Pertanyaan-Pertanyaan untuk Ditanyakan Kepada Seorang Muslim (Bagian 3)

Khusus Tentang Poligami

21.Mengapa Allah membeda-bedakan hukum-Nya bagi EMPAT jenis manusia ciptaan-Nya dalam kaitan “ber-suami-istri”: (1).Kenapa kepada pria diturunkan hukum pasti bahwa mereka diijinkan mempunyai empat istri (four wives[87]). (2).Kenapa kepada Muhammad tidak dikenakan hukum tsb untuk menjadi model bagi umatnya, melainkan dibiarkan, alias tidak diturunkan batasan pasti apapun. (3).Kenapa kepada wanita merdeka hanya boleh mempunyai satu suami? (4).Sedangkan kepada wanita budak boleh dikawini oleh majikan Muslim yang mana saja (yang berturut-turut menjadi majikannya), diantara budak-budak perempuan lainnya (4:24, 25, 23-5-6, 70:30, dll).

22. Mengapa memiliki 4 istri diijinkan tetapi memiliki 5 istri dilarang? Mengapa wahyu poligami (4:3) begitu terlambat dimunculkan oleh Muhammad (padahal praktek poligami telah berkecamuk lama diman-mana sebelum-nya), yaitu baru diwahyukan setelah belasan tahun Islam muncul?! Tepatnya wahyu sepertinya harus menunggu meninggalnya istri Muhammad yang pertama dan satu-satunya (Khadijah) mati? Dan baru muncul ketika Muhammad siap kawin-mawin poligami sepeninggal istrinya.

23. Poligami itu sering didalilkan Muslim sebagai fitrah-manusia dari Tuhan bagi kemanusiaan dan solusi keluarga. Bila begitu, tentu pihak isteri akan menyambut baik setiap gagasan suaminya untuk berpoligami. Tetapi mengapa banyak wanita Muslim justru tidak setuju sekalipun Allah dan Muhammad mengijinkan poligami? Dan mengapa Muhammad sendiri justru melarang putrinya, Fatima, dipoligamikan oleh Ali bin Abi Talib, kecuali kalau Ali menceraikan Fatima dulu? (Bukhari V7, B62, No.157)

24. Mengapa Nabi sebagai ayah dari Fatima bisa berkata, “Fatima adalah bagian dari tubuh saya, dan saya benci melihat apa yang dibencinya, dan apa yang menyakitinya, adalah juga menyakiti saya” (Bukhari V7, B62, No.157), tetapi Nabi tidak bisa peka terhadap ayah-ayah Muslimah yang juga akan merasa disakiti bila putrinya dikawinkan dengan pria beristri?!

25. Apakah hati nurani ibu-ibu salah ketika mereka mencatat bahwa dibalik setiap poligami terdapat dusta, ketidak-setiaan, penyudutan, intrik-intrik, alih-kasih, kemunafikan, tekanan atau penguasaan terhadap sang isteri (uang dipakai sebagai pengontrol istri)?! Adakah poligami yang terasa mulia dan luhur kebatin terdalam dari manusia?Siapakah diantara orang tua yang bernaluri  ingin anak-anak gadisnya dipoligamikan sejak semula?

26. Kenapa Allah mengizinkan para Muslim berpoligami asal bisa berlaku adil, sedangkan Dia tahu bahwa mereka PASTI tidak bisa berlaku adil. “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian...” (4:129). Bukankah hakekat dasar dari hasrat untuk “beristri-baru” itu sudah merujuk kepada “pergeseran preferensi” sang suami terhadap istri tua, dan itulah bibit ketidak-adilan? Kalau sudah begitu, kenapa Allah tidak melarang poligami saja?!

27. Menurut anda sudah benar dan adilkah (righteousness-nya Tuhan Sorgawi) seorang pria dapat menceraikan istrinya dengan alasan apapun (dengan meng-ucapkan "talak" tiga kali)[88] sedangkan seorang wanita harus mengajukan kasusnya di hadapan hakim?

28. Pantaskah Muhammad yang dia sendiri menikahkan anak angkatnya Zaid bin Muhammad dengan Zaynab binti Jahsy, tetapi  dia pulalah sosok dibalik yang menceraikan rumah tangga mereka, atas nama Allah? (33:37, Bukhari, book 93, no.516).

29. Zainab selalu membanggakan dirinya didepan para istri-istri Nabi yang lain dengan berkata: “Kalian dikawinkan oleh keluarga kalian, sedangkan saya dikawinkan (dengan Nabi) oleh Allah sendiri dari langit ketujuh” (Bukhari, book 93, no.516). Itu adalah fakta yang tidak bisa dibantah oleh isteri-isteri Nabi yang lain. Kalau begitu kenapa Allah, Quran dan Muslim tidak menempatkan Zainab sebagai Muslimah yang paling mulia diseluruh jagad, dan bukan Khadijah, Asiyah (istri Fir’aun) atau Fatima yang namanya bahkan tidak muncul dalam Quran kecuali diusung-usung oleh Muslim saat ini? (Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah III h.419 hadis no.1424).

30. Seorang pria Muslim diperbolehkan melakukan seks dengan 4 istri,[87] gundik-gundiknya, budak-budaknya,[89][90] dan dengan tawanan perang.[78] Melakukan hubungan seks sebelum nikah (dengan budak-budaknya), perzinahan, perkosaan dan poligami (adultery, rape, and polygamy). Bahkan boleh kawin mut’ah untuk melepas syahwat sementara dengan membayar sehelai kain? (Sahih Muslim, Book 8 no. 3243, 3246, 3247 dst). Apakah menurut anda semua ajaran ini bermoral? Dan bagaimana perbandingan moral Muhammad ini dengan moral Isa Al-Masih dan ajaran agama lain, atau bahkan dibandingkan dengan moral dari budi-akhlak manusia biasa?

30a. Ulama Islam selalu berdalih: “Sebelum turun ayat ini (4:3), poligami sudah ada, dan pernah pula dijalankan oleh para Nabi sebelum Nabi Muhammad s.a.w”. Baiklah. Tetapi kapan Allah pernah turunkan ayat sejenis sebelum Muhammad untuk berpoligami-ria? Dapatkah Ulama Islam menjawab berdasarkan sumber Islam sendiri kapan dan Nabi siapa yang pertama-tama memulai poligami didunia ini? NOTE. Untuk mereduksi citra buruk poligami Islamik ini, Muslim memang sering mendalilkan bahwa para nabi sebelum Muhammad juga sudah melakukan praktek poligami, dan ini tercantum juga dalam Alkitab. Wah, perbandingan head-to-head yang semakin sesat bahkan terkesan menipu! Beberapa nabi dalam Alkitab memang melakukan praktek poligami, namun samasekali BUKAN karena adanya hukum Tuhan. Tidak satu ayatpun di Alkitab dimana Tuhan melegalkan poligami.Tidak Adam, tidak Nuh, tidak Ibrahim, Musa Daud atau Nabi manapun (termasuk Sulaiman yang beristri/ bergundik 1000) yang pernah mengatakan bhw Tuhan melegalisasikan poligami bagi umat-Nya! Tuhan sejak semula menciptakan satu Adam dan satu penolong yang sepadan baginya (Kejadian 2 ayat 18) dan itulah design mulia sepasang Adam-Hawa “sehingga keduanya menjadi satu daging” (ayat 24). Praktek poligami baru terjadi dalam generasi-generasi belakangan karena pilihan nafsu dan kekerasan hati mereka pribadi yang menyimpang dari konsep- kesepasangan design Tuhan, “Dia menjadikan kamu berpasangan” (35:11). Nabi-nabi juga manusia berdosa yang bisa tergelincir, kecuali Yesus. Lihat lumuran dosa-dosa mereka, termasuk Muhammad sendiri yang mengakuinya pula (Sura 2:36; 7:22, 23; 26:82; 28:15, 16; 38:24, 25; 37:142; 40:55; 47:19; 48:1,2 dll). Maka Yesus menegaskan kembali kesepasangan yang mulia ini ketika Ia berkata secara definitif: “Mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." (Matius 19:6). Ingat, agama bangsa Semitik yang lebih tua seperti Yudaisme dan Kristianitas tidak melegalkan poligami, kecuali Muhammadanisme! Dan Muhammad bahkan berani meneruskan versi poligami dia sendiri berlaku sampai kepada surga, dimana nikmat syahwat setiap pengikutnya tersalur bersama para bidadari cantik atau 72 bidadari yang selalu perawan (44:54, 55:56, 55:70-76, Misykat al-Mashabih dll) tanpa menghiraukan keberadaan 1, 2, 3, 4, atau lebih dari isteri-isteri mereka yang sudah pernah dikawininya didunia!


0 comments Add a Comment
No comments yet
↑ Back to Top