Bintang adalah Batu-batu untuk Merajam Setan

Apakah Quran Tidak Memiliki Kesalahan? (Bagian 3)

Oleh: ‘Abdallah ‘Abd al-Fahdi    

Pertanyaan 3: kita membaca dalam Sura al-Mulk 67:5 “Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala”. 

 

 

 

 

 

Al-Baidawi menjelaskan ayat ini sebagai berikut: “Kami telah menghiasi langit yang dekat, artinya langit yang terdekat. Dengan bintang-bintang, artinya bintang-bintang yang bercahaya seperti lampu yang menerangi malam. Ini tidak bertentangan dengan fakta bahwa ada bintang-bintang yang ditempatkan di langit yang lebih tinggi, untuk menghiasi langit yang dekat berarti mereka dimanifestasikan di dalamnya. Dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, artinya bintang-bintang itu diciptakan untuk tujuan lain, yaitu merajam para musuh. Rujum [“hal-hal untuk dilempari dengan batu”]adalah bentuk jamak dari rajam, yaitu segala sesuatu yang digunakan untuk melempari dengan batu dan nyala api keluar dari dalamnya. Pendapat lainnya mengatakan, ‘Kami menjadikannya sebagai medium untuk cenayang dan meramal [yang merupakan definisi lain dari akar kata kerja rajama] berkaitan dengan setan-setan di antara manusia, yang peramal’”. Kita membaca dalam Sura al-Saffat 37:6-10, “Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka, syaitan syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang”.

 

 

 

Kita membaca dalam Sura al-Hijr 15:16-18 “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang (nya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk, kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang”. 

 

 

 

Al-Baidawi menjelaskan ayat ini sebagai berikut: “dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk, berarti tidak seorangpun yang dapat pergi ke langit, mencobai para penghuninya, mengetahui lokasinya, atau menundukkannya. Kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar, mengacu kepada setiap roh jahat. Yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar, berarti menguping. Ungkapan ini dibandingkan dengan mengambil/merampas suatu bagian dari para penghuni langit berkaitan dengan kemiripan substansi mereka, atau mengurangi/memperpendek posisi dan pergerakan bintang-bintang”. Ibn ‘Abbas melaporkan: “Mereka [malaikat-malaikat yang sudah jatuh] tidak disingkirkan dari langit/surga. Tetapi ketika Yesus dilahirkan mereka disembunyikan selama tiga tahun, dan ketika Muhammad dilahirkan mereka semua dijauhkan dengan nyala api [meteor-meteor]. Ini tidak boleh ditolak oleh karena fakta bahwa meteor-meteor telah diciptakan sebelum kelahiran para malaikat, sebab ada kemungkinan mereka diciptakan untuk tujuan-tujuan lain. Opini lainnya adalah tidak adanya pengecualian, berarti bahwa siapapun yang menguping/mencuri dengar akan dikejar oleh nyala api yang dapat dilihat oleh orang-orang yang mempu melihatnya. Shihab [“nyala api”] api yang menyambar-nyambar. Tetapi juga dapat mengacu kepada sebuah bintang [meteor] atau anak panah yang menyala, oleh karena keduanya terang benderang”. Kami bertanya: Bagaimana kita harus membayangkan sesosok malaikat seukuran manusia dapat memegang bintang-bintang seperti butiran batu untuk dilemparkan kepada setan, agar menjauhkannya dari mencuri dengar suara-suara penghuni surga? Apakah “penghias langit” ini diciptakan sebagai amunisi atau peralatan perang untuk merajam setan? Sesungguhnya setiap bintang seumpama galaksi yang sangat luas, dan oleh karena itu alam semesta terdiri dari jutaan galaksi yang mengambang dengan jarak yang sangat saling berjauhan di ruang yang tidak terbatas. Juga, bagaimana para malaikat dapat melemparkan bintang-bintang tanpa mengakibatkan alam semesta mengalami kekacauan, oleh karena tindakan-tindakan mereka itu dapat mengakibatkan gangguan pada ekuilibrium?


3 comments Add a Comment
indra
Reply| 10 May 2013 17:04:52
yang bodoh ya manusianya bukan alqurannya.....bodoh tolol ...tembuhuk netes pula......belajar dulu dah....
Muhammad Irsyad N
Reply| 04 Dec 2012 09:38:47
ayat alquran dapat dipahami oleh orang yang berilmu
belajar bahasa arab dulu mas dan ilmu2 tafsir alquran lainya
mungkin nanti anda bisa temuin artinya yang sebenarnya
jangan fanatik pada dirisendiri,tapi fanatik pada kebenaran
mhd_61l4
Reply| 16 Sep 2012 16:47:06
@all
Ini adalah suatu ayat yang lucu dan bener bener ngga masuk akal, bahkan untuk orang idiot sekalipun.

Tapi tahukah anda bahwa situs situs Islami telah menjawabnya dengan logika jungkir balik dan mengada ada, kutip sana sini dengan kesimpulan, ISLAM PASTI BENAR.

Tahukah anda jawaban dari para ahli tersebut? Jawaban tanpa jawaban..........setelah dikupa kupas, tidak ada yang tersisa kecuali...........
----MAHA PANDIR--------
Fetching more Comments...
↑ Back to Top