapi jika sejarawan sekuler percaya, sebagaimana ia diharuskan, bahwa setiap perkataan yang keluar dari mulut Muhammad adalah milik Muhammad, maka semua yang tertulis di Quran adalah tentang Muhammad.”[168]

       Muhammad tidak memikirkan tentang persatuan penduduk Arab dan tidak tertarik dengan budaya mereka, yang ia remehkan dengan sebutan jahiliyah (kebodohan). Satu-satunya kepedulian dia adalah membuat orang lain tunduk kepadanya. Satu-satunya kekuasaan yang ia cari adalah kekuasaan bagi dirinya sendiri. Ia menjanjikan bagian atas barang jarahan dan kekuasaan kepada kaum Quraisy, jika mereka membantunya menaklukkan dan menundukkan suku-suku Arab lainnya. Ketika mereka mengabaikannya, ia berkeliling berkhotbah kepada suku-suku lainnya, menawarkan harta kekayaan kaum Quraisy kepada mereka jika mereka membantunya menaklukkan suku Quraisy dan menerimanya sebagai nabi penguasa mereka.

       Jika Muhammad memang menginginkan persatuan bangsa, ia harusnya berfokus kepada apa yang mempersatukan masyarakat Arab, yakni agama mereka, seperti yang dilakukan bangsa Yahudi 1300 tahun sebelumnya. Alih-alih ia menentang agama mereka. Patriotisme merupakan hal terakhir yang ada di dalam pikiran Muhammad.

       Semua narsisis adalah pemimpin kultus. Kultus mereka bisa terdiri dari satu pengikut saja, yang seringkali merupakan pendamping co-dependen mereka. Mereka harus menciptakan sebuah kultus atau mereka menarik diri dari masyarakat dan hidup menyendiri, seperti Unabomber yang keji atau Muhammad, sebelum ia menciptakan Islam. Perekat yang menyatukan kultus tersebut adalah kebencian dari pihak luar. Mengutip kata-kata Sigmund Freud, “Selalu mungkin untuk menyatukan sejumlah besar orang dalam kasih, asalkan ada orang lain yang tersisa untuk menerima manifestasi dari agresi mereka.” Ini adalah yang dilakukan Hitler, Mao, Jim Johnes, Muhammad, dan semua narsisis besar dalam sejarah, untuk menggalang orang-orang di sekitar mereka. Jika kultus tersebut tumbuh besar, itu bisa menjadi sebuah kekaisaran. Tetapi adalah sebuah kesalahan untuk berasumsi bahwa para pemimpin gila ini bersifat patriotis. Seorang patriot adalah orang yang mencintai negaranya dan warganya dan akan mengorbankan nyawanya bagi mereka, tidak mengharapkan orang lain berkorban bagi dirinya. Narsisis tidak mampu mengasihi dan mengorbankan diri. Mereka lebih memilih mengorbankan semua orang demi mencapai tujuan mereka. Mereka adalah manipulator yang hebat yang menggunakan segala dalih untuk memperoleh kekuasaan. Ras, klas, agama, Tuhan, atau negara, adalah dalih yang digunakan narsisis untuk mendapatkan kekuasaan. Ia bisa mengubah dalih tersebut jika kemudian tidak sesuai dengan tujuannya. Tujuan, bagi pemimpin kultus narsisis bukanlah akhir bagi dirinya, tetapi sarana untuk mencapai akhir. Akhir permainan adalah dominasi, dan kekuasaan. Mereka adalah alat dalam usahanya mencari kekuasaan. Ia bisa mengubah tujuan dan pesannya segampang ia mengganti pakaian.

       Muhammad memilih monoteisme sebagai tujuannya. Ada saat di mana ia berpikir barangkali akan membantu dia mendapat lebih banyak pengikut jika ia memperkenalkan politeisme – demikianlah terjadinya episode Ayat-ayat Setan. Begitu ia melihat bahwa itu tidak berhasil, ia berbalik kepada ajaran monoteisme.

       Kita ambil contoh dari Ka’bah. Penghormatan untuk bangunan ini bukan bagian dari Islam. Selama tiga belas tahun pertama, Muhammad berkiblat ke Yerusalem. Hanya ketika ia hijrah ke Madinah dan mendapat sambutan dingin dari kaum Yahudi ia membalikkan punggungnya ke Yerusalem dan menghadap Ka’bah saat berdoa. Yang memotivasi Muhammad adalah narsisisme, bukan patriotisme.

 

Muhammad Mengutuk Pencemoohnya

       Perlakuan atas Muhammad di Taif, bagi seseorang yang menganggap dirinya sebagai alasan untuk penciptaan, adalah pengalaman yang memalukan. Sebagai tambahan bagi penghinaannya, kisah tentang pengusirannya dari kota tersebut secara tidak terhormat telah menyebar di antara para penduduk Mekah, sehingga memberi mereka lebih banyak lagi bahan olok-olok.

       Awalnya ia mencoba berbesar hati dan mengklaim memiliki moral yang sangat baik. Ia membuat Allahnya berwahyu, “Mocked were (many) apostles before thee; but their scoffers were hemmed in by the thing that they mocked.”(6:10) dan “So proclaim that which thou art commanded, and withdraw from the idolaters. Lo! We defend thee from the scoffers.” (15:94-95)

       Muhammad bukanlah Yesus yang meminta pengampunan bagi penganiayanya. Sifat alaminya adalah untuk mengeluarkan ancaman, dan bila itu tidak berhasil, mengutuk para pencemoohnya. Ibn Ishaq mengatakan bahwa pencemooh itu adalah lima orang yang disegani dan dihormati di antara warga suku mereka. Di antaranya ada Aswad ibn Muttalib dan sang rasul mengutuknya atas penghinaan dan ejekannya, “Ya Allah, butakan dirinya dan bunuh anaknya![169]

       Ibn Ishaq kemudian dengan sukacita menggambarkan bagaimana masing-masing pencemooh Muhammad itu mati dengan berbagai cara, sebagai akibat dari kutukannya. Ia lupa bahwa nabinya sendiri, sebagaimana dikatakan Aisha, mati dengan kesakitan yang amat sangat menyiksa. Aisha mengatakan, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih menderita kesakitan daripada Rasulullah.”[170] Pikiran Muslim bekerja dengan cara yang aneh. Jika musuh Islam menderita, maka itu adalah hukuman Allah; jika Muslim yang menderita, itu adalah ujian dimana mereka nantinya akan mendapat penghargaan.

 

 

Kenaikan ke Surga

       Mengutuk para pencemoohnya masih belum cukup. Muhammad butuh pasokan narsisistik yang lebih besar untuk menyembuhkan egonya yang terluka dan untuk menegaskan arti penting dirinya. Ia pergi ke mesjid di Mekah dan membuat pengumuman yang mengejutkan. Ia mengklaim bahwa saat ia sedang tidur, malaikat Jibril datang dan mengguncang kakinya. (Sungguh cara yang tidak sopan untuk membangunkan nabi kesayangan Allah!) Dia kemudian menaikkan Muhammad ke atas keledai bersayap dan membawanya pertama-tama ke Yerusalem dan dari sana ke surga.

       Kisah Mi’raj (kenaikan) yang dikumpulkan oleh Ibn Ishaq adalah seperti berikut: “Buraq, hewan yang setiap langkahnya bisa membawanya sejauh pandangan matanya, yang dinaiki oleh nabi-nabi sebelumnya, dibawa kepada sang rasul dan ia dinaikkan ke atasnya. Rekannya (Jibril) pergi bersamanya untuk melihat keajaiban di antara langit dan bumi, hingga ia sampai ke bait suci Yerusalem. Di sana ia menemukan Abraham sahabat Allah, Musa, dan Yesus, berkumpul bersama sekumpulan nabi, dan ia berdoa bersama mereka.”

       Kebohongan Muhammad penuh dengan rincian yang menekankan keistimewaannya. Ia menambahkan, “Ketika aku menaikinya, [hewan yang dinamai Buraq] ia menghindar. Jibril menaruh tangannya di surainya dan berkata, ‘Tidakkah engkau malu, wahai Buraq, bersikap seperti ini? Demi Allah, tidak seorangpun yang pernah menaikimu sebelumnya yang lebih terhormat daripada Muhammad di hadapan Allah.’ Hewan tersebut merasa sangat malu sampai bercucuran keringat dan berdiri diam agar aku bisa menaikinya.”

       Versi lain dari kisah ini menceritakan bahwa dari Yerusalem sang nabi dibawa ke surga di mana ia bertemu dengan para nabi dalam kisah Alkitab. Di tingkap surga paling rendah ia bertemu dengan Adam yang menyambutnya dan berkata, “Selamat datang, anakku! Sungguh engkau anak yang baik!”

       Kemudian Jibril membawanya berkeliling dan memperlihatkan kepadanya istana yang dibangun dengan mutiara dan zamrud di pinggir sebuah sungai dan memberitahu dia, ini adalah istanamu dan sungai ini adalah Kautsar yang telah Allah siapkan bagimu.

       Dari sana ia mengklaim bahwa ia dibawa ke semua tingkap surga dan ia bertemu seorang nabi di masing-masing tingkap, hingga ia mencapai tingkap langit ketujuh di mana ia bertemu dengan Abraham. Abraham berada di tingkap surga tertinggi sebab ia berbicara dengan Allah.

       Di tingkap surga ke tujuh, Allah memerintahkan limapuluh shalat bagi para pengikut Muhammad. Tetapi saat ia dalam perjalanan kembali, Musa yang lebih bijaksana dari Allah menghentikan dia dan mengatakan bahwa ini terlalu banyak, pengikutmu tidak mungkin mampu melakukan limapuluh shalat dalam sehari. Kembalilah dan minta kepada Allah untuk mengurangi jumlah shalat tersebut. Muhammad kembali dan tawar-menawar dengan Allah, “Ya Allah, para pengikutku memiliki tubuh, jantung, pendengaran dan jasmani yang lemah, jadi ringankanlah beban kami.” Allah lalu mengurangi jumlah shalat menjadi empatpuluh kali. Lagi-lagi, Musa menghentikan Muhammad dan memberitahu dia bahwa shalat empatpuluh kali masih terlalu banyak. Muhammad kembali dan Allah mengurangi jumlah shalat menjadi tigapuluh kali. Hal ini terjadi beberapa kali, sampai Allah mengurangi jumlah shalat menjadi lima kali sehari. Ketika Musa mengirim Muhammad kembali untuk menawar lagi, Allah berkata, “Firman yang datang dari Aku tidak berubah.”[171] Pembaca diharapkan untuk mengabaikan bahwa hadis yang sama mengatakan bahwa Allah telah mengubah firmanNya beberapa kali sebelumnya.

       Muhammad yakin bahwa orang-orang akan percaya kepada kebohongan ini dan akan terkesan dengan kisahnya. Tetapi warga Mekah mengatakan, demi Allah, ini benar-benar konyol! Dan banyak Muslim yang meninggalkan kepercayaannya.[172]

       Akan tetapi, iman Abu Bakr tidak tergoyahkan. Beberapa orang mendatanginya dan berkata, “Apa pendapatmu tentang sahabatmu sekarang, Abu Bakr? Ia menyatakan bahwa ia pergi ke Yerusalem semalam dan berdoa di sana dan kembali ke Mekah.” Ia menjawab bahwa mereka berbohong; tetapi mereka mengatakan kepadanya bahwa Muhammad tepat pada saat itu dan sedang memberitahu orang-orang tentang hal itu. Abu Bakr berkata, “Jika ia mengatakan demikian, maka hal itu pasti benar. Memangnya apa yang mengherankan dari itu? Ia memberitahu aku bahwa komunikasi dengan Allah dari surga ke bumi datang kepadanya pada pagi maupun malam hari dan aku percaya kepadanya, dan itu lebih luar biasa lagi dari yang engkau ragukan saat ini!”[173] Kita sungguh tidak bisa mengukur sejauh mana orang bisa tertipu.

       Muhammad terus menambahkan lebih banyak detil ke dalam kisahnya sekali-sekali. Beberapa tahun kemudian di Madinah, dalam kesempatan penguburan Ibrahim, putera yang diduga lahir dari hubungannya dengan Mariah, pelayan Koptiknya, ia mengklaim bahwa selama kunjungannya ke surga ia juga diajak berkeliling neraka di mana ia melihat dipenuhi oleh wanita. “ ‘Aku juga melihat Api Neraka dan aku belum pernah melihat pemandangan yang mengerikan seperti itu. Aku melihat sebagian besar penghuninya adalah wanita.’ Orang-orang bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Mengapa bisa demikian?’ Nabi menjawab, ‘Karena sikap tidak tahu berterimakasih mereka!’ Ditanyakan apakah mereka tidak tahu berterimakasih kepada Allah. Nabi berkata, ‘Mereka tidak tahu berterimakasih kepada suami mereka dan tidak tahu berterimakasih terhadap perbuatan baik.’”[174]

       Sehubungan dengan para pengikutnya yang tidak mudah tertipu seperti Abu Bakar dan meninggalkannya karena hal itu, ia membuat Allahnya berkata, “And We granted the vision (Ascension to the heavens “Miraj”) which We showed you (O Muhammad) but as a trial for people.” (17:60)

       Mari kita lihat lebih dekat kisah ini di bawah cahaya nalar. Catat bahwa Muhammad mengklaim pengalaman kenaikannya adalah fenomena fisik, sehingga mendorong orang banyak meninggalkannya. Masalah yang lain adalah bahwa menurut eskatologi Muhammad sendiri, orang yang sudah mati akan tinggal dalam kubur sampai hari kiamat ketika malaikat Israfil membunyikan terompet mengirimkan “semburan kebenaran” dan kemudian semua umat manusia akan bangkit dari kubur mereka dan akan dihakimi dan Muhammad akan menjadi orang pertama yang masuk ke surga.[175]  Jika Muhammad adalah orang pertama yang surga lalu bagaimana ia bisa melihat nabi-nabi Alkitab di sana? Berdasarkan keyakinannya, neraka dan surga belum beroperasi sampai Hari Penghakiman.

       Muhammad juga mengklaim bahwa ia melihat istana yang telah disediakan Allah baginya. Klaim ini berkontradiksi dengan  Quran 46:9. “Say: ‘I am not an innovation among the Messengers, and I know not what shall be done with me or with you. I only follow what is revealed to me; I am only a clear warner.” Dalam ayat ini, Allah memberitahu Muhammad engkau tidak tahu apakah engkau akan dikirim ke neraka atau ke surga. Oleh sebab itu, klaim Muhammad bahwa kepadanya diperlihatkan istananya di surga mengkontradiksi ayat ini.

       Ia mengklaim ia dibawa ke bait suci di Yerusalem (mesjid yang paling jauh). “Glory to (Allah) Who did take His Servant for a journye by night. From the Sacred Mosque (in Mecca) to the Farthest Mosque (in Jerusalem).” (17:1)  Ia telah mendengar tentang bait suci itu, tetapi tidak tahu bahwa bangunan itu telah dihancurkan  oleh Titus pada tahun 70 M.

       Jadi menurut kisah Mi’raj, yang juga diratifikasikan dalam Quran, Muhammad dibawa ke surga oleh Jibril di mana ia bertemu dengan Allah dan berbicara denganNya, dan kepadanya juga diperlihatkan istananya di surga. Tetapi belakangan kepada Aisha, ia menceritakan kisah yang berbeda yang memungkiri semua itu. Seseorang yang bernama Masruq menarasikan, “Aku berkata kepada Aisha, “Wahai ibu! Apakah nabi Muhammad melihat Tuhan?” Aisha berkata, “Apa yang engkau katakan membuatku merinding! Ketahuilah jika seseorang memberitahu kamu salah satu dari ketiga hal ini, ia adalah pembohong: Siapa pun yang memberitahu kamu bahwa Muhammad melihat Tuhannya, adalah pembohong.” Lalu Aisha membacakan ayat: ‘No vision can grasp Him, but His grasp is over all vision. He is the Most Courteous Well-Acquainted with all things.’ (6:103)  ‘It is not fitting for a human being that Allah should speak to him except by inspiration or from behind a veil.’ (42:51) Lebih jauh Aisha mengatakan, “Dan barangsiapa memberitahu kamu bahwa sang Nabi tahu apa yang akan terjadi besok, adalah pembohong.” Ia lalu membacakan, ‘No soul can know what it will earn tomorrow.’ (31:34)  Aisha menambahkan, “Tetapi sang Nabi melihat Jibril dalam bentuk aslinya sebanyak dua kali.”[176]

       Sira dan hadis penuh dengan kisah  tentang Muhammad melihat Jibril. Tentang otoritas hadis di atas, semuanya adalah palsu. Dua kali Muhammad melihat Jibril adalah ketika ia menerima maklumat kenabiannya di depan Gua Hira. Ketika Aisha bertanya mengenai itu, Muhammad berkata, “Sungguh ia adalah Jibril. Aku belum pernah melihatnya dalam bentuknya yang sebenarnya sebagaimana ia diciptakan kecuali dalam kedua peristiwa itu.” (yakni Quran 31:23 dan 35:13).[177]

       Peristiwa kenaikan Muhammad ke surga terjadi di Mekah, tetapi belakangan di Madinah ia berkata, “Demi Allah, terlepas dari kenyataan bahwa aku adalah Rasul Allah, aku tidak tahu apa yang akan Allah lakukan terhadapku.”[178] Jadi apakah kepadanya diperlihatkan istananya di surga atau tidak? Atau barangkali Anda berpikir bahwa ia dijanjikan tempat itu dengan syarat bahwa ia tidak melakukan dosa. Tetapi dalam Quran 48:2 Allah berdoa kepada dirinya sendiri “That Allah may forgive thee of thy sin that which is past and that which is to come.” Aku yakin Allah menjawab doanya sendiri. Bukan begitu?

 

Muhammad Berkhotbah Di Antara Suku-suku

       Ibn Ishaq menuliskan, “Rasulullah menawarkan diri untuk suku-suku warga Arab di pekan raya setiap kali ada kesempatan, memanggil mereka kepada Allah dan memberitahu mereka bahwa ia adalah nabi yang diutus. Ia meminta mereka percaya kepadanya dan melindunginya hingga Allah menjelaskan pesanNya yang telah ia sampaikan kepada nabiNya kepada mereka.”[179]

       Bagian ini menegaskan bahwa ajaran Islam tidak jelas bagi mereka yang menerimanya. Empatbelas abad telah berlalu dan pesannya masih belum jelas juga. Islam tidak mempunyai pesan lain selain klaim bahwa Muhammad adalah nabi Allah dan bahwa Allah telah memberikan hak kepadanya untuk menjarah dan menjadi penguasa dengan menggunakan teror. Bagian pertama dari pernyataan iman Islam, yaitu keesaan Tuhan, sudah dipraktekkan oleh orang-orang Yahudi, Kristen, Hanif dan Zoroaster. Gelar Al Lah (Tuhan) adalah bukti bahwa para pagan Arab juga percaya bahwa Tuhan itu esa. Mereka berdoa kepada dewa-dewa kecil sebagai perantara, mirip seperti umat Katolik yang berdoa kepada para orang kudus sebagai perantara. Pada abad keenam, banyak warga Arab yang menjadi Kristen.

       Seperti yang kita dalam episode ayat-ayat setan, bahkan monoteisme bagi Muhammad adalah sesuatu yang bisa dinegosiasikan. Inti dari ajarannya adalah bahwa dia adalah utusan Allah. Itu yang ingin agar dipercaya orang-orang. Penerimaan atas klaim itu berarti dihormati, dikasihi dan kepatuhan kepada dirinya. Tetapi ia tidak memiliki bukti atas klaimnya. Ia mengira kata-katanya saja sudah cukup dan klaimnya akan diterima sebagai bukti. Ia mengharapkan orang lain percaya kepadanya karena ia spesial. Ia sangat yakin terhadap keyakinannya yang berbelit-belit sehingga ia merendahkan dan menghujat orang-orang yang menolak klaimnya  yang “tidak memerlukan bukti”. Alasan orang tidak percaya kepadanya, menurut dia, adalah karena mereka dikutuk, tuli, dan buta. (47:23) Satu-satunya argumen yang pernah ia ajukan untuk mendukung klaimnya adalah ancaman tentang kematian, penghinaan di dunia ini dan hukuman di akhirat.

       Dakwah artinya undangan. Muslim diwajibkan untuk melakukan dakwah, yakni mengundang orang lain untuk bertobat. Begitu kita membaca biografi Muhammad jelas sekali bahwa ia memaksudkan ini sebagai ultimatum. Menyediakan bukti tidak pernah menjadi bagian dari dakwah Islam.

       “Ketika sang Utusan Allah menunjuk seseorang sebagai pimpinan pasukan atau detasemen, ia berkata: ‘Berjuanglah dalam nama Allah dan menurut cara Allah. Lawanlah mereka yang tidak percaya kepada Allah. Kobarkan perang suci. Jangan menggelapkan harta rampasan... Bila engkau bertemu musuhmu yang kafir, undang mereka dengan tiga pilihan. Jika mereka menerima salah satu dari itu, engkau juga harus menerimanya dan jangan mencelakai mereka. Undang mereka untuk (menerima) Islam; jika mereka menerima, terimalah dari mereka dan berhenti memerangi mereka. Lalu undang mereka untuk keluar dari tanah mereka... Jika mereka menolak untuk keluar... (dan) menolak untuk menerima Islam, tuntut mereka untuk membayar Jizya. Jika mereka setuju membayar, terimalah dari tangan mereka dan jangan mencelakai mereka. Jika mereka menolak membayar pajak, mintalah bantuan Allah dan perangilah mereka.”[180]

       Tidak pernah terpikir oleh Muhammad bahwa ia harus menyediakan bukti untuk klaimnya. Caranya sama dengan para perampok jalanan dan gangster. Seorang perampok akan menodongkan pistol ke kepala Anda dan menuntut Anda menyerahkan dompet Anda kepadanya atau ia akan membunuh Anda. Begitulah cara Islam berkembang.

       Di zaman internet ini, penipuan juga digunakan. Tak terhitung banyaknya klaim yang dibuat tentang Quran mengenai keajaiban ilmiah, seperti informasi yang mengenai hal yang belum dikenal pada zaman Muhammad, yang ditemukan berabad-abad kemudian. Tidak satu pun dari klaim ini yang benar. Teror dan penipuan adalah kedua sayap jihad.  Di mana Islam tidak berkembang melalui teror, ia disebarkan melalui penipuan.

       Ibn Ishaq mengulangi kembali, “Rasul sering mampir di perkemahan Arab (ketika mereka melakukan perjalanan ziarah) dan memberitahu mereka bahwa ia adalah rasul Allah yang memerintahkan mereka untuk menyembahNya dan percaya kepada rasulNya dan melindunginya hingga Allah menjelaskan tujuanNya mengutus dirinya.”

       Hal itu tidak sepenuhnya benar. Ia memberikan banyak petunjuk tentang tujuan misinya yang bisa dilihat oleh orang yang cerdik sejak awal karir kenabiannya. Tujuannya adalah merampok, menjarah,  memuaskan keinginan narsisitiknya, dan memuaskan dahaganya akan kekuasaan dan kemegahan.

       Ibn Ishaq menarasikan, “Al-Zuhri memberitahu aku bahwa ia mendatangi Bani Amer ibn Sa’sa’a, dan salah seorang dari mereka yang bernama Bayhara ibn Firas berseru, ‘Demi Allah, jika aku bisa mengambil orang ini dari Quraisy aku bisa melahap warga Arab bersamanya.’ Kemudian ia berkata, ‘Jika kami benar-benar memberikan kesetiaan kami kepada Anda dan Allah memberikan kemenangan kepada Anda atas lawan-lawan Anda, apakah kami boleh memiliki otoritas setelah Anda?” Ia (Muhammad) menjawab, ‘Otoritas adalah hal yang Allah tempatkan sesuai kehendakNya.’ Ia menjawab, ‘Aku mengira Anda ingin kami melindungi Anda dari orang-orang Arab dengan dada kami dan kemudian jika Allah memberikan kemenangan kepada Anda orang lain yang akan mengambil keuntungannya! Kalau begitu, Tidak! Terimakasih.”[181]

       Pesan yang pasti dari Muhammad kepada Bani Amir tidak tercatat, tetapi dari respons Bayhara, tidak ada keraguan tentang apa yang ia katakan kepada mereka. Ia pasti telah meminta mereka untuk menyerang dan menjarah.

       Narator yang sama telah memperindah kisahnya dengan mengatakan, ketika suku ini kembali dan memberitahukan apa yang telah terjadi kepada mereka kepada salah satu tetua mereka, “Orang tua ini meletakkan tangan di kepalanya dan berkata, ‘Bani Amer, dapatkah masa lalu dikembalikan? Tidak seorang pun kaum Isma’ili (keturunan Ismael) yang mengklaim kenabian secara keliru. Itu adalah benar. Dimana akal sehatmu?”

       Jenis ekspresi fanatisme Islam seperti ini dapat ditemukan di seluruh Sira. Mengatakan tidak seorang pun Isma’ili pernah berbohong tentang menjadi seorang nabi adalah absurd. Sumber-sumber Muslim menyebutkan beberapa orang Arab yang mengaku sebagai nabi dan mencela mereka sebagai pembohong.

 

Penyebaran Islam di Madinah

       Ibn Ishaq mengatakan, “Bilamana orang-orang berkumpul untuk hari pekan atau Rasul mendengar ada orang penting yang datang ke Mekah ia akan mendatangi mereka dengan pesannya.”[182] Biasanya tidak ada yang memperhatikan dia. Namun, ia tidak menyerah dan keuletannya terbayar. Ia akhirnya bertemu enam pria dari Khazraj, suku Arab yang tinggal di Yathrib.

       Yathrib adalah nama asli dari Madinah. Tiga suku Yahudi tinggal di sana. Berdasarkan kisah riwayat mereka, orang-orang Yahudi sudah menetap di negeri itu sejak zaman Musa, yaitu sekitar 2000 tahun sebelumnya. Mereka adalah orang-orang yang rajin dan memiliki sebagian besar bisnis di sana. Orang-orang Arab datang ke Yathrib sebagai pengungsi sekitar 450 M ketika banjir besar Yaman memaksa mereka meninggalkan rumah mereka. Mereka bekerja untuk orang-orang Yahudi di ladang dan bisnis mereka. Sedikitnya tiga suku besar Yahudi dan dua suku Arab tinggal di Yathrib dan sekitarnya. Mereka sering terlibat pertengkaran dan karena mereka tidak memiliki pemerintah pusat, mereka sering berperang satu sama lain.

       Kedua suku Arab yang tinggal di Yathrib adalah Khazraj dan Aus. Mereka saling berperang satu sama lain. Suku-suku Yahudinya adalah Bani Qainuqa, Bani Nadir dan Bani Qurayza. Mereka juga tidak bisa akur satu sama lain. Ketiga suku ini semuanya tinggal di kota benteng mereka masing-masing, terpisah satu sama lain. Mereka membentuk aliansi. Suku Khazraj bersekutu dengan Bani Qainuqa dan Bani Nadir, dan suku Aus bersekutu dengan Bani Qurayza.

       Muhammad duduk bersama pria-pria Khazraj ini dan berbicara tentang agamanya dengan mereka. Ibn Ishaq berkata, “Allah telah mempersiapkan jalan bagi Islam dengan mengatur agar mereka hidup berdampingan dengan orang-orang Yahudi yang adalah ahli kitab suci dan pengetahuan, selagi mereka masih kafir dan penyembah berhala. Orang-orang Yahudi sering menyerang mereka di distrik mereka dan setiap kali perasaan buruk muncul, orang-orang Yahudi biasanya mengatakan, ‘Seorang nabi akan diutus segera. Waktunya sudah dekat. Kami akan mengikutinya dan membunuhmu dengan bantuannya sementara ‘Ad dan Iram binasa.’ Jadi ketika mereka mendengar pesan dari sang rasul mereka berkata satu sama lain, ‘Ini adalah nabi yang diperingatkan oleh orang Yahudi. Jangan biarkan mereka sampai kepada dia sebelum kita.’ Saat itu juga mereka menerima ajarannya dan menjadi Muslim.”[183]

       Kisah di atas adalah bagian yang penting dalam Sira yang menjawab pertanyaan beberapa pertanyaan kunci. Yang pertama adalah mengapa Muhammad percaya bahwa menyerang, membantai, dan menjarah adalah persyaratan pekerjaan seorang nabi. Yang kedua adalah mengapa para pengikutnya tidak punya masalah dengan definisi kenabian yang absurd ini. Dan yang ketiga adalah mengapa suku-suku Arab dari Yathrib menerimanya dengan mudah ketika suku Quraisy dan semua suku Arab lain mencemoohkannya.

       Keyakinan mesianik dan ide tentang juruselamat dengan pedang telah disebarkan oleh orang-orang Yahudi. Warga Arab di Yathrib adalah rakyat yang masih bodoh. Mereka menerima Muhammad karena ia sesuai dengan ekspektasi mereka tentang bagaimana seharusnya seorang mesias. Kepercayaan akan mesias adalah godaan yang sangat menarik dan undangan terbuka bagi seorang narsisis untuk mengambil peluang itu.

       Contoh yang bagus adalah kasus Mullah Omar, pemimpin Taliban Afghanistan. Sebuah legenda menceritakan bahwa sebuah jubah dilipat dan digembok dalam serangkaian peti di ruang bawah tanah makam di Kandahar adalah milik Nabi Muhammad dan itu akan dibuka oleh seorang Amir-al-Mumineed sejati (Panglima Umat Beriman) dan sang pembebas kaum Muslim. Mullah Omar menangkap peluang itu, menjebol gemboknya dan mengenakan jubah itu pada dirinya, dan warga Afghanistan yang mudah tertipu percaya bahwa ia adalah mesias mereka.

 

Ikrar Aqaba Pertama: Ikrar Wanita

       Keenam pria Bani Khazraj pulang dan memberitahu kaumnya tentang Muhammad. Tahun berikutnya duabelas pria datang untuk perjalanan ziarah. Mereka bertemu Muhammad di Aqaba dan menyatakan kesetiaan mereka kepadanya. Mereka harus berjanji untuk tidak mempersekutukan Allah dengan siapa pun, tidak mencuri, tidak berzinah, tidak membunuh keturunan mereka, tidak memfitnah sesama mereka, patuh kepada Muhammad, dan jika mereka berbuat dosa maka tergantung kehendak Allah (melalui utusannya) apakah akan menghukum atau mengampuni mereka. (6:12)  Tabari menambahkan, “Jika Anda menyembunyikan sesuatu, di Hari Kiamat, Anda harus mempertanggung jawabkannya di hadapan Allah.”[184]

       Tidak mencuri, tidak berzinah, tidak memfitnah, tidak membunuh keturunan adalah hal yang masuk akal. Jika Anda ingin menampilkan diri sebagai nabi, Anda harus memiliki beberapa pengajaran umum yang disetujui oleh setiap orang, atau tak seorang pun akan menerima Anda. Bukan karena Muhammad peduli terhadap hal-hal ini. Ia menyerang kota-kota dan desa-desa dan menjarah harta mereka. Ia mengizinkan orang-orangnya memperkosa wanita yang tertangkap saat penyerangan, sekalipun mereka telah menikah. Ia memfitnah dan menghujat orang yang tidak percaya kepadanya termasuk pamannya (Abu Lahab dan isterinya). Dan ia membantai puluhan ribu orang. Klaim bahwa masyarakat Arab mempraktekkan pembunuhan bayi perempuan adalah tidak benar. Ini bertentangan dengan sifat manusia. Ada kasus-kasus kejahatan seperti ini yang terjadi di Cina dan India bahkan pada saat ini, tetapi itu sangat jarang sekali dan ada sanksi hukumnya. Masyarakat Arab pada umumnya tidak lebih banyak membunuh anak-anak perempuan mereka dibandingkan masyarakat India maupun Cina. Bagaimana caranya masyarakat Arab menguburkan anak-anak perempuan mereka dan masih memiliki banyak kelebihan wanita untuk melakukan poligami? Muslim mengklaim Muhammad membatasi jumlah isteri sebanyak empat orang. Konon mereka memiliki lebih banyak wanita sebelum Islam. Bagaimana kita bisa merekonsiliasi kedua klaim yang saling terpisah ini?

       Inti dari ikrar ini adalah, dan bagian yang menarik bagi Muhammad, adalah di mana ia menuntut kepatuhan yang absolut dan memberi dirinya otoritas untuk menghukum dan mengampuni. Inilah yang diincar oleh seorang narsisis. Sisanya hanya penghias saja -- sesuatu untuk mengalihkan perhatian mangsa tak berdaya dari fakta bahwa ia memberikan semua hak dan kebebasannya dan menjadikan dirinya budak bagi orang lain. Ia ingin mengendalikan kehidupan orang, menjadi tuhan, dan memiliki kekuasaan ilahi atas orang lain.

       Setelah keduabelas pria ini memberikan ikrar kepatuhan mereka kepada Muhammad, ia mengirim Musab ibn Umayr, salah satu pengikutnya yang pertama, pulang bersama mereka untuk mengajari para mualaf ini tentang agama mereka dan untuk menarik masuk lebih banyak orang lagi.

 

Ikrar Aqaba Kedua: Ikrar Peperangan

       Tahun berikutnya jumlah Muslim di Yathrib bertambah, dan 73 dari mereka termasuk dua orang wanita, mendampingi warga sukunya yang lain melakukan perjalanan haji. Saat warga suku mereka tidur, mereka menyelinap keluar dan berkumpul di selokan di Aqaba. Muhamamd tiba, didampingi oleh Abba ibn Abdul Muttalib, pamannya yang empat tahun lebih tua darinya. Di permukaan, Abbas berada di pihak kaum Quraisy, tetapi ia membantu Muhammad secara sembunyi-sembunyi, dan ketika ia pindah ke Madinah, ia menjadi mata-matanya, mengirimkan informasi tentang apa yang dilakukan kaum Quraisy dan rencana serta jadwal perjalanan karavan mereka.

       Abu Rafi’ menarasikan, “Aku dulunya budak dari Abbas. Islam telah masuk di tengah-tengah kami, orang-orang rumah (dari Abbas). Abbas sudah menjadi Muslim, demikian pula dengan Ummul-Fadl (isteri Abbas), dan aku juga. Tetapi Abbas takut kepada warga kaumnya dan tidak suka menentang mereka, jadi ia menyembunyikan kepercayaannya.”[185]

       Abbas adalah orang pertama yang berbicara. Ia berkata, “Saudara-saudara dari Khazraj[186], Anda sudah tahu posisi Muhammad di antara kami. Kami dan mereka yang sepaham dengan kami telah melindungi dia dari kaum kami sendiri. Ia dihormati dan tidak dicelakai di antara kalangannya, tetapi ia ingin bergabung dengan Anda. Jika Anda merasa bisa menepati janji seperti yang Anda berikan kepadanya dan melindunginya dari musuh-musuhnya, maka pikullah tanggung jawab yang telah Anda ambil. Tetapi jika Anda merasa Anda akan mengkhianatinya dan menelantarkannya setelah ia berada di tempat Anda, maka tinggalkan dia sekarang, sebab ia tidak dicelakai di tempat ia berada saat ini.”[187] Pernyataan ini adalah bukti lebih lanjut bahwa Muhammad tidak pernah diniaya atau diperlakukan dengan buruk di Mekah.

       Lalu Muhammad berbicara. Katanya, “Saya mengundang kesetiaan Anda bahwa Anda akan melindungi saya seperti Anda lakukan terhadap isteri-isteri dan anak-anak Anda.

       Di sini kita memiliki indikasi jelas dari gangguan kepribadian narsisistik Muhammad. Ia percaya bahwa ia spesial dan unggul di atas orang-orang lainnya, layak untuk mendapat perlakuan khusus dan orang-orang lain harus berjuang untuk melindungi nyawanya. Klaimnya atas superioritasnya bisa dilihat di seluruh Sira. Ibn Ishaq berkata, “Beberapa pengikut rasul memintanya menceritakan kepada mereka tentang dirinya. Ia berkata, “ Aku adalah apa yang bapaku Abraham doakan dan kabar baik dari (saudaraku) Yesus. Saat ibuku mengandung aku, ia melihat cahaya berasal dari tubuhnya yang memperlihatkan istana Suriah kepadanya. Aku sedang menyusui di antara Bani Sa’d ibn Bak’r, dan saat aku dan salah seorang saudaraku di belakang tenda kami menggembalakan domba, dua pria dengan jubah putih mendatangiku dengan baskom emas yang penuh dengan salju. Lalu mereka menangkapku dan membuka perutku, mengeluarkan jantungku dan membelahnya; lalu mereka mengeluarkan gumpalan hitam dari dalamnya dan membuangnya. Kemudian mereka mencuci jantungku dan perutku dengan salju itu hingga benar-benar bersih. Lalu yang seorang berkata kepada yang lain, timbang dia dan bandingkan dengan sepuluh orang dari kalangannya. Mereka menimbangku dan ternyata aku melebihi mereka. Mereka lalu membandingkan aku dengan seratus, lalu seribu, dan aku melebihi mereka.  Ia berkata, ‘Tinggalkan dia, sebab demi Allah sekalipun engkau menimbangnya dan membandingkannya dengan seluruh kaumnya ia akan melebihi mereka.’”[188]

       Jangankan absurditas setiap bagian cerita ini yang mengungkapkan Muhammad tidak tahu sifat khayalan dan organ yang bertanggungjawab untuk itu dan mari kita abaikan fakta bahwa pengalaman semacam ini adalah gejala pikiran penderita skizfrenia. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa ia menderita cinta-diri yang berbahaya. Ini bisa disaksikan dari setiap pernyataan yang ia buat tentang dirinya.

       Al Bara’, salah seorang dari kaum Ansar, memegang tangan Muhammad dan berkata, “Demi Dia yang mengutus engkau dengan kebenaran, kami akan melindungi engkau seperti kami melindungi isteri-isteri kami. Kami menyatakan kesetiaan kami dan kami adalah ahli bertempur dan memiliki senjata yang telah diwariskan dari bapa kepada anaknya.”

       Melalui respons ini kita bisa menyimpulkan bahwa dari awal pesan Muhammad pastilah tentang peperangan. Jangankan mempersatukan masyarakat Arab ia malah ingin menggerakkan satu kelompok melawan kelompok lainnya. Tujuannya adalah untuk membentuk segerombolan pencuri, menggunakan agama sebagai umpannya. Ibn Ishaq mengatakan bahwa dalam pertemuan itu, Abbas ibn Ubada berkata, “Saudara-saudara dari Khazraj, sadarkah Anda apa yang telah Anda lakukan dengan menjanjikan dukunganmu bagi orang ini? Itu adalah peperangan terhadap segala-galanya. Jika Anda merasa bahwa jika Anda kehilangan harta benda Anda dan para pemuka Anda terbunuh, Anda akan menyerahkannya kepada musuhnya, maka tinggalkanlah dia sekarang, sebab itu akan memalukan Anda di dunia dan akhirat (jika Anda lakukan hal itu kemudian). Tetapi jika Anda merasa Anda akan tetap setia tanggung jawab Anda jika Anda kehilangan harta benda dan para pemuka Anda terbunuh, maka silakan terima dia, sebab demi Allah itu akan membawa keuntungan bagimu dunia dan akhirat.” Mereka mengatakan bahwa mereka akan menerimanya, tetapi menanyakan apa yang akan mereka terima sebagai imbalannya, dan Rasulullah menjanjikan surga bagi mereka.”[189]

       Bagian ini tidak memerlukan penjelasan. Pesan Muhammad kepada para pengikutnya adalah mengobarkan perang habis-habisan saat melindungi dirinya seperti mereka melindungi isteri-isteri dan anak-anak mereka. Sebagai imbalannya ia menjanjikan kepada mereka bagian dalam harta jarahan, jika mereka selamat, dan surga jika mereka tidak selamat. Penafsiran lain dalam Islam adalah salah, atau licik, atau tidak jujur.

       Supaya jangan seorang pun salah memahami, Ibn Ishaq mengulangi, “Ketika Allah memberi kan izin bagi rasulNya untuk berperang, ikrar ‘Aqaba kedua mengandung kondisi yang melibatkan perang, yang tidak ada dalam ikrar kesetiaan yang pertama. Sekarang mereka mengikatkan diri mereka untuk berperang habis-habisan untuk Allah dan rasulNya, sementara ia menjanjikan hadiah surga bagi kesetiaan mereka.”[190]

       Tabari mengatakan, “Dalam pertemuan kedua di Aqaba, sekelompok Khazraj dan Aus memberikan ikrar mereka kepada utusan Allah dan ini adalah ikrar peperangan, sebab Allah telah memberi izin untuk berperang. Ketentuan dalam ikrar ini berbeda dengan ikrar yang pertama. Ikrar Aqaba pertama disebut ikrar wanita, tetapi ikrar kedua adalah untuk beperang habis-habisan.”[191]

       Ibn Ishaq mengutip sebuah kisah yang diceritakan oleh Ubada ibn Samit, salah seorang pemuka Khazraj yang mengatakan, “Kami mengikrarkan diri kami untuk berperang dengan penuh kepatuhan kepada Rasulullah dalam suka dan duka, dalam kemudahan dan kesulitan dan situasi jahat bahwa kami tidak akan berbuat salah kepada siapa pun, bahwa kami akan berbicara jujur setiap waktu, dan bahwa dalam melayani Allah kami tidak takut kecaman dari siapa pun.”[192] Ubada adalah salah satu dari dua belas orang yang memberikan ikrar di Aqaba pertama.

       Ikrar Aqaba kedua disebut Ikrar Peperangan. Namanya sudah menjelaskan semuanya. Alasan kenapa ikrar Aqaba pertama disebut Ikrar Wanita, meskipun tidak ada wanita yang berikrar di sana, sebab para mualaf memberikan ikrar mereka kepada Muhammad yang tidak mengharuskan mereka berperang untuk dia.

       Bagi orang-orang yang bertanya-tanya mengapa orang mau menyerahkan kecerdasan dan kebebasan mereka bagi orang lain dapat menemukan jawaban mereka dengan menonton beberapa video tentang sekte sesat di Youtube. Pengabdian tanpa pertimbangan dari para pemuja terhadap pemimpin mereka sungguh mencengangkan. Pemimpin sekte yang narsisis mendorong dan mengharapkan pengabdian semacam ini. Contoh yang bagus tentang kekuatan pengabdian buta ini adalah The People’s Temple, sekte yang ditemukan oleh Jim Jones. Atas permintaannya, 920 orang pengikutnya meminum anggur yang telah dicampur sianida, memberikannya kepada anak-anak mereka dan melakukan bunuh diri bersama. People’s Temple adalah sekte komunis/ateis. Sekte Teistik jauh lebih berbahaya lagi. Ketika orang-orang percaya sesuatu itu adalah kehendak Allah, pikiran rasional mereka langsung tidak berfungsi.

Tanda-tanda Awal Misogini

       Tanda-tanda misogini Muhammad dan ketidakpeduliannya terhadap kaum wanita sangat mencolok sejak awal. Untuk beberapa alasan, dan dengan beberapa pengecualian, semua pemimpin sekte tidak menghargai kaum wanita. Ketika para pria memberikan ikrar kepatuhan mereka dengan memukul tangan Muhammad, ia menolak untuk memukul tangan wanita. “Ia hanya menyatakan syaratnya dan jika mereka menerimanya ia akan berkata, ‘Pergilah aku telah membuat perjanjian denganmu.’”[193]

       Kaum perempuan Arab menikmati lebih banyak hak dan status yang lebih tinggi sebelum masuknya Islam. Islam merampas hak itu dari mereka. Dari sejarah yang ditulis Muslim, kita bisa melihat bahwa kaum perempuan di zaman Muhammad, sebelum ajarannya, telah mengubah masyarakat, memiliki posisi otoritas dan kekuasaan yang tidak kita lihat lagi setelah masuknya Islam. Khadijah adalah seorang saudagar kaya. Hind adalah wanita yang dihormati dan pemimpin sorak dalam peperangan mereka. Aisha adalah seorang orator yang hebat, menurut salah satu hadis, lebih baik dari keempat khalifah yang lurus, dan seorang jenderal yang memimpin ribuan pria. Umm Qirfa adalah wanita yang sangat dihormati dan pemberani, ketua di sukunya. Salma, puterinya, diambil sebagai budak, tetapi ia berhasil melarikan diri dan menggalang pasukan beranggotakan ribuan pria dan menjadi ancaman bagi kekuatan Islam. Sijah, seorang wanita yang mengklaim diri sebagai nabi wanita dan banyak pria yang menjadi pengikutnya. Ini hanya beberapa wanita yang dapat kita baca buku-buku sejarah Islam. Tidak ada wanita sekaliber mereka yang pernah terlihat dalam masyarakat Islam. Hari ini di Saudi Arabia sedang terjadi perdebatan apakah wanita boleh diberi hak untuk mengemudi.

       Ada saat di mana para cendekiawan Muslim membahas apakah wanita memiliki jiwa. Seorang tokoh Muslim yang termasyhur, Maulana Jallani Rumi menyusun kuartet berikut.

Nabi berkata, perempuan memegang kekuasaan,

Atas orang-orang bijak, dan atas pria-pria berwawasan.

Tetapi orang bodoh mengungguli perempuan,

Karena dalam diri mereka, terdapat sifat hewani.

 

غالب آید سخت و بر صاحب دلان           گفت پیغمبر كھ زن بر عاقلان

كندرایشان خوی حیوان است بند            باز بر زن جاھلان غالب شوند

 

       Sementara nafsu atas perawan di surga bisa menjadi motivasi bagi sebagian pria, mengapa kaum perempuan bisa percaya kepada sebuah agama yang menyamakan mereka dengan hewan, merampas hak asasi mereka, dan tidak menjanjikann apa-apa bagi mereka di akhirat? Menurut Muhammad, sebagian besar wanita akan pergi ke neraka sebab mereka kurang dalam hal kepintaran dan kepatuhan kepada suami. Sejumlah kecil dari kaum perempuan yang menanggung semua tindak pemukulan dan penganiayaan, menjilat tetesan cairan hidung suami mereka dan tidak pernah tidak patuh, dan berhasil masuk surga, harus berbagi suami duniawi mereka dengan enam lusin perawan sempurna yang menggairahkan, berdada montok, berkulit putih, bermata hitam. Syukur-syukur suami mereka masih mau melihat mereka. Ia bahkan akan melupakan nama mereka setelah 100 tahun dan siapa yang bisa menyalahkan dia.

       Saat pertemuan rahasia di Aqaba berlangsung, seorang laki-laki yang mencuri dengar berteriak kepada para peziarah yang tertidur, “Saudara-saudara, orang terkutuk ini dan orang-orang yang murtad ini datang untuk memerangi Anda sekalian.” Muhammad memberitahu para pengikutnya, ini adalah setan dan menyuruh mereka kembali ke perkemahan mereka sebelum ketidakhadiran mereka diketahui. Abbas ibn Ubada berkata, “Demi Allah, jika engkau menghendakinya, kami akan menyerang orang-orang Mina itu dengan pedang kami besok.” Muhammad menjawab, “Kita belum diperintahkan untuk melakukan itu.”[194] Perintah itu datang beberapa bulan kemudian, ketika ia telah hijrah ke Madinah dan merasa aman dari pembalasan.

       Untuk meniru Yesus, Muhammad memilih dua belas pria sebagai muridnya untuk bertindak sebagai pemimpin para Muslim di Yathrib, sampai ia bisa bergabung bersama mereka. Sembilan dari mereka berasal dari al-Khazraj dan tiga lagi dari al-Aus.

 

Fasih Berbicara

       Tidak diragukan bahwa Muhammad memiliki kepribadian yang kharismatik. Narsisis sering kali kharismatik dan orator yang hebat. Ini adalah alat yang mereka asah untuk memanipulasi orang. Imam Ghazzali mengutip perkataan Muhamamd, “Aku adalah orator terhebat di antara orang-orang Arab.”[195]

       Hitler, Mao, Musolini, Jim Jones, Shoko Asahara juga merupakan orator yang hebat. Praktis semua pemimpin kultus adalah orang-orang berkharisma dan orator yang luar biasa. Mereka berbohong, tetapi mereka mengatakannya dengan penuh keyakinan dan dengan fasih sehingga mereka bisa menginspirasi para pendengar mereka. Negarawan Romawi di abad pertama, Marcus Tullius Cicero berkata, “Sesulit apapun suatu hal untuk dipercaya, kefasihan berpidato bisa menjadikannya bisa dipercaya.”

       Muhammad menyadari pentingnya kefasihan berpidato. Ia berkata, “Dalam kefasihan lidah terletak keajaiban; dalam pengetahuan, kebodohan; dalam puisi, kebijaksanaan; dan dalam pidato, bobot.”[196] Di tempat lain ia mengatakan, “Beberapa kefasihan lidah adalah sihir.”[197]

       Ia dikabarkan mengatakan, “Kepadaku telah dianugerahkan kunci kefasihan berbicara dan kemenangan melalui teror (yang dituang ke dalam hati musuh), dan saat aku sedang tidur semalam, kunci kekayaan dunia dibawa kepadaku dan diletakkan di atas tanganku.” Abu Huraira menambahkan: Rasulullah meninggalkan (dunia ini) dan sekarang kamu sekalian membawa harta itu dari kemana-mana.[198]

       Dalam hadis ini Muhammad mengungkapkan rahasia kesuksesannya dan apa yang memotivasi dirinya. Ia membohongi orang banyak dengan kekuatan pidatonya, menaklukkan dengan teror, dan ia melakukan semua itu demi harta duniawi. Sial baginya, ia meninggal tak lama sesudah itu dan keturunan Abu Sufyan, musuh bebuyutannya yang menikmati harta tersebut.

 

Warga Mekah Gelisah

       Berita tentang pertemuan rahasia Muhammad di Aqaba sampai ke telinga kaum Quraisy. Pagi berikutnya para pemuka mereka mendatangi perkemahan suku Khazraj dan mengeluh kepada Abdullah ibn Ubay, pemimpin terhormat suku Khazraj. Mereka mengatakan kepadanya bahwa suku dia adalah suku yang paling tidak ingin mereka lawan dari antara semua suku-suku bangsa Arab dan mereka ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ibn Ubay terkejut dan bersumpah bahwa ia tidak tahu-menahu tentang pertemuan rahasia itu. Ia meyakinkan warga dari Mekah bahwa orang-orangnya tidak akan melakukan apa pun tanpa persetujuannya dan berita itu pasti keliru.

       Ketika para pemuka itu bangkit untuk meninggalkan tempat, seorang Muslim menunjuk sandal baru Harith ibn Hisham, seorang pemuda Quraisy, dan berkata kepada salah satu warga sukunya, “Abu Jabir, Anda sekarang sudah menjadi salah satu ketua kami, tidak bisakah Anda memiliki sepasang sandal seperti yang dimiliki oleh pemuda Quraisy ini?” Harith melepas sandalnya dan melemparkannya kepada Muslim Ansar itu dan berkata, “Anda boleh memilikinya!” Abu Jabir berkata, “Sekarang, engkau telah membuat marah pemuda itu, kembalikan sandalnya.” “Demi Allah saya tidak akan,” jawab si Muslim. “Ini adalah pertanda baik dan jika ini terbukti benar aku akan menjarahnya.”[199]

 

Muhammad Menerima Perintah Untuk Berperang

       Kita melihat bagaimana Muhammad bersumpah akan membawa pembantaian saat ia baru memiliki sejumlah kecil pengikut dan tidak memiliki senjata untuk mewujudkan ancamannya. Kita menyaksikan ia mendatangi suku-suku yang berbeda mengajak mereka berperang melawan kaumnya sendiri, menjanjikan harta jarahan dan surga bagi jasa mereka. Sekarang setelah ia memiliki sekumpulan pasukan, yang bersedia melaksanakan perintahnya, waktunya telah tiba untuk beraksi.

       Ibn Ishaq berkata, “Rasulullah belum diberikan izin untuk berperang atau diperbolehkan untuk menumpahkan darah sebelum ikrar Aqaba kedua. Kaum Quraisy telah menganiaya para pengikutnya, membujuk beberapa untuk meninggalkan agama mereka dan mengusir dan mengasingkan sebagian lainnya dari negeri mereka. Mereka harus memilih. Apakah meninggalkan agama mereka, dianiaya di rumah, atau melarikan diri dari negeri mereka, beberapa mengungsi ke Abisinia, yang lainnya ke Madinah. Ketika kaum Quraisy menjadi kurang ajar terhadap Allah dan menolak maksudNya yang penuh kemurahan, menuduh nabiNya berbohong, menganiaya dan mengasingkan mereka yang melayaniNya dan yang menyatakan kesatuanNya, percaya kepada rasulNya, dan berpegang teguh kepada agamaNya, Dia memberikan izin kepada rasulNya to berperang dan melindungi dirinya terhadap mereka yang menganiaya mereka dan memperlakukan mereka dengan buruk.”[200]

       Perhatikan bagaimana sejarawan Muslim ini mengkontradiksi apa yang telah ia tegaskan selama ini. Sebagian besar hal yang kita ketahui tentang Muhammad, kita peroleh dari Ibn Ishaq. Dialah yang mengatakan, Rasulullah bersumpah akan membawa pembantaian. Dialah yang mengatakan ia berkeliling mengajak orang-orang membantu dia berperang dan menjarah. Dialah yang mengatakan masyarakat Mekah mentolerir Muhammad sampai ia menghina agama mereka. Dialah yang mengatakan, kaum Quraisy tidak mau mencelakai para Muslim karena mereka adalah darah daging mereka sendiri. Dialah yang mengatakan Muhammad mendesak para pengikutnya meninggalkan kota sementara para orangtua mereka berusaha mempertahankan mereka di kota itu dan membawa mereka pulang kembali. Jadi pengasingan apa yang sedang ia bicarakan? Ia mengatakan hal ini, bukan karena ada fakta yang mendukungnya, tetapi karena Muhammad membuat klaim tersebut dan menurut dia, jika Muhammad mengatakan demikian, pastilah itu benar.

       Alasan mengapa perintah untuk berperang dan menumpahkan darah terjadi setelah Aqaba kedua adalah karena pada saat itu Muhammad sudah memiliki cukup banyak pengikut yang siap bertarung untuk dia. Seorang narsisis adalah seorang penggertak; ia bertindak dengan kekerasan hanya ketika ia merasa kuat dan bisa lolos dari itu. Sekarang Muhammad merasa sudah cukup kuat untuk melenturkan otot-ototnya dan mewujudkan ancamannya.

 

Kewajiban Untuk Berhijrah

       Tidak seorang pun yang menganiaya umat Islam. Tidak seorang pun yang mengusir mereka. Ibn Ishaq menarasikan kisah Umm Salama yang mengkontradiksi klaim bahwa kaum Muslim dibuang. Ia berkata bahwa ketika suami perempuan itu memutuskan untuk pergi ke Madinah, ia ingin membawa serta isteri dan anaknya yang masih kecil. Ketika keluarga isterinya mengetahui hal itu, mereka berkata kepada Abu Salama, “Sejauh itu menyangkut dirimu kamu boleh melakukan yang kamu kehendaki, tetapi apakah kamu berharap kami akan mengizinkanmu membawa pergi anak perempuan kami?” Mereka merenggut tali unta dari tangannya dan membawa isterinya. Pihak keluarga Abu Salama menjadi marah dan masing-masing pihak saling menarik dan menyeret anak kecil itu mengakibatkan lengannya terkilir. Akhirnya, keluarga dari pihak suami membawa pergi anak itu dan keluarga dari pihak isteri melarangnya untuk pergi. Abu Salama pergi ke Madinah sendirian. Demikianlah keluarga itu dipisahkan. Umm Salama mengatakan bahwa setiap pagi ia selalu keluar dan duduk di lembah menangis terus-menerus selama lebih kurang setahun. Salah seorang sepupunya lewat dan melihat penderitaannya dan merasa kasihan kepadanya. Ia memberitahu orangtuanya dan mereka berkata kepada Umm Salma, “engkau boleh bergabung dengan suamimu jika engkau mau.” Keluarga Abu Salama juga mengembalikan anaknya dan Umm Salama berangkat menuju Madinah sendiri bersama anaknya. Ia berkata, “Tidak seorang pun yang mendampingiku. Aku rasa aku bisa mendapatkan makanan dari orang yang kutemui dalam perjalanan hingga aku sampai ke tempat suamiku.”[201]

       Ini adalah cerita tipikal bagaimana para Muslim ingin pergi dan kerabat mereka berusaha mencegah mereka. Tidak seorang pun Muslim yang dibuang dari Mekah. Mereka semua bermigrasi karena Muhammad yang menyuruh mereka.

       Fakta lain yang dapat kita pelajari dari cerita di atas adalah bahwa kaum wanita di masa paganisme merasa lebih aman dibandingkan dengan masa setelah Islam. Umm Salama adalah wanita yang cantik di usia duapuluhan. Tidak ada wanita Saudi saat ini yang berani melakukan perjalanan yang berbahaya seperti itu. Bisa-bisa ia ditangkap dan diperkosa oleh polisi syariah. Semua ini adalah akibat dari misogini Islam. Bukannya mengangkat status perempuan sebagai burung bayan Muslim, Islam justru menurunkan derajat wanita menjadi objek seks. Mereka telah diturunkan menjadi vagina berjalan yang bisa berbicara, atau seperti yang biasa mereka dipanggil “aurat” (kemaluan wanita) atau objek memalukan yang harus tetap tertutup.

       Ayat 9:24-24 (O ye who believe! Choose not your fathers nor your brethren for friends if they take pleasure in disbelief rather than faith) muncul dalam Sura Quran yang terakhir, tetapi menurut al Wahidi ayat-ayat ini ada dalam kelompok ayat-ayat ketika Muhammad hijrah ke Madinah. Ia mengutip perkataan al-Kalbi, “Ketika Rasulullah, Allah memberkatinya dan memberinya damai, diperintahkan untuk hijrah ke Madinah, beberapa orang pergi kepada ayah mereka, saudara laki-laki, atau isteri dan berkata: ‘Kami telah diperintahkan untuk hijrah ke Madinah.’ Jadi, beberapa orang menyukai perintah itu dan buru-buru melaksanakannya, sementara para isteri, tanggungan, dan anak-anak dari beberapa yang lain bergantung kepada beberapa lainnya, kata mereka: “Kami memohon kepadamu demi Allah, jangan tinggalkan kami tanpa siapa-siapa, sehingga kami berada dalam bahaya.’ Hati mereka menjadi lunak karena ini sehingga mereka menahan diri untuk tidak hijrah. Firman Allah, ditinggikanlah kiranya Dia, kemudian diwahyukan untuk menegur mereka (O ye who believe! Choose not your fathers nor your brethren for friends if they take pleasure in disbelief rather than faith ...)” Sementara bagi mereka yang tetap tinggal di Mekah dan tidak hijrah, Allah, ditinggikanlah kiranya Dia, mewahyukan (then wait till Allah bringeth His command to pass ...) [9:24], artinya berperang dan menaklukkan Mekah.”[202]

       Ibn Ishaq menuliskan, “Rumah Abdullah ibn Jahsh dikunci saat mereka pergi (ke Madinah) dan Utba ibn Rabi’a dan Abbas ibn Abdul Muttalib dan Abu Jahl ibn Hisham melewatinya. Utba melihat rumah itu, dengan daun pintu terhembus kesana-kemari dan tidak berpenghuni, menghela nafas dalam dan berkata, “rumah ibn Jahash sudah tidak berpenghuni.” Jawab Abu Jahl, “Tidak ada yang akan menangisinya.” Ia kemudian berkata, “Ini adalah pekerjaan keponakan pria ini, yang telah memecah-belah masyarakat kita, mengganggu urusan kita, membuat ganjalan di antara kita.”[203]

       Jadi mana yang benar? Muslim dibuang seperti yang dikatakan Quran atau mereka pergi karena diperintahkan oleh Muhammad? Ada perbedaan yang jelas antara klaim yang dibuat Muhammad dalam Quran dan fakta sejarah yang diceritakan oleh para pengikutnya.

       Dalam tradisi lain, Umar menarasikan kisah tentang hijrahnya ke Madinah sebagai berikut, “Ketika kami tiba di Madinah kami tinggal dengan Bani Amr ibn Auf di Quba’; dan Abu Jahl dan al-Harith, anak-anak dari Hisham, mendatangi ‘Ayyash anak dari paman mereka sekaligus saudara laki-laki mereka, sementara Rasulullah masih ada di Mekah. Mereka mengatakan kepadanya bahwa ibunya telah bersumpah bahwa ia tidak akan menyisir rambutnya atau berlindung dari sinar matahari sebelum ia bertemu dengannya. Ia merasa kasihan kepada ibunya dan aku berkata kepadanya, ‘Ini hanyalah upaya orang-orang itu untuk membujukmu keluar dari agamamu jadi waspadalah terhadap mereka; sebab demi Allah jika ada kutu yang mengganggu ibumu ia akan menggunakan sisirnya, dan jika panasnya Mekah menindasnya ia akan berteduh.’ Tetapi ia berkata, ‘Aku akan membersihkan ibuku dari sumpahnya; lagipula aku memiliki uang di sana yang bisa aku ambil.’ Aku mengatakan kepadanya bahwa aku adalah salah satu orang terkaya daari kaum Quraisy dan ia boleh memiliki setengah dari uangku jika ia menolak untuk pergi bersama kedua pria itu. Ketika mereka mendekati Mekah, Abul Hakam dan Harith menaklukkan sepupu sekaligus keponakan mereka, dan mengikatnya dan membawanya ke Mekah. Sang narator berkata, “Salah seorang dari keluarganya [Ayyash] memberitahu saya bahwa mereka membawanya ke Mekah dalam keadaan terikat di siang hari dan berkata, ‘Wahai warga Mekah, atasilah orang-orang bodoh Anda sebagaimana kami telah mengatasi orang bodoh kami dan membujuknya untuk murtad.’”[204]

       Ini adalah kisah-kisah yang dianggap sebagai penganiayaan oleh kaum Muslim. Kebingungan muncul dari bagaimana mereka menafsirkan penganiayaan. Anda tidak harus secara fisik menindas Muslim untuk menjadi seorang penganiaya. Itu adalah hak prerogative pemberian Allah bagi mereka. Jika Anda menentang Islam Anda adalah seorang penganiaya, sekalipun Anda tidak menyakiti siapa-siapa. Penganiayaan semacam inilah yang dimaksud Muhammad dalam Quran 2:191 “And slay them wherever ye find them, and drive them out of the places whence they drove you out, for persecution is worse than slaughter.” Dalam ayat ini Muhammad memerintahkan pengikutnya untuk membunuh kerabat mereka sendiri sebab, seperti yang ia katakan, mereka berupaya untuk mencegah mereka memeluk agama Islam, yang baginya merupakan penganiayaan, lebih buruk dari membunuh.

       Umar yang menarasikan kisah Ayyash menambahkan, “Kami mengatakan bahwa Allah tidak akan menerima kompensasi atau uang tebusan atau pertobatan dari orang-orang yang membiarkan diri mereka dibuat murtad – orang-orang yang percaya kepada Allah kemudian kembali menjadi kafir karena adanya pencobaan!”

       Pada saat inilah Muhammad menyerukan kepada Muslim dibawah perintah Allah untuk mengangkat senjata. “Permission is given to those who fight because they been wronged. God is well able to help them, those who have been driven out of their house without right, only because they said God is our Lord.” (22:40)

       Dalam ayat ini ia menggambarkan kaum Muslim sebagai korbannya. Ia mengatakan bahwa mereka telah dianiaya dan diusir dari rumah mereka karena kepercayaan mereka. Ada tiga ketidakbenaran dalam ayat ini. Yang pertama adalah bahwa Muslim tidak diusir dari rumah mereka. Yang kedua adalah mereka tidak dianiaya. Yang ketiga adalah bahwa mereka bukan ditentang karena mengatakan bahwa Allah adalah Tuhan mereka, tetapi ditentang karena mereka menghina dewa-dewa kaum Quraisy.

       Kaum Muslim meninggalkan Mekah karena Muhammad yang menyuruh mereka untuk pergi. Ia menunjukkan umpannya kepada mereka. “To those who leave their homes in the cause of Allah, after suffering oppression, we will assuredly give a goodly home in this world; but truly the reward of the Hereafter will be greater.” (16:41) Dan ia menunjukkan hukumannya. “Lo! As for those whom angels take (in death) while they wrong themselves, (the angels) will ask, ‘In what were you engaged?’ They will say, we were oppressed in the land. (The angels) will say, was not Allah’s earth spacious that you could have migrated therein? As for such, their habitation will be hell, an evil journey’s end.” (4:97)

       Ia terus-menerus memberitahu pengikutnya, engkau dianiaya, ketika mereka tidak teraniaya. Ia menyamakan oposisi terhadap Islam adalah penganiayaan, sebuah kekeliruan logis yang diulang hingga hari ini oleh umat Islam dan para pendukung mereka. Muslim mengklaim bahwa mereka merasa menjadi korban setiap kali agama mereka dikritik. Orang-orang yang mengkritik Islam dituduh rasis dan Islamophobia, padahal Islam bukan ras dan Islamophobia adalah kata yang tidak mempunyai makna. Penggunaan kata Islamophobia bukanlah penemuan baru. Istilahnya baru, tetapi konsep memfitnah orang yang mengkritik Islam adalah sesuatu yang sering digunakan Muhammad.

       Ia mengklaim bahwa Allah mengatakan kepadanya, “Whoso migrates for the cause of Allah will find much refuge and abundance in the earth, and whoso forsakes his home, a fugitive unto Allah and His messenger, and death overtakes him, his reward is then incumbent on Allah.” (4:100)

       Satu-satunya Muslim yang ia bebaskan untuk tidak perlu hijrah adalah mereka yang terlalu lemah untuk melaksanakan tugas tersebut. “But those who are helpless, men, women, and children, who can neither contrive a plan nor do they know they way, may well hope for the mercy of God; and God is full of mercy and grace.” (4:98-99)

       Ia ingin memisahkan pengikutnya dari keluarga mereka agar ia bisa mengendalikan mereka. Ia khawatir mereka akan kembali. Ditinggalkan adalah hal yang paling ditakuti oleh seorang narsisis. Ia bahkan sampai memberi instruksi kepada para Muslim untuk membunuh rekan mereka sendiri yang memutuskan untuk kembali. “They [the unbelievers] long that you should disbelieve as they disbelieve, that you may be upon a level (with them). So choose not friends from them till they forsake their homes in the way of Allah; if they turn back then take them and kill them wherever you find them, and choose neither friend nor helper from among them.” (4:89)

       Dalam ayat lainnya ia mendorong pengikutnya untuk bersikap keras kepada umat Islam yang tidak hijrah. “You are not responsible for protecting those who embraced the faith but did not leave their homes, until they do so.” (8:72)

       Klaim bahwa warga Mekah menentang kaum Muslim karena mereka percaya kepada Allah adalah tidak benar. Warga Mekah percaya kepada Allah yang sama dengan Muhammad. Dewa-dewa kecil hanyalah perantara antara manusia dengan Allah. Kepercayaan kepada perantara bukanlah persyaratan iman. Ka’bah ditempati oleh 360 berhala. Dewa-dewa ini adalah patron dari masing-masing suku-suku Arab. Tidak percaya kepada salah satu maupun semua dewa ini tidak akan membuat seseorang menjadi orang buangan. Ada kaum Hanif, Yahudi, Kristen dan Zoroaster yang dengan tegas hanya percaya kepada satu Tuhan saja, tanpa perantara. Setiap orang bebas menjalankan dan menyebarkan kepercayaan mereka. Sekali-sekalinya warga Mekah membuat pengecualian adalah saat agama mereka dilecehkan.

       Cendekirawan modern menolak labelisasi Islam terhadap masyarakat Arab pra-Islam sebagai kafir (sebuah istilah merendahkan yang sama dengan “orang udik” atau “gembel – seseorang yang dianggap liar atau tidak beradab dan kurang dalam hal moral.” Muhammad menyebut mereka dengan kata berbahasa Arab mushrik, (orang-orang yang mempersekutukan Allah). Mengutip kata-kata Patricia Crone, “Namun, satu hal tampak jelas: semua pihak dalam Quran adalah monoteis menyembah Tuhan dalam tradisi Alkitab, dan semuanya cukup mengenal – sekalipun jarang diambil langsung dari Alkitab – dengan konsep-konsep dan kisah-kisah Alkitab. Hal ini bahkan berlaku juga bagi mereka yang disebut politeis, secara tradisional dikenal sebagai suku dari Muhammad di Mekah. Tradisi Islam mengatakan bahwa masyarakat dari suku ini, yang dikenal dengan Quraisy, percaya kepada Tuhan Abraham yang monoteismenya telah dirusak oleh unsur-unsur pagan; sejarawan modern cenderung akan membalikkan hubungan tersebut dan menganggap bahwa unsur-unsur paganlah yang lebih tua dari monoteisme; tetapi sejenis kombinasi dari monoteisme Alkitabiah dan paganisme Arab adalah apa yang sesungguhnya kita temukan dalam Quran. Mereka yang disebut kafir percaya kepada satu Tuhan pencipta yang memerintah dunia dan yang bisa didekati melalui doa dan ritual; sesungguhnya, seperti ideologi anathema yang dimusuhi di zaman sekarang, mereka tampaknya berasal dari komunitas yang sama dengan orang-orang yang mencela mereka. Namun, untuk berbagai alasan doktrinal, tradisi senang menekankan sisi paganisme dari musuh-musuh sang nabi, dan salah satu sumber berpengaruh secara khusus (Ibn al-Kalbi) meremehkan mereka sebagai orang lugu yang memuja batu dan berhala dari jenis yang sangat mungkin ada di bagian lain dari Arabia. Untuk alasan ini, literatur sekunder cenderung menggambarkan mereka kaum pagan yang sederhana juga. Ada beberapa penafsir yang dianggap jauh lebih canggih dari Ibn al-Kalbi, dan diantara sejarawan modern G. R. Hawtings menonjol sebagai orang pertama yang menunjukkan bahwa orang-orang yang dicela sebagai kafir dalam Quran hanyalah kaum pagan yang lugu.[205]

       Masalah warga Mekah dengan Muhammad bukan karena ia tidak percaya kepada dewa-dewa mereka, tetapi karena ia menghinanya. Ia menghina mereka karena ingin memprovokasi mereka. Ia ingin menciptakan kekacauan agar ia dianggap serius dan ditakuti. Masyarakat Arab bukan penyembah berhala. Kepercayaan mereka bahwa benda-benda yang terbuat dari tanah liat dan kayu adalah dewa sama besarnya dengan kepercayaan umat Islam yang mengelilingi Ka’bah dan percaya bahwa Allah berdiam di dalam bangunan tersebut. Berhala-berhala tersebut adalah perwujudan dari dewa-dewa yang tidak terlihat. Tuduhan penyembahan berhala adalah tuduhan yang menyesatkan. Menyebut masyarakat Arab sebagai penyembah berhala mengungkapkan kurangnya pemahaman Muhammad terhadap agama leluhurnya sendiri, sama seperti menyebut umat Hindu penyembah berhala memungkiri ketidaktahuan seseorang terhadap agama Hindu.

       Setelah membuat alasan yang menyesatkan ini, Muhammad mengeluarkan ayat yang memberi izin kepadanya untuk berperang. Ibn Ishaq mengatakan, “Lalu Allah menurunkan kepadanya, ‘Fight them so that there be no more seduction[206] yaitu, hingga tidak ada lagi Muslim yang dibujuk untuk meninggalkan agamanya. ‘Dan agama itu adalah milik Allah’, yaitu hingga Allah saja yang disembah.”

       Membunuh orang karena kepercayaan mereka adalah kebiadaban. Itu adalah tindakan yang tidak bermoral dan tidak beradab. Bukankah lebih tepat jika Islam yang dikatakan sebagai paganisme? Para kafir di Mekah tidak pernah melakukan kebiadaban seperti yang dilakukan oleh Muhammad dan para pengikutnya. Jadi bagaimana mungkin justru mereka yang disebut pagan dan bukan kaum Muslimnya?

       Muhammad telah membujuk dan secara tidak langsung menculik para pemuda dari banyak keluarga, tetapi ia malah menuduh mereka yang membujuk dan menganiaya anak-anak mereka.

       Ibn Ishaq melanjutkan, “Ketika Allah telah memberi izin untuk berperang dan suku Ansar ini telah memberikan ikrar dukungan mereka kepadanya dalam Islam dan membantunya dan para pengikutnya, dan para Muslim yang berlindung kepada mereka, Rasulullah memberi perintah kepada pendampingnya, para perantau dan kaum Muslim yang ada bersamanya di Mekah, untuk hijrah ke Madinah dan bergabung dengan saudara-saudara mereka, kaum Ansar. ‘God will make for you brethren and houses in which you may be safe.’ Jadi mereka berangkat beramai-ramai dan Rasulullah tetap tinggal di Mekah menunggu izin dari Tuhannya untuk meninggalkan Mekah dan hijrah ke Madinah.”[207]

 

 



[1] W. Montgomery Watt, Islam and Christianity Today, London, 1983, hlm. ix.

[2] Peter Von Sivers, The Islamic Origins Debate Goes Public, hlm. 2, Department of History, University of Utah.

[3] Karen Armstrong, Islam, hlm. 18-19

[4] Karen Armstrong, Islam, hlm. 20-21

[5] Ernest Renan, “Muhammad and the Origins of Islam” (1851)

[6] Peter Von Sivers, The Islamic Origins Debate Goes Public, hlm. 7

[7] Artikel oleh R. Paret, “Recent European Research on the Life and Work of Prophet Muhammad”, Journal of the Pakistan Historical Society, Karachi, 1958.

[8] Patricia Crone: What Do We Actually Know About Muhammad? 2008

[9] Bukhari, 4.52.220.

[10] Ibn Ishaq. 113

[11] Ibn Ishaq. 639

[12] Bukhari 6:61:509

[13] Ibn Ishaq xiii

[14] Siddiqi, Muhammad Zubair and Abdal Hakim Murad, 1993. Hadith Literature: Its Origin, Development and Special Features. Cambridge: The Islamic Texts Society.

[15] Ibn Ishaq xv

[16] Ibn Ishaq xiii

[17] Ibn Ishâq and al-Wâqidî revisited: a case study of Muhammad and the Jews in biographical literature. Institute of Islamic Studies, McGill University

[18] Frank E. Reynolds and Donal Capps. The Biographical Process Studies in the History and Psychology of Religion. The Hague: Mouton & Co., 1976, 4.

[19] The Quest: The Historians’ Search for Jesus and Muhammad. Professor F.E. Peters Lecture content 2009

[20] Ibn Isl; 1âq and al-Wâqidî Revisited by Rizwi S. Faizer

[21] Henri Lammens, “Les Juifs de la Mecque à la veille de 1’Hégire, RSR 18 (1918): 145-93. 50EII, s.

[22] Griffith, Sidney H. “Disputes with Muslims in Syriac Christian Texts.” In Religionsgesprache im Mittelalter, edited by Herausgegeben von Bernard Lewis and Friedrich Niewohner, 251-274. Wiesbaden: Otto Harrassowitz, 1992

[23] Tabaqat, v. 1, p. 145

[24] Tarif Khalid, Images of Muhammad, p. 79

[25] Tabari v. 3, p. 845

[26] Tabaqat, v. 1, p. 148

[27] Sira Ibn Ishaq 691

[28] Tabari, v. 4, p. 1390

[29] Ibn Ishaq. xlii

[30] Introduction to ibn Kathir’s Sirat al Nabawiyya, by Ahmad Fareed, v. 1, p. xix

[31] What Do We Actually Know About Muhammad? by Patricia Crone, Article 10 June 2008

[32] Ibid

[33] 109 Ibn Rawandi. “Origens of Islam: A Critical Look at the Sources.” In The Quest for the Historical Muhammad, edited by Ibn Warraq, 89-126. New York: Prometheus Book, 2000, 92.

[34] Crone, P.M. Meccan Trade and The Rise of Islam, Oxford, 1987. p. 134

[35] The Book of Idols (Kitab Al-Asnam) by Hisham Ibn Al-Kalbi

[36] Aloys Sprenger, The Life of Muhammad from Original Sources, p. 44

[37] Sir William Muir, The Life of Muhammad, p. 204

[38] Al-Rawandi, I.M. Origins of Islam: A Critical Look at the Sources. Prometheus, 2000, p. 104

[39] Robert Spencer, Did Muhammad Exist?, p. 46

[40] Robert Spencer, Did Muhammad Exist?, p. 47

[41] Ibid p. 56

[42] A Chronology Of Islam History 570-1000 CE, by H.U. Rahman, 1999, p. 128

[43] Middle East, Western Asia, and Northern Africa, by Ali Aldosari, p.185

[44] Faraj Antun, Ibn Rushd wa Falsafatihi, p.60

[45] Bukhari 4:53:386

[46] The Tragedy of the Templars: The Rise and Fall of Crusader States by Michael Haag, Chapter 3  Palestine Under the Umayyads and the Arab Tribe

[47] Sammawal Maani fi Samma waz Zaat, p. 60

[48] Tarikh-e Muzaffari, p. 215

[49] Mulhamatul Ghadeer, p. 237

[50] Tabaqat ash-Shura, p. 320 tetapi ia hanya mengutip dua baris saja, dan Iqdul Farid 5/321

[51] Robert Hoyland, Seeing Islam as Others Saw It, p.553

[52] Ibid p. 552

[53] History of the Patriarchs of the Coptic Church of Alexandria (1904) part 2: Peter I – Benjamin I (661 AD). Patrologia Orientalis 1, p. 501

[54] Annals of the Early Caliphs, Sir William Muir, p. 75

[55] Ibn Ishaq. xlii

[56] Robert Spencer, Did Muhammad Exist, p. x

[57] Ibn Ishaq xv

[58] Guillaume, Ibn Ishaq. xliii

[59] Ibn Kathir, al Sira al Nabawiyya, v.1, p. 161

[60] Tabaari, v. 7, p. 2915

[61] Ibn Ishaq. 576

[62] Tabari, v. 2, p. 710

[63] W. Montgomery Watt: Translation of Ibn Ishaq’s Biography of Muhammad (p. 36)

[64] Tabaqat v.1, p. 106

[65] Tabaqat, v. 1, p. 107

[66] www.enotes.com/psychoanalysis-encyclopedia/paranoia

[67] Tabaqat, v. 1, p. 108

[68] Jon Mardi Horowitz – Stress Response Syndrome: PTSD, Grief, and Adjustment Disorder”, New Jersey: Jason Aronson Inc., Third Edition, 1997, ISBN-10: 0765700255, ISBN-13: 978-0765700254.

[69] Ibn Ishaq, 80

[70] Tabari, v. 3, p. 832

[71] Ibn Ishaq, 81

[72] Bukhari, 4.56.762

[73] Tabaqat, v. 1, p. 117

[74] William Muir, Life of Muhammad, v. II, ch. 2, p. 6

[75] Tabaqat v. 1, p. 118

[76] Ibn Ishaq 82

[77] Tabari, v. 3, p. 834

[78] The Book of Idols, p. 17

[79] Tarif Khalidi, Images of Muhammad, p. 78

[80] Ibn Ishaq 105

[81] samvak.tripod.com/faq66.html

[82] Ibn Ishaq. 105

[83] Bukhari 8:73:175 dan Muslim 28:5609

[84] Ibn Ishaq. 106

[85] Ibn Ishaq. 106

[86] samvak.tripod.com/narcissistinfantile.html

[87] Tabari v. 3, p. 849

[88] Ibn Ishaq. 107

[89] Ibn Hisham 77

[90] Ibn Hisham 78

[91] Ibn Hisham 78

[92] Ibn Hisham 82

[93] Israel: Ancient Kingdom Or Late Invention?, Daniel Isaac, p. 113

[94] Kejadian 16:12

[95] Kejadian 17:7

[96] Kejadian 17:8

[97] Kejadian 21:10

[98] Kejadian 21:12

[99] Kejadian 21:13

[100] Kejadian 22:2

[101] Ibn Hisham 85; Ibn Ishaq 99

[102] Ibn Hisham 86; Ibn Ishaq 99

[103] Zayd membuat kesalahan di sini. Lat, Uzza dan Manat adalah ketiga puteri dari al lah orang-orang Arab yang bernama Hubal

[104] Ibn Hisham 87; Ibn Ishaq 100

[105] Ibn Hisham 89; Ibn Ishaq 102

[106] Bukhari 7: 67: 407

[107] Bukhari 5: 58: 169

[108] Bukhari 5: 58: 169

[109] Ibn Hisham 89

[110] Malik 16: 10: 31

[111] Ibn Hisham 89

[112] Ibn Sa’d Tabaqat, v. 1, p. 362

[113] Tab. vol. 3, p. 1415

[114] Tabari, v. 3, p. 253

[115] Quran Sura 93: ayat 3-8 (Terjemahan Quran dalam buku ini diambil dari Yusuf Ali atau Shakir.) Tulisan saya bukan tentang kitab suci Islam, tetapi didasarkan langsung kepada mereka. Ayat-ayat yang saya kutip diambil dari Quran dan Hadis. Quran tidak dimaksudkan sebagai karya manusia, tetapi firman dari Allah, dari awal hingga akhir. Ahadis (kata jamak dari Hadis) adalah anekdot-anekdot pendek dan ucapan-ucapan tentang Muhammad, dipandang oleh kaum Muslim, penting bagi pemahaman dan praktek agama mereka. Dalam buku ini, saya merasa tidak perlu untuk membahas pertanyaan-pertanyaan tak terhitung yang diajukan oleh Quran dan Hadis, terjemahannya ke dalam bahasa-bahasa lain, atau perselisihan atas nuansa-nuansa kecil dalam teks tersebut. Untuk keperluan buku ini, bagian-bagian yang saya kutip sebagian besar akan berbicara sendiri. Saya telah mengambilnya dari sumber-sumber yang telah diterima secara luas.

[116] Quran 26:214-215

[117] Ibn Ishaq 118

[118] Tafseer Ibn Khathir, v. 8, p. 54

[119] Ibn Khaldun, ch. 3:32

[120] http://samvak.tripod.com/faq73.html

[121] Ibid.

[122] samvak.tripod.com/faq76.html

[123] Ibn Ishaq 118

[124] Ibn Ishaq 132

[125] Quran 17:90-97 dan Ibn Ishaq 134

[126] “Pious Long-Sleepers in Greek, Jewish, and Christian Antiquity”, by Peter W. van der Horst

[127] Pious Long-Sleepers in Greek, Jewish, and Christian Antiquity.

http://orion.mscc.huji.ac.il/symposiums/13th/papers/Horst.pdf

[128] Sahih Muslim 3:669, 30:5849; Bukhari 1:5:277, 4:55:616

[129] Sira, Ibn Ishaq p. 139

[130] ibid

[131] Ibn Ishaq 119

[132] Ibid

[133] Ibn Ishaq 120

[134] Tabaqat,  v. 1, p. 189

[135] Ibn Ishaq 131

[136] Ibn Ishaq, Sirat Rasoul Allâh p. 131

[137] Tabari v. 3, p. 872

[138] Ibn Ishaq, Sirat Rasoul Allâh p. 131

[139] Ibn Ishaq 141

[140] Ibn Ishaq 145

[141] Tabaqat v. 8, p.276

[142] Ibn Ishaq 151

[143] Ibn Ishaq 132

[144] Ibn Ishaq 160

[145] Ibn Ishaq 172

[146] Ibn Ishaq 172

[147] http://www.usc.edu/dept/MSA/quran/maududi/mau109.html

[148] Gharanic katanya berarti “bangau Numidian” yang  bisa terbang sangat tinggi.

[149] Q. 53 Sura an-Najm (bintang)

[150] Ibn Ishaq 165-166

[151] Ibn Ishaq 166

[152] Ibn Ishaq 166

[153] Ibn Ishaq. 167

[154] Tabari, v. 3, p. 882

[155] Tabaqat V. 8, p. 56

[156] Ibn Ishaq 191

[157] Bukhari 5:58:222

[158] Ibn Ishaq 192

[159] Ibn Ishaq 192

[160] Ibn Ishaq 193

[161] Ibn Ishaq 194

[162] Bukhari 1:12:740

[163] Sahih Muslim, 19:4425

[164] Ibn Ishaq 194

[165] Ibn Ishaq 194

[166] Rev. Cannon Sell, The Life of Muhammad 1913, p.5

[167] Stephen Nathanson. Patriotism, Morality, Peace, 1993, p. 34-35

[168] The Quest: The Historian’s Search for Jesus and Muhammad, Professor F. E. Peters Lecture content 2009

[169] Ibn Ishaq 187

[170] Sunan Ibn Majah 1622

[171] Bukhari 5:58:227

[172] Ibn Ishaq 183

[173] Ibn Ishaq 183

[174] Bukhari  2: 18: 161

[175] J. L. Esposito, The Oxford Dictionary of Islam, Oxford University Press, 2003, p. 264

[176] Bukhari 6:60:378

[177] Muslim 1:337

[178] Bukhari 9:87:131

[179] Ibn Ishaq 194

[180] Muslim: 19: 4294

[181] Ibn Ishaq 195

[182] Ibn Ishaq 195

[183] Ibn Ishaq 197-198

[184] Tabari , p.896

[185] Ibn Ishaq 309

[186] Masyarakat Arab menggunakan istilah itu untuk kaum Khazraj dan Aus. Dalam Islam mereka dikenal dengan Ansar atau Penolong.

[187] Sirat Rasoul p. 203

[188] Ibn Ishaq 72

[189] Ibn Ishaq  205

[190] Ibn Ishaq 208

[191] Tabari, v. 3, p. 907

[192] Ibn Ishaq. 208

[193] Ibn Ishaq. 212

[194] Ibn Ishaq 205

[195] Ihya Ulum-Id-Din (The Book of Religious Learnings, Volume  II, p. 240)

[196] Dawud, 41: 4994

[197] Malik, 56: 56. 3. 7; Bukhari: 7: 71: 662

[198] Bukhari, 9: 87: 127

[199] Ibn Ishaq. 205

[200] Ibn Ishaq. 212

[201] Ibn Ishaq. 214

[202] Al Wahidi p. 86

[203] Ibn Ishaq. 215

[204] Ibn Ishaq 217

[205] What Do We Actually Know About Muhammad? , Patricia Crone (2008)

[206] Q. 2:198

[207] Ibn Ishaq. 213


0 comments Add a Comment
No comments yet
↑ Back to Top