Mari Menyebut Islam dengan “Islam” Saja

MARI MENYEBUT ISLAM DENGAN “ISLAM” SAJA

Ada Islam dan ada orang Muslim. Orang Muslim yang bersungguh-sungguh dengan Islam sedang memerangi kita dan orang Muslim yang tidak bersungguh-sungguh dengan Islam tidak melakukannya. Tetapi itu tidak berarti kita harus menganggap mereka sebagai sekutu kita melawan jihad. Seumur hidup saya berada di tengah-tengah orang Muslim dan banyak di antara mereka benar-benar tidak peduli dengan Islam. Masalah saya dengan banyak orang Muslim yang pada dasarnya bukan Muslim ini, terutama di tengah peperangan yang dikobarkan terhadap kita oleh sesama mereka yang lebih konsisten beragama, adalah bahwa mereka melindungi musuh. Mereka memaksa kita memainkan permainan Roulette Muslim oleh karena kita tidak dapat mengatakan orang Muslim mana yang akan meledakkan dirinya sendiri hingga ia benar-benar melakukannya. Dan ketidakpedulian mereka terhadap kejahatan yang dilakukan dalam nama agama mereka adalah alasan mengapa reputasi mereka demikian adanya.  

islamadalahislam

 

Akal sehat seorang mantan Muslim. “Menyebut Islam dengan ‘Islam’” oleh Bosch Fawstin di FrontPage, 26 April:

Saya menulis artikel ini beberapa tahun yang lalu, dan menurut saya adalah baik bila saya mempostingnya kembali, terutama setelah serangan para jihadis belum lama ini di Boston. Saya perhatikan, setelah serangan tersebut dalam minggu ini, ada sejumlah orang yang menggunakan istilah yang tepat dalam mengidentifikasi musuh tersebut, dan ini sangat penting dalam menghadapinya. Saya pernah menyaksikan sebuah diskusi panel setelah tragedi 9/11, dan setiap panelis menggunakan istilah yang berbeda untuk menyebut/menamai musuh yang kita hadapi. Hal itu sangat mengusik batin saya karena menurut saya sangatlah penting untuk mengidentifikasi dengan istilah-istilah yang tepat ketika kita berbicara mengenai musuh kita, dan JANGAN PERNAH menciptakan istilah-istilah, untuk alasan apapun. Bagi saya, satu-satunya perbedaan antara “Islamisme” dan Islam hanyalah 4 huruf. Berikut ini saya berusaha sebaik-baiknya untuk memaparkan mengapa kita selalu harus menyebut Islam dengan “Islam”.    

Para cendekiawan dan komentator Barat menyebut ideologi musuh kita dengan istilah:

“Islam Fundamentalis”, “Ekstrimis Islam”, “Islam Totalitarian”, “Islamofasisme”, “Politik Islam”, “Militan Islam”, “Bin Ladenisme”, “Islamonazisme”, “Islam Radikal”, “Islamisme”… dll. 

Nama musuh kita adalah “Islam”

Bayangkan, jika selama perang-perang pada masa lalu, kita menggunakan istilah-istilah seperti “Nazisme Radikal”, “Ekstrimis Shinto” dan “Komunis Militan”. Implikasinya adalah akan ada versi yang baik dari ideologi-ideologi tersebut, yang kemudian akan membuat sejumlah orang mencari Nazi yang “moderat”. Orang-orang yang menggunakan istilah-istilah yang lain selain dari “Islam” menciptakan kesan bahwa itu adalah sebuah varian dari Islam yang berada di balik musuh yang sedang kita hadapi. Istilah seperti “Militan Islam” sama sekali tidak bermakna, tetapi para politisi kita terus saja memuji Isalm seakan-akan itu adalah agama mereka. Bush mengatakan kepada kita bahwa “Islam itu damai” – setelah 2.996 orang Amerika dibunuh dalam nama Islam. Ia terus memelihara ilusi tersebut selama dua periode jabatannya, dan tidak pernah mengijinkan para prajurit kita mengalahkan musuh tersebut. Dan sekarang kita memiliki Obama, yang berkata demikian kepada kita dari Mesir: 

“Adalah tanggung-jawab saya sebagai Presiden Amerika Serikat untuk memerangi pandangan-pandangan dan penilaian-penilaian yang negatif mengenai Islam dimanapun hal itu muncul”, 

 Seandainya saja ia merasa demikian mengenai Amerika. Pembelaan Washington terhadap Islam telah melampaui pembelaan terhadap Amerika dan pengabaian tugas ini dapat disebut sebagai “Islamgate”

Islam adalah agama politis; gagasan memisahkan Mesjid dengan Negara tidak pernah terdengar dalam dunia Muslim. Islam mempunyai doktrin perang, yaitu Jihad, yang dilakukan untuk menegakkan Syariah (hukum) Islam, yang pada dasarnya bersifat totalitarian. Hukum Syariah menganjurkan antara lain: menurunkan derajat wanita, mencambuk/merajam/membunuh para pezinah; membunuh kaum homoseksual, orang-orag yang murtad dan pengkritik Islam. Semua ini adalah bagian dari Islam ortodoks, dan bukan sebentuk “ekstrimisme” Islam. Jika para Jihadis benar-benar “membengkokkan sebuah agama yang besar”, orang Muslim akan menghina mereka atas dasar yang islami dan saat ini pun mereka pasti telah melakukannya. Alasan mengapa mereka tidak dapat melakukannya adalah karena perbuatan para jihadis berdasarkan pada perintah Allah, yaitu sesembahan orang Muslim.

Quran berkata:  

“… maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka…” (Sura 9:5)

Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. ….”(Sura. 47:4)

Di balik doktrin ini, terdapat figur sejarah yaitu Muhammad, yang mendefinisikan Islam lebih dari siapapun. Bagaimana anda dapat menghakimi orang yang menjadikan dusta, penipuan, perkosaan dan pembunuhan sebagai cara hidupnya? Orang jahat ini adalah teladan Islam, yaitu Muhammad. Apapun yang dikatakan dan dilakukannya dinyatakan sebagai aturan moral hanya karena ia mengatakan dan melakukan hal itu. Bukanlah suatu kebetulan jika satu-satunya moralitas yang dapat menindak tingkah lakunya adalah moralitasnya sendiri. Demikian pula, bukanlah suatu kebetulan jika orang Muslim yang meneladaninya adalah orang-orang yang paling kejam.  

Selama 13 tahun Muhammad gagal menyebarkan Islam dengan cara-cara yang tidak keras. Ia sama sekali tidak cinta damai jika ia tidak dalam posisi lemah. Hanya melalui kegiatan kriminal dan dengan bantuan sekelompok pengikutnyalah ia berhasil mendapatkan kekuasaan. Tetapi ia juga menginginkan agar [ajarannya] bernilai moral, oleh karena itu ia mengubah Islam untuk merefleksikan fakta bahwa satu-satunya cara Islam dapat tetap hidup adalah melalui kekuatan. Maka, dengan “wahyu” Allah pada waktu yang tepat untuk menyebarkan Islam dengan pedang, Muhammad memimpin pasukan Muslim menyeberangi Arabia dalam jihad yang pertama. Sejak saat itu, kekerasan menjadi cara Islam di seluruh dunia. Dan dewasa ini, sesuai dengan perkatan Muhammad, “Perang adalah tipuan” – dalam pengertian orang Muslim pada awalnya menggunakan ayat-ayat “damai” dari Quran sebagai senjata terhadap ketidaktahuan dan niat baik korban-korban mereka. Ayat-ayat “damai” dalam Quran kemudian digantikan dengan ayat-ayat yang muncul belakangan yang menyerukan dilaksanakannya perang abadi terhadap mereka yang tidak tunduk kepada Islam. Bagaimana Muhammad menyebarkan Islam memengaruhi isi doktrinnya dan dengan demikian mengatakan pada kita apa Islam sebenarnya.

Perhatikan juga bahwa satu-satunya alasan mengapa kita berbicara mengenai Islam adalah karena kita telah dipaksa melakukannya oleh jihad. Dan dimanakah “orang-orang yang nuraninya keberatan” terhadap Islam? Mereka tidak dapat ditemukan dimanapun, bahkan orang Muslim awam pun bungkam terhadap jihad. Tetapi hal itu tidak menghentikan orang-orang Barat dari menunjuk mereka sebagai wakil-wakil “Islam Moderat”. 

Islam sama sekali bukanlah keyakinan personal, melainkan sebuah ideologi kolektif yang menolak sikap membiarkan orang non Muslim hidup dan tetap hidup. Dan sementara para jihadis bisa jadi tidak merepresentasikan semua orang Muslim, mereka senantiasa merepresentasikan Islam. Pada akhirnya, banyak orang Muslim yang telah membuktikan diri sendiri hanya sebagai domba terhadap para serigala jihadis mereka, bukan sebagai sekutu dalam perang ini. Orang-orang Muslim yang “pulih” menyebut ideologi musuh ini “Islam”, dan mereka mengabaikan gagasan mengenai “Islam Moderat”, demikian pula “Kejahatan Moderat”. Bila, berdasarkan tindakan-tindakannya, dewasa ini Muhammad digambarkan sebagai seorang “Ekstrimis Muslim”, maka orang-orang Muslim harus mengutuk nabi mereka dan agama mereka, alih-alih orang-orang yang membukakan hal ini.

Islam adalah ideologi musuh dan menghindari fakta tersebut hanya akan membantu agen-agennya melenggang setelah melakukan banyak pembunuhan. Para politisi Barat telah menjual kita, jadi sekarang tergantung kita [bagaimana caranya] untuk membela cara hidup kita dengan memahami Islam dan mengatakan kebenaran mengenai Islam dengan cara apapun yang dapat kita lakukan. Jika kita tidak dapat menyebut Islam dengan namanya, lalu bagaimana kita dapat membela diri kita dihadapan para penganutnya yang setia? Orang dapat berpendapat bahwa kita akan baik-baik saja jika non Muslim mau memilih satu dari banyak istilah yang belakangan ini digunakan bagi ideologi musuh. Bagi saya, saya menyebut musuh sebagaimana apa adanya mereka, yaitu “para Jihadis”, dan saya menyebut tanggapan kita sebagai “Perang melawan Jihad”. Tetapi di balik semua itu, Islamlah yang membuat musuh kita “berdetak” (= hidup). 

Walaupun saya frustrasi atas penolakan banyak orang untuk menyebut Islam sebagai “Islam” saja, saya tahu bahwa mereka yang berbicara menentang Jihad telah membahayakan diri mereka sendiri, dan saya menghormati keberanian mereka. Tetapi adalah penting bahwa kita mengakui posisi Islam dalam ancaman yang kita hadapi dan mengatakan demikian tanpa ragu. Bukan berkata “Islam” menolong Islam dan menyakiti kita. Jadi marilah kita mulai menyebut ideologi musuh kita dengan namanya. Mari mulai menyebut Islam dengan “Islam” saja.­­

Post-skrip: di bawah ini adalah tanggapan Bosch terhadap kritk-kritik tersebut, terutama orang Muslim dan Kelompok Kiri, yang yang membuat isu mengenai Muslim dan bukan Islam; yang selalu menuduh bahwa para pengkritik Islam mengutuk 1,5 milyar orang, bahwa orang Muslim adalah orang-orang yang baik dan tidak bersalah, dan sebagainya. Jadi di bawah ini ia merespon dengan sebuah tulisan singkat dari karyanya yang berjudul  Non-Muslim Muslims and the Jihad Against the West:

Bagi mereka yang ingin melakukan hal ini berkenaan dengan Muslim dan bukan Islam, berikut ini adalah pendapat saya mengenai hal itu:

Pertama-tama,  nama saya Bosch dan saya adalah orang Muslim yang “sudah pulih”, jadi saya mempunyai pengetahuan mengenai hal ini, ditambah dengan fakta saya telah mempelajari Islam seakan-akan hidup saya bergantung padanya setelah tragedi 9/11. 

Ada Islam dan ada orang Muslim. Orang Muslim yang bersungguh-sungguh dengan Islam sedang memerangi kita dan orang Muslim yang tidak bersungguh-sungguh dengan Islam tidak melakukannya. Tetapi itu tidak berarti kita harus menganggap mereka sebagai sekutu kita melawan jihad. Seumur hidup saya berada di tengah-tengah orang Muslim dan banyak di antara mereka benar-benar tidak peduli dengan Islam. Masalah saya dengan banyak orang Muslim yang pada dasarnya bukan Muslim ini, terutama di tengah peperangan yang dikobarkan terhadap kita oleh sesama mereka yang lebih konsisten beragama, adalah bahwa mereka melindungi musuh. Mereka memaksa kita memainkan permainan Roulette Muslim oleh karena kita tidak dapat mengatakan orang Muslim mana yang akan meledakkan dirinya sendiri hingga ia benar-benar melakukannya. Dan ketidakpedulian mereka terhadap kejahatan yang dilakukan dalam nama agama mereka adalah alasan mengapa reputasi mereka demikian adanya.  

Jadi, sementara saya memahami bahwa banyak orang Muslim yang tidak memerangi kita, dalam kebisuan dan berdiam diri terhadap jihad mereka telah membuktikan diri bahwa mereka pun tidak berpihak pada kita, dan tidak ada yang dapat kita katakan atau lakukan untuk mengubahnya. Pada akhirnya kita hanya harus menerimanya dan berhenti berharap agar mereka “datang”, sembari berusaha sebaik-baiknya untuk membunuh orang-orang yang berusaha membunuh kita.

Masalah lainnya sehubungan dengan orang Muslim yang tidak benar-benar Muslim adalah mereka membawa segelintir orang di antara kita menyimpulkan bahwa mereka mempraktikkan sebentuk Islam yang lebih tercerahkan. Sesungguhnya tidak demikian. Mereka “mempraktikkan” hidup di negara-negara non Muslim, dimana mereka bebas hidup sesuai pilihan mereka. Tetapi “Islam” mereka bukanlah Islam. Tidak ada ideologi terpisah dari Islam yang dipraktikkan oleh orang-orang Muslim awam ini, yang namanya “Islam Barat” atau “Islam sekuler” itu tidak ada.  

Orang-orang Muslim awam bukanlah masalah kita, tetapi merekapun bukan solusi bagi permasalahan kita. Masalah kita adalah Islam dan para pemeluknya yang taat beragama. Dalam Islam tidak ada orang Muslim yang tidak membunuh non Muslim. Jika ada orang Muslim yang damai, itu karena pilihannya sebagai individu, dan itulah sebabnya seringkali saya katakan orang Muslim awam secara moral lebih superior dari Muhammad, atau dari agama mereka sendiri. Orang Muslim yang menolong kita memerangi Jihad berlaku demikian menentang agamanya, tetapi itu tidak menghentikan sebagian di antara kita untuk berpikir bahwa pilihannya itu sedikit memberi terang pada Islam. Sama sekali tidak. Seorang Muslim yang baik menurut kita adalah seorang Muslim yang buruk menurut Islam.

Diposkan oleh Robert pada 27 April, 2013

 

Yesus Terbukti Berdosa dan Menipu

Ada segelintir orang yang berusaha keras untuk mencari-cari ayat-ayat tertentu dalam Injil kalau-kalau Yesus bisa ditemukan sebagai penipu atau munafik, atau untuk memergoki ayat-ayat tentang kelemahan-kelemahan Yesus, yang bisa diolah untuk menjadikan diriNya berdosa. Akhirnya mereka menemukannya pada Injil Yohanes pasal 7.

pondokdaunDi sini pengkritik merasa sangat berhasil membuktikan dengan telak bahwa Yesus itu paling tidak adalah pendusta bagi saudara-saudaraNya, terbukti dari kutipan Yohanes 7:8-10:

“Pergilah kamu ke pesta itu. Aku belum pergi ke situ, karena waktuKu belum genap”, demikianlah kataNya (Yesus) kepada mereka (saudara-saudara Yesus), dan Ia pun tinggal di Galilea. Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Iapun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam”.

Tetapi apa yang telah berhasil dibuktikan pengkritik? Seperti ayat-ayat sebelumnya, di sini kembali ia tidak membuktikan apa-apa kecuali menuding-nuding karena ayat-ayat tersebut terasa aneh ke otaknya, sehingga segera disimpulkan bahwa ayat-ayat di atas bukanlah ayat-ayat Tuhan melainkan ayat-ayat buatan si penulis jahil. Tetapi siapakah manusia jahil itu? Jangan-jangan kita sendirilah yang menjahili dan mendustai diri sendiri, dan ini bukan kasus yang langka!

Tetapi aneh tidaklah sama dengan bohong atau palsu… Aneh haruslah dijawab oleh pemahaman, pengetahuan dan penghayatan yang luas dari si pengkritik dengan hati yang tidak berprasangka, misalnya menjawab: “kenapa ada penulis jahil yang sudah men-Tuhan-kan Isa tiba-tiba menjatuhkan Isa sebagai seorang pendusta, yaitu dengan sengaja merobah ayat di pasal 7 tersebut?”

Jikalau kita yang mengarang-ngarang Alkitab dan men-Tuhan-kan seseorang, tentulah kita akan menjaga sebaik-baiknya jangan sampai ada ayat-ayat yang kita karang-karang itu justru mendiskreditkan sifat-sifat ke-TuhananNya. Tidak ada pilihan lain! Jadi jikalau seorang pengkritik merasa perlu untuk membela Isa karena Isa dianggap sebagai nabi, maka terlebih lagi penulis jahil itu (yang mau men-Tuhan-kan Isa) akan mati-matian membela Isa sebagai Tuhan dan Tuhannya sedemikian rupa sehingga baginya justru Isa tidak boleh kelihatan berdusta telanjang. Dan untuk itu ucapan Yesus mudah, sangat mudah diubah olehnya menjadi:

“Pergilah kamu ke pesta itu. Aku akan menyusul belakangan…”

Di sini habislah kemungkinan dusta apapun! Dan “Si Bejad” akan sukses men-Tuhan-kan Isa dengan mulusnya. Tetapi jikalau hal ini tidak dilakukan oleh “si bejad”, dibiarkan teksnya mengundang “masalah”, maka masalah ini harus diartikan bahwa justru teks tersebut adalah asli dan benar, tidak dicocok-cocokkan agar benar ke telinga “si bejad” atau telinga siapapun, melainkan semata-mata dan habis-habisan menjaga keaslian teksnya.

Sekarang, kenapa kita bisa tahu bahwa tidak terdapat dusta Yesus dalam Yohanes 7:8-10? Jawaban kita adalah bahwa kita telah didustai apabila ada pengkritik yang menyodorkan hanya 2 ayat di atas untuk mendiskreditkan Yesus. Jelas bahwa konteks masalah telah dipotong-potong demi itikad penyesatan.

Untuk memperlihatkan konteks dan kejadian yang tidak “dusta-mendusta” maka harus dikutip lengkap satu perikop lebih dari Kitab Yohanes 7:1-14

1 Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea, karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya.
2 Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun.
3 Maka kata saudara-saudara Yesus kepada-Nya: “Berangkatlah dari sini dan pergi ke Yudea, supaya murid-murid-Mu juga melihat perbuatan-perbuatan yang Engkau lakukan.
4 Sebab tidak seorangpun berbuat sesuatu di tempat tersembunyi, jika ia mau diakui di muka umum. Jikalau Engkau berbuat hal-hal yang demikian, tampakkanlah diri-Mu kepada dunia.”
5 Sebab saudara-saudara-Nya sendiripun tidak percaya kepada-Nya.
6 Maka jawab Yesus kepada mereka: “Waktu-Ku belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada waktu.
7 Dunia tidak dapat membenci kamu, tetapi ia membenci Aku, sebab Aku bersaksi tentang dia, bahwa pekerjaan-pekerjaannya jahat.
8 Pergilah kamu ke pesta itu. Aku belum pergi ke situ, karena waktu-Ku belum genap.”
9 Demikianlah kata-Nya kepada mereka, dan Iapun tinggal di Galilea.
10 Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Iapun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam.
11 Orang-orang Yahudi mencari Dia di pesta itu dan berkata: “Di manakah Ia?”
12 Dan banyak terdengar bisikan di antara orang banyak tentang Dia. Ada yang berkata: “Ia orang baik.” Ada pula yang berkata: “Tidak, Ia menyesatkan rakyat.”
13 Tetapi tidak seorangpun yang berani berkata terang-terangan tentang Dia karena takut terhadap orang-orang Yahudi.
14 Waktu pesta itu sedang berlangsung, Yesus masuk ke Bait Tuhan lalu mengajar di situ.

Nah, bukankah sekarang kita merasa lebih jelas tentang suasana apa yang sedang berlangsung tatkala Yesus berucap “dusta” itu? Yaitu suasana dimana tindak tanduk Yesus kurang dimengerti dan karenanya kurang mendapat kepercayaan dari saudara-saudaraNya (yang memang mengerti Yesus bukan sekedar manusia biasa). Tokoh seperti Yesus ini terlalu low profile dan berlambat-lambat untuk menyatakan diriNya dan perbuatan-perbuatanNya. Maka mereka berpesan kepada Yesus agar segera berangkat ke Yudea supaya bisa mendemonstrasikan perbuatan-perbuatan ajaibNya di muka umum dalam skala besar di Yerusalem sekalian, dan menampakkan diri kepada dunia dan jangan sekedar sembunyi kecil-kecilan di seputar Galilea.

Kebetulan Hari Raya Pondok Daun telah dekat dan bukankah ini memberi peluang emas bagi Yesus sendiri? Karena orang-orang dari segala pelosok Israel akan datang ke Yerusalem untuk merayakan pesta 8 hari ini. Saran yang sekaligus merupakan kritikan dari saudara-saudaraNya memang terasa teramat logis untuk manusia umumnya. Bahkan di zaman sekarang inipun orang-orang banyak yang menyayangkan kenapa Yeus dibesarkan di dusun Nazaret, bukan di Yunani atau di Roma di tempat dimana ajaran-ajaranNya akan sekaligus terpublikasi luas di kerajaan Romawi raya dan bahkan akan terdokumentasi langsung dalam head line sejarah Romawi yang tidak bisa disangkal oleh pengkritik manapun juga.

Tetapi nyatanya Yesus tidak sependapat dengan pandangan saudara-saudaraNya, pandangan anda dan saya, atau pandangan logis dunia! Di tanganNya adalah rancanganNya menurut waktuNya. Ia menolak gagsan saudara-saudaraNya. Perhatikan jawaban Yesus di sini:

“Waktu-Ku belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada waktu.
7 Dunia tidak dapat membenci kamu, tetapi ia membenci Aku, sebab Aku bersaksi tentang dia, bahwa pekerjaan-pekerjaannya jahat.
8 Pergilah kamu ke pesta itu. Aku belum pergi ke situ, karena waktu-Ku belum genap.”
Dan Yesus pun tetap tinggal di Galilea membiarkan saudara-saudaraNya berangkat.

Tampak bahwa Ia sangat sadar akan rancangan jahat dari orang-orang Yahudi yang mau membunuhNya secara khusus. Terjadi banyak spekulasi di Yerusalem bahwa Yesus pasti hadir dalam Pesta Pondok Daun (ayat 11) dan sangat boleh jadi perjalanan Yesus dan saudara-saudaraNya, kalau mereka jadi berangkat sama-sama dan terang-terangan, akan berakibat pembunuhan atas diri Yesus. Itu sebabnya Yesus memilih dua cara yang berbeda ketimbang yang diusulkan saudara-saudaraNya:

1. Ia tidak pergi bersama-sama dengan rombongan saudara-saudaraNya, yang mana tentu akan terbuka dan rawan terhadap ancaman musuh-musuhNya.

2. Ia menunda beberapa saat untuk keberangkatanNya, mungkin 1-2 hari sesudah kepergian saudara-saudaraNya, sehingga “waktuNya” genap dan aman untuk berangkat sendiri.

Dan benarlah, Ia akhirnya pergi juga sendiri, secara diam-diam dan incoqnito untuk secara wajar menghindari masalah-masalah (bukan mau menaklukkan masalah-masalah tersebut dengan Kuasa Ilahi yang justru ingin dihindariNya kali ini).

Tidak ada yang berdusta, tidak ada yang menipu, kecuali Yesus ingin berangkat dengan cara dan rencana yang diketahuiNya. Alangkah sempurnanya dan orisinilnya pasal ini.

Dan Yesus bukan hanya tidak pernah berdusta, Ia bahkan satu-satunya sosok manusia yang TANPA DOSA! Siapakah di dunia ini yang berani mengklaim dirinya sebagai tak berdosa? Dan sekaligus dinyatakan sebagai sosok tak berdosa lewat mulut Gabriel sendiri? Yang dicatatkan sekaligus oleh Alkitab (dan Quran lewat Jibril?) Kita harus mengakui dalam segala kejujuran bahwa itu hanya Yesus seorang!

Dalam Lukas 1:35 kata malaikat Gabriel kepada Maria: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Tuhan yang maha tinggi akan menaungi engkau; sebab anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Tuhan”.

Ibrani 7:26 “Sebab Imam Besar (Yesus) yang demikianlah kita perlukan: Yaitu yang saleh tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tingi daripada tingkat-tingkat sorga”.

Yohanes 8:46 Yesus berkata:“Siapakah di antaramu yang membuktikan Aku berbuat dosa?”

QS. Surat Maryam 19:19 “(Jibril) berkata kepada Maryam tentang Isa: “Aku hanyalah utusan Tuhanmu untuk memberikan kepadamu seorang anak laki-laki yang suci”.

Itu sebabnya dalam seluruh Quran tidak ditemukan satu kesanpun bahwa Isa pernah minta pengampunan atas dosa atau bahkan kekeliruannya, suatu hal yang berlainan dengan Nabi-nabi terkemuka lainnya.

Akhirnya, harap anda sudi menjawab dua pertanyaan tambahan ini: ”Siapakah di dunia ini yang berani menyatakan dirinya berkuasa mengampuni dosa manusia?” Senekad-nekadnya orang yang mau menipu, ia tidak akan menipu di bidang ini. Ia tahu ia orang berdosa dan tidak mungkin berkuasa menghapus dosa. Namun Yesus sungguh mengatakan: “Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa”, dan Dia membuktikan kemampuan yang satu ini. Malaikat juga tidak berdosa, namun tidak berkuasa mengampuni dosa.

Pertanyaan kedua, “Siapakah di dunia ini yang berani menyatakan dirinya sebagai Kebenaran?” Para nabi semuanya paling-paling cuma bisa mentok mengklaim dirinya sebagai “utusan Tuhan untuk memberitakan kebenaranNya” atau “untuk memberitakan hal yang benar”. Tetapi Yesus-lah satu-satunya nabi yang mengatakan diriNya bahwa Dialah kebenaran (Yohanes 14:6).

Dan siapakah itu  Sang Benar, Tanpa Dosa, dan sekaligus  Sang Penghapus Dosa, kalau bukan Tuhan sendiri?

 

Terperangkap

Terperangkap

terperangkap

Diposkan oleh Ali Sina pada 23 Augustus 2011

 

Yang terhormat Bapak Ali Sina

Saya membutuhkan nasehat anda untuk suatu hal yang sangat penting. Saya telah membaca artikel-artikel anda dan menurut saya artikel-artikel Bapak sangat meyakinkan. Saya lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga yang religius di Pakistan. Saya selalu meragukan Islam tetapi orang-orang di sekitar saya sangat religius dan saya tidak dapat menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam benak saya mengenai Islam. Saya diingatkan agar saya tidak bertanya-tanya dan hanya percaya saja, tetapi saya tidak dapat melakukan hal itu. Sekarang saya berusia 30 tahun dan telah menikahi seorang wanita yang religius. Pernikahan kami telah berusia 5 tahun dan kami mempunyai seorang anak perempuan. Pernikahan kami adalah pernikahan karena perjodohan, bukan karena dipaksakan. Setelah banyak belajar, termasuk mempelajari artikel-artikel anda, kini saya yakin bahwa saya tidak lagi percaya kepada Islam. Hal itu membuat saya harus menghadapi realita yang keras dari lingkungan saya. Saya tidak dapat menceritakan hal ini kepada komunitas dan keluarga saya karena tentunya anda tahu apa akibatnya. Sudah beredar kabar bahwa saya bukanlah orang Muslim yang bertaqwa. Saya takut ada orang yang akan melaporkan saya kepada kelompok ekstrimis yang banyak terdapat di sekitar saya. Saya tidak tahu bagaimana caranya tetap berdiam diri karena saya tidak dapat melakukannya. Menurut saya, saya berhak memiliki pandangan-pandangan saya sendiri tetapi saya tidak dapat melakukannya karena saya takut kehilangan nyawa saya. Saya bahkan tidak dapat menceritakan hal ini kepada istri saya karena ketika saya mulai membicarakan topik ini, ia mengatakan agar saya berhenti membicarakannya. Ia benar-benar bodoh dalam segala hal.

Saya mulai menyukai seorang gadis Pakistan. Dan kami berdua ingin menikah. Gadis ini juga religius. Ia mengatakan bahwa berdasarkan ajaran Islam, tidaklah salah jika menikah untuk kedua kalinya. Tetapi saya bukanlah seorang Muslim lagi dan ia juga mengetahui hal itu. Ia mengatakan bahwa ia tetap akan menerima saya dalam keadaan saya seperti ini. Ia benar-benar pandai dan ia mau menikmati hidupnya bersama saya tanpa mengenakan burqa. Ia mengenakan rok mini tetapi ia juga tidak pernah melupakan sholat. Hubungan kami baru berjalan beberapa bulan dan kami telah bertemu beberapa kali, dan kebanyakan melalui telepon. Saya juga merasa bersalah karena telah berkhianat terhadap istri saya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya tidak ingin meninggalkan istri saya karena saya tahu kalau saya melakukannya maka saya tidak akan bertemu putri saya lagi, juga akan terjadi pertikaian keluarga. Ia adalah seorang kerabat. Dan jika saya meninggalkannya demi wanita yang saya cintai, saya takut bagaimana jadinya hubungan kami jika kami mempunyai keyakinan iman yang berbeda. Saya yakin saya tidak dapat mengubah istri saya dan saya tidak puas dengannya. Tetapi saya juga tidak yakin pada gadis yang saya cintai. Saya tidak tahu bagaimana ia akan bereaksi di tempat tidur karena ia tidak mengijinkan saya melakukannya oleh karena alasan-alasan religius. Jika tidak demikian ia mengatakan ia menginginkannya. Saya meminta nasehat anda; bagaimana saya harus bersikap/menghadapi lingkungan dan keluarga saya (termasuk orang-tua, saudara, dan kerabat) karena saya bukan orang Muslim lagi.

Juga mengenai putri saya. Umurnya 4 tahun dan mulai mengikuti ibunya sembahyang. Pada akhirnya ia akan menjadi seperti ibunya. Saya juga tidak ingin hal itu terjadi karena saya tidak ingin ia hidup dalam ketakutan seumur hidupnya, dan membuang waktu dan energinya untuk sholat. Juga mengenai hubungan saya dengan gadis ini. Jika saya menikahinya, keluarga saya maupun keluarganya pasti tidak terima. Pernikahan akan dilaksanakan di pengadilan dan secara rahasia, dengan banyak masalah dari pihak keluarga. Ia melakukannya karena Islam mengijinkan pernikahan kedua. Saya menginginkannya karena saya menyukainya tetapi saya tidak suka ia religius dan saya juga tidak suka beristri dua. Saya yakin salah satu di antara mereka akan menderita, dan keadaan keuangan saya saat ini juga tidak memungkinkan saya untuk beristri dua. Saya benar-benar membutuhkan nasehat anda.

Terimakasih

Orang yang terperangkap

 

Yang terhormat, Orang yang terperangkap

Surel anda memuat dua pertanyaan. Yang pertama mengenai kemurtadan anda dan yang kedua mengenai hubungan anda dengan wanita lain.  

Mengenai kemurtadan anda, anda harus merahasiakannya. Anda tinggal di Pakistan. Ini adalah tempat yang berbahaya. Tugas pertama anda adalah mengusahakan keamanan diri anda dan melindungi nyawa anda. Saya menyarankan anda untuk tutup mulut dan jika perlu tetaplah pergi ke mesjid dan berpura-pura menjadi orang Muslim. Kalahkan orang Muslim dengan tipuan karena mereka pun gemar menipu. Keadaan tidak akan selalu sama. Jika waktunya sudah tepat, anda dapat mengumumkan kemurtadan anda. Sekarang belum waktunya. 

Iman buta istri adalah sebuah masalah. Tetapi anda mempunyai seorang anak dengannya. Anak yang tidak berdosa ini berhak memiliki kedua orangtuanya, dikasihi dan dicukupi kebutuhannya. Anda harus berbuat apa saja dengan sekuat tenaga untuk menjamin ia mendapatkan hak-haknya. 

Jika istri anda tidak mau mendengarkan, anda tidak dapat berbuat apa-apa. Tidaklah aman membicarakan hal ini dengannya. Ia akan membahayakan hidup anda, terutama jika ia merasa anda tidak setia kepadanya. Wanita dapat menjadi pendendam yang buta. Mereka “berkelahi dengan kotor”, jauh lebih kotor dari pria. Ini sesuatu yang bersifat biologis. Secara fisik mereka lebih lemah sehingga mereka melakukan kompensasi dengan kelicikan. Jangan menyudutkan wanita, karena ia dapat menghancurkan anda.

Jika anda ingin agar ia meninggalkan Islam, pertama-tama anda harus mengasihinya. Kasih tidak dapat anda rekayasa. Anda harus benar-benar mengasihinya dan membuatnya mengetahui bahwa anda mengasihinya. Jika ada kasih dan hubungan telah menjadi kuat anda akan mendapatkan cara untuk meyakinkannya untuk membaca buku saya. Understanding Muhammad telah diterjemahkan ke dalam bahasa Urdu. Anda dapat merencanakan sedemikian rupa agar ia membacanya. Sebagai contoh, mintalah ia menolong anda untuk memperdalam keislaman anda dengan membaca buku itu dan meyakinkannya bahwa Islam itu benar. Tetapi ia tidak boleh menceritakan hal ini kepada orang lain. Jika tidak hidup anda ada dalam bahaya. Jika ia membaca buku saya, ia akan meninggalkan Islam. Belum pernah saya mendengar ada orang yang tetap ingin menjadi Muslim setelah membaca buku saya. Buku itu menabur benih keraguan dalam diri mereka dan pada akhirnya mematahkan rantai yang membelenggu mereka dan memerdekakan mereka. 

Mengenai wanita lain, sebaiknya anda berhenti menemuinya. Ini bukanlah hubungan yang sehat. Ia adalah perusak rumah-tangga. Sekalipun Islam mengijinkan poligami, poligami adalah praktik yang salah. Poligami bertentangan dengan natur manusia. Seorang wanita yang setuju berbagi suami adalah wanita yang rendah diri. Ia tidak akan dapat menjadi isri dan ibu yang baik. Para ibu adalah pemelihara utama. Pendidikan seperti apa yang dapat diberikannya bagi anak-anaknya? Fakta bahwa ia mengenakan rok mini tetapi tetap membela Islam membuatnya menjadi orang yang munafik. Orang-orang Muslim seperti ini jauh lebih buruk. Tidak ada jaminan bahwa mereka akan tetap moderat. Dalam semalam mereka dapat berubah menjadi ekstrimis yang fanatik. Sekali anda hidup dengannya untuk sejangka waktu, daya tarik fisik akan menghilang lalu anda akan mendapatkan dua masalah sekaligus – dua wanita yang tidak cocok dengan anda – dua musuh yang akan melakukan apapun semampu mereka untuk menghancurkan anda. 

Saya percaya anda harus memutuskan hubungan anda dengan wanita ini dan mulai berusaha membangun rumah tangga anda. Bicaralah dengan istri anda dan katakan padanya bahwa yang dapat memperkuat pernikahan adalah saling memahami dan berkomunikasi. Ia adalah seorang Muslim dan anda meragukan Islam. Jadi kalian harus bekerja bersama dan menemukan jalan yang benar, sehingga kalian berdua berjalan di jalan yang sama. Yakinkan dia bahwa anda tidak menyarankan ia meninggalkan Islam, melainkan memintanya menolong anda untuk lebih memahami Islam dan untuk itu ia harus membaca buku saya dan mengatakan pada anda mengapa Islam itu benar.

Untuk menjawab hampir semua pertanyaan kita, yang kita lakukan hanyalah bersandar pada Aturan Emas yang tidak bercacat. Letakkan posisi anda pada posisi istri dan putri anda. Jika anda berada di posisi mereka, apa yang anda inginkan untuk dilakukan oleh suami/ayah mereka? Bagaimana perasaan anda jika istri anda berselingkuh dan mengkhianati anda? Lupakanlah apa yang dikatakan hukum Pakistan. Negara-negara Islam adalah negara yang kacau. Orang-orangnya dan hukum-hukumnya tidak waras. Hukum Islam bahkan mengijinkan orang Muslim menjarah non Muslim, membunuh dan memperkosa para wanita mereka. Hukum Islam mengijinkan pria memukuli istrinya. Mengijinkan pedofilia. Apakah kejahatan-kejahatan ini dapat menjadi sesuatu yang benar hanya karena diijinkan? Banyak orang Muslim yang tidak melakukan hal ini karena mereka lebih sopan daripada nabi mereka. Perbuatlah kepada orang lain apa yang anda ingin orang lain perbuat kepada anda. Perlakukan setiap orang sebagaimana anda ingin diperlakukan. 

Jika anda ingin mendapatkan terjemahan buku Understanding Muhammad dalam bahasa Urdu, silahkan beritahu saya. Saya dapat mengirimkannya melalui surel dalam bentuk PDF.

Semoga anda mendapatkan yang terbaik

Ali Sina

 

Sumber artikel:
http://indonesian.alisina.org/?p=1471