[RESPON:] Para Ulama pun Membantah bahwa Injil adalah Kitab Yang Bohong dan Menyesatkan

KOMENTAR KRITIS TERHADAP TULISAN ISLAMIK BERJUDUL SEPERTI DIATAS,
RE: http://www.madinaonline.id

 

OLEH: USTADZMENJAWAB


Telah disajikan utuh sebelumnya seluruh paparan dari Ulama Islam yang men-justifikasi kebenaran isi Alkitab pada umumnya, kecuali dalam beberapa aspek yang dikatakannya sebagai masih bisa dianggap menyesatkan. Posted by: Irwan Amrizal in Perspektif, Wacana June 9, 2015.


USTADZMENJAWAB:

SAYANG SEKALI tidak disebut apa persisnya, serta apa bukti tentang kepalsuan dan penyesatannya! Sayangnya lagi paparan ini malah tidak dikaitkan dan tidak berani menyinggung segi yang paling esensial yang menjadikan sebuah Kitab Suci itu dicap bohong atau sesat. Padahal keabsahan Kitab Suci manapun justru harus memperlihatkan pokok bangunan dan isinya yang absah dalam 3 hal utama: historisitas, otentisitas dan otoritas nya sebagai sebuah Kitab Suci hasil inspirasi yang berkaitan dengan Tuhan semesta. Ketiga unsur inilah  yang disebut sebagai TANDA yang paling andal (shahih) untuk memperlihatkan kemurnian sebuah kitab Ilahiah.

Maka disini kita ingin mengkoreksikan koreksi asli dari artikel diatas agar diketahui secara berimbang bagaimana rupa “pembohongan dan penyesatan” kedua Kitab Suci --  Alkitab versus Al-Quran – ketika keduanya dijajarkan secara polos.

 

TANDA-1: Otentisitas dan Otoritas Wahyu, Langsung dari Tuhan.

Dimana-mana Muslim berslogan bahwa Quran adalah wahyu langsung dan sempurna dari Allah kepada Muhammad. Padahal seluruh Quran adalah Kalimat Allah yang dipercaya diturunkan Allah kepada Muhammad lewat Ruh Perantara yang belakangan hari (baru setelah Hijrah ke Medina) disebut sebagai “Jibril”. Artinya tak ada Allah yang berwahyu dari mulutNya kepada Muhammad. Tak ada interaksi dengan Allah sedikitpun, dan tak ada yang langsung, melainkan tergantung sepenuhnya kepada si-pembawa wahyu itu sendirian. Malah siapa jatidiri Jibril itu dan darimana datangnya juga tidak pernah dikritisi, PADAHAL awalnya Muhammad merasa ruh tsb adalah JIN (Al-Sirat al-Halabiyah, vol.1, p.377). Mahkluk misterius ini menteror dengan menghimpit/mencekik Muhammad digua Hira.

Jibril ini tidak memperkenalkan jatidirinya dan mewakili siapa dalam Quran. Ia hanya mengklaim dan mengklaim (atas nama Allah), namun tak ada apapun yang dia pernah buktikan. Sebagai misal ia berkata (atas nama Allah) bahwa ia berkekuatan ilahiah (53:5; 81:19,20), namun tak pernah ia tunjukkan kuasa adikodrati Allah yang dipunyainya. TAK ADA TANDA ILAHI yang dia bawa! Dengan kapasitas sebegini, bukankah setiap ruh-hitam bisa saja melakukan bisikannya dan mengklaimnya sebagai wahyu Allah?

Bandingkan dengan Gabriel di Alkitab yang memperkenalkan diri kepada imam Zakharia [ayah dari  Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya)], dan sekaligus Gabriel menunjukkan TANDANYA, yaitu otoritas dan otentisitas sorgawi yang disandang-nya sebagai utusan yang ABSAH dari Tuhan. Maka ketika imam Zakharia meragukan –tidak percaya—atas kata-kata yang Gabriel bawa atas nama Tuhannya Yang Mahakuasa, maka ia dibuatnya bisu seketika (!) :
"Akulah Gabriel yang melayani Elohim dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau… Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku…”(Lukas 1:19-20).

 

TANDA-2: Otentisitas dan Historisitas Tuhan Yang Sungguh Nyata Berbicara.

Apakah Allah SWT sungguh berbicara? 
“O,YA, pasti Allah SWT berfirman. Ia berbicara, dan Quran itulah kalimatNya”!
Kembali itu yang difantasikan setiap Muslim tanpa memberi bukti. Quran itu kata-kata Allah? Nanti dulu. Ada satu ahli riset Quran kaliber dunia yang merangkum-kan kenyataan Quran sbb:

Secara de-fakto, Muhammad-lah yang memang berbicara.
Secara de-yure, tidak ada orang yang dapat memastikan apakah Quran itu adalah:
(1) Allah yang berkata,
(2) Ruh (dianggap Jibril) yang berkata,
(3) Muhammad yang berkata.
(4) Campuran mix dari sahabat dan pengikut Muhammad yang juga ikut berkata...

Agar tidak rancu, maka Montgomery Watt terpaksa menyederhanakannya sesuai dengan realita yang ada: “Quran yang berkata”! 

Secara historis, Allah SWT tak pernah berbicara, tak pernah masuk kedalam sejarah manusia. Ia bisu seribu bahasa. Ia tak pernah berbicara bahasa Arab seperti yang di-klaim Muslim. Tapi secara historis Tuhan Alkitab SELALU berwahyu dan berdialog langsung dengan para NabiNya terdahulu --satu persatu dan semuanya-- mulai dari Adam, Abraham, Musa hingga kepada Yesus,

·         Adam ditanyai Tuhannya: “Dimanakah engkau?” Dan Adam menjawab:
"Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi." (Kej. 3:9-10).

·       Abraham berkata kepada Elohim: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!" Tetapi Elohim berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Sara-lah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya” (Kejadian 17:18-19).

[Perhatikan di kedua Kitab Suci, bahwa Ismail tidak dimeteraikan dengan TANDA apapun: tidak diperjanjikan oleh Allah SWT, tidak diajak berbicara sekalipun oleh Allah, dan bukan datang dari kelahiran yang bermuatan mukjizat dari Hagar. Dan ini sesuai pula dengan QS.29:27 dimana Ismail tidak termasuk garis keturunan kenabian dan Kitab. Berlainan halnya dengan Ishak yang lahir dari janji  dan kuasa Tuhan lewat rahim Sarah yang sudah mandul: TANDA mukjizat!]

 

 

 

·      Musa pernah bertanya langsung kepada Tuhannya yang bersuara dekat dari semak yang terbakar (Keluaran pasal 3). Musa mempertanyakan nama pribadi Tuhan-nya. Dan Tuhan siap menjawabnya: “AKU ADALAH AKU”…YAHWEH… itulah namaKu untuk selama-lamanya…”

Lalu sahut Musa (kepada Tuhannya): "Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, …"

TUHAN berfirman kepadanya: "Apakah yang di tanganmu itu?" Jawab Musa: "Tongkat."  Firman TUHAN: "Lemparkanlah itu ke tanah." Dan ketika dilemparkannya ke tanah, maka tongkat itu menjadi ular….

"supaya mereka percaya, bahwa TUHAN, Elohim  nenek moyang mereka, Elohim Abraham, Elohim Ishak dan Elohim Yakub telah menampakkan diri kepadamu."  (Kel.4:1-5). Ya, untuk mencapai “supaya mereka percaya”, maka Tuhan perlu memperlengkapi nabiNya dengan TANDA adikodrati, dan itu bukan klaim semata seperti yang dilakukan oleh Jibril maupun Muhammad!

 

·       Dan Yesus? Wah, tak usah dibilang! Dialah satu-satunya sosok dengan TANDA yang sepenuh-penuhnya dari Elohim Alkitab. Dalam apa yang diperkatakanNya dan apa yang dilakukanNya ! Alkitab menjelaskan (juga Quran) bahwa Ia adalah Firman (Kalimat) Tuhan yang di nuzul-kan (di-inkarnasikan) kedunia menjadi Anak Manusia Yesus (Yoh.1:1-3, 14, QS.4:171). Ia yang SELALU berfirman dan berkuasa ilahi sejak orok, tanpa harus menunggu diberi wahyu oleh Jibril atau siapapun yang hanya mahkluk. 

Ia berfirman, “KUN”, dan jadilah faya-kun, menciptakan burung hidup, membangkitkan orang mati dsb. Itulah TANDA kuasaNya yang supra-natural sebagai bukti penuh OTORITAS-WAHYUNYA.

 

Bapa Surgawi, Tuhan Alkitab, justru secara dahsyat memperdengarkan suaraNya dari sorga yang disaksikan oleh publik secara historis-mutawatir:


“Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." (Lukas 3:21-22).

 

Keotentikan wahyu yang luar biasa keluar dari mulut Tuhan sendiri inilah yang merupakan otoritas dan otentisitas ilahiah yang sesungguhnya, yang tidak dimiliki oleh Muhammad dan Quran!  Muhammad hanya didikte sepihak oleh makhluk misterius, tanpa ada dialog atau pertanyaan balik. Allah dan Jibril dalam pewahyuanNya tidak memberi kesempatan/mengizinkan Muhammad untuk bertanya balik atas ayat-ayat wahyu  yang mungkin membuat dirinya ragu. Namun SUNGGUH ANEH bahwa Jibril ini justru melontarkan pertanyaan-pertanyaan tsb agar dipertanyakan saja kepada pihak ketiga, yaitu para Ahli Kitab, dan bukan kepada dirinya sendiri yang bertanggung jawab atas setiap wahyu yang dia sampaikan (!):

“Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu…” (QS.10:94).

Anda lihat apa artinya disini? Bukan saja Allah tidak mau berbicara dengan Muhammad (lalu “mewakilkannya” kepada Jibril), dan bukan saja Jibril tidak bersedia untuk ditanya balik oleh Muhammad, namun Jibril (yang tak mau bertanggung-jawab atas penyampaian wahyu itu) malah memerintahkan Muhammad untuk bertanya kepada pihak “Ahli Kitab” yang justru dia kafiri! Sebenarnya, alangkah hinanya Muhammad diperlakukan oleh Allah maupun Jibril terhadap “penerima wahyu” yang hanya boleh bertanya kepada pihak kafir, dan tidak kepada pihak Penyampai dan Yang Punya Wahyu. Jikalau begitu protokolnya Allah Islam, maka bagaimana mungkin seorang Muhammad dan Muslim BISA berkomunikasi langsung kepada Allahnya dalam setiap shalatnya? Muslim –sesuai dengan protokol Ilahi-- seharusnya hanya bisa berbicara kepada Allahnya lewat Jibril itulah, baik dalam  shalat maupun dalam doa bentuk apapun! Saluran langsung dari dan kepada Allah SWT hanyalah tertutup bagi Muhammad, apalagi hamba sahaya lainnya.

 

Tanda-3: Wahyu Awal Yang Superior versus Yang Terpuruk

Perbandingan otoritas dan otentisitas Taurat, Injil, dan Quran sesungguhnya sangat mudah terlihat dari sumber Islam sendiri ketika Quran berkisah tentang awal mula turunnya tiap-tiap Kitab itu  oleh Allah.  Muslim harus berani menerima kenyataan bahwa Quran terpuruk mulai dari awal pewahyuannya dibandingkan dengan Kitab Allah lainnya.

Lihat Hukum Taurat (berisi 10 Perintah Tuhan) misalnya diserahkan Allah sendiri dalam ujud luh- luh batu langsung kepada Musa pribadi digunung Thursina, tanpa perantara: “Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh Taurat…” (QS.7:145).  Lihat pula Injil dan Al-Kitab “diturunkan” kepada Isa pribadi lewat ajaran pribadi dan langsung dari mulut Allah sendiri sejak kecilnya (QS.3:48):

Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil.

Ini memperlihatkan betapa Tuhan tidak pernah mendelegasikan pewahyuan FirmanNya –Taurat & Injil-- kepada mahkluk lain siapapun, termasuk “Jibril” yang misterius. Muhammad yang ummi itu sungguh tidak tahu menahu tentang kenabian (maka dia berspekulasi bahwa total ada 124.000 nabi yang tersebar diseluruh dunia) . Dia juga tidak tahu akan pewahyuan Firman yang Asali itu langsung dari sorga (maka ia merasa wahyu itu turun seperti bunyi lonceng dalam kepalanya yang sangat menyiksakan, dan dengan bersimbah peluh yang memberatkan (Bukhari 1.1.2), dll). Ia terbajak oleh satu Roh yang berbisik mengaku-aku dirinya itu malaikat utusan Allah, padahal “roh malaikat” ini takut kalau-kalau jati dirinya diuji. Maka secara licin roh ini mencegat niat manusia untuk men-test jatidirinya, dengan berkata negatip:

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (QS.17:85).


Muslim tak pernah menguji Roh Jibril tsb dan otomatis menerima dia sebagai roh Islam yang benar. Padahal mereka harus jeli menyimak dan berani men-test jatidiri setiap roh sebagaimana yang dianjurkan oleh Injil sangat wanti-wanti:

”…janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia” (1 Yoh 4:1).

Awas, “Iblis pun menyamar sebagai Malaikat Terang” (2 Korintus 11:14).

 

Test: Firman Allah Diteguhkan Dengan Sumpah yang Justru Mengerdilkan!

Akhirnya, membandingkan otoritas  FIRMAN diantara Allah Quran dan Tuhan Alkitab adalah mudah dengan melihat bagaimanakah keduanya mengokohkan bobot firmanNya yang paling tinggi keshahihannya! Dan itu bisa kita jumpai dalam SUMPAH-NYA! Disinilah Allah SWT justru obral bersumpah DEMI mahkluk atau benda-benda ciptaanNya yang jelas lebih rendah derajadnya, seperti demi MATAHARI, demi BULAN, BINTANG, demi langit, bumi, siang, malam, demi GUNUNG, KOTA MEKAH, dan “apa-apa yang dapat dilihat atau tidak terlihat” …. (QS.81:15,90:1, 91:1-6, 52:1, 69:38-39 dll).Sumpah yang justru mengikatkan diriNya dengan sesuatu yang bukan kelasNya! Tidakkah itu syirik? Tidakkah itu sumpah picisan yang tidak berbobot Firman Ilahi samasekali?

 

Ini sungguh dinajisi oleh Tuhan Alkitab yang tidak sekalipun membiarkan harga diriNya bersumpah demi benda ciptaan, melainkan hanya bersumpah demi DIRINYA, demi NAMANYA,  

“Sebab ketika Elohim  memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya”  (Ibr.6:13).

 

Kontradiksi dan kebingungan sumpah bertambah konyol, ketika Allah SWT yang bersumpah demi  benda-benda, namun Dia pulalah yang melarang umatNya untuk bersumpah demi benda2/ciptaan kecuali demi Allah saja, “Barangsiapa bersumpah demi non-Allah, maka ia telah berbuat syirik mempersekutukan Allah” (Sunan Abu Dawud, vol. 2, p. 923, no. 3245). Jadi siapa yang lebih tinggi kadar syiriknya andaikata umat Allah dan Allah juga sama-sama bersumpah demi makhlik dan barang ciptaan? Dan tambah sempurnalah semua absurditas ini, ketika Muhammad ditanyai seseorang tentang “ujud kemurahan apa yang membawa pahala terbesar”, maka Muhammad (seperti anggap enteng saja akan perintah Allah) lalu bersumpah demi AYAH ORANG YANG BERTANYA TSB !
(Sahih Muslim, Buku ttg zakat bag 3; p.94; Demikian juga Sahih Muslim, bag 1 Bab ‘Apa itu Islam dan kwalitasnya”, p.32).

Bertanyalah sendiri, dimana otoritas dan otentisitas dari Sumpah, yaitu Firman yang tertinggi dari Allah SWT? Masihkah Alkitab dan Injil  --dan bukan Quran—yang dicap bohong dan menyesatkan ketika Yesus tercatat terang-terangan berkata dengan lantang mengkritisi sumpah murahan Allah SWT dan Muhammad yang men-demi-demi-kan ini dan itu:
 

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Elohim, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar;  janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun.

Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat(Matius 5:34-37).

 

Yesus telah berbicara jauh sebelumnya dengan dahsyat MENDAMPRATI mereka-mereka yang bersumpah mirip-mirip, demi langit, demi bumi demi Yerusalem, apalagi Mekah! Dan dengan itu Yesus sekaligus telah mendamprat Allah SWT yang sembarangan seenak perutnya telah bersumpah atas simbol dewa-dewa berhala dijamannya Muhammad, khususnya bersumpah demi Matahari, Bulan dan Bintang!

 

Muslim bisa menuduh seolah Yesus dan InjilNya telah berdusta. Tapi Quran dan Alkitab justru mengatakan bahwa Yesus berkata benar, tiada dusta dalam mulutNya (QS.19:19, 34; Yoh.14:6, Why.3:7). Yesus berkata sepenuh otoritasNya: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku (InjilNya) tidak akan berlalu” (Mat 24:35). Itulah Firman yang hanya dipunyai oleh Elohim tanpa bisa digeserkan siapapun kearah dusta: Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Elohim kita tetap untuk selama-lamanya. … “Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firman-Mu tetap teguh di sorga” (Yesaya 40:8, Mazmur 119:89).

 

 

Akhirnya, Alkitab mempertanyakan Konsistensi Quran

Quran pada awalnya, ketika isi wahyu yang diturunkan di Mekah masih belum terlalu kompleks, maka setiap ayatnya diposisikan sama seperti Alkitab, yaitu posisi kekekalan. Tatkala itu Allah berkata yakin bahwa “Tidak ada perubahan dengan Kalimat Allah” (QS.6:34, 10:64). Very Good! But see ths then:

1. Akan tetapi dikemudian hari Allah justru memunculkan doktrin ”nasakh-mansukh”, dimana kata-kata Allah yang baru diturunkan justru dapat meng-kanibal/menggantikan ayat lama dengan membatalkan hukumnya:

“Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya”(QS.2:106, 16:101).

Pertanyaan: Kenapa Firman yang kekal bisa mengkontradiksikan dirinya sendiri, sehingga perlu digantikan/dihilangkan kekekalannya?

2. Quran menyebutkan dirinya sebagai Bagian dari Induk Alkitab yang tersimpan di Lauh Mahfuzh disisi Allah (QS.43:4, 85:21-22). Dan Quran dianggap terjaga keasliannya sampai selamanya, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Qs 15:9).

Pertanyaan:  Akan tetapi Taurat & Injil  (yang dianggap sama-sama berada dengan Quran dalam Induk Alkitab) koq bisa dianggap tidak terjaga oleh Allah, sehingga ia terkorup dan terhilang? Yang ada hanyalah Al-Kitab yang bohong dan menyesatkan, sebagaimana yang dituduhkan. Tetapi mungkinkah Allah bisa membiarkan Induk Alkitab-Nya yang selalu ada disisiNya itu diotak-atik bagian-bagiannya oleh kaum-kaum ternajis, sehingga terdusta dan sesat? Logika gila!

Dimanapun, Muhammad hanya mengenal Alkitab yang dibenarkannya berpuluh kali, dan itulah yang harus diimani (Qs.2:41, 89, 91, 101, 136; 3:3; 4:136; 5:43,44,46,47,48,68; 6:92; 10:73,94; 29:46; 32:23; 35:31; 46:30; 43:4 dll dll). SELALU Muhammad berkata bahwa Allah tidak membeda-bedakan Utusan Kitab-kitabNya (QS.2:136, 3:84 dll). Tak pernah ada peringatan ilahiah semacam yang dituduhkan para Ulama melebihi Nabinya: “Awaslah terhadap Al-Kitab yang palsu! Haram itu!” Yang ada justru berulang kali dikatakan kepada dan oleh Muhammad untuk  “bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS.16:43, 3:54).

Para Pembaca yang budiman,

Sebagai penutup, mari  kita sama-sama bertanya satu hal saja secara gamblang: dimanakah pernah ada  Injil yang Asli Islami didunia ini? Seperti apa ia itu isinya, atau bahkan jejak-isinya? Mungkinkah  Allah yang mengajarkan Injil itu secara pribadi kepada Isa Al-Masih itu (QS.3:48) namun akhirnya  membiarkan seluruh FirmanNya terkorup, terhilang, tidak tercari didunia? Bualan siapakah ini bila bukan dari Si Jahat?

 

Dipetik dari www.buktidansaksi.com


3 comments Add a Comment
alin
Reply| 10 Mar 2016 08:22:58
Terserahlah pendeta-pendeta mau ngomong apa aja boleh... yang gelar dokter juga cuma tau ilmu islam sedikit... hehehehe..... "jadi dong super doktor"
M TipuM
Reply| 08 Sep 2015 00:12:43
TERBUKTILAH OLEH ARTIKEL DIATAS BHW Muslim paling tertipu oleh ayat ini:
“Sesungguhnya Kami-lah (ALLAH SWT) yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Qs 15:9).

MUSLIM LUPA, BHW ALLAHNYA MENGAKUI DIRINYA SBG KHAIRUL MAKIRIN (Penipu daya Terbesar), Lihat QS.3:54.

Bagaimana Quran bisa terjaga bila mulutnya Allah hanyalah buah Tipu-Daya? Adakah umat yang mau ditipu terus oleh Allahnya?
Akibodo
Reply| 04 Sep 2015 23:09:37
Anak yang paling bodohpun akan menolak ulamanya, jikalau sang ustadz berkata bhw Quran dijaga Allah, tapi Taurat dan Injil TIDAK dijagaiNya (sehingga terpalsu dan sesat)!
Fetching more Comments...
↑ Back to Top