Konsep Jihad menurut Dr. Jamal Badawi

Menurut saya tidak mungkin Dr. Badawi tidak mengetahui bahwa ia sedang membodohi para pendengarnya dengan menggunakan ayat-ayat yang diabrogasi untuk memberikan pandangan mengenai jihad yang bersifat defensif di medan perang. Hal yang sama terjadi ketika ia menekankan konsepnya sendiri mengenai jihad pada ayat-ayat lain yang tidak mengandung konsep jihad apapun.

 

Oleh  Ibn Kammuna · 25 Februari 2015

Dalam sebuah video berdurasi 5 menit di Youtube, Dr. Jamal Badawi menjelaskan konsep jihad dalam pandangannya. Asumsinya adalah ini merupakan makna jihad dalam Islam. Artikel ini adalah sebuah analisa mengenai gagasan-gagasannya.

Tautan Video: Click di SINI

 

 

Isi video

Menurut Jamal Badawi, ada 3 konsep dasar jihad: jihad Individual, Jihad Sosial, dan Jihad di medan perang. Ia mengutip ayat Quran untuk ketiga konsep jihad tersebut:

1. Jihad Individual: Qur’an 22:77,
2.
Bantuan Sosial dan membagikan kebenaran jihad: Qur’an 49:15, 25:52
3.
Jihad di medan perang dan pembebasan: Quran 2:190-193,60:8-9

Marilah kita memperhatikan ayat-ayat Quran tersebut dan menyelidiki bagaimana ayat-ayat tersebut dipahami dalam Islam. Saya biasa menggunakan tautan berikut untuk mendapatkan tafsir Jalalyn untuk ayat-ayat Quran tersebut. Para pembaca yang berminat dianjurkan untuk menyelidiki akurasi klaim apapun yang saya ajukan dalam artikel ini:

http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=60&tAyahNo=9&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2

 

1. Jihad Individual dalam Qur’an 22:77

Berikut ini adalah ayat Quran dalam bahasa Arab dengan tafsir Jalalyn di dalam kurung:

{ يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُواْ ٱرْكَعُواْ وَٱسْجُدُواْ وَاعْبُدُواْ رَبَّكُمْ وَٱفْعَلُواْ ٱلْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ }

Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu [akuilah keesaan-Nya] dan perbuatlah kebajikan [kepada kerabat dan mengadopsi nilai-nilai yang baik], supaya kamu mendapat kemenangan[dan barangkali kamu akan mendapatkan hidup kekal di firdaus].   

Saya dengan sengaja mencantumkan ayat Quran dalam bahasa Arab. Pembaca dapat melihat kata “jihad” atau turunan apapun dari ayat itu tidak terdapat disana. Ayat di atas sama sekali tidak berkaitan dengan jihad, walaupun Dr. Baidawi memahaminya demikian.

 

2. Bantuan sosial dan membagikan kebenaran Jihad dalam Qur’an 49:15 dan 25:52

Marilah kita melihat ayat-ayat ini dalam bahasa Arab dan apa artinya dengan menggunakan tafsir Jalalyn:

Qur’an 49:15

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.[oleh karena perjuangan mereka memanifestasikan ketulusan iman mereka. Mereka yang tulus dalam iman mereka, bukan orang yang berkata ‘Kami percaya’, dan yang dari mereka diharapkan sikap tunduk kepada agama].

Sesungguhnya bahasa Arab “Jahido” (berjuang dengan uang dan diri sendiri) tidak eksis dalam teks bahasa Arab. Ayat ini tidak mewajibkan jihad dengan uang dan jiwa di jalan Allah. Ayat ini sendiri tidak memberikan bagaimana caranya dan bilamana, serta mengapa mengobarkan jihad.

 

Mari kita melihat Qur’an 25:52 dalam tafsir Jalalyn:

Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka [sesuai] dengan Al Quran dengan jihad yang besar.  

Sesungguhnya, ayat ini berbicara mengenai penggunaan Quran untuk jihad. Elemen-elemen seperti jihad dalam kasus ini tidak dijelaskan karena ayat ini terlalu singkat. Saya menduga Muhammad sangat terkesan dengan keelokan liguistik Qurannya dan berpikir bahwa hal seperti itu akan meyakinkan siapapun bahwa Islam itu benar.

 

3. Jihad di medan perang dan pembebasan dalam Qur’an 2:190-193,60:8-9

Mari kita menyelidiki ayat-ayat ini dengan menggunakan tafsir Jalalyn.

Qur’an 2:190

Setelah Nabi  terhalang untuk mengunjungi Rumah pada tahun dimana terjadi perang Hudaybiyya, ia membuat perjanjian dengan orang-orang tidak beriman bahwa ia akan diijinkan untuk kembali pada tahun berikutnya, dimana mereka akan mengosongkan Mekkah selama 3 hari. Setelah bersiap untuk melakukan kunjungan [umroh], [ia dan] orang-orang beriman berpikir orang Quraysh tidak akan menepati kesepakatan itu dan akan mengobarkan perang. Orang Muslim tidak ingin terlibat dalam perang sementara sedang berziarah dan menjaga kesucian al-haram, dan selama bulan-bulan suci, maka ayat berikut diwahyukan: 

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas

 

Persyaratan ini dibatalkan/diabrogasi dengan ayat  barā’a, ‘kekebalan’ [Q. 9:1], atau dengan perkataan-Nya berikut ini:

Perhatikan bahwa ayat di atas diabrogasi dengan ayat yang muncul kemudian (lihat kalimat yang digarisbawahi) 

Qur’an 2:191

Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir. [pembacaan lainnya membuang alif dalam 3 kata kerja, yaitu wa-lā taqtilūhum, hattā yaqtulūkum, fa-in qatalūkum, sehingga pengertian dalam ketiganya adalah ‘membunuh’, dan bukan hanya ‘memerangi’] – seperti pembunuhan dan pembuangan, merupakan pembalasan terhadap orang tidak beriman.

 

Qur’an 2:192

Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 

Qur’an 2:193

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu – dari penyembahan berhala), maka tidak ada permusuhan (lagi) [janganlah menyerang mereka], kecuali terhadap orang-orang yang zalim.

[Bagaimanapun, orang-orang yang berhenti memusuhi Islam, bukanlah pelaku kejahatan dan tidak boleh dimusuhi]. 

Saya telah menggarisbawahi abrogasi mencegah timbulnya perang terhadap non Muslim di ayat 190 di atas. Alasan untuk itu adalah Muhammad telah menaklukkan Mekkah dan masih dalam posisi yang kuat untuk mencegah non Muslim mengunjungi Ka’bah. Apa yang terjadi adalah Muhammad membatalkan perjanjian damainya dengan non Muslim dan memberi mereka sejangka waktu untuk menjadi Muslim atau dibunuh dengan pedang. Ini sama sekali bukan perang defensif. Berikut adalah ayat yang membatalkan dalam tafsir Jalalyn:

 

Qur’an 9:1

(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan RasulNya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kaum muslimin) telah mengadakan perjanjian (dengan mereka). [sebuah perjanjian untuk jangka waktu yang tidak pasti, atau satu periode yang kurang dari atau lebih dari 4 bulan; pembatalan perjanjian itu sebagaimana yang dikatakan Allah].

 

Marilah kita menyelidiki Qur’an 60:8-9 sebagaimana yang disebutkan dalam tafsir Jalalyn :

 

Qur’an 60:8

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu [sehingga kamu harus memperlakukan mereka dengan baik - tabarrūhum adalah substitusi inklusif untuk alladhīna, ‘mereka yang’ – dan bersikap adil pada mereka:  ini [diwahyukan] sebelum perintah untuk memerangi mereka]. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

 

Perhatikan bahwa ayat di atas diabrogasi (lihat pernyataan dalam kurung). 

 

Qur’an 60:9

Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. [tawallawhum adalah sebuah substitusi inklusif untuk alladhina, ‘mereka yang’]. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.  

 

Menurut  Jalalyn,ayat di atas mencegah orang Muslim berteman dengan non Muslim.   

 

Analisa

Jelas bahwa Dr. Jamal Badawi menggunakan ayat-ayat yang diabrogasi dalam Quran untuk memaksakan pengertian jihad yang ketat berkenaan dengan jihad di medan perang (terutama Qur’an 2:190-193,60:8-9). Badawi juga menekankan pemahamannya akan jihad pada Quran 22:77. Secara sederhana, ayat itu tidak terkait dengan jihad. Konsep jihad tidak ada dalam ayat tersebut.  

Menurut saya tidak mungkin Dr. Badawi tidak mengetahui bahwa ia sedang membodohi para pendengarnya dengan menggunakan ayat-ayat yang diabrogasi untuk memberikan pandangan mengenai jihad yang bersifat defensif di medan perang. Hal yang sama terjadi ketika ia menekankan konsepnya sendiri mengenai jihad pada ayat-ayat lain yang tidak mengandung konsep jihad apapun. Ia dipandang sebagai cendekiawan Islam. Saya memandang diri saya sendiri sebagai peneliti Islam yang jujur, dan berusaha untuk mendapatkan kebenaran dari semua yang saya pelajari. Saya tidak memaksakan pemahaman saya sendiri terhadap konsep-konsep islami. Saya berusaha melihat secara obyektif apa yang dikatakan Quran dan Hadith mengenai sebuah topik, dan kemudian melaporkan analisa saya dan hasil riset saya. Berdusta mengenai Islam tidak akan menolong siapapun, terutama di Barat. Sangat disesalkan bahwa Dr. Baidawi berdusta pada para pendengarnya di Barat yang tahu betul bahwa ia berdusta. Orang-orang yang meneliti Islam tahu soal ayat-ayat yang diabrogasi. Jadi, mengapa harus berdusta?

 

Faithfreedom.org

 


3 comments Add a Comment
andri
Reply| 01 Apr 2015 08:16:45
Taqiya
Apa lagi ?

Agama yang ditopang oleh dusta...
Tanpaagama
Reply| 21 Mar 2015 12:49:09
konsep jihad meliputi anak2 ingusan? visit:
http://buktidansaksi.com/Medias
jesus lover
Reply| 03 Mar 2015 13:50:22
Sang doktor nampaknya sedang menjalankan misi suci yakni berdusta demi Islam: taqiyah.
Fetching more Comments...
↑ Back to Top