Apakah ini adalah Indonesia yang sama yang mencekal Lady Gaga karena dianggap terlalu cabul?

Kerusuhan pecah, begitu ganasnya oposisi Muslim terhadap konser Lady Gaga yang tiketnya habis terjual di Indonesia, yang akhirnya dibatalkan. Di dalam video di bawah ini, anda akan melihat “Dangdut,” sebuah bentuk pertunjukkan yang sangat provokatif secara seksual yang sangat popular baik diantara khalayak ramai maupun anak-anak.

Dangdut terdengar seperti perpaduan antara musik tekno dan Bollywood dari India, tetapi sebenarnya ia adalah 100% asli Indonesia. Dengan pengaruh  musik dari India, Arab dan Melayu, secara tradisional musik ini sangatlah popular di kalangan kelas pekerja dan kelompok berpenghasilan rendah, tetapi musik ini dapat dengan mudah terdengar di stasiun kereta api, kantor-kantor polisi dan bahkan bank, bila teller anda menyukainya.

Dangdut adalah bagian tidak terpisahkan dari kehidupan Indonesia. Negara dengan populasi penduduk Muslim terbesar di dunia bahkan ingin mendaftarkan musik ini sebagai warisan budaya pada UNESCO.

Pada saat live performance pada sebuah acara stasiun televisi dengan rating tertinggi, Dahsyat, sangatlah jelas bahwa lagu-lagu dangdut menguasai tangga lagu. Bahkan lagu dari musisi remaja terkenal Justin Bieber juga di-Indonesiakan di dalam acara tersebut—lagu “Baby” yang menguasai tangga-tangga lagu dunia digubah menjadi dangdut yang menghasilkan tawa yang bergemuruh dari para penonton acara tersebut.

Yahya Iwan Wel, produser eksekutif Dahsyat, mengatakan Dangdut telah dimodernisasi untuk menyesuaikan cita rasa Indonesia yang berubah, tetapi menolak kritik yang menyatakan Dangdut terlalu vulgar. “Sekarang ini ada banyak penyanyi yang mengadakan pertunjukkan di kota-kota kecil dan dusun-dusun yang menggunakan gerakan yang sangat erotis dan seksi,” katanya. “Dan ya, tentu saja beberapa lirik mereka mengandung unsur yang bernada porno. Tetapi untuk pertunjukkan di TV hal tersebut dikurangi.”

Para kritikus menyebutkan bahwa penyanyi Dangdut seperti Julia Perez—atau Jupe sebagaimana ia lebih dikenal—tidak menunjukkan kontrol sama sekali. Jupe menyatakan bahwa ia tidak vulgar—ia hanya seksi. Penampilannya dalam acara Dahsyat disambut dengan tepuk tangan yang bergemuruh dan siulan-siulan genit dari para fansnya. Dikenal sebagai bom-seks Indonesia, ia tidaklah mengecewakan, dengan mengenakan pakaian kulit hitam yang ketat menempel pada kulit dengan tengkorak yang tercetak menimbul, meninggalkan hanya sedikit ruang untuk imaginasi.

Menyembunyikan matanya dibelakang kacamata hitam yang dihiasi dengan Kristal, dia bergoyang dengan menyanyikan lagunya yang popular “Apa yang Jupe paling suka,” mengakhiri penampilannya dengan diseret keluar di atas lantai studio oleh salah seorang TV host.

Penyanyi Dangdut Melinda mengatakan, “Ini adalah kreasi saja,” dia mengatakannya di dalam ruang ganti pakaiannya, “jadi anda boleh menyukainya ataupun tidak. Saya melakukan sesuatu untuk membuat orang senang.” Dia menolak anggapan bahwa musiknya dapat disalahartikan oleh orang lain sehingga menjadi sangat sugestif secara seksual bagi penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim. “Karena saya seksi, adalah alas an mereka tidak menyukai saya,” kata sang penyanyi, merujuk kepada seorang ustad yang menentangnya. Tetapi mengapa ratingnya selalu tinggi? Masyarakat menyukai saya karena saya tidak harus berpura-pura menjadi seorang Muslim yang baik—ketika saya berbicara tentang kepercayaan saya itu adalah tentang saya dan Tuhan saya.”

Dangdut selalu menjadi musik dari khalayak ramai dan telah, di bahkan di masa yang lampau, memiliki penilaian-penilaian sumbang. Sekarang, kelompok-kelompok konservatif merasa musik ini telah bergeser jauh dari akarnya dan memiliki resiko untuk merusak masyarakat Indonesia. Tetapi mayoritas bangsa Indonesia sedang berjoget kepada irama yang lain—dan mereka tidak mengeluh.

 

Sumber: BNI


0 comments Add a Comment
No comments yet
↑ Back to Top